
Orang suruhannya Samuel mulai bergerak kembali mendekati ruang kamar ICU tempat Jack dirawat, Dia melangkah dengan hati hati mendekati pintu masuk ruang kamar ICU itu.
Suasana disekitar lorong dan koridor lantai rumah sakit tempat beradanya ruang kamar ICU lengang dan sepi, tak ada siapa siapa yang terlihat berlalu lalang.
Setelah merasa aman, Orang suruhan Samuel segera membuka pintu ruang kamar ICU , lalu, dengan langkah kaki pelan, Dia memasuki ruangan kamar ICU tersebut.
Saat Dia berada didalam kamar, betapa terkejutnya dirinya, karena mendapatkan kamar itu kosong, dan tak ada Jack di dalamnya, kamar itu terlihat sangat rapi, seperti tak ada yang menempati sebelumnya.
Orang suruhan Samuel bingung melihat kenyataan bahwa Dia masuk ke dalam ruang kamar ICU yang kosong.
Lalu, cepat Dia mengambil ponsel dari dalam kantong celananya dan segera menghubungi Samuel untuk memberi laporan atas apa yang Dia lihat saat ini dalam ruang kamar tersebut.
"Hallo, Boss, Kenapa gak ada target di dalam kamarnya?" Ujar Orang suruhan Samuel, bicara di teleponnya.
"Apa maksudmu?" terdengar suara Samuel, dari seberang telepon.
Orang suruhan Samuel lantas membuka menu video di ponselnya, lalu, Dia merekam seluruh ruangan kamar itu dan mengirimkannya ke nomor telepon Samuel, agar Samuel melihat langsung video tersebut.
Di dalam restoran mewah, terlihat Samuel sedang menerima telepon dan posisinya kembali menjauh dari Astrid.
Astrid yang duduk di kursinya melirik Samuel, Dia semakin tahu, bahwa ada yang sedang direncanakan Samuel, Astrid bisa melihat wajah Samuel tegang menerima telepon dari seseorang, dan sejak tadi, Astrid melihat Samuel gelisah dan tak nyaman serta tak bisa menikmati makanan, dan berkali kali melihat pada jam tangannya, seperti ada yang sedang Dia tunggu saat ini.
Samuel membuka pesan yang masuk ke ponselnya, Dia lalu melihat file video yang dikirimkan Orang suruhannya .
Wajah Samuel kaget saat melihat rekaman video tersebut, betapa terkejutnya Dia melihat di dalam ruang kamar ICU kosong tak ada siapa siapa dan kamar dalam keadaan tertata rapi.
"Bajingan." Geram Samuel dengan suara pelan.
Dia lantas menyudahi menonton rekaman video itu, dan kembali bicara di teleponnya.
"Kamu gak salah kamar?!" Tanya Samuel, dengan suara pelan di teleponnya.
Dia bicara pelan agar Astrid tak mendengarkan percakapan Dia di telepon.
"Ini ruang kamar yang benar, sesuai dengan Boss berikan, Saya gak salah masuk kamar!" Tegas Orang suruhan Samuel, bicara dari seberang telepon.
"Sial !! Sepertinya Gerard tahu rencanaku ! Dan diam diam memindahkan si Jack ke kamar lainnya, agar Aku gak bisa membunuhnya !!" Ucap Samuel pelan dengan suara yang menahan amarahnya.
Samuel lantas menutup teleponnya, Dia tampak kesal dan marah serta kecewa, karena Dia tak berhasil membunuh Jack, sebab Jack tak ada didalam ruang kamar tempat Dia dirawat.
Samuel marah, karena merasa sudah di pecundangi, dan Dia tertipu mentah mentah. Samuel berdiri diam.
__ADS_1
"Darimana mereka tau, kalo Aku datang kerumah sakit dan akan membunuh Jack? Padahal, gak ada satu pun dari mereka yang melihat dan mengetahui rencanaku ini?!" Bathin Jack.
Dia berfikir keras, Samuel heran, mengapa rencananya bisa ketahuan oleh Gerard maupun Zahara, Dia bertanya tanya, dari mana mereka bisa tahu.
Samuel tak mengetahui, bahwa Melani melihatnya saat datang kerumah sakit dan mengikutinya sampai ke kamar tempat Jack di rawat.
Samuel tak menyadari hal itu, bahwa Melani yang memberi tahu Gerard, sehingga Gerard cepat memindahkan Jack ke ruang kamar lainnya di rumah sakit, agar Samuel tak bisa membunuh Jack.
Wajah Samuel terlihat semakin memerah menahan amarahnya, darah bergejolak di jiwanya, Dia tak bisa menerima kegagalan rencananya.
Harapannya membunuh Jack sirna seketika, Namun, Samuel tersadar, bahwa saat ini Dia bersama Astrid, Dia tak ingin Astrid mencium gelagat anehnya saat ini dan melihatnya marah.
Samuel menghela nafasnya, Dia berusaha menahan diri dan menenangkan dirinya, Dia mencoba tetap tenang di hadapan Astrid.
Samuel lantas menyimpan ponsel kedalam kantong celananya, lalu, Dia berjalan dan kembali ke mejanya untuk menemani Astrid yang menunggunya selesai menerima telepon.
"Telepon dari siapa Sam? Sepertinya sangat penting, karena kamu terus di telepon." Ujar Astrid.
"Padahal Kamu bilang, gak ada lagi yang akan mengganggu kenyamanan makan malam kita, tapi ternyata, masih ada yang menelpon Kamu." Ujar Astrid.
Astrid berpura pura cemberut dan protes pada Samuel, Dia tahu, Samuel saat ini resah dan sangat gelisah sekali.
"Maafkan Aku Lia. Kamu jadi gak nyaman malam ini." Ucap Samuel.
"Kalo Kamu memang ada urusan penting, kita akhiri saja makan malam ini, Kamu bisa pergi dan mengurus urusanmu itu, Aku gak apa apa kok.
"Kamu gak marah?" Tanya Samuel.
"Nggak, Ngapain juga Aku harus marah?" Ucap Astrid , tersenyum manis menatap wajah Samuel yang tampak resah itu.
"Beneran?!" Tanya Samuel, menatap tajam wajah Astrid, yang duduk di hadapannya itu.
"Iya, Sam. Beneran, Aku serius, Aku gak marah." Ucap Astrid lagi, menegaskan dan meyakinkan Samuel, bahwa Dia tak marah.
"Pergilah, tinggalkan saja Aku, Aku bisa pulang sendiri." Ucap Astrid, tersenyum pada Jack.
"Aku antar Kamu pulang ya?" Ujar Samuel.
"Gak usah, nanti Kamu malah kelamaan mengurus urusanmu itu, kan urusanmu itu sangat penting, jadi sebaiknya, Kamu langsung pergi dari sini.Biar cepat selesai urusanmu." Ujar Astrid.
"Baiklah, Kalo itu mau Kamu." Ucap Samuel, sambil menghela nafasnya.
__ADS_1
"Aku tinggal ya, Lia. Terima kasih atas pengertianmu." Ucap Samuel, menatap lembut wajah Astrid.
Astrid mengangguk dan tersenyum lembut menatap wajah Samuel, dari tatapan mata Samuel terlihat, bahwa sebenarnya Dia tak ingin meninggalkan Astrid sendirian di restoran itu, ada rasa tak enak hati juga dalam diri Samuel, karena harus meninggalkan dan membiarkan Astrid sendirian di restoran tersebut.
Namun, karena urusannya sangat penting, dan Dia ingin menemui Orang suruhannya dan bertanya secara langsung, mau tak mau Dia harus pergi dan meninggalkan Astrid pulang sendirian.
Samuel berdiri dari kursi yang di dudukinya, Dia kembali menatap wajah Astrid yang masih duduk diam di kursinya.
"Aku pergi ya, Lia." Ucap Samuel, pamit pada Astrid.
"Ya, Sam." Angguk Astrid, tersenyum.
Lalu, Samuel bergegas pergi meninggalkan Astrid sendirian di dalam restoran mewah itu.
Sebelum keluar dari dalam restoran, tak lupa Samuel membayar makanan dan minuman yang sudah Dia pesan dan makan tadi bersama Astrid.
Setelah membayar semua makanan dan minuman, Samuel lalu berjalan keluar dari dalam restoran, Astrid dari tempat duduknya melihat kepergian Samuel.
"Sam...Sepertinya ada yang sedang Kamu rencanakan?" Gumam Astrid.
"Kira kira, rencana apa yang sedang di jalani Sam? Dan mengapa Dia terlihat gelisah dan seperti marah tadi Aku perhatikan, ada apa sebenarnya?!" Gumamnya lagi.
Astrid berfikir setelah tadi Dia melihat gelagat aneh dan perubahan sikap Samuel yang terlihat tak tenang dan sangat gelisah saat bersama Dia tadi. Seakan ada yang di tunggu Samuel dan di pikirkannya sehingga Dia tak bisa focus pada Astrid, yang diajaknya makan malam bersama di restoran tersebut.
Astrid menghela nafasnya, lalu, Dia mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya, dan segera menelpon Alex.
"Lex , tolong jemput Aku." Ujar Astrid, bicara di teleponnya.
"Kamu dimana sekarang? Mobilmu kemana?!" Tanya Alex , dari seberang telepon.
"Mobilku dirumah, Aku sedang di restoran, nanti ku kirim nama restoran dan alamatnya padamu." Ujar Astrid, di teleponnya.
"Restoran ? Sama siapa Kamu?!" Tanya Alex, dari seberang telepon.
"Gak usah banyak tanya deh, panjang ceritanya, nanti aja Aku ceritain." Tegas Astrid, ditelepon.
"Aku akan kirim alamat restorannya, cepat ke sini ya, Aku tunggu." ujar Astrid, ditelepon.
"Oke !" Jawab Alex, dari seberang telepon.
Astrid lantas menutup teleponnya, Dia lalu mengetik sebuah pesan, Dia menuliskan nama dan alamat restoran tempat Dia saat ini berada, lalu segera mengirimkan pesan itu ke nomor teleponnya Alex.
__ADS_1
Kemudian, Astrid menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas kecilnya, Dia lantas menyeruput minumannya yang masih ada setengah gelas.
Dinikmatinya makanan ringan yang tersedia diatas meja, sambil menunggu kedatangan Alex menjemputnya, Dia menikmati makanan ringan yang tadi Dia pesan bersama Samuel.