
"Siapa Kamu ?"
Tanya Astrid, bicara diteleponnya .
Alex yang duduk disampingnya diam mengamati dan mendengarkan percakapan Astrid diteleponnya .
"Belum saatnya Kamu tau, siapa Aku." Ujar Suara Pria tersebut dari seberang telepon .
"Mau apa Kamu menelponku?!" Ucap Astrid, mulai ketus , bicara di teleponnya .
"Aku hanya sekedar menyapamu saja!" Ucap Suara Pria dari seberang telepon .
"Aku gak ada waktu melayani omongan ngacomu!" Ucap Astrid, dengan nada semakin ketus dan wajahnya yang mulai kesal .
"Hei, Ternyata kamu emosional, santai saja. Nanti Kita akan segera bertemu, tunggu saja waktunya." Ucap Suara Pria dari seberang telepon .
"Aku hanya ingin memastikan saja, bahwa Kamu memang Astrid, anaknya Edward, yang sangat Aku kenal." Ucap Suara Pria dari seberang telepon .
"Siapa Kamu ?!!" Hardik Astrid, mulai emosi.
Astrid semakin kesal dan menjadi marah mendengar perkataan orang diteleponnya itu, karena menyebut nama Papahnya .
"Sudah lama sekali Aku gak meliatmu, terakhir kali, Aku meliatmu saat Kamu remaja." Ungkap Pria di seberang telepon.
"Bedebaaah !! Aku gak ada waktu meladenimu!!" Bentak Astrid .
Dengan kesal Astrid langsung saja menutup telepon dan mematikan ponselnya agar tak bisa di hubungi lagi .
Alex melihat wajah Astrid yang tampak kesal dan marah jadi ingin tahu, Dia pun lantas bertanya pada Astrid.
"Siapa Trid ?" Tanya Alex, menoleh dan menatap wajah Astrid yang kesal dan marah itu .
"Entah, Aku gak tau, Dia gak nyebut namanya !!" Ujar Astrid kesal .
"Dia bilang apa sama Kamu?!" Tanya Alex, penasaran dan ingin tahu .
"Gak jelas !! Dia cuma bilang, Aku anak Edward, udah lama gak ketemu, dan terakhir kali bertemu Aku saat Aku remaja katanya." Ungkap Astrid, menjelaskan pada Alex.
"Hmm...artinya Dia orang yang pernah Kamu kenal dulu." Ucap Alex, menatap lekat wajah Astrid.
"Entahlah ! Aku gak kenal suaranya." Ujar Astrid, sambil menghela nafasnya .
"Lantas , siapa Dia ?" Ujar Alex.
Alex diam dan berfikir sesaat, lalu, Alex menoleh pada Astrid yang terlihat masih kesal itu .
"Apa Kamu gak ingat, siapa saja yang pernah dekat denganmu saat Kamu remaja ?" Tanya Alex, menatap lekat wajah Astrid .
"Siapa ?! Aku gak tau dan gak ingat Lex." Ujar Astrid .
"Ya, sudah, gak usah kamu pikirkan kalo gitu, anggap aja Dia cuma orang iseng yang nelpon dan mencoba menerormu." Ujar Alex.
__ADS_1
Alex mencoba menenangkan diri Astrid yang kesal dan marah itu, agar Astrid mengabaikan si penelpon misterius itu dan tak memperdulikannya .
Astrid lantas menghela nafasnya kembali, Dia mencoba menenangkan dirinya dan menghilangkan kekesalan dalam jiwanya saat ini .
Alex menyalakan mesin mobilnya, lalu, Dia menjalankan mobilnya, mobil lantas melaju pergi meninggalkan tempat itu.
Astrid yang duduk di samping Alex hanya diam saja, namun Dia tampak sedang memikirkan sesuatu hal, Dia masih penasaran dengan sosok Pria misterius yang menelponnya tadi .
Astrid mencoba mengingat ingat , suara siapa yang ditelpon tadi, Dia juga mencoba menebak nebak siapa sosok Pria misterius tersebut .
Astrid penasaran dengan ucapan Pria misterius ditelepon yang mengatakan bahwa Dia kenal dengan Astrid dan Papahnya, Edward . Dia juga penasaran, karena Pria misterius itu mengaku pernah mengenal Astrid saat Dia remaja itu .
Alex yang menyetir mobilnya menoleh pada Astrid, Dia melihat wajah Astrid tegang dan sedang memikirkan sesuatu hal .
Alex diam dan tak mau mengusik Astrid, Dia membiarkan Astrid diam dan berfikir . Mobil terus melaju menyusuri jalan raya .
---
Di sebuah Gudang , terlihat empat anak buah Gerard berdiri di hadapan Antoni yang duduk di sebuah kursi, dengan kondisi kedua tangan, kaki serta tubuhnya terikat .
Wajah Antoni bengkak dan memar memar serta luka dan berdarah, keempat orang itu telah memukuli Antoni dan menyiksanya .
Terlihat tubuh Antoni lemah, Dia tak berdaya, Dia tak bisa berbuat apa apa dengan kondisinya yang terikat itu .
Telepon berbunyi, salah seorang Pria yang bernama Marlon mengambil ponselnya yang berbunyi dari dalam kantong celananya, Dia lantas segera menerima panggilan telepon itu .
"Ya, Boss, Kami udah di lokasi yang Boss berikan, dan Kami sudah menahannya." Ujar Marlon, bicara di telepon .
"Siap Boss !" Jawab Marlon .
Marlon lalu menutup telepon dan menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya, lalu Marlon mendekati ketiga temannya .
"Kalian jaga Dia baik baik, tunggu sampai Boss datang ke sini, Aku mau keluar sebentar, beli makanan buat Kita." Ujar Marlon, memberi tahu teman temannya .
"Siap !" Jawab ketiga orang tersebut secara bersamaan .
Marlon lantas berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan ketiga temannya yang berdiri di sekitar Antoni dan berjaga jaga .
Marlon berjalan keluar dari dalam gudang tersebut, Antoni tertunduk lesu , tubuhnya semakin lemah, dan Dia mengalami dehidrasi, darah menetes dari luka luka di wajahnya, ketiga orang yang menjaganya, tak perduli dengan kondisi lemah Antoni yang membutuhkan air saat ini, mereka membiarkan saja Antoni lemah dan lesu .
---
Alex dan Astrid tiba dirumah Alex, Alex langsung bergegas menyiapkan peralatan laptopnya, Astrid berdiri disampingnya , menunggu Alex selesai membawa peralatan pelacak dan laptopnya .
"Ayo kita pergi Trid." Ujar Alex .
"Udah semuanya Kamu bawa ?!" Tanya Astrid .
"Ya, udah lengkap, tinggal nyalakan saja laptop dan alat pelacaknya, maka kita sudah bisa melacak keberadaan Gerard nantinya ." Ujar Alex, menjelaskan pada Astrid .
"Oke, Lex. Ayo kita pergi." Ujar Astrid .
__ADS_1
Alex mengangguk, lalu mereka berdua segera berjalan keluar dari dalam rumah Alex, Alex berjalan cepat sambil membawa tas berisi laptop dan peralatan pelacaknya .
Astrid dan Alex masuk ke dalam mobil, mereka berdua tak lupa memakai sabuk pengaman , lalu, sebelum menyalakan mesin mobilnya, Alex mengeluarkan laptop dari dalam tasnya .
Alex kemudian menyalakan laptop dan mengaktifkan alat pelacak yang sudah terpasang di laptopnya itu .
Lalu, Alex dan Astrid melihat ke layar monitor, tampak titik merah berkedip kedip dan bergerak pelan, Alex mulai melacak keberadaan Gerard saat ini, melalui ponsel Gerard . Astrid dengan wajahnya yang serius mengamati layar laptop tersebut .
"Kamu pegang laptopnya Trid, dan Kamu bisa liat, kemana titik merah itu bergerak, itu lokasi Gerard saat ini." Ujar Alex.
Astrid mengambil laptop dari tangan Alex, lalu Dia memegang dan memangku laptop tersebut dikedua pahanya dan mengamati alat pelacak di layar laptop.
Alex menyalakan mesin mobilnya, lalu Dia segera menjalankan mobilnya, mobil lantas melaju pergi meninggalkan rumah Alex .
Di rumahnya, Gerard bersiap siap hendak pergi menemui Antoni yang saat ini sudah di sekap oleh anak buahnya di sebuah gudang .
Saat Dia berjalan di selasar ruangan dalam rumahnya, Dia berpapasan dengan Zahara yang baru saja keluar dari dalam kamar anaknya, Maharani , Zahara langsung menghampiri Gerard .
"Melani Kabur !! Dia gak ada dikamarnya !" Ujar Zahara, berdiri dihadapan Gerard .
Gerard diam tak menanggapi perkataan Zahara, Dia juga tak kaget Zahara mengatakan bahwa Melani kabur dari rumahnya .
Gerard tak perduli, karena Dia sudah tahu semuanya, Dia sudah tahu bahwa Melani bukan anak kandungnya, melainkan anak Edward .
Sebenarnya Gerard ingin membahas dan memberi pelajaran pada Zahara karena selama ini sudah membohonginya tentang Melani.
Namun, Gerard menundanya, Dia ingin menyelesaikan urusannya terlebih dulu, Dia ingin memberi pelajaran pada Antoni dan mencari keberadaan Astrid serta Edward saat ini.
Gerard ingin menemui Antoni dan memaksanya agar memberitahu persembunyian Edward saat ini bersama Astrid. Dia tak mau berurusan dengan Zahara sebelum Dia menemui Antoni dan menyelesaikan urusannya dengan Antoni .
Gerard cuek dan mengabaikan Zahara, Dia berjalan melewati Zahara yang berdiri di hadapannya, Zahara kesal melihat sikap Gerard yang cuek dan mengabaikannya .
"Apa Kamu gak khawatir sedikitpun dengan Melani ?!!! Dia anakmu!! Kamu harus mencarinya !!" Teriak Zahara .
Zahara berteriak sambil melihat kearah Gerard yang berjalan menuju ke depan rumahnya.
Mendengar ucapan Zahara, seketika langkah Gerard terhenti. Dia geram, tangannya mengepal, Gerard menahan amarahnya, lalu, Dia berbalik badan dan menatap Zahara .
"Anakku ?! Anakku kamu bilang?!!" Ucap Gerard, dengan sinis menatap wajah Zahara .
Gerard lantas melangkah mendekati Zahara, Zahara kaget mendengar perkataan Gerard , Dia heran, mengapa Gerard berkata seperti itu . Zahara berdiri dan terdiam, Dia melihat Gerard berjalan mendekatinya dengan wajah yang terlihat geram dan marah .
Zahara bertanya tanya, apakah perkataan Gerard itu menunjukkan bahwa Gerard sudah tahu tentang Melani yang sebenarnya?
Dan jika memang benar Gerard sudah mengetahui bahwa Melani bukan anaknya, tapi melainkan anak Edward, hasil dari hubungan gelapnya bersama Edward, lantas, dari mana Gerard mengetahuinya ? Siapa yang memberi tahu Gerard tentang Melani ?
Zahara bertanya tanya dalam hatinya, apalagi Dia melihat kemarahan dalam diri Gerard yang melangkah mendekatinya saat ini.
Zahara bersiap siap dari segala macam hal buruk yang bisa saja terjadi saat ini pada dirinya, Dia berusaha menenangkan dirinya, Dia berdiri tegak menunggu Gerard tiba di hadapannya.
Jika pun Gerard benar sudah mengetahui semuanya tentang Melani, Zahara siap menghadapi kemarahan Gerard .
__ADS_1