Destroy

Destroy
Aku Menemukan Photo Itu


__ADS_3

Zahara mendekati kamar Melani, Dia hendak membuka pintu, namun, kunci kamar terkunci dari dalam kamar.


"Mel...Melani...ayo berangkat Mel..." Ujar Zahara, memanggil Melani sambil mengetuk pintu kamarnya.


Tak ada jawaban dari dalam kamar Melani. Zahara mengetuk pintu lagi dan mencoba memanggil Melani kembali.


"Mel...tolong bukain pintunya, Mama mau bicara." Ujar Zahara, memanggil Melani .


Tak juga ada jawaban dari dalam kamarnya, Zahara menghela nafasnya, Dia merasa bersalah pada Melani. Dia paham, anaknya pasti saat ini merasa terguncang jiwanya dan tak mau bicara pada dirinya, karena Melani merasa sudah dibohongi Zahara selama ini.


Zahara lantas berbalik badan, Dia pergi meninggalkan kamar, Di dalam kamar, tampak Melani menangis sejadi jadinya, Dia menangis diatas kasurnya .


---


Di jalanan, terlihat Astrid gelisah di dalam mobil, Dia melihat Alex yang menyetir mobilnya.


"Buruan Lex, Aku gak ingin terjadi apa apa pada Papahku." Ucap Astrid, dengan wajah tegangnya.


Astrid khawatir, Papahnya bertemu Gerard lalu mereka berkelahi dan Papahnya terluka . Astrid ingin cepat sampai agar bisa membawa pergi Papahnya .


"Sebentar lagi kita sampai Trid, kamu tenang aja." Jawab Alex, sambil tetap menyetir mobilnya.


Astrid melihat pada denah lokasi dimana Edward berada saat ini, denah lokasi tersebut ada di mobil Alex. Astrid perhatikan titik pusat yang menunjukkan keberadaan Edward bergerak ke arah lain.


"Loh, Lex, itu tandanya bergerak menjauh dari lokasi sebelumnya?" Ucap Astrid.


Alex sambil menyetir mobilnya melihat denah lokasi yang dilacaknya dan ada di mobilnya.


"Sepertinya papahmu sudah pergi dari rumah Gerard. " Ujar Alex.


"Iya, Lex. kalo dilihat dari pergerakannya yang semakin menjauh sih sepertinya begitu." Ujar Astrid .


"Kita terus ikuti Lex, cepat, kejar. " Ucap Astrid menoleh pada Alex.


"Iya." Angguk Alex.


Alex lantas menginjak gas mobil dan menambah kecepatan mobilnya, mobil lantas melaju lebih cepat menyusuri jalan raya .


Samuel tiba di kantor, tapi, Dia bukan ke kantornya sendiri, melainkan Dia datang ke kantor papahnya, Samuel bermaksud ingin menemui Papahnya.


Mobil parkir dihalaman parkir gedung perkantoran yang terlihat luas dan menjulang tinggi dengan mewahnya.


Samuel keluar dari dalam mobilnya, lalu Dia berjalan santai menuju lift yang ada di area halaman parkir mobil tersebut .


Tak berapa lama, pintu lift terbuka, Samuel cepat masuk ke dalam lift. pintu lift tertutup, Samuel sudah berada didalam lift . Di dalam lift, Samuel teelihat tenang dan santai, Dia bersiul siul sendirian didalam lift tersebut .


Sementara itu, Edward tampak menyetir mobilnya dijalanan, Dia mendatangi rumah Zahara dengan menggunakan mobil yang di sewanya dari rental mobil .

__ADS_1


Sambil menyetir mobilnya, Edward terus memikirkan Melani, wajah Melani, anak kandungnya itu terbayang bayang terus dalam ingatannya.


Mengetahui Melani, anaknya masih hidup dan dalam keadaan sehat serta terawat, Edward senang, Dia tenang, karena selama ini ternyata Zahara merawatnya dengan baik dan tidak menelantarkan anaknya .


Ada keinginan yang besar dalam diri Edward, Dia ingin bisa bersama Melani, dan bicara banyak pada Melani, Edward bertekat untuk menemui Melani, Dia ingin memberi penjelasan dan pemahaman pada Melani, agar Melani nantinya mau menerima kenyataan , bahwa Dia adalah Papah kandungnya .


Tiba tiba saja, sebuah mobil melaju dari arah belakang dan menyalip mobilnya, Edward kaget, langsung membanting stir mobilnya ke pinggir jalan, dan menghindari mobil yang menyalip mobilnya.


Mobil Edward mengerem mendadak lalu berhenti di pinggir jalan, dari dalam mobilnya Dia melihat, mobil yang menyalip berhenti di depan, tak jauh dari mobilnya berhenti saat ini .


"Sial ! Hampir saja tabrakan. " Ujar Edward kesal.


Edward kesal dan marah, Dia lantas membuka dashboard mobilnya dan mengambil pistol dari dalam dashboard.


Dia mengambil dan memegang pistol untuk berjaga jaga dan melindungi dirinya sendiri, Dia curiga, mobil yang menyalipnya mau berniat jahat dan berniat akan mencelakakan dirinya.


Edward bersiap siap, Saat Edward hendak membuka pintu, Dia melihat, dari dalam mobil yang menyalipnya itu keluar Astrid .


"Astriiid ?!!" Edward tersentak kaget.


"Dari mana Dia bisa tau Aku di sini?!" Gumam Edward heran .


Edward terkejut saat melihat, bahwa ternyata yang menyalip mobilnya adalah Astrid. Dia lantas tak jadi membawa pistolnya, Pistol disimpannya lagi dalam dashboard mobil .


Mengetahui bahwa ternyata anaknya sendiri dan bukan orang lain yang menghadang mobilnya, Edward cepat membuka pintu lalu keluar dari dalam mobilnya.


Astrid berjalan mendekati mobil Edward yang berhenti di pinggir jalan, Alex juga keluar dari dalam mobil dan mengikuti Astrid.


"Astrid. Kenapa Kamu bisa ada di sini?" tanya Edward, menatap heran wajah Astrid yang sudah berdiri dihadapannya.


"Aku melacak hape Papah. " Ujar Astrid , menatap tajam wajah Papahnya.


"Oh." Angguk Edward paham.


"Papah sendiri ngapain ? Aku kan udah bilang, kalo Papah mau pergi dan ada yang mau papah lakukan, tolong kasih tau Aku, jadi Aku gak khawatir !!" Tegas Astrid, menatap kesal wajah Papahnya.


"Papah sudah telpon Kamu, tapi hapemu gak aktif." Ujar Edward menjelaskan.


"Ya, setidaknya, sehari sebelum pergi, Papah kan bisa bilang dan kasih tau Aku, mau kemana Papah dan apa yang akan Papah lakukan!" Ujar Astrid kesal.


"Jadi Aku gak cemas, Papah gak bisa pergi seenaknya sendiri, ingat Pah . Musuh Papah banyak diluaran, dan mereka semua belum tau kalo Papah masih hidup!" Tegas Astrid .


"Bagaimana Kalo mereka tau, Papah masih hidup? Mereka pasti mengejar dan memburu Papah, mereka pasti berusaha membunuh Papah!!" Ungkap Astrid, menatap tajam wajah Edward yang diam berdiri dihadapannya.


"Maafin Papah." Ucap Edward, merasa bersalah pada Astrid.


"Ngapain Papah kerumah Zahara ?!! Papah apa gak mikir, kalo Zahara tau Papah masih hidup, Dia pasti bilang sama Gerard, dan Gerard akan melapor pada kelompok organisasinya, dan mereka akan mengejar Papah!!" Tegas Astrid.

__ADS_1


"Ya, Papah tau resikonya, Papah tau, mereka akan mengejar dan mencoba membunuh Papah jika tau, Papah masih hidup, dan Papah gak takut, Papah udah siap menghadapi mereka semua." Ujar Edward menegaskan.


Alex hanya diam saja berdiri disamping Astrid, Dia tak mau ikut campur dan memilih menjadi pendengar yang baik saja .


"Zahara sudah tau, kalo Papah masih hidup, Kami bertemu." Ujar Edward.


"Apa reaksi si Zahara ?" Tanya Astrid.


"Dia kaget, syock, Dia gak nyangka kalo Papah ternyata masih hidup." Ujar Edward , memberi tahu Astrid.


"Apa sih yang Papah lakukan? Buat apa Papah nemui wanita jahanam yang udah membuat hidup Papah hancur?!" Ujar Astrid, kesal dan marah pada Papahnya.


"Ada satu hal penting yang mau Papah tanyakan pada Zahara. Dan Papah harus segera mendapatkan jawabannya dari Dia, sebelum Papah bertindak, menuntut balas pada Zahara dan komplotan Gerard." Ungkap Edward, menatap lekat wajah Astrid, yang berdiri kesal di hadapannya.


"Astrid diam, Dia paham dengan maksud dari perkataan Papahnya, lalu, Dia mengambil photo dari dalam kantong celananya.


"Apa ada hubungannya dengan Photo ini, Pah?" Tanya Astrid.


Astrid menyodorkan selembar photo pada Edward, Edward mengambil photo itu dari tangan Astrid.


Betapa kagetnya Edward saat melihat photo yang di pegangnya itu , Dia terperangah syock, tak menyangka, photo itu ada pada Astrid.


"Aku menemukan photo itu dalam tas koper Papah." Ujar Astrid.


"Maaf Pah, Aku membuka tas koper Papah, Aku cemas sama Papah, karena Papah gak ada di Paviliun, Aku khawatir Papah kenapa kenapa." ujar Astrid.


"Saat Aku mencari Papah ke kamar Papah, gak sengaja Aku liat lemari pakaian Papah terbuka dan Aku menemukan tas koper. Aku penasaran dengan isinya, lalu membuka tas koper yang gak Papah kunci itu." Ungkap Astrid.


"Dan Aku menemukan photo itu diantara tumpukan berkas berkas dan surat surat penting Papah dalam tas koper itu." lanjut Astrid, menjelaskan pada Edward.


Edward hanya diam saja melihat photo yang ada ditangannya itu, Astrid menatap tajam wajah Edward.


"Siapa bayi dalam photo itu, Pah?" Tanya Astrid, menatap tajam wajah Edward, yang berdiri diam di hadapannya .


"Sebaiknya kita pulang ke Paviliun dulu, nanti, Papah jelaskan semuanya padamu ." Ujar Edward.


"Papah jangan bohong padaku." ujar Astrid.


"Papah gak ada niat membohongi Kamu, Nak." Ucap Edward, menatap lekat wajah Astrid yang tampak masih kesal dan marah padanya itu.


"Benar yang di bilang Papahmu, Trid. Gak baik bicara di pinggir jalan begini, bagaimana jika ada yang melihat dan mengenali Papahmu?" Ujar Alex, menoleh pada Astrid.


"Sebaiknya kita pulang dulu, nanti di Paviliun baru bicarakan lagi masalah ini." Lanjut Alex, memberi pengertian pada Astrid.


"Hmm...Baiklah." Angguk Astrid.


"Mari kita pulang sekarang." Ajak Alex pada Edward dan Astrid.

__ADS_1


Edward mengangguk, lalu, Dia berbalik dan segera berjalan masuk kedalam mobilnya. Astrid dan Alex juga masuk kedalam mobilnya .


Tak berapa lama kemudian, kedua mobil mulai berjalan, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut .


__ADS_2