
Patrick yang masih syock karena melihat photo di ruang khusus rumah Astrid lantas pamit pulang, Dia ingin mencari tahu tentang kebenaran apa yang sudah dijelaskan Astrid padanya tadi.
"Aku pulang." ujar Patrick.
"Baiklah." Angguk Alex.
Lalu ketiganya keluar dari dalam ruangan khusus itu, Alex dan Astrid mengantarkan kepergian Patrick.
Setelah diluar rumah, Patrick segera masuk ke dalam mobil, dan tak berapa lama, mobil lalu berjalan pergi meninggalkan Alex dan Astrid.
"Kalo gitu, Aku juga pulang ya." ujar Alex.
"Tunggu Lex." Ujar Astrid.
"Ada apa?" tanya Alex, menghentikan langkahnya dan menatap Astrid yang berdiri dihadapannya.
"Apa Patrick bisa di percaya ? Apa Dia benar benar akan membantu dan tidak mempersulit kita?" Ujar Astrid bertanya.
Astrid ragu dan khawatir dengan Patrick, Dia takut Patrick akan menghalangi niat Dia membalas dendam karena tahu bahwa pimpinannya di kepolisian terlibat juga.
"Kamu gak usah khawatir. Aku yakin, Patrick pasti akan membantu kita. Dia Polisi jujur. Gak akan mungkin Dia melindungi pimpinannya jika para pejabat tinggi kepolisian itu benar benar terbukti punya jejak rekam kejahatan." Ucap Alex, berusaha menenangkan Astrid.
"Oh. Baiklah. Aku percaya denganmu." Ujar Astrid.
"Ya udah. Aku pulang, kalo ada apa apa, segera hubungi Aku." Ujar Alex.
"Iya." Jawab Astrid, mengangguk.
Alex lantas berjalan pergi menuju mobilnya, Astrid melihat kepergian Alex dari teras rumahnya.
Alex masuk kedalam mobil, beberapa saat kemudian, mobil sudah berjalan dan pergi meninggalkan rumah Astrid.
Astrid menghela nafasnya, lalu, Dia berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Astrid masuk ke dalam rumah dan menutup serta mengunci pintu rumahnya, lalu, Dia kembali masuk ke dalam ruang khusus tempat Dia merencanakan balas dendamnya.
Di dalam ruang khusus, Astrid lantas duduk di kursi yang ada dalam ruangan tersebut, lalu, dinyalakannya laptop yang ada di atas meja . Kemudian, dari dalam laci meja tersebut, Astrid mengambil sebuah flash disk.
Astrid memasang flash disk pada laptop, lalu, Dia memilih sebuah file dari flash disk tersebut.
__ADS_1
File itu berisi rekaman video kamera cctv yang ada di dalam ruang makan rumah tahanan.
Dalam rekaman kamera cctv penjara itu, terlihat para napi napi baru saja selesai makan dan hendak kembali ke dalam sel tahanan mereka masing masing.
Diantara para napi napi yang terekam dalam kamera cctv, terlihat Edward, Bapaknya Astrid juga bersiap hendak kembali ke dalam sel tahanannya.
Saat Edward berjalan, tiba tiba saja, dari arah lain datang seorang Pria bertubuh kekar berjalan menghampiri Edward. Lalu, Pria itu menghujamkan pisau rakitan berkali kali ke perut Edward.
Seketika Edward terjerembab dan jatuh bersimbah darah di lantai ruang makan penjara. Para napi yang masih ada dalam ruangan itu kaget, menyaksikan Edward terkapar di lantai sambil tangannya memegangi perutnya yang di tusuk dan mengeluarkan darah.
Para sipir penjara sibuk, mereka berlarian menghampiri Edward yang terbaring di lantai dan terluka parah.
Beberapa sipir penjara cepat mengamankan Pria , yang telah menusuk perut Edward dengan tiba tiba tadi.
Pria pelaku penusukan Edward cepat di bekuk ,para sipir penjara memegangi tubuh Pria dengan kuat dan erat. Sang Pria hanya diam dan pasrah saja di tangkap sipir penjara.
Dengan dingin dan tenang, Pria itu menatap tajam ke arah Edward yang sedang di gotong para sipir untuk dilarikan kerumah sakit, agar Edward diselamatkan nyawanya.
Sang Pria dengan sikap dinginnya tersenyum sinis melihat Edward yang tak berdaya di lantai .
Astrid yang menonton rekaman kamera cctv itu menghentikan video tersebut. Dia lantas memperbesar wajah si pelaku yang terekam di kamera cctv tersebut. Diamatinya wajah Pria itu dengan tatapan mata yang tajam dan sangat serius.
Itulah terakhir kali Astrid melihat Bapaknya yang terekam dalam kamera cctv rumah tahanan sebelum dinyatakan meninggal dunia.
Rekaman itu Dia dapatkan berkat bantuan Alex yang mencari tahu tentang kematian Bapaknya dulu. Setelah Alex menemukan bukti rekaman video kamera cctv yang merekam detik detik Bapaknya Astrid di tikam, Alex mengambil rekaman tersebut tanpa diketahui para sipir penjara, lalu, di berikannya pada Astrid, yang lantas menyimpannya hingga sekarang.
"Dimana Kamu?" Bathin Astrid.
Dia bertanya tanya dalam hatinya, kemana Pria itu bersembunyi dan menghilang. Dia berharap segera bisa bertemu dengan Pria yang telah menikam Bapaknya.
Astrid ingin membuat perhitungan dengan si Pria tersebut dan mencari tahu, siapa yang menyuruhnya membunuh Bapaknya di rumah tahanan.
"Aku harap, Aku bisa menemukanmu secepatnya." Gumam Astrid.
Astrid lantas menarik nafasnya dalam dalam, ditatapnya kembali wajah sang Pria yang ada di dalam rekaman video kamera cctv, wajah Astrid semakin memerah menahan amarahnya yang memuncak saat melihat wajah Si Pria yang tersenyum sinis dalam rekaman tersebut.
---
Di ruang kerja dalam kantor perusahaannya, Gerard terlihat tak focus dalam bekerja, Dia masih memikirkan keberadaan Karina, Gerard bingung sekaligus heran, sebab Karina menghilang tanpa ada kabar beritanya dan teleponnya juga susah untuk di hubungi serta dimatikan.
__ADS_1
"Kalo Karina pergi, Dia pasti bilang padaku sebelumnya, gak mungkin Karina meninggalkan Aku begitu saja." Gumam Gerard.
"Apa yang terjadi padamu Karina? Mengapa Kamu seperti menghilang?" Lanjutnya berfikir.
Tak berapa lama, pintu ruang kerjanya di ketuk, lalu, setelah pintu terbuka, terlihat dari arah luar, masuk Sekretaris Gerard kedalam ruang kerja tersebut.
Sekretaris berjalan masuk dan menghampiri Gerard yang masih duduk di kursi kerjanya.
"Maaf, Pak. Ada tamu yang ingin bertemu Bapak." Ujar Sekretaris.
"Siapa ? Aku kan sudah bilang, Jangan ada tamu yang datang, sebelum mereka membuat janji temu beberapa hari sebelumnya. Apa tamu itu sudah membuat janji?" Ujar Gerard, bertanya pada Sekretarisnya.
"Maaf Pak. Tamu itu belum ada membuat janji, dan Saya sudah katakan padanya, bahwa Bapak hanya mau menerima tamu yang sudah ada janji sebelumnya, tapi Tamu itu memaksa Saya agar di izinkan bertemu Bapak." Ujar Sekretaris , memberi penjelasan pada Gerard.
"Siapa Dia ? Saya gak mau tau, suruh Dia pergi, dan bilang, buat janji dulu sebelum ketemu Saya." Jika tidak, Saya tidak akan mau menemuinya sampai kapanpun." Ujar Gerard marah.
Dia yang lagi bingung memikirkan Karina yang tak ada kabar dan seperti menghilang, menjadi semakin marah karena ada tamu yang memaksa untuk bertemu dengannya. Dia menyuruh Sekretarisnya untuk mengusir tamu tersebut, karena telah mengganggu dirinya yang sedang ada beban pikiran saat ini.
"Tapi, Pak. Tamu itu..."
"Kamu mau mengusirku Gerard ?!"
Tiba tiba terdengar suara dari arah luar ruangan yang memotong perkataan Sekretaris, hingga Sekretaris Gerard diam dan tak melanjutkan perkataannya.
Gerard terkesiap kaget mendengar suara itu, dari tempat duduknya Dia melihat ke arah pintu, dimana Suara itu terdengar.
Betapa kaget dan syocknya Gerard saat melihat siapa pemilik suara tersebut. Terlihat, masuk seorang Pria berjalan santai menghampiri Gerard.
Gerard cepat berdiri dari duduknya di kursi kerjanya, Dia segera menghampiri orang tersebut, dan berdiri menunggunya.
Orang tersebut menghentikan langkah kakinya dan berhenti tepat di hadapan Gerard yang berdiri menunggunya.
"Kamu boleh pergi." Ujar Gerard pada Sekretarisnya.
Sang Sekretaris mengangguk mengiyakan perkataan Gerard, lalu, atas perintah Gerard, Sekretaris bergegas pergi dan keluar dari dalam ruang kerja Gerard, membiarkan Gerard bertemu dengan tamu yang datang tersebut.
Gerard masih berdiri diam dan termangu menatap Orang yang ada di hadapannya saat ini, Dia kaget sekali, tak menyangka, Orang tersebut tiba tiba saja datang ke kantornya dan menemui dirinya.
Gerard tahu, jika Orang itu datang menemuinya tanpa memberi kabar terlebih dulu, pastilah Dia telah di tugaskan membawa pesan untuk disampaikan pada Gerard. Dan pesan tersebut sudah pasti dari Boss besar Gerard.
__ADS_1
Orang tersebut menatap tajam wajah Gerard yang berdiri dihadapannya, wajah orang tersebut terlihat tersenyum simpul dan penuh arti menatap wajah Gerard. Gerard tegang, Dia khawatir dan merasa tak enak hati, bahwa orang tersebut datang membawa kabar yang tidak baik buat Dia pribadi.