
Beberapa jam kemudian, Mobil Karina tiba di pelataran halaman sebuah Villa, Karina lantas mematikan mesin mobilnya, dari dalam mobil sekilas Dia melihat ke Villa tersebut.
Karina lantas membuka pintu dan meraih tas kecilnya lalu segera keluar dari dalam mobil, setelah berada di luar, Dia menutup kembali pintu mobilnya.
Karina berdiri disamping mobilnya, mengamati Villa yang berdiri kokoh tersebut. Suasana sekitar Villa sepi dan hening, tak ada tanda tanda, bahwa di Villa itu ada penghuninya.
Karina menoleh ke sekitar Villa, tak di lihatnya mobil Zahara di halaman Villa tersebut.
"Hmm...Sepertinya Zahara belum sampai ke sini. Padahal Aku udah buru buru agar Dia gak kelamaan menungguku." Gumamnya menggerutu kesal.
Karina lantas melangkahkan kakinya, Dia berjalan menuju teras depan Villa, lalu duduk di sebuah bangku yang ada di teras depan villa itu.
Dia lantas membuka tas kecil dan mengambil ponselnya, mencoba untuk menghubungi Zahara dan menanyakan posisinya sudah sampai di mana saat ini.
Karina menelpon, terdengar nada terputus dari seberang telepon, telepon Zahara tak aktif, di cobanya sekali lagi, sama saja, telepon tak bisa di hubungi karena tak aktif dan di luar area jangkauan.
Karina lantas menutup telepon dan memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya, Dia menghela nafas, tampak raut wajahnya kesal, karena Zahara belum datang ke Villa, dan membuatnya jadi menunggu lama.
"Duh, Hapenya gak aktif, kemana sih Dia." Gumamnya kesal.
Saat menggerutu kesal menunggu kedatangan Zahara, tiba tiba pintu Villa terbuka, lalu, keluar Peter dari dalam Villa tersebut.
Peter tiba lebih dulu di Villa, karena Dia naik motor ke tempat itu, sehingga lebih cepat sampai daripada Karina yang membawa mobil untuk datang ke Villa tersebut.
Motor Peter sengaja disembunyikannya di belakang Villa, agar saat Karina datang ke villa, Dia tak tahu, jika Peter sudah menungguny terlebih dulu di dalam villa dan bersiap menyambut kedatangan Karina, dan lalu membunuhnya, seperti yang di perintahkan Zahara kepada dirinya.
"Astaga !!" Karina tersentak kaget menoleh ke arah Peter yang berdiri di depan pintu Villa.
Dia sangat terkejut melihat kehadiran Peter yang tiba tiba saja dari arah dalam, Dia menyangka Villa itu tak ada orang lain, melihat Peter , Dia menjadi kaget.
"Bu Zahara belum sampai ke sini, katanya sedang di jalan." Ujar Peter, sambil melangkahkan kakinya mendekati Karina yang masih duduk di bangku teras villa itu.
Karina lantas cepat berdiri dari duduknya di bangku teras, Dia kemudian mundur dua langkah dari hadapan Peter.
Karina lalu melihat tatapan mata Peter yang dingin, raut wajahnya juga sangat menakutkan.
Dan Karina tahu siapa sosok Peter, Dia tahu, bahwa Peter seorang pembunuh bayaran, anak buah Zahara yang sering di tugaskan Zahara untuk membunuh dan melenyapkan musuh musuhnya.
Karina takut terhadap Peter, apalagi tatapan mata Peter tajam melihat dirinya, seakan ingin menerkam dirinya, dan sikapnya sangat dingin serta kaku.
"K...Kamu kok ada di sini?!" Tanya Karina, sedikit gugup.
Dia gugup melihat kehadiran Peter di Villa milik Zahara itu. Dia sangat tahu, Jika Peter muncul, itu artinya Zahara sedang menugaskannya untuk menjalankan apa yang di perintah Zahara.
__ADS_1
"Ibu Zahara yang menyuruh Saya ke sini. Katanya, Saya di suruh menunggu bu Karina." Ujar Peter, dengan sikap dinginnya.
"Ya, Saya Karina." Ujar Karina, memperkenalkan dirinya.
"Iya, Bu. Saya tau."Ucap Peter, tersenyum penuh arti.
Tatapan mata Peter semakin tajam memandang diri Karina, dan Dia menyunggingkan senyum yang menyeringai kecil, ekspresi wajah Peter membuat Karina semakin takut.
Instingnya dan firasat serta perasan tak enaknya mulai muncul, ada rasa tak enak hati dalam dirinya, tiba tiba saja jantungnya berdegup cepat, Dia seperti menyadari, bahwa nyawanya sedang terancam.
"Mengapa Zahara menyuruhmu menunggu Saya di sini?!" Tanya Karina .
Karina mencoba untuk bersikap tenang dan tidak menunjukkan kegugupannya di hadapan Peter yang berdiri tenang itu.
"Ibu Zahara memberi tugas pada Saya." Ungkap Peter.
"Tugas ?!!" Karina terkesiap kaget.
Dia syock dan kaget mendengar perkataan Peter, Dia sangat tahu dan hafal betul dengan kebiasaan Zahara, jika Dia ingin membunuh seseorang, pasti Dia menugaskan Peter untuk melakukannya, dan kalimat perintahnya jelas , " Tugas " artinya, Peter di perintahkan untuk menghabisi nyawa seseorang.
"Apa maksud Zahara menyuruh Peter menungguku? Apa Zahara bermaksud mau membunuhku? Apa salahku?!" Bathin Karina bicara dan bertanya tanya.
Perlahan lahan, Karina melangkah mundur, agar jarak antara Dia dan Peter tidak berdekatan. Peter tetap berdiri tenang dan bersikap dingin di hadapan Karina.
"Ah, kalo gitu, Saya pergi dulu, tolong bilang ke Zahara, suruh telepon Saya kalo Dia udah sampe sini ya, biar Saya ke sini lagi nanti." Ujar Karina.
Karina mencoba bersikap tenang dan baik pada Peter, Dia mencari cara untuk pergi dan menghindar dari Peter.
Peter tersenyum menyeringai penuh arti, Dia menatap tajam wajah Karina yang melangkah mundur itu.
"Masuklah dulu, Bu. Ibu sudah jauh jauh datang ke sini, pasti capek, tunggu bu Zahara di dalam Villa, sebentar lagi Dia pasti datang." Ujar Peter, dengan sikap dinginnya.
"Ah, nggak usah, terima kasih, Saya gak enak menunggunya sendiri di dalam Villa, biar nanti saja saya kembali lagi ke sini." Ujar Karina.
Dia semakin takut, namun berusaha untuk tetap tenang dan tak memperlihatkan rasa takutnya pada Peter.
"Ibu kenapa melangkah mundur terus dari tadi Saya liat?" Tanya Peter.
"Ibu takut dengan Saya ?!" Ucap Peter, dengan sikap dinginnya menatap tajam wajah Karina.
"Ah, nggak, nggak gitu." Ujar Karina gugup.
Dia semakin gugup dan takut saja, karena ternyata Peter tahu kalau Dia takut dan Peter bisa membaca ekspresi ketakutannya itu. Namun, Dia berusaha untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Saya permisi dulu ya." Ucap Karina.
Karina cepat berbalik badan dan hendak pergi meninggalkan Peter yang berdiri di hadapannya.
Akan tetapi, saat Dia berbalik dan hendak melangkahkan kakinya, menjauh , Peter cepat menangkap tangan kanannya.
"Ibu mau kemana ? Ibu jangan pergi." Ujar Peter dengan sikap dinginnya.
Peter mencengkram kuat tangan kanan Karina, Dia mencegah, agar Karina tidak bisa pergi dari hadapannya.
Jantung Karina berdegup semakin cepat saja, firasatnya semakin kuat, bahwa memang benar, Peter di tugaskan Zahara untuk membunuh dirinya. Karina pun semakin gugup dan takut.
Dengan berpura pura bersikap tenang, Karina lantas berbalik badan dan menghadap Peter yang masih memegang kuat tangan kanannya.
Saya hanya mau ke mobil." Ucap Karina, mencoba mencari alasan, agar terbebas dari Peter.
"Ibu ikut saya ke dalam." Ujar Peter.
Peter tak menanggapi perkataan Karina, Dia tahu, itu hanya alasan Karina saja untuk menghindar dari dirinya.
Bagi Peter, Karina sebagai mangsanya sudah ada di hadapannya, dan Dia tak mau menyia nyiakan kesempatan itu. Dia harus segera menjalankan perintah Zahara yang menyuruhnya membunuh Karina dan melenyapkan tubuhnya, Peter harus cepat bertindak, karena Dia juga sebelum melakukan pekerjaannya sudah di berikan uang sebesar 50 persen oleh Zahara, dan Dia tak mau gagal dalam melaksanakan tugasnya. Karena itu, Dia mencegah Karina pergi darinya.
Peter menarik tangan kanan Karina, mengajak dan hendak membawanya masuk ke dalam Villa, Karina gugup, dengan cepat dan gerak refleks, Karina mengangkat tas kecilnya lalu memukulkan tasnya ke wajah Peter beberapa kali.
Peter kesakitan mendapat pukulan tas Karina , Karena berusaha menghindar dari pukulan, Dia melepaskan cengkraman tangannya dari tangan kanan Karina.
Karina lantas cepat berbalik dan lari begitu tangannya di lepas Peter. Dia berlari sekencang kencangnya, menjauh dan menghindari Peter.
"Kepaaarraaat !!" Geram Peter.
Peter sangat marah atas perlakuan Karina yang sudah berani memukul dan menyerangnya.
"Mau lari dan sembunyi kemana Kamu Karina?!" Gumamnya menyeringai mengerikan.
Dengan sikap tenang dan dinginnya Peter lantas melangkahkan kakinya, Dia berjalan mengejar Karina yang sudah berlari menjauh itu.
Di tempat lain, Karina terus berlari dengan wajah ketakutan, Dia ingin menyelamatkan dirinya, Dia tak mau mati terbunuh. Karina mengerahkan seluruh tenaganya untuk terus berlari dan mencari persembunyian, agar Peter tak bisa menemukannya.
Di tempat lain, terlihat Peter berjalan tenang dan santai mencari Karina, Dia menyusuri ilalang ilalang yang tumbuh liar dan tinggi tinggi di sekitar Villa tersebut.
"Kaariiinnaa...Dimana Kamu?!" Ujarnya memanggil dengan sikap tenang dan dinginnya.
__ADS_1
Suara Peter sangat menakutkan, dan wajahnya semakin menyeramkan, kebengisan mulai terlihat jelas dari raut wajahnya, di tempat lain, Karina terus berlari diantara ilalang liar, Dia mencari tempat persembunyian yang aman untuk dirinya.