Destroy

Destroy
Telepon dari Karina


__ADS_3

Astrid datang ke rumah Alex, Dia baru saja pulang dari rumah sakit, wajahnya terlihat sangat marah sekali, karena Dia gagal membunuh Karina di rumah sakit.


Alex menghampiri Astrid yang terlihat marah dan berdiri sambil berkecak pinggang dihadapannya.


"Sial, keparat ! Setaaan !!" Umpat Astrid, melampiaskan segala amarahnya yang menggebu gebu dalam dirinya.


"Kamu gagal membunuh Karina?" tanya Alex, menatap tajam wajah Astrid yang berdiri dihadapannya.


"Iya. Entah kenapa, Dia bisa lolos dari sergapanku, padahal, sedikit lagi Aku bisa membunuhnya, tiba tiba Dia menyerangku, melempar termos air lalu lari keluar kamar sambil berteriak kencang, sampai orang dirumah sakit berdatangan, termasuk petugas keamanan." Ungkap Astrid, dengan wajah kesal penuh amarah menjelaskan pada Alex.


"Gak apa apa. Nanti kita lacak lagi ke beradaan si Karina. Aku yakin, Kita pasti bisa menemukannya." Ujar Alex, mencoba menenangkan diri Astrid yang terlihat sangat marah itu.


"Aku benar benar sudah menyia nyiakan kesempatan emas , Karina Aku biarkan lolos karena Aku lengah!" Ungkapnya geram.


"Tenang saja. Kita kan sudah melacak nomor telepon Gerard." Ujar Alex santai, berdiri dihadapan Astrid.


"Gerard ? Apa hubungannya dengan Dia?!" Tanya Astrid, menatap tajam wajah Alex yang berdiri tepat di hadapannya itu.


Alex tersenyum menatap wajah heran Astrid, Dia terlihat tetap bersikap tenang menanggapi kemarahan Astrid saat ini.


"Karina pasti akan menghubungi Gerard ! Kamu kan tau sendiri, mereka menjalin hubungan di belakang Zahara ! Aku yakin, Karina pasti akan meminta pertolongan Gerard, dan Gerard pasti akan membantunya, Gerard pasti akan datang menemui Karina!" Ujar Alex, menjelaskan pada Astrid.


"Benar juga katamu, Kamu bisa melacak keberadaan Gerard dari ponselnya, dan Kita bisa mudah menemukan Karina." Ujar Astrid.


Wajah Astrid berubah menjadi sedikit tenang setelah mendapat penjelasan dari Alex, Dia meredakan amarah dan kekesalannya.


"Serahkan semua padaku, Aku hacker nomor satu di negara ini, pasti mudah bagiku melacak orang seperti Karina." Ujar Alex, membanggakan dirinya.


"Ya. Aku percaya padamu." Ucap Astrid, tersenyum senang menatap wajah Alex.


"Oh ya, bagaimana dengan Patrick? Apa ada kabar darinya soal pejabat kepolisian yang bergabung dengan organisasi kejahatan Gerard?!" tanya Astrid.


"Patrick masih menyelidikinya secara diam diam, Patrick harus berhati hati dan tidak gegabah dalam mengungkap kejahatan para pejabat petinggi kepolisian, Dia harus bergerak senyap, agar tak ada yang mengetahui, jika Dia sedang menyelidiki petinggi petinggi kepolisian yang dicurigai terindikasi terlibat dalam kejahatan komplotan Gerard." Ujar Alex, memberi penjelasan pada Astrid.


"Iya juga. Aku harap, Patrick berhasil mengungkapnya, dan terutama, Dia gak ketauan." Ujar Astrid.


"Yang dilakukan Patrick sangat berbahaya, Dia juga tau resikonya dan siap menanggungnya demi membantu Kamu mengungkap kejahatan organisasi Gerard dan Ishadi. Dia pada intinya siap berhadapan dengan para pimpinannya di kepolisian, jika suatu saat, Dia ketauan ." Ungkap Alex.


"Ya. Aku sangat berterima kasih pada Kamu dan Patrick, karena mau membantuku mempertaruhkan nyawa kalian berdua." Ujar Astrid, menatap lekat wajah Alex.


"Tenang saja. Jangan pikirkan, yang penting, Kamu bisa mengungkap kejahatan komplotan Gerard, dan membalaskan dendam Bapakmu. Agar Kamu bisa hidup tenang dan nyaman kedepannya." Ujar Alex.


"Iya, Lex. Terima kasih." Ujar Astrid, tersenyum senang menatap Alex yang berdiri dihadapannya dan juga tersenyum padanya.


---

__ADS_1


Gerard tiba di ruang tunggu dekat ruang kamar rawat Jack, Dia menemui Zahara dan Melani yang sedang duduk di bangku tunggu.


"Bagaimana?" tanya Zahara, menatap wajah Gerard yang berdiri di sampingnya.


"Sudah ku sampaikan, dan pihak rumah sakit sekarang ini sedang mempersiapkan kamar VVIP nya , setelah beres semuanya, Jack akan segera di pindahkan." Ujar Gerard.


"Syukurlah." Ujar Zahara, menghela nafas dengan leganya.


"Terus, siapa yang jagain bang Jack nanti?" tanya Melani pada Gerard.


"Papah udah tugaskan beberapa orang buat berjaga jaga di sekitar kamar rawat VVIP itu. Selain itu, Papah juga sudah mengatur siasat, untuk menempatkan beberapa orang berjaga di kamar yang sekarang ini , untuk menunggu kedatangan Samuel, begitu Dia datang ke sini , mereka akan menangkapnya!" Ungkap Gerard.


"Oke, Aku setuju dengan rencanamu, pokoknya, jangan biarkan Samuel mendekati Jack dan sampai menyentuhnya !" Tegas Zahara.


Tiba tiba saja Ponsel Gerard berbunyi, Gerard cepat mengambil ponsel dari dalam kantong celananya.


Gerard melihat layar ponsel, sebuah nomor tak di kenal dan tak ada namanya tertera di layar ponselnya.


Karena tak mengenal nomor telepon yang menghubungi, Dia mematikan panggilan telepon.


Beberapa saat, Ponselnya kembali berbunyi, Gerard melihat, masih nomor telepon yang sama seperti sebelumnya. Dia langsung mematikan panggilan telepon dan menolak untuk bicara.


"Telepon dari siapa?!" Tanya Zahara.


"Gak tau, gak ada namanya di Hapeku." Jawab Gerard.


Ponselnya kembali berbunyi, Gerard terlihat kesal, apalagi Dia melihat Zahara menatapnya tajam dengan raut wajah yang kesal, mau tak mau, karena melihat Zahara seperti kesal dengan bunyi teleponnya, Gerard menerima panggilan telepon tersebut.


"Hallo, dengan Gerard di sini? Anda siapa?!" Ujar Gerard , bicara di teleponnya.


Zahara yang duduk dibangku tunggu hanya diam melirik pada Gerard yang sedang bicara di teleponnya.


"Aku Karina." Terdengar suara Karina dari seberang telepon.


Seketika wajah Gerard berubah kaget saat mendengar nama Karina. Ternyata Karina yang menghubunginya.


Gerard terlihat gugup, Dia berusaha menyembunyikan kegugupan dan rasa kagetnya , agar Zahara tak melihat reaksi gugup dan perubahan ekspresi wajahnya yang kaget mengetahui Karina menelpon.


"Hallo? Kurang jelas, Hallo ?!" Ujar Gerard.


Gerard berpura pura kehilangan sinyal dan suara si penelpon tak terdengar. Dia memberi isyarat pada Zahara untuk menjauh dari Zahara dan juga Melani, berpura pura mencari tempat yang ada sinyal dan jernih suaranya.


Zahara hanya diam saja sambil sesekali memperhatikan gerak gerik Gerard.


Gerard sudah berdiri agak jauh dari tempat Zahara dan Melani duduk.

__ADS_1


"Kamu dimana sekarang? Aku mencarimu kemana mana, tapi Kamu menghilang." Ujar Gerard ditelepon.


Gerard sengaja bicara pelan di telepon, karena Dia takut ketahuan Zahara yang mendengar pembicaraannya dengan Karina saat ini.


"Aku di rumah sakit, Aku hampir saja mati di bunuh." Ujar Karina, dari seberang telepon.


"Apa ?!!" Gerard kaget.


Namun Dia cepat mengendalikan dirinya agar tak terlihat kaget di lihat Zahara.


"Nanti Aku ceritakan, sekarang, tolong jemput Aku, Aku minta Kamu melindungiku." Ujar Karina, bicara dari seberang telepon.


"Oke...Oke...Kamu kasih tau, dimana Kamu sekarang, Biar Aku datang menjemput dan membawamu ketempat yang aman." Ujar Gerard, bicara serius dan pelan di teleponnya.


Gerard melirik Zahara, Dia melihat Zahara sedang duduk santai di bangku tunggunya bersama Melani. Gerard lega, karena Zahara tak menaruh curiga padanya.


"Oke, Aku segera datang." Ucap Gerard.


Gerard lalu segera menutup teleponnya setelah Dia mendapatkan lokasi rumah sakit tempat Karina saat ini menunggunya.


Gerard menyimpan ponselnya kedalam kantong celananya, lalu, Dia menghela nafasnya, berusaha menenangkan diri dan bersikap biasa saja, Lalu, Dia melangkahkan kakinya, berjalan kembali mendekati Zahara dan Melani di ruang tunggu rumah sakit.


"Aku mau pergi sebentar, ada urusan penting di kantor." Ujar Gerard, begitu tiba di depan Zahara.


Zahara tersenyum kecil, Zahara tahu, Gerard berbohong , Dia tadi sudah melihat perubahan sikap Gerard sesaat, dan gerak geriknya mencurigakan, seperti ada sesuatu yang dibahasnya di telepon. Dan itu bukan tentang urusan di kantornya. Namun, Zahara tetap bersikap biasa saja dan berpura pura tak tahu dengan apa yang diperbuat Gerard.


"Kamu balik ke sini lagi nanti?" tanya Zahara, dengan sikap santainya.


"Ya. Setelah urusanku selesai, Aku pasti langsung ke sini." Ujar Gerard.


"Aku juga sudah bilang pada anak buahku yang menjaga Jack, jika benar Sam datang ke sini, dan mereka menangkap Jack, Segera hubungi Aku, agar Aku ke sini lagi mengurus Sam." Ujar Gerard, menjelaskan pada Zahara.


"Oke." Jawab Zahara singkat.


Gerard lantas berbalik badan, lalu, dengan langkah cepat, Dia berjalan pergi meninggalkan Zahara dan Melani.


Zahara yang duduk dibangku tunggu menoleh pada Gerard yang berjalan cepat dan menjauh itu, Zahara menyunggingkan senyum sinisnya pada Gerard, sementara Melani memejamkan matanya, karena tak kuat menahan kantuk dan rasa lelahnya.


Zahara lalu berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari Melani yang sudah memejamkan matanya dan tidur di bangku tunggu.


Zahara mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya, lalu, Dia menghubungi seseorang.


"Cepat Kamu ikuti Dia. Dia sedang ke arahmu sekarang." Ucap Zahara, bicara berbisik pelan di teleponnya.


Zahara lalu menutup teleponnya dan menyimpannya kembali ke dalam tas kecilnya. Sambil tersenyum sinis Zahara menghampiri Melani, lalu, Dia duduk di bangku tunggu, di samping Melani. Sikapnya terlihat dingin dan sangat tenang sekali.

__ADS_1


__ADS_2