
Astrid mengikuti Antoni yang sudah berjalan masuk kedalam rumahnya, Dia melangkah pelan dan masuk ke dalam rumah Antoni.
Didalam ruang rumah Antoni gelap, Astrid berdiri ditengah tengah ruang tamu rumah, Antoni tersenyum senang berdiri dihadapannya.
"Tunggu sebentar ya." Ucap Antoni, menatap wajah Astrid yang berdiri dihadapannya itu.
"Ya." Angguk Astrid.
Antoni lantas bergegas masuk kedalam ruangan yang lain, Astrid masih berdiri ditempatnya, Dia masih bertanya tanya, tentang apa yang akan di bicarakan dan di tunjukkan Antoni kepadanya.
Astrid berdiri diam menunggu kedatangan Antoni yang masuk kedalam ruangan lain didalam rumah.
"Apa kabar Astrid ?"
Terdengar suara Pria dengan nada bicara bergetar dan sedikit berat.
Astrid tersentak kaget, karena Dia sempat melamun memikirkan apa yang akan diberitahu Antoni.
Cepat Astrid berbalik badan dan melihat ke arah suara yang memanggil namanya.
Betapa terkejutnya Astrid saat melihat sosok Pria tua dengan rambut yang panjang dan berkumis serta brewokan, berdiri di tengah pintu pembatas ruangan rumah.
Pria Tua itu berdiri menatap wajah Astrid, yang berdiri tak jauh darinya, Antoni keluar dari dalam ruangan, Dia berjalan mendekati Astrid.
"Kamu tau, Siapa Bapak ini?" Ujar Antoni, bertanya pada Astrid.
Astrid hanya menggelengkan kepalanya, Dia tak tahu dan tak bisa mengenali wajah Pria tua yang berambut panjang dan berkumis serta brewokan itu.
Namun, Astrid kernyitkan keningnya, tatapan mata Pria tua itu mengingatkan dirinya akan seseorang, yang selama ini sangat di rindukannya.
"Papah?!" Ucap Astrid, dengan suara bergetar dan bibir gemetar tipis.
Astrid menatap lekat wajah Pria tua tersebut, Dia lantas melangkah perlahan, berjalan mendekati Pria tua tersebut.
"Astrid, anakku." Ucap Pria tua itu.
"Papah ?!!! Ini Papah ?!!!" Astrid semakin terhenyak syock dan kaget.
Selain kaget, kedua mata Astrid mulai berkaca kaca, Dia menatap pria tua yang berdiri dihadapannya dan tak lain serta tak bukan , Pria itu adalah Edward, Bapak kandung Astrid.
"Ya, ini Papah, sayangku." Ucap Edward.
Edward juga berkaca kaca matanya memandangi wajah Astrid yang berdiri dihadapannya, Astrid langsung menangis tersedu sedu, Dia lantas cepat memeluk tubuh Papahnya.
__ADS_1
"Papaaah...!!" Ucap Astrid, memeluk erat tubuh Papahnya.
Astrid lantas menangis sejadi jadinya dalam pelukan Papahnya, Edward pun lantas ikut menangis, mereka berdua melepaskan kerinduan yang sudah lama dipendam.
Astrid tak menyangka, Papahnya ada di hadapannya, Dia menyangka, selama ini Papahnya sudah mati di bunuh dalam rumah tahanan, Dia percaya, Papahnya mati, karena Dia melihat jelas dalam rekaman kamera cctv saat Papahnya di tikam pisau lalu terkapar dan tak bergerak di lantai ruang makan rumah tahanan beberapa tahun silam.
Antoni hanya diam saja, Dia memandangi keduanya, Antoni memberikan kesempatan dan waktu kepada Edward dan Astrid untuk melepaskan kerinduannya.
Lalu, Edward melepaskan pelukan Astrid dari tubuhnya, Astrid melepaskan tubuhnya.
Astrid masih menangis berdiri memandang Edward yang juga menangis di hadapannya.
"Apa yang terjadi, Pah? Tolong jelaskan pada Astrid!" Ujar Astrid, menangis sedih bercampur haru.
Ada kebahagiaan dalam diri Astrid, karena ternyata selama ini Papahnya masih hidup dan segar bugar. Namun, di sisi lain Astrid kesal pada Papahnya, karena menghilang begitu saja dan tak memberi tahu kepadanya, kalau Dia masih hidup.
"Papah kemana aja selama ini? Astrid mengira Papah mati di bunuh dalam penjara, Astrid marah, Astrid lalu membalas dendam sama orang yang membunuh Papah, karena Dia Astrid sangka sudah membunuh Papah." Ujar Astrid, marah dalam tangis sedihnya.
"Maafkan Papah, Nak. Papah terpaksa melakukan hal ini, Papah harus terus bersembunyi." ujar Edward, menghapus air mata anaknya itu.
"Papah gak mau Gerard dan komplotannya tau, kalo Papah masih hidup dan kabur dari penjara." Lanjut Edward.
"Papah tau apa yang sudah Kamu lakukan, Diam diam, Papah mengawasi kamu, Nak. Papah memasang kamera cctv tersembunyi dalam rumahmu, papah mengawasi Kamu selama ini." Jelas Gerard.
"Papah tau, Kamu kembali ke sini dan membeli rumah kita lagi, Antoni yang bilang, Saat pertama ketemu Kamu, Antoni langsung tau, bahwa Kamu Astrid, bukan Camelia, sepertj pengakuanmu saat pura pura kenalan dengan Antoni." Jelas Edward.
"Benarkah ?" Ujar Astrid, bertanya pada Antoni yang berdiri disampingnya.
"Ya, Astrid, Aku sangat mengenalimu, setelah pertemuan kita pertama kali, Aku kasih tau pak Edward, bahwa Aku sudah menemukan Kamu, dan Kamu tinggal di rumah lamamu." Jelas Antoni.
Astrid terdiam, Dia bingung dan tak menyangka dengan kenyataan yang Dia dapatkan saat ini, Astrid paham sekarang, bahwa, inilah maksud dan tujuan Antoni memaksanya agar mau datang kerumahnya dan mau menunjukkan sesuatu hal yang akan membuat Dirinya kaget dan tak menyangka setelah melihat apa yang ditunjukkan Antoni, dan ternyata itu Papahnya yang masih hidup dan segar bugar.
"Kenapa Papah ada di rumah Antoni? Astrid bingung, kenapa Kalian merahasiakannya pada Astrid?" Ujar Astrid .
"Dan Kamu Antoni, mengapa gak bilang padaku, kalo Papahku masih hidup dan selama ini tinggal bersama Kamu?" Ucap Astrid menangis sedih dan haru.
"Papah yang meminta, agar Antoni gak bilang padamu Astrid." Ujar Edward.
"Papah akan membalas perbuatan Gerard dan komplotannya pada Papah, dan papah gak mau melibatkanmu." Ungkap Gerard.
"Tapi Astrid sudah terlibat jauh dalam urusan Papah, Astrid sudah bertindak jauh membalaskan dendam Papah." Ucap Astrid dengan tegasnya.
"Ya, Astrid, Papah tau itu." Ucap Edward, tersenyum lembut pada Astrid.
__ADS_1
"Antoni cerita, Kamu dikeroyok dan mau di bunuh, lalu, Papah yang menyuruh Antoni untuk membawa Kamu ke sini." Ujar Edward.
"Papah pikir, sudah saatnya Kamu harus tau tentang Papah, Papah mau melindungi Kamu, Papah tau, Kamu jadi incaran Gerard, karena penyamaran Kamu sebagai Camelia sudah terbongkar." Jelas Edward, menegaskan pada Astrid.
"Itu sebabnya, Antoni membawamu ke sini, Anakku, dan kita bertemu kembali." Ujar Edward, tersenyum senang menatap wajah Astrid.
Astrid masih diam memandangi wajah Papahnya dan juga Antoni, Dia lantas menghela nafasnya.
"Bagaimana Papah bisa selamat dari pembunuhan dipenjara itu?" Ujar Astrid, bertanya dengan menatap tajam wajah Papahnya.
"Panjang ceritanya Anakku." Ucap Edward.
"Astrid punya waktu banyak untuk mendengarkan semua cerita Papah, Astrid mau tau, apa yang sudah terjadi sama Papah !" Ujar Astrid, menegaskan pada Edward.
"Baiklah, Papah akan cerita padamu." Ujar Edward.
"Mari kita duduk, agar lebih santai." Ucap Edward.
Astrid mengangguk, Dia lantas menghapus air matanya, lalu, Dia mengikuti Edward yang sudah duduk di sofa, Astrid lalu duduk di sofa, yang ada disamping Edward, sementara Antoni, duduk di sofa , disamping Astrid.
"Apa Alex selama ini juga tau, kalo Papah masih hidup?!" Ujar Astrid bertanya pada Papahnya.
Dia ingin tahu, apakah Alex juga mengetahui bahwa Papahnya belum mati, jika benar Alex tahu, Dia akan marah besar pada Alex, karena sudah merahasiakan hal itu pada dirinya, Dia akan melabrak Alex dan memarahi Alex habis habisan.
"Alex sama sekali gak tau, kalo Papah masih hidup." Ujar Edward, mengungkapkan kebenaran pada Astrid.
"Hanya Antoni seorang yang tau." Jelas Edward.
"Oh." Ucap Astrid.
Dia lega, karena ternyata Alex tak membohongi dirinya, dan sama sekali Alex sama seperti Dia, tak tahu, jika Papahnya selama ini masih hidup, dan tinggal dirumah Antoni.
"Papah akan mulai cerita, bagaimana Papah bisa selamat dari maut yang mengancam nyawa Papah dulu." Ujar Edward, tersenyum lembut pada Astrid.
Tatapan mata Edward penuh kasih sayang memandangi wajah Astrid, Astrid juga menatap lekat wajah Papahnya.
Dia memang sangat ingin mengetahui, apa yang sudah terjadi, bagaimana papahnya bisa selamat dari kematian, dan juga, Dia ingin tahu, mengapa Papahnya bisa bertemu Antoni, dan lalu, Papahnya tinggal di rumah Antoni.
Astrid ingin menemukan jawaban dari banyaknya pertanyaan pertanyaan yang muncul dalam pikirannya saat ini.
Dia ingin tahu, bagaimana Antoni bisa terlibat dan bekerja sama dengan Papahnya, Astrid ingin tahu, mengapa Antoni selama ini menyembunyikan Papahnya dirumah Dia.
Pertanyaan pertanyaan dalam pikiran Astrid saat ini sudah tak sabar, ingin segera mendapatkan jawaban yang jelas dan pasti dari mulut Papahnya langsung , yang saat ini, ada dihadapannya .
__ADS_1