Destroy

Destroy
Mengejar Karina


__ADS_3

Di jalan raya, Astrid menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, Dia ingin segera tiba di tempat Gerard membawa Karina, Astrid tak ingin gagal lagi untuk menghabisi Karina.


Sebab Dia tahu, Jika di biarkan hidup, Karina akan menjadi penghalang dirinya untuk membalaskan dendamnya, sebab, Karina sudah tahu siapa Dia sebenarnya.


Jika Gerard atau pun Zahara sampai tahu kebenaran tentang dirinya, maka , Astrid tak akan bisa aman lagi , Dia juga tak akan bisa tinggal dirumahnya yang sekarang lagi, sebab, Gerard ataupun Zahara pasti akan berusaha untuk menyingkirkannya, atau bahkan menghabisinya.


Karena itu, Dia harus bisa membunuh Karina terlebih dahulu, sebelum Karina bicara banyak pada Gerard.


Sambil menyetir mobilnya, wajah Astrid terlihat tegang, sesekali Dia melihat alat GPS yang menempel pada mobilnya, dari alat pelacak itu Dia bisa melihat bergerak ke arah mana mobil Gerard saat ini bersama Karina.



Sementara itu, Peter juga masih terus mengikuti mobil Gerard tanpa sepengetahuan Gerard dan juga Karina.


Peter terus mengikuti, hingga pada akhirnya, mobil Gerard di lihatnya berbelok dan masuk ke sebuah jalanan sempit yang hanya bisa di lalui satu mobil saja. Dan jalanan itu berbatu dan masih tanah sebagiannya.


Peter tak perduli, Dia terus menyetir mobilnya mengikuti mobil Gerard, Dia tak mau melepaskan Karina, sesuai perintah Zahara, Dia harus mengetahui kemana Gerard membawa Karina, lalu melaporkannya pada Zahara nantinya.


Mobil Gerard terus melaju dijalanan sempit itu, terus naik ke atas bukit, jauh di belakangnya terlihat mobil Peter juga melaju naik menyusuri jalanan yang mengarah ke atas bukit.


Dari dalam mobilnya, Peter melihat dikejauhan, berdiri gagah sebuah bangunan tinggi dan megah, bangunan sebuah Villa , tahu lah Peter, bahwa Gerard berniat menyembunyikan Karina di Villa yang ada di atas bukit itu.


Peter terus menyetir mobilnya, Dia menambah kecepatan mobil agar tak ketinggalan dengan mobil Gerard yang terus melaju di depan.


Mobil Gerard melaju lurus, lalu berbelok ke kiri, tibalah Dia di halaman sebuah bangunan Villa yang cukup luas dan megah itu.


"Kita sudah sampai." Ujar Gerard, menoleh pada Karina.


Karina hanya menganggukkan kepalanya, Gerard membuka pintu mobil lalu keluar dari dalam mobil, Karina juga ikut keluar dari dalam mobil.


Karina berdiri disamping mobil, matanya terpana memandang bangunan Villa megah yang berdiri kokoh dan tinggi itu. Bangunan Villa bergaya Spanyol. Dengan di kanan kirinya di tumbuhi pepohonan yang berdiri kokoh dan tinggi tinggi.


Dengan taman yang asri lengkap dengan patung air mancurnya di samping Villa, serta pohon cemara yang tegak berdiri di halaman rumah.


"Kamu sering ke Villa ini?" tanya Karina.


"Sangat jarang, hanya sesekali saja, jika ada hal yang mendesak, seperti membahas bisnis yang harus di rahasiakan pada siapapun, Aku pasti mengundang klien ke sini." Ungkap Gerard.


"Oh." Angguk Karina.


"Tempatnya sangat sepi sekali, gak ada penduduk di sekitarnya, tapi Villa nya terlihat nyaman dan asri." Ujar Karina terpesona dengan Villa tersebut.


"Apa di sini benar benar aman? Terus, Kamu tinggal Aku sendirian di sini?" tanya Karina.

__ADS_1


"Tenang saja, nanti Aku suruh orang yang mengurus Villa ini untuk datang, mereka yang akan melayani Kamu selama Kamu tinggal disini." Ujar Gerard.


"Terus, Kamu gak nemani Aku?" tanya Karina cemberut menatap wajah Gerard.


"Aku akan datang sesekali ke sini menemui Kamu, tapi, Aku harus curi waktu dan liat liat, jika aman dan Zahara gak tau, baru Aku ke sini." Ucap Gerard, tersenyum menatap wajah Karina.


"Ayo kita masuk ke dalam." Ujar Gerard.


Karina mengangguk, mengiyakan ajakan Gerard, Gerard lantas menggandeng lengan Karina, dan mengajaknya masuk ke dalam Villa tersebut.


Di depan pintu masuk, Gerard dan Karina berdiri, Gerard mengambil dompetnya, membukanya, lalu mengambil sebuah kunci kecil dari dalam dompetnya. Kunci pintu Villa tersebut, yang selalu di bawa Gerard dan tersimpan aman di dalam dompetnya.


Dengan kunci itu Gerard membuka pintu Villa, setelah pintu terbuka, masuklah Gerard bersama Karina kedalam Villa tersebut.


Di ujung jalan, tepat di belokan ke arah Villa, berhenti mobil Peter. Dari dalam mobil Dia melihat jelas Gerard dan Karina masuk ke dalam Villa tersebut. Dan Peter mengabadikannya melalui kamera video ponselnya.


Dia merekam bagaimana Gerard berjalan menggandeng tangan Karina masuk ke dalam Villa, dan juga, Peter merekam bangunan Villa itu, lalu, Dia segera mengirimkan rekaman video tersebut ke nomor telepon Zahara.


Di rumah sakit, Jack baru saja selesai di pindahkan ke tempat ruang VVIP, terlihat di atas ranjang Jack masih tak sadarkan diri, dengan segala macam peralatan rumah sakit terpasang di tubuhnya.


Zahara dan Melani merapikan meja kecil yang ada disamping ranjang, tiba tiba ponsel Zahara berbunyi, Zahara cepat mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya.


Zahara melihat di layar ponsel ada pesan yang masuk, Dia melirik Melani yang masih sibuk merapikan meja dan peralatan minum diatas meja.


"Ya, Ma." Jawab Melani.


Karena tak ingin diketahui Melani, Zahara pun lantas keluar dari dalam ruang kamar ICU, sementara Melani cuek saja, tak ada rasa curiganya pada sikap Mamanya itu.


Zahara keluar dari dalam ruang kamar ICU dan menutup pintunya pelan. Dia berjalan menjauh dari ruangan tersebut.


Zahara berdiri di sudut koridor rumah sakit, sebelum membuka ponselnya, Dia menoleh lagi ke ruang kamar ICU, setelah memastikan bahwa Melani masih tetap berada didalam ruangan, lalu, Zahara cepat membuka ponsel dan menerima pesan yang masuk ke ponselnya tadi.


Mata Zahara serius melihat file video rekaman yang di kirimkan Peter, wajah Zahara geram melihat Gerard bergandengan tangan dengan Karina masuk ke dalam Villa. Zahara juga melihat bangunan Villa tersebut.


"Kurang ajar ! Gerard menyembunyikan Karina di Villa itu!!" Ucapnya geram dan marah.


Zahara lantas cepat menelpon Peter, wajahnya terlihat memerah menahan amarahnya.


"Kamu terus awasi mereka berdua, jika mereka pergi ikuti dan kabari Saya. Ingat ! Kamu jangan bertindak sebelum Saya datang ke sana." Ujar Zahara, dengan wajah yang sangat serius bicara di teleponnya.


Zahara lantas cepat menutup ponselnya, Dia geram, darahnya bergejolak mengetahui Gerard berusaha menyembunyikan Karina dan menyelamatkannya. Zahara tak bisa menerima kenyataan itu.


Dengan langkah cepat dan membawa kemarahan dalam jiwanya, Zahara kembali masuk ke dalam ruang kamar.

__ADS_1


Zahara berjalan mendekati Melani yang sudah duduk di sofa, Zahara mengambil tas kecilnya dari atas meja.


"Mau kemana Ma?" tanya Melani.


"Mama mau pergi sebentar, ada urusan penting, Kamu di sini aja jagain bang Jack ya." Ujar Zahara, menatap serius wajah Melani.


"Tapi, nanti, kalo Sam datang gimana?" tanya Melani , dengan wajah takutnya menatap Zahara.


"Sam gak bakal tau kalo Jack di pindahkan ke sini. " Ucap Zahara meyakinkan Melani.


"Pokoknya, Kamu diam saja di dalam sini, jangan keluar apalagi kemana mana. Biar gak ada yang melihatmu." Ujar Zahara.


"Kalo urusan Mama udah beres, Mama langsung ke sini lagi." Ujar Zahara.


"Tapi, Ma. Kata Papah, ada yang mau jagain bang Jack di sini? tapi kok mereka gak datang juga?!" tanya Melani.


"Ya. Memang ada orang orang yang menjaga Jack nanti, mungkin mereka sedang di perjalanan menuju ke sini, Kamu tunggu saja. Mereka pasti datang." Ujar Zahara.


"Ya, Ma." Angguk Melani ,menurut dengan perkataan Mamanya.


"Mama pergi ya." Ujar Zahara pamit.


"Iya, hati hati." Jawab Melani.


Zahara lantas bergegas pergi keluar dari dalam ruang kamar ICU tempat Jack di rawat, seperginya Mamanya, Melani bangun dan berdiri dari duduknya di sofa, Dia melangkah mendekati Jack yang terbaring di atas ranjangnya.


Melani berdiri disamping ranjang, Dia memandangi wajah Jack yang masih koma, belum sadarkan diri sejak Dia menjalani operasi beberapa hari yang lalu.


"Semoga Kamu cepat sehat kembali Bang." Bathin Melani.


Melani memandangi terus wajah Jack, ada kesedihan terpancar di wajahnya, walau mereka sering bertengkar, namun, Melani sangat sayang dengan abangnya, Dia tak ingin terjadi hal buruk pada Jack.


Ada penyesalan dalam diri Melani, mengapa Jack tak juga mau mendengar perkataannya, setiap kali Dia berusaha mencegah dan melarang Jack memakai obat obatan terlarang, Jack marah dan cuek padanya, tak pernah Jack menurut dan mendengarkan perkataan Melani.


Melani sedih, karena sudah candu, akhirnya Jack tak bisa lagi di cegah, Dia semakin ketagihan memakai barang terkutuk itu, setiap hari Dia rutin memakai obat obatan terlarang. Dan tak ada yang bisa menghentikan kebiasaan buruknya sebagai pecandu itu.


Jack menjadi pecandu, karena frustrasi dengan kehidupannya dan juga kehidupan keluarganya yang di nilainya sudah hancur berantakan.


Sebenarnya, Dia melakukan itu semua sebagai bentuk protesnya pada kedua orang tuanya yang tak harmonis dan lebih mementingkan diri sendiri mereka, namun, tak ada yang tahu jika Jack protes akan sikap orang tuanya, karena memang selama ini, Jack tak pernah mengutarakannya langsung pada Mama dan Papahnya.


Dia hanya memendamnya sendiri, lalu mencari pelarian atas masalahnya dan kemudian Dia melampiaskannya dengan obat obatan terlarang, dengan memakai obat terkutuk itu, Jack merasa, Dia bisa melupakan segala macam kepahitan hidupnya, dan Dia bisa tenang dan tak perduli dengan keadaan disekitarnya, setelah Dia memakai obat terkutuk itu.


Walau sudah berkali kali nyawanya hampir melayang, Jack tak perduli, Dia tetap saja menggunakan obat terkutuk itu, dan tak mau meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Hingga sekarang, Dia harus masuk kembali kerumah sakit, akibat over dosis, memakai obat tersebut secara berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2