Destroy

Destroy
Niat Buruk Samuel


__ADS_3

Mobil berhenti di depan rumah Astrid. Sesaat kemudian, Astrid keluar dari dalam mobil Samuel. Mereķa baru saja pulang dari makan malam bersama di sebuah restoran mewah, dan Samuel menganggap, bahwa itu adalah kencan pertama Dia dan Astrid.


"Terima kasih ya, Sam." Ujar Astrid, melongo ke dalam mobil dari jendela pintu depan mobil yang sengaja di turunkan Samuel.


"Aku yang berterima kasih, karena sudah membuatku senang malam ini." Ujar Samuel, tersenyum senang dari dalam mobilnya.


Astrid membalas senyum Samuel, Dia juga tersenyum manis menatap wajah Samuel.


"Sampai ketemu ya, Sam. Met malam." Ujar Astrid.


"Met malam, dan Met istirahat Lia." Jawab Samuel, tersenyum.


Mata Samuel terlihat berbinar binar senang sekali bisa berduaan dengan Astrid, gadis yang di taksirnya, Dia benar benar sudah jatuh cinta pada Astrid.


Astrid melambaikan tangannya pamit, Samuel juga melambaikan tangannya dan tersenyum melihat Astrid yang berjalan masuk ke halaman rumahnya.


Dengan hati lega dan perasaan riang gembira, Samuel lantas menjalankan mobilnya , mobil berjalan dan masuk ke halaman rumah Zahara yang berada tepat di hadapan rumah Astrid.


Mobil masuk ke dalam garasi mobil, Samuel lalu keluar dari dalam mobil dan berjalan santai menuju rumahnya.


Dia berdiri didepan pintu masuk, lalu menekan bel rumah, dan berdiri menunggu pintu dibuka dari dalam.


Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka, dan berdiri seorang wanita tua, asisten rumah tangga di depan pintu rumah.


Samuel langsung berjalan masuk ke dalam rumah, Asisten rumah tangga segera menutup pintu dan menguncinya kembali.


"Kok sepi, pada kemana Bik?" tanya Samuel pada Asisten rumah tangganya.


"Masih di rumah sakit semua tuan, menjaga tuan muda Jack." Ujar Asisten rumah tangga.


"Oh." Angguk Samuel.


Samuel mengerti , bahwa Gerard dan Zahara juga Melani belum pulang juga sejak mereka pergi membawa Jack ke rumah sakit.


"Eh, Bik, tunggu dulu." Ujar Samuel.


Samuel memanggil asisten rumah tangga yang baru saja mau melangkah pergi dan kembali ke kamarnya yang berada di ruang belakang.


"Ada apa Tuan? Tuan mau makan? Biar Saya siapkan." Ujar Asisten rumah tangga.


"Nggak, Bik. Saya gak mau makan. Ada yang mau saya tanyakan." Ujar Samuel.


Samuel lantas berjalan mendekati asisten rumah tangga yang berdiri diam dengan raut wajah yang bertanya tanya, apa yang mau di tanyakan Samuel padanya.


"Bibik di kasih tau gak, rumah sakit tempat Jack di rawat?" Ujar Samuel, bertanya dengan suara pelan, di dekat telinga Asisten rumah tangga.


"Maaf Tuan. Saya gak tau. Tadi Nyonya Zahara cuma telpon ngasih tau kalo mereka menginap dirumah sakit jagain tuan muda Jack. Itu saja." Ujar Asisten rumah tangga menjelaskan pada Samuel.


"Oh, begitu. Oke deh Bik.Bibik bisa istirahat sekarang." Ujar Samuel, mengangguk angguk mengerti .


"Iya, tuan. Permisi." Ujar Asisten rumah tangga, pamit dengan mengangguk hormat pada Samuel.


Samuel terlihat berdiri diam dan tercenung ditengah tengah ruangan dalam rumahnya.


"Hmm...Aku harus mencari tau, rumah sakit mana yang merawat si Jack, agar Aku bisa datang ke sana dan membunuh Jack." Bathin Samuel bicara.


Wajahnya terlihat sangat geram, Dia ternyata sudah punya rencana, sejak Dia tahu Jack over dosis dan Dia malah menambahkan dosis obat obatan terlarang ketubuh Jack agar Jack koma atau mati,dan jika ternyata Jack masih hidup, Dia berniat untuk menyingkirkan, bahkan membunuhnya.

__ADS_1


Sebab dalam pikirannya, saat inilah waktu yang tepat buatnya bertindak, Dia akan dengan mudah membunuh Jack , jika Jack berada dirumah sakit dan tak sadarkan diri. Dengan begitu, tak ada yang curiga padanya, dan kematian Jack pasti di tetapkan pihak rumah sakit karena sakitnya.


"Bagaimana caraku agar mengetahui rumah sakitnya ya?! " pikir Samuel, bergumam sendiri.


Samuel lantas menarik nafasnya dalam dalam. Dia lantas bergerak dan melangkahkan kakinya, berjalan menuju ke kamarnya.


---


Sementara itu, Astrid baru saja masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu rumahnya, suasana di dalam rumah gelap gulita, sebab, selama Dia pergi, Dia mematikan semua lampu yang ada di dalam rumahnya.



Astrid lantas melangkah gontai, berjalan menuju ke kamarnya, wajahnya terlihat lelah, Dia ingin buru buru istirahat dan tidur di kamarnya.


Namun, Dia dikejutkan dengan satu suara yang menegurnya saat Dia melangkah di selasar ruangan rumahnya.


"Darimana saja Kamu?!" Ujar suara tersebut.


Astrid kaget dan langsung cepat berbalik badan dan melihat ke arah asal suara yang menegurnya tersebut.


"Aleexx?!" Astrid, terperanjat kaget.


Ternyata suara itu milik Alex, Astrid tak menyangka Alex ada di dalam rumahnya.


Astrid hendak menyalakan lampu ruangan agar bisa melihat jelas sosok Alex yang duduk santai di sofa.


"Jangan dinyalakan lampunya, biar saja. Aku gak mau ada yang melihatku." Ujar Alex, melarang Astrid menyalakan lampu dalam rumahnya.


Astrid menurut, Dia tak jadi menyalakan lampu dan membiarkan ruangan itu tetap gelap.


Astrid berjalan mendekati Alex.


"Loh, Kamu lupa ya? Aku kan punya kunci duplikat rumah ini." Ujar Alex cuek.


"Oh, iya juga. Aku lupa." Ujar Astrid nyengir.


"Terus, mana mobilmu?" Tanya Astrid.


Astrid bertanya karena saat Dia pulang tadi, Dia tak melihat mobil Alex ada di halaman rumahnya.


"Aku naik taksi ke sini, sengaja gak bawa mobil. Biar gak ada yang melihatku datang ke sini. Aku datang malam malam kesini karena sebelumnya, Aku telpon telpon tapi Kamu gak angkat telponmu juga." Ujar Alex, memberi tahu Astrid.


"Oh, maaf, Lex. Hapeku di mode silent tadi, jadi Aku gak tau kalo Kamu telpon." Ujar Astrid, sambil duduk di sofa yang ada disamping Alex.


"Ya, makanya, Aku langsung ke sini, khawatir terjadi hal buruk lagi padamu. Pas sampe, ternyata rumahmu gelap dan Kamu Aku cari cari gak ada dirumah." Ujar Alex kesal.


Astrid menahan tawanya mendengar penjelasan Alex, Dia luci melihat wajah Alex saat menunjukkan kekesalannya.


"Orang lagi kesal malah mau di ketawain, kacau Kamu Trid !" Ujar Alex sebal.


"Yee... jangan ngambek dong. Habisnya mukamu lucu kalo lagi marah atau kesal. " Ujar Astrid, tersenyum senyum menahan tawanya.


Alex melirik dan memelototi Astrid, Astrid tertawa kecil kembali, tak kuat untuk tidak tertawa.


"Dari mana aja sih Kamu? " Ujar Alex sewot.


"Aku habis makan malam sama Samuel, Lex." Ujar Astrid, jujur pada Alex.

__ADS_1


"Sama Sam? Anaknya si Gerard itu ?!! Gila Kamu, Trid ! Kamu benar benar mendekatinya?!!" Ujar Alex terperangah kaget.


Alex menatap lekat wajah Astrid, Dia tak percaya Astrid ternyata tetap melakukan niatnya untuk mendekati Samuel dan berpura pura menyukai Samuel, agar Dia bisa masuk ke dalam keluarga Samuel dan mendekati Gerard dan Zahara. Musuh bebuyutannya itu.


"Kamu tenang aja, Lex. Sampai saat ini, rencanaku berjalan lancar, Kamu gak usah khawatir, Aku akan berhati hati dan menjaga diriku." Ujar Astrid, mencoba menenangkan diri Alex yang cemas.


"Masuk dan berada didekat keluarga Gerard itu hal yang berbahaya Astrid ! Jika penyamaranmu terbongkar, Kamu bakal di habisi, Sam juga bakal menyerangmu, karena merasa di tipu Kamu !" Ungkap Alex menegaskan pada Astrid.


"Ya, Aku tau resikonya seperti itu, tapi tenang saja. Aku akan bersikap waspada dan gak ceroboh." Ujar Astrid.


"Hmm...Terserahmu. Aku hanya bisa berharap, Kamu baik baik saja nantinya." Ujar Alex, menatap lekat wajah Astrid.


"Iya, Lex." Angguk Astrid tersenyum menatap wajah Alex yang duduk disampingnya itu.


"Oh, ya, Kamu pasti mau ngasih tau hal penting sama Aku, soalnya Kamu maksain diri datang tengah malam begini." Ujar Astrid, menatap tajam wajah Alex.


"Ya. Aku udah berhasil melacak, dan mendapatkan informasi tentang dimana posisi Karina saat ini." Ujar Alex, menjelaskan dengan wajahnya yang serius.


"Jadi benar, Karina belum mati dibunuh Zahara?!" Ujar Astrid.


"Dia berhasil lolos dari maut, menurut informasi dan data yang Aku dapatkan dari hasil melacaknya, Karina mengalami kecelakaan, Dia di tabrak sebuah mobil di jalan raya." Ujar Alex.


"Di tabrak?!" Astrid kaget.


"Ya, Pelakunya bertanggung jawab dan langsung membawa Karina ke rumah sakit , lalu Karina di rawat di rumah sakit selama ini." Ungkap Alex.


"Hmm...Kalo Karina di tabrak, dan Pelakunya bukan orang suruhan Zahara, artinya, saat itu , Karina berhasil melarikan diri dan lolos dari maut. Karena di kejar , Dia lari sampai kejalan raya lalu di tabrak!" Ujar Astrid, mencoba mereka reka kejadian yang menimpa Karina.


"Entahlah, bisa saja seperti itu. Aku gak tau yang sebenarnya." Ujar Alex.


"Terus, dirumah sakit mana Karina dirawat?" tanya Astrid.


"Aku sudah mengeceknya, Dia sudah sadar dari komanya, dan sekarang sedang mendapatkan perawatan insentif dari pihak rumah sakit." Ujar Alex.


"Oh, Kasih Aku nama rumah sakit dan di kamar apa Dia di rawat, biar Aku datang ke sana menemui Karina." Ujar Astrid.


"Mau apa Kamu menemuinya?" Tanya Alex.


"Melanjutkan kerjaan Zahara yang belum selesai." Jawab Astrid santai.


"Maksudmu?" Tanya Alex bingung dan heran.


"Aku mau bunuh Karina!" Tegas Astrid.


"Dirumah sakit? Nekat kamu." Ujar Alex.


"Kamu tenang aja, Aku gak bakal ketauan, mana sini nama rumah sakitnya, kirim ke Hapeku." Ujar Astrid.


"Ya, nanti Aku kasih, lagian, Kamu kesana juga gak mungkin sekarang." Ujar Alex.


"Eh, Iya sih. Aku capek, mau istirahat dulu . Mungkin besok besok Aku datangi Karina." Ujar Astrid.


"Aku tinggal tidur ya, Lex. Capek banget. Kamu kalo mau nginap, gak apa nginap aja, kalo mau pulang juga gak apa apa." Ujar Astrid.


"Iya." Jawab Alex.


Astrid lantas berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Alex sendirian duduk di sofa.

__ADS_1


Alex menghela nafasnya, lalu, Dia beranjak dari tempatnya dan pergi dari dalam ruangan rumah Astrid tersebut.


Tanpa mengganti baju dan membersihkan dirinya, Astrid langsung merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, karena sangat lelah sekali dan sudah ngantuk, Dia jadi malas untuk mandi membersihkan diri dan berganti baju rumah sebelum tidur.


__ADS_2