
Gerard menyeringai geram menatap wajah Astrid yang berdiri santai di depan pintu masuk rumahnya.
"Aku sudah tau siapa Kamu, dan Kamu gak akan bisa lagi bersembunyi dalam penyamaranmu itu !!" ucap Gerard, menegaskan pada Astrid.
Astrid sempat terkejut mendengar perkataan Gerard, namun Dia berusaha untuk tak memperlihatkan rasa kagetnya dan tetap bersikap tenang dihadapan Gerard.
"Aku tau niat busukmu, menyamar menjadi orang lain, tinggal di sini, karena Kamu sengaja mengawasi kami kan?!!" Bentak Gerard marah pada Astrid.
"Aneh, datang datang marah marah, sudah gak sopan ketuk pintu keras keras, malah langsung nuduh orang, Lagi mabuk ya?!" Ujar Astrid menatap sinis wajah Gerard.
Gerard semakin geram dan menahan amarahnya melihat reaksi cuek dan santai Astrid berdiri dihadapannya, Dia marah karena Astrid menuduhnya memfitnah dan sedang mabuk, itu sebuah penghinaan bagi Gerard.
"Kamu gak usah pura pura didepanku ! Aku sudah tau semuanya, Kamu anaknya Edward , Astrid !! Aku sudah tau, Karina yang membongkar penyamaranmu dan memberitahunya pada Kami!!" bentak Gerard dengan geramnya pada Astrid.
Astrid nyengir lalu tersenyum sinis menatap wajah Gerard yang berdiri dihadapannya dalam keadaan emosi marah.
"Maaf ya, Saya gak punya waktu meladeni anda !" Ucap Astrid sinis.
Astrid hendak menutup pintu rumahnya, Dia malas menanggapi Gerard, Tak ada gunanya Dia membantah atau menanggapi Gerard.
Gerard semakin geram, cepat Dia menahan pintu yang hendak di tutup Astrid dengan tangan dan kakinya.
Sementara itu, Antoni di tempat persembunyiannya masih mengawasi, Dia mendengar segala perkataan Gerard yang bicara keras pada Astrid, Antoni diam mengamati mereka berdua.
"Minggir ! Aku gak mau bicara dengan orang gila sepertimu!" Ucap Astrid, membentak Gerard.
Astrid marah, karena pintu terhalang kaki Gerard yang menghalangi pintu, sehingga tak bisa di tutup Astrid.
"Anak sialan, mau mampus Kamu ya !!" Bentak Gerard, penuh amarah.
Gerard geram dan semakin marah melihat sikap tengil Astrid yang terus saja terkesan merendahkan dirinya.
Gerard mengangkat tangannya dan hendak memukul Astrid, Antoni yang melihat itu langsung cepat keluar dari tempat persembunyiannya. Lalu, Cepat Dia berdiri di depan rumah Astrid.
"Hai Camelia !!" Ujar Antoni, sedikit berteriak menyapa Astrid.
Gerard terkejut mendengar suara teriakan Antoni yang memanggil nama Astrid sebagai Camelia, Dia lantas menurunkan tangannya, tak jadi memukul Astrid.
Astrid melihat Antoni yang lantas berjalan menghampirinya yang sedang bersama Gerard.
"Hai Antoni !!" Sapa Astrid.
Astrid senang dengan kemunculan Antoni disaat yang tepat, sehingga Dia tak harus melawan Gerard , yang akan membuka penyamarannya.
Antoni sengaja keluar dari tempat persembunyiannya karena melihat Gerard hendak memukul Astrid, Antoni muncul dengan sengaja untuk mencegah Gerard memukul Astrid.
"Maaf, Aku baru pulang kerja, gak sengaja liat Kamu di depan pintu sedang bersama pak Gerard." Ucap Antoni.
"Hallo pak Gerard, Saya Antoni, warga yang tinggal di kampung belakang perumahan ini." Ujar Antoni memperkenalkan dirinya pada Gerard.
Gerard diam , Dia tak menanggapi perkataan Antoni, Gerard cuek dan tak mau melihat Antoni.
__ADS_1
Gerard menahan amarahnya dan berusaha menenangkan dirinya, Dia lantas mendekati wajah Astrid.
"Aku akan membunuhmu Astrid, berhati hatilah, sebelum kamu membunuhku, Aku akan menghabisimu lebih dulu." bisik Gerard di telinga Astrid.
Astrid diam saja mendengar bisikan Gerard yang mengancam dirinya , Dia malah tersenyum sinis menatap wajah Gerard.
Gerard menatap Astrid dengan geram, lalu Dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Astrid dan Antoni.
Antoni melihat kepergian Gerard yang berjalan kembali kerumahnya dengan membawa amarahnya.
"Kamu gak apa apa?" Tanya Antoni, menatap wajah Astrid.
"Nggak apa apa." Ucap Astrid, tersenyum pada Antoni.
"Aku dengar dan liat tadi Bapak itu membentak dan mau memukulmu, jadi Aku langsung saja kesini dan menyapamu, biar Dia gak jadi memukulmu." Ucap Antoni.
"Terima kasih, ya." Ucap Astrid.
"Iya." Jawab Antoni, tersenyum pada Astrid.
"Maaf ya, Aku mau istirahat." Ujar Astrid pada Antoni.
"Ya, istirahatlah." Ujar Antoni.
Astrid lantas masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu rumahnya, Antoni lantas berbalik dan berjalan pergi meninggalkan rumah Astrid.
Namun, baru beberapa langkah berjalan , Antoni berhenti berjalan, Dia berfikir.
"Gerard tadi menyebut nama Astrid, Dia memanggil Camelia dengan sebutan Astrid. Ah, apakah Camelia itu Astrid, anaknya pak Edward?!" Gumam Antoni bicara dengan dirinya sendiri.
Antoni lantas menghela nafasnya, lalu, Dia berjalan kembali, pergi dari rumah Astrid.
Sementara itu, Gerard masih berdiri di pinggir jalan, depan rumah Astrid, Dia tampak masih marah besar pada Astrid.
Dia menoleh kerumah Astrid, tatapan matanya penuh amarah melihat rumah Astrid.
Gerard lantas melihat Antoni berjalan ke arahnya, bertepatan dengan itu mobil Samuel datang dan masuk ke halaman rumah Gerard.
Karena tak ingin bertemu dan bicara dengan Antoni, Gerard lantas segera berjalan kembali , Dia menyeberangi jalan dan melangkah masuk kerumahnya, sementara Antoni berbelok ke kanan jalan, lalu berjalan di atas trotoar jalanan menuju kerumahnya .
Dari dalam mobilnya, saat masuk kerumah, Samuel tadi sempat melihat Gerard berdiri di pinggir jalan, depan rumah Astrid, dan Dia juga melihat Gerard melihat ke arah rumah Astrid.
Samuel curiga dengan gerak gerik Gerard yang dilihatnya lagi, Dia lalu cepat keluar dari dalam mobilnya.
Gerard berjalan cepat memasuki halaman rumahnya, Dia jalan dan melewati Samuel yang berdiri disamping mobilnya.
"Mau apa Papah ke rumah Camelia?!!" Tanya Samuel.
Samuel menghalangi jalan Gerard, Dia berdiri di hadapan Gerard, sehingga Gerard menghentikan langkahnya.
Samuel menatap tajam penuh curiga pada Gerard.
__ADS_1
"Apa yang Papah lakukan didepan rumah Camelia ?!!" Tanya Samuel sekali lagi.
Kali ini nada suaranya meninggi dari sebelumnya, Dia bertanya dengan membentak Gerard, Gerard geram menatap wajah Samuel yang berdiri dihadapannya.
"Bukan urusanmu!" Ujar Gerard, sinis pada Samuel.
"Minggir Kamu !!" Ujar Gerard, sambil mendorong tubuh samuel.
Karena di dorong, Samuel bergeser, Gerard langsung berjalan meninggalkan Samuel, Samuel kesal dengan sikap Gerard yang tak menjawab pertanyaannya.
"Ingat Pah !! Jika Papah berniat jahat sama Camelia, Aku gak akan diam, Aku akan membalasnya !! Jika Papah melukai Camelia, Aku akan melukai Papah !!" Bentak Samuel, dengan penuh amarah pada Gerard.
Gerard tak menanggapi perkataan Samuel, Dia terus saja berjalan pergi meninggalkan Samuel, Dia masuk ke dalam rumahnya.
Samuel terlihat marah, Dia mengira, Gerard datang kerumah Astrid karena habis melabrak Astrid. Samuel mengira, Zahara mengadu pada Gerard, atas kejadian yang baru baru ini terjadi, saat Samuel mendorongnya hingga terjatuh.
Samuel lantas mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, lalu, Dia segera menelpon Astrid.
"Hallo, Lia." Ujar Samuel, bicara di teleponnya.
"Maaf mengganggumu, Kamu sudah tidur?" Tanya Samuel, ditelepon.
"Baru mau tidur, ada apa Sam?" tanya Astrid , dari seberang telepon.
"Aku tadi liat Papahku dari rumahmu, apa Dia datang melabrakmu karena soal Zahara yang Aku dorong hingga jatuh?!" Tanya Samuel, di teleponnya.
"Iya." jawab Astrid, dari seberang telepon.
Astrid sengaja berkata jujur, karena memang Dia ingin mengadu domba antara Samuel dan Gerard.
Dia tahu, jika Dia berkata jujur, Samuel pasti sangat marah dan membela dirinya lalu menegur Gerard, itu yang di inginkan Astrid, Samuel akan semakin bermusuhan dengan Papahnya sendiri. Dan memudahkan langkahnya melibatkan Samuel untuk menghancurkan Gerard dan Zahara.
"Apa yang dilakukannya? Apa Kamu di pukulnya?!" Tanya Samuel, ditelepon.
Wajah Samuel cemas, Dia mengira Gerard telah memukul Astrid, tampak kekhawatiran ada dalam dirinya.
Jika benar Astrid dipukul, Dia akan memberi pelajaran pada Gerard saat ini juga, begitu pikirnya.
"Nggak kok, Aku gak di pukul, Sam. Dia cuma bicara saja padaku, menegurku, agar gak mengganggu Zahara lagi." ujar Astrid, berbohong.
"Oh, begitu. Baiklah." jawab Samuel diteleponnya.
Dia lega karena Astrid tak di pukul Gerard, namun, Dia tetap marah pada Gerard karena sudah melabrak dan menegur Astrid hanya karena masalah Zahara .
"Ok Lia. Selamat tidur ya." ucap Samuel, diteleponnya.
"Ya, Sam." jawab Astrid dari seberang telepon.
Samuel lalu menutup telepon dan menyimpannya kembali ke dalam kantong celananya, Lalu Dia berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Astrid terlihat berdiri diteras lantai atas rumahnya dan melihat ke arah rumah Samuel, Dari teras lantai atas rumahnya, Astrid menerima telepon dan bisa melihat Samuel.
__ADS_1
Dia tak tidur, hanya berbohong pada Antoni, karena Dia tak ingin bicara dengan Antoni. Lalu, Dia segera naik ke lantai atas dan berdiri diteras rumahnya melihat Gerard yang berjalan menuju kerumahnya. Dan dari teras lantai atas rumahnya Astrid juga melihat Samuel sempat bicara dengan Gerard, sebelum Samuel menelponnya.
Astrid lantas berbalik badan, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya kembali.