Destroy

Destroy
Siapa Bayi Itu ?


__ADS_3

Pagi harinya, Astrid baru saja pulang ke Paviliun setelah Dia menjalankan misinya membunuh Tarmiji .


Mobil di parkir dihalaman Paviliun, lalu, Astrid keluar dari dalam mobilnya, Dia melangkah masuk ke dalam Paviliun, pintu tak terkunci dan hanya tertutup rapat saja.


Setelah berada didalam Paviliun, Astrid heran, karena suasana sepi, Dia berjalan menyusuri selasar ruang dalam Paviliun, dilihatnya keruangan ruangan yang ada dalam Paviliun, namun, tak ada Antoni dan juga Papahnya, Edward didalam salah satu ruangan tersebut.


"Pada kemana mereka ?" Gumam Astrid, berfikir dan heran .


Astrid lantas melangkah menuju kamar Antoni, Dia membuka pintu kamar yang juga tak terkunci itu, Astrid melongok ke dalam kamar.


"Antoniii...!!" Panggil Astrid, sambil masuk kedalam kamar.


Tak ada Antoni dalam kamarnya, kamar kosong dan tertata rapi, Astrid semakin bingung .


"Apa Dia pergi ya?" Gumamnya lagi.


Astrid menghela nafasnya, lalu Dia melangkah keluar dari dalam kamar Antoni.


"Paaah...Papaaahh...!!" Panggil Astrid, sambil berjalan menyusuri selasar ruangan Paviliun.


Tak ada suara sahutan dari Papahnya maupun Antoni, Astrid semakin bingung dan bertanya tanya, kemana Antoni dan Papahnya, Edward pergi.


Astrid lantas cepat melangkah ke kamar Papahnya, muncul rasa khawatir dalam dirinya karena papahnya dan Antoni tak ada di dalam Paviliun, tempat mereka bersembunyi dari kejaran Gerard .


Astrid khawatir , telah terjadi sesuatu pada Papahnya dan Antoni, Dia berfikir hal yang buruk, bahwa anak buah Gerard telah menemukan tempat persembunyian mereka di Paviliun milik Alex itu, lalu menangkap dan membawa Papahnya dan juga Antoni.


Dengan wajah cemas dan penuh rasa khawatir Astrid membuka pintu kamar Papahnya, lalu cepat Dia masuk ke dalam kamar.


"Paaahh...!!" Panggil Astrid.


Tak ada Papahnya dalam kamar, pintu kamar mandi yang ada dalam kamar itu terbuka lebar, Astrid semakin bingung dan cemas, karena Papahnya tak ada juga di dalam kamarnya .


"Gak mungkin jika mereka pergi gak bilang ke Aku. Setidaknya Antoni pasti ngabari Aku kalo mau pergi keluar membeli sesuatu, seperti biasanya yang Dia lakukan." Gumamnya sambil berfikir keras.


Dia bertanya tanya, kemana perginya Antoni dan Papahnya, dan mengapa keduanya tidak memberi kabar jika pergi .

__ADS_1


Saat Astrid berfikir kemana perginya Antoni dan juga Edward, Dia melihat lemari pakaian Papahnya terbuka setengah.


Astrid semakin cemas, Dia khawatir ada orang yang masuk kedalam kamar dan menggeledah lemari pakaian Papahnya, sehingga lemari itu masih terbuka lebar dan tak di tutup kembali .


Astrid cepat melangkah mendekati lemari pakaian, Dia lantas membuka pintu lemari pakaian satunya lagi, sehingga lemari terbuka lebar.


Terlihat pakaian pakaian milik Edward menumpuk dan tergantung dalam lemari pakaian itu.


Astrid lalu melihat sebuah tas koper di bawah lantai lemari pakaian, Dia menatap tas koper itu.


"Kira kira, apa isi didalam tas koper itu ya?" Gumamnya.


"Tas koper itukan yang di bawa Alex waktu itu dan diserahkan pada Papah lagi . Papah sengaja menitipkan tas koper sama Alex, pasti ada hal penting dalam tas koper itu." Gumamnya lagi sambil berfikir keras.


Karena penasaran dan ingin tahu, apa isi dari tas koper milik Papahnya itu, Astrid segera saja mengambil tas koper itu dari dalam lemari pakaian.


Lalu, tanpa menutup pintu lemari pakaian, Astrid membawa tas koper tersebut, Dia meletakkannya diatas kasur.


Astrid berdiri disamping ranjang, Dia menatap tas koper yang sudah tergeletak di atas kasur. Astrid lantas mencoba membuka tas koper tersebut .


Tas koper berhasil terbuka, karena Edward memang hanya menutupnya saja dan tak mengunci tas koper tersebut .


Tahulah Dia, bahwa selama ini, Papahnya masih menyimpan berkas surat kepemilikan perusahan perusahaan miliknya yang di ambil paksa oleh komplotan Gerard .


Dia juga melihat catatan catatan keuangan perusahaan milik papahnya dulu, dan juga, dalam berkas berkas, ada nama nama yang tergabung dalam kelompok organisasi Gerard, yang sudah melakukan tindak kejahatan, korupsi, pencucian uang, penjualan aset negara, perjudian online, perdagangan obat terlarang, jual beli senjata ilegal dan banyak lagi.


Nama nama yang ada dalam berkas berkas tersebut sudah diketahui Astrid, karena sebelumnya, Papahnya memberikan data orang orang yang sudah menjebak dirinya dan memfitnahnya, melalui Alex yang dititipkan Papahnya itu Astrid mendapatkan data data orang orang tersebut. Sehingga Astrid mudah mencari dan menuntut balas kepada mereka semua yang sudah berbuat jahat pada Papahnya dan membuat hidup dirinya menderita .


Astrid lalu meletakkan berkas berkas itu lagi, lalu, tak sengaja Dia melihat ada dua lembar photo usang di dalam tumpukan berkas tersebut .


Astrid lantas mengambil dua photo itu, Dia kaget saat melihat photo tersebut.


"Zahara ?!!" Gumamnya , tersentak kaget.


Di dalam photo, terlihat wajah Zahara terpampang bersama Papahnya, dalam photo tersebut, Zahara dan Edward saling berpelukan mesra di photo.

__ADS_1


Astrid diam, Dia tahu dulu, saat dirinya masih kecil, Papahnya memang menjalin hubungan dengan Zahara, dan Zahara sering datang ke rumah mereka . Sejak kecil dulu, Astrid sudah tak menyukai dan membenci Zahara .


Astrid tak mau berlama lama melihat photo kebersamaan Papahnya dan Zahara itu, diletakkannya kembali photo itu ke dalam tas koper, lalu, Astrid melihat satu photonya lagi yang Dia pegang.


Astrid tercengang heran, melihat photo Zahara yang edang menggendong bayi perempuan dan dirangkul Papahnya.


Astrid terdiam dan heran, Dia tahu, photo bayi perempuan itu bukan photo dirinya, sebab, Dia kenal dengan Zahara saat Dia sudah berusia 8 atau 9 tahunan. Sementara bayi dalam gendongan Zahara masih sekitar umur kurang dari dua tahun .


"Siapa bayi ini?" Bathin Astrid berfikir.


"Apa bayi ini anaknya Papah bersama Zahara ?!" Pikir Astrid, sambil memandangi wajah bayi perempuan dalam photo tersebut .


"Jika benar ini anak Papah dan Zahara, lantas, dimana anak itu sekarang?! " Gumam Astrid, berfikir keras .


"Ah, Aku harus menanyakan hal ini sama Papah, Aku ingin penjelasan Papah tentang ini semua." Ujarnya.


"Jika benar ini anaknya Papah, artinya, Aku punya adik tiri, yang lahir dari rahimnya si Zahara." Ucap Astrid sambil menatap photo itu.


Astrid menghela nafasnya, Dia sesaat berfikir, mengapa selama ini Dia tak pernah mengetahui, bahwa Papahnya memiliki seorang anak , dari hubungan gelapnya bersama Zahara .


Dan jika benar mereka punya anak, apakah Papahnya tahu keberadaan anaknya itu sekarang ini ? Dan apakah Zahara perduli pada anak hasil hubungannya dengan Edward ? Mengingat Zahara dulunya menjebak Papahnya, sehingga Papahnya ditangkap, difitnah dan dimasukkan kedalam penjara .


Astrid semakin penasaran saja, Dia ingin tahu tentang sosok bayi perempuan yang Dia duga adalah anak Papahnya bersama Zahara .


Astrid juga berfikir, Dia harus mencari, dimana keberadaan anak Papahnya itu sekarang dan siapa namanya.


Jika benar Dia mempunyai seorang adik perempuan, Astrid akan senang, walaupun lahir dari rahim Zahara, wanita yang sangat di bencinya itu.


Namun, karena darah daging Papahnya, Astrid tak kecewa, Dia mau menerima kenyataan bahwa Papahnya mempunyai anak selain dirinya sendiri, dan Astrid ingin bertemu dan mengenal adik tirinya tersebut .


"Aku harus mencari tau keberadaan anaknya Papah ini. " Gumamnya.


"Apa jangan jangan, Zahara menitipkan anaknya itu di panti asuhan ? Atau malah dimasukkan kerumah sakit jiwa, sama seperti yang Dia lakukan dulu kepadaku?!" Gumam Astrid berfikir keras.


"Ah, Aku harus mencari tau, Aku harus tau kebenarannya, Aku harus bicara dengan Papah dan juga si Zahara soal anak perempuan itu!" Gumamnya lagi .

__ADS_1


Astrid lantas menyimpan photo tersebut dalam kantong celananya, Dia tak menyimpannya ke dalam tas koper dan sengaja mengambil dan membawanya, agar Dia nanti bisa menunjukkan photo bayi perempuan itu kepada Papahnya, saat Dia bertanya soal keberadaan bayi perempuan itu pada Papahnya nanti .


Astrid lalu menutup tas koper, lalu, Diambilnya tas koper dari atas kasur dan dibawanya , Astrid menyimpan kembali tas koper tersebut kedalam lemari pakaian, lalu, Dia menutup pintu lemari pakaian milik Edward. Untuk kemudian Dia bergegas pergi keluar dari dalam kamar Papahnya itu .


__ADS_2