Destroy

Destroy
Persiapan Menjalani Misi


__ADS_3

Astrid dan Alex tiba dirumah Alex. Saat keluar dari dalam mobil, Astrid terpana, melihat rumah Alex yang megah dan sangat luas, melebihi rumahnya itu.


"Ayo, masuklah." Ajak Alex.


Astrid mengangguk, Dia lantas berjalan mengikuti Alex masuk ke dalam rumahnya.


Di dalam rumah, Astrid berdiri diam, pandangannya menyusuri semua ruangan, dinding dinding rumah semua terbuat dari kaca, hingga tembus pandang keluar rumahnya.


Di samping rumah, ada sebuah kolam renang besar dengan di penuhi rumput sintetis di pinggirannya.


Alex tahu, Astrid terpana melihat keadaan rumahnya, Dia hanya tersenyum kecil melihat Astrid yang keheranan itu.


"Duduklah, Aku tinggal dulu." Ujar Alex.


"Oh, iya." Jawab Astrid, sedikit gugup.


Alex tersenyum melihat tingkah Astrid yang gugup di dalam rumahnya, Dia lalu pergi meninggalkan Astrid.


"Gila, Siapa sebenarnya si Alex itu? Ternyata Dia sangat kaya, Aku sudah meremehkannya." gumam bathin Astrid.


"Darimana Dia bisa kenal Ayahku? Dan apa pekerjaan si Alex itu sebenarnya?" Bathinnya lagi.


Astrid sangat mengagumi kemewahan rumah Alex, semua perabotan yang ada di dalam rumahnya terlihat megah dan bagus serta indah, yang jelas, berharga sangat mahal semuanya.


Astrid tak mengira, jika ternyata Alex orang yang kaya raya, memiliki harta berlimpah dan rumah yang mewah. Tapi penampilannya biasa saja, bahkan penampilan Alex bukan seperti miliarder, melainkan seniman usang.


Tak berapa lama, datang Patrick masuk ke dalam rumah Alex, Patrick melihat Astrid yang duduk diam termangu di sofa, Dia mendekati Astrid.


"Hai, Udah lama datangnya?" Tanya Patrick, menyapa ramah Astrid.


Astrid sedikit kaget mendengar suara Patrick yang bertanya padanya, karena Dia sedang melamun, mengagumi kekayaan Alex.


Astrid berusaha bersikap tenang melihat Patrick yang tersenyum berdiri di hadapannya.


"Ah, nggak, baru nyampe kok." Ujar Astrid, menyembunyikan kegugupannya di hadapan Patrick.


"Kita pernah ketemu kan sebelumnya? Kamu adiknya Alex bukan?" Ujar Astrid, menatap wajah Patrick yang tersenyum padanya.


"Ya, kita ketemu di kamar jenazah waktu itu, cuma, belum sempat berkenalan." Ucap Patrick ramah.


"Oh, iya." Ujar Astrid mengangguk.


"Gak ada salahnya jika kita berkenalan sekarang. Aku Patrick." Ujar Patrick.


Patrick mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya pada Astrid, Astrid menyambut uluran tangannya, mereka saling berjabatan tangan, berkenalan.


"Aku Astrid. Tapi, kalo di depan orang banyak, panggil Aku Camelia." Ujar Astrid.


Astrid memperkenalkan dirinya pada Patrick, Patrick tersenyum, setelah bersalaman, Patrick duduk di sofa yang ada di depan Astrid.


"Ya, Aku tau, Alex sudah cerita semuanya tentang kamu. Dan Aku paham." Ungkap Patrick tersenyum.


"Alex sudah cerita padamu?" Tanya Astrid, menatap tajam wajah Patrick.


"Iya. Semuanya, Aku tau, kamu sengaja mengganti namamu sebagai Camelia, agar gak ada yang tau kalo kamu adalah Astrid, anak dari Ayahmu yang di fitnah itu." Ujar Patrick menjelaskan pada Astrid.


"Dan Aku sudah mendengar semua tentang kisahmu dari Alex, Aku tau, kamu ingin membalas dendam pada orang orang yang menjebak Ayahmu dan membuat dirimu menderita." Jelas Patrick serius.

__ADS_1


"Ya, kamu benar , Aku memang ingin membalas dendam, dan Alex akan membantu rencanaku itu." Ucap Astrid.


"Aku juga akan membantumu." Tegas Patrick.


"Oh, ya?" Astrid kaget.


Dia tak menyangka, Patrick yang seorang Polisi bersedia membantunya untuk membalas dendam. Astrid mengira, sebagai Polisi, Patrick bisa saja menjadi penghalang dirinya menjalankan misi balas dendamnya.


Tapi ternyata dugaan Astrid salah, Patrick malah bersedia membantu dirinya membalaskan dendamnya.


"Aku juga ingin menghancurkan keluarga Gerard itu, karena Jack, anaknya membuat kakakku meninggal dalam kecelakaan yang di sengaja itu!" Ujar Patrick dengan tegasnya.


"Iya. Aku tau kejadian itu. " Angguk Astrid, menjawab.


Alex datang dengan membawa sebuah kotak hitam besar ditangannya, Dia berjalan mendekati Astrid dan Patrick yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya.


Alex meletakkan kotak hitam besar diatas meja tamu, Astrid terdiam menatap kotak hitam besar itu.


"Ah, kalian udah ketemu rupanya." ujar Alex.


"Ya, kami udah kenalan dan ngobrol sedikit tadi." Jelas Patrick.


"Baguslah, kalo kalian sudah saling kenal, jadi gak canggung lagi nantinya." ujar Alex tersenyum senang.


"Kotak ini apa isinya Lex ?" tanya Astrid.


"Semua peralatan yang kamu butuhkan untuk menjalankan aksi balas dendammu ada di dalam kotak ini." Ujar Alex tersenyum simpul.


"Maksudmu?" tanya Astrid masih tak mengerti.


"Di dalam kotak ini, ada peralatan lengkap untuk memata matai musuhmu, semuanya ada di dalam kotak ini, Aku membuatnya sendiri dan sudah lama menyiapkannya untukmu." Ujar Alex , menjelaskan pada Astrid.


"Ya, Alex ini, Ahli dalam bidang tekhnologi, Dia juga raja hacker, nomor dua di dunia. Dan Alex ini cerdas, Dia bisa membuat apa saja dan memprogram apa saja dengan alat alat elektroniknya itu." ungkap Patrick, menjelaskan siapa diri Alex.


"Oh, ya? Aku gak menyangka, kamu sehebat itu." Ujar Astrid kagum.


"Santai aja, itu gak seberapa." Ujar Alex, mencoba merendah dihadapan Astrid.


"Alex juga pemilik perusahaan elektronik terbesar yang ada di negara ini, kamu tau kan? Elektronik apa yang terkenal dan terbesar itu?" Ujar Patrick pada Astrid.


"Ya, Aku tau, Aku pernah mendengar dan membaca tentang perusahaan itu." Ungkap Astrid.


"Kalo liat penampilannya, gak akan ada yang menyangka kalo Alex seorang Miliarder, pengusaha terkenal dan sangat di segani di bidangnya." Ucap Patrick.


"Eh, iya, malah kayak seniman usang penampilannya. " Ujar Astrid nyengir lihat Alex.


"Aku suka dengan penampilanku dengan hanya memakai kaos oblong , blazer dan celana jeans belel, lebih nyaman saja." ujar Alex tersenyum pada Astrid.


"Oh, begitu." ucap Astrid.


Astrid jadi merasa malu pada Alex, karena sebelumnya, Dia meremehkan sosok Alex karena melihat penampilan urakannya itu.


Astrid tak menyangka jika di balik kesederhanaan penampilan Alex itu, Dia sangat kaya raya, dan sangat sukses.


Alex lantas membuka kotak hitam besar yang ada di atas meja tamu, Astrid dan Patrick melihat isi dari kotak itu.


Ada berbagai macam peralatan yang biasa di gunakan para detektif untuk menjadi mata mata dan mengintai orang orang. Alat alat yang ada dalam kotak itu sangat lengkap.

__ADS_1


"Kaca mata ini, bisa mengintai dan untuk merekam segala macam kegiatan musuhmu." ujar Alex, menunjukkan kaca mata canggihnya.


"Dan cincin ini, bisa kamu gunakan untuk melumpuhkan lawanmu, dengan cara menyentuh kulit musuhmu dengan ujung cincin itu, maka musuhmu akan jatuh pingsan." Jelas Alex.


"Dan masih banyak lagi alat alat yang bisa kamu gunakan dalam menjalankan misi balas dendammu nanti. Kamu bisa membawa dan menyimpannya." Ujar Alex.


"Ini buatku?" Tanya Astrid.


"Ya, memang buatmu, gunakan seperlunya dan sesuai kebutuhanmu." ujar Alex, menjelaskan pada Astrid.


"Baiklah." Ujar Astrid.


Astrid lantas menutup kotak hitam dan besar itu, Dia tampak senang, karena apa yang dibutuhkannya sudah di penuhi Alex.


"Siapa yang menjadi target awalmu?" tanya Alex.


"Tentu saja keluarga Gerard dan Zahara, lalu, si Karina dan semua orang orang yang bersekongkol dengan mereka." Ujar Astrid.


"Satu persatu kita jalani misimu. Kita akan mulai dari keluarga Gerard dan Zahara." Tegas Alex.


"Ya." jawab Astrid, mengangguk.


"Aku akan datang nanti ke acara pesta ulang tahun anaknya Zahara itu." Ujar Alex.


"Bagaimana caranya? Apa kamu akan menyamar?" tanya Astrid.


"Nggak, Aku datang dengan diriku sendiri, tanpa menyamar, karena Aku juga di undang khusus oleh keluarga Zahara." Ungkap Alex.


"Kamu juga di undang Zahara?!" Astrid terperangah kaget.


Dia tak menyangka, jika Zahara juga ternyata mengundang Alex , Astrid heran, kenapa Zahara bisa kenal dengan Alex.


"Kamu gak usah bingung, Trid. Aku diundang khusus , karena Aku salah satu pemegang saham perusahaan Gerard, sahamku sebesar 12 persen di perusahaan mereka." Jelas Alex.


"Oh, ya? Itu sangat besar sekali, kamu bisa memiliki perusahaannya." ungkap Astrid terperangah tak percaya.


"Perusahaan milik Ayahmu, bukan milik Gerard, maupun Zahara." Tegas Alex.


"Ya, mereka mengambil paksa perusahaan Ayahku, dan membuang Pamanku begitu saja yang berusaha menggantikan posisi Ayahku dulu." Ujar Astrid.


"Ya, karena itu, Aku sengaja membeli saham saham perusahaan Gerard, Aku memang punya rencana untuk diam diam mengambil alih perusahaan itu dan menyerahkannya kembali ketanganmu, sebagai pemilik dan pewaris yang sah." tegas Alex.


"Bagaimana caranya? Bukankah ada pemegang saham selain dirimu?" tanya Astrid.


"Itu gampang, Aku bisa menyingkirkan pemegang saham lainnya, atau mempengaruhi mereka nanti, lihat saja, bagaimana aksiku nantinya." ujar Alex , penuh percaya diri.


"Baiklah, Aku akan menjelaskan padamu, rencana awal kita. Patrick nantinya akan menyamar sebagai pengantar minuman tamu dirumah Zahara, dan saat itu, Aku dan Patrick diam diam akan meletakkan camera camera cctv mini di seluruh ruangan rumah Zahara." ujar Alex, menjelaskan rencananya.


"Dengan begitu, kita bisa memantau kegiatan keluarga Gerard 24 jam 7 hari, Kita akan tau, apa saja yang mereka lakukan dan rencanakan." Tegas Alex.


"Oh, baiklah. Aku akan berusaha mendekati keluarga Zahara dan mengambil hati mereka, agar mereka senang menerima kehadiranku dalam keluarga mereka." Ucap Astrid, menjelaskan rencananya juga.


"Baiklah, kita bersiap siap dari sekarang. Kita akan bertemu di pesta ulang tahun anaknya Zahara nanti." Ujar Alex.


"Ya." Angguk Astrid.


Astrid tersenyum, Dia senang, karena rencananya membalas dendam mendapat dukungan dari Alex dan juga Patrick yang bersedia membantunya.

__ADS_1


Astrid berharap, Dia bisa cepat menghancurkan keluarga Zahara dan Gerard, yang sudah membuat Dia menderita selama ini.


__ADS_2