
Astrid lantas perlahan lahan melangkahkan kakinya mendekati Edward yang masih diam saja berdiri dengan membelakangi dirinya.
Setelah Dia di dekat Edward, Astrid langsung saja menempelkan ujung pistolnya ke punggung Edward.
"Angkat kedua tanganmu, dan pelan pelan, balik kan badanmu itu dan menghadap padaku!" Ujar Astrid , memberi perintah pada Edward.
Edward menuruti perkataan Astrid, Dia lantas mengangkat kedua tangannya .
"Jangan coba coba melakukan hal yang akan membuatmu menyesal." Ucap Astrid, memberi peringatan pada Edward .
Edward mengangguk, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, lalu, dengan perlahan lahan, Dia mulai bergerak dan berbalik badan, Astrid yang berdiri dibelakangnya bersiap siap dengan pistol di tangannya, Dia berjaga jaga, Jika Edward tiba tiba saja menyerangnya, Dia akan menembak Edward langsung .
Edward lantas berbalik badan, dan Dia sudah berdiri dihadapan Astrid, Astrid menatap tajam wajah Edward yang memakai penutup kepala dan wajah itu, Astrid belum bisa mengenali siapa Edward sebenarnya, karena Dia memakai penutup kepala dan wajah .
"Buka penutup kepala dan wajahmu itu." Ujar Astrid, memberi perintah, sambil tetap mengarahkan pistolnya pada Edward .
Edward menurut, lalu, dengan tangan kanannya, Dia segera membuka dan melepaskan penutup kepala dan wajahnya, sementara tangan kirinya masih terangkat ke atas .
"Papaaaahh ?!!"
Betapa terkejutnya Astrid saat penutup kepala dan wajah Edward terbuka, Dia kaget dan syock, karena ternyata yang berdiri dihadapannya adalah Papahnya sendiri .
"Ngapain Papah di sini?!" Ujar Astrid bertanya pada Edward .
"Papah datang ke sini mau nemui Hardi Wijaya, Papah mau meminta pertanggung jawabannya karena sudah menjebak dan memfitnah Papah dulu." Ungkap Edward, mengaku pada anaknya itu .
"Tapi, Kenapa Papah gak bilang sama Aku kalo mau ke sini?!!" Ujar Astrid, menatap tajam wajah Papahnya .
"Papah gak mau melibatkanmu, ini urusan Papah sama Hardi Wijaya! Papah sendiri yang mau membalas dendam Papah pada Hardi dan kelompoknya." Ungkap Edward, menjelaskan pada Astrid dengan wajahnya yang serius itu .
"Tapi, bagaimana tadi kalo Aku langsung menembak Papah? Papah bisa mati karena Aku gak tau kalo ternyata Papah yang menyelinap tadi!" Ungkap Astrid, cemas menatap wajah Papahnya .
"Ya, Papah tau itu, makanya, pas Papah kepergok Kamu, Papah langsung gak melawan." Ucap Edward.
"Papah sengaja gak membuat gerakan gerakan yang bisa membuatmu langsung menembak Papah, makanya, Papah langsung diam tadi." Ujar Edward, menjelaskan pada Astrid.
"Lain kali, Kalo Papah mau nemui musuh musuh Papah, kasih tau Aku, biarpun Aku gak ikut, setidaknya Aku tau kemana Papah pergi." ujar Astrid.
"Jadi, Aku gak akan salah tembak nanti jika sampai kita ketemu kayak ini lagi ." Lanjut Astrid menjelaskan pada Papahnya.
"Ya, maaf. Papah gak ngasih tau Kamu." Ujar Edward, menatap lekat wajah Astrid.
"Apa Antoni tau Papah ke sini?!" Tanya Astrid, menatap tajam wajah Papahnya.
__ADS_1
"Antoni gak tau, Papah cuma bilang, mau pergi sebentar karena ada yang mau Papah urus saja." Ungkap Edward.
"Papah juga minta , agar Antoni gak bilang ke Kamu, kalo Kamu nanyain kemana Papah pergi." Lanjut Edward, memberi penjelasan pada Astrid.
"Hmm...Aku kira Antoni tau dan Dia biarkan aja Papah pergi ." Ujar Astrid, menghela nafasnya.
"Nggak, Antoni gak tau." Ujar Edward .
"Papah tadi ada diatas atap rumah, dan Papah sempat melihatmu menyelinap masuk ke halaman rumah ini, jadi, Papah langsung saja mengurungkan niat buat masuk kedalam rumah ini ." Ujar Edward, menjelaskan pada Astrid, dengan wajahnya yang serius itu .
"Kalo udah tau Aku yang datang, kenapa Papah gak langsung pergi aja tadi?" Ujar Astrid bertanya pada Papahnya.
"Tadinya Papah mau langsung pergi, cuma , Papah penasaran, Papah mau tau, apa yang akan kamu lakukan terhadap Hardi didalam rumahnya ." Ujar Edward, menatap serius wajah Astrid.
"Terus?" Tanya Astrid.
"Papah mengintip kedalam rumah, Papah liat Kamu masuk ke dalam rumah dan masuk ke kamar Hardi Wijaya." Ungkap Edward.
"Papah liat semuanya?" tanya Astrid, menatap serius wajah Papahnya itu .
"Ya, Papah liat, Kamu menembak Hardi Wijaya di dada dan kepalanya, Papah liat Hardi mati diatas ranjangnya." Ungkap Edward.
"Ya, Dia pantas mati, itu hukuman yang sudah Dia terima, setelah Dia bebas dari hukum yang dibuat negara ini." Ujar Astrid, menjelaskan dengan geram pada Edward .
"Ya, Papah tau itu, Papah juga marah, saat melihat Hardi tersenyum puas dan tertawa karena dibebaskan dari segala macam tuduhannya." Ungkap Edward.
"Ya, itu sebabnya Astrid bertindak sejauh ini, memberi hukuman pada semua mereka yang sudah berbuat jahat pada Papah." ujar Astrid.
"Mereka pantas mati, karena mereka sudah menghancurkan kehidupan Papah dan juga Aku." Lanjut Astrid, sambil menahan amarahnya .
"Ya, Papah tau, Papah bisa memahami apa yang Kamu rasakan dan alami selama ini." Ujar Edward, menatap lekat wajah Astrid.
"Ya, sudah, Kita harus pergi dari sini, Pah. Jangan sampai ada yang melihat kita, karena kelamaan di sini." Ujar Astrid, menatap serius wajah Papahnya.
"Ya." Angguk Astrid.
"Papah pakai apa datang ke sini?!" Tanya Astrid.
"Naik Taksi, sebelumnya Papah beli pakaian yang Papah pakai ini buat menyamar dan menutupi diri Papah agar gak dikenali Siapapun, baru Papah kesini naik taksi lagi." Ujar Edward, memberi tahu Astrid.
"Ya sudah, kita pulang sama sama naik mobilku." Ujar Astrid.
"Kamu pakai mobil?" Tanya Edward.
__ADS_1
"Ya, sebelum kesini, Aku pulang kerumahku dulu buat mengambil senjata dan mobilku, baru Aku langsung ke sini." Jelas Astrid.
"Oh begitu." Angguk Edward, mengerti dan paham.
"Ya sudah, Ayo Pah, kita pergi." Ujar Astrid pada Papahnya.
"Eh, sebentar, tadi Papah sempat liat kamu masuk kesalah satu ruangan lalu keluar dari ruangan itu, sebelum kamu ke kamarnya Hardi, apa yang Kamu lakukan diruangan itu?!" Tanya Edward, ingin tahu .
"Oh, Aku kepergok sama Asisten rumah tangga si Hardi, lalu, Aku mengikat dan mengurungnya dalam ruangan itu." Ujar Astrid, menjelaskan pada Edward.
"Oh , Kamu gak membunuhnya ?!" Tanya Edward.
"Nggak, Pah. Aku gak tega membunuhnya, Dia gak bersalah." Ucap Astrid.
"Oh, syukurlah. Papah kira Kamu bunuh Dia." ujar Edward, menghela nafas lega.
Dia tak ingin melihat Astrid menjadi liar , dan membunuh siapa saja yang sudah menghalangi niat dan rencananya, Dia bersyukur karena anaknya itu hanya focus pada musuh musuhnya saja dan tak membunuh orang orang yang tidak bersalah .
"Astrid juga gak mengikat kuat Dia, sengaja, agar Dia bisa melepaskan dirinya dan memberi tau soal kematian Hardi pada Polisi." Ujar Astrid.
"Loh, bukannya malah nanti masalahnya jadi rumit, karena Polisi akan mencari tau pembunuhnya?" Ujar Edward, menatap serius wajah Astrid.
"Gak apa apa, Polisi gak akan bisa menemukan jejakku, Aku pakai sarung tangan latex ini , dan Asisten rumah tangga itu juga gak akan berani mengungkap kalo Aku pelakunya." Ujar Astrid.
"Kenapa begitu?" tanya Edward.
"Karena Aku mengancamnya, akan membunuh Dia kalo Dia memberi tau soal Aku." Ungkap Astrid.
"Oh, begitu." Angguk Edward mengerti dan paham.
"Aku sengaja membiarkan Asisten rumah tangga itu hidup, agar Polisi tau, lalu, pihak media tivi dan media cetak menyiarkan tentang kematian Hardi Wijaya." Ujar Astrid.
"Itu sebagai peringatan pada kelompoknya Hardi, agar berhati hati, karena , giliran mereka akan segera datang, Astrid akan membunuh mereka satu persatu nantinya ." ungkap Astrid, menjelaskan dengan serius pada Edward.
"Ya." Angguk Edward.
Edward tak mau membantah dan membahas lebih jauh lagi, Dia menurut saja dengan apa yang dikatakan Astrid itu, karena, Dia pikir, percuma melarang Astrid, Dia tak akan bisa dilarang dan tak mau dihentikan, Dia akan tetap menjalankan rencananya membalas dendam pada kelompoknya Hardi Wijaya.
Edward tahu, Astrid tak akan berhenti sebelum Dia menghabisi semua orang yang sudah berbuat jahat pada dirinya, Dia juga tahu, bahwa Astrid mengincar pimpinan kelompok Hardi, karena Astrid tahu, pimpinan itu dalang dari semua kejahatan yang telah mereka lakukan.
Dan Edward berfikir, Dia tak akan menghalangi rencana Astrid, Dia akan mendukung dan membantu Astrid untuk menyelesaikan misi balas dendamnya itu, karena Dia juga dendam pada orang orang yang sudah menjebak dan memfitnah dirinya .
"Ayo Pah. Kita pergi." Ajak Astrid pada Edward yang diam tercenung dihadapannya itu.
__ADS_1
"Ayo." Jawab Edward.
Lalu, mereka berdua bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut, Di dalam rumah, Asisten rumah tangga masih berusaha melepaskan ikatan yang mengikat kedua tangan dan kakinya itu .