
Malam hari, Dibalik sebuah pohon besar, terlihat Astrid sedang mengamati sebuah restoran yang ada di depannya itu .
Dari balik pohon tersebut Astrid mengawasi, di dalam restoran mewah tersebut, sedang berkumpul Hardi Wijaya, Sang Walikota sekaligus pengusaha sukses yang baru saja di bebaskan dan dinyatakan tidak bersalah dari semua tindak kejahatan yang dituduhkan kepadanya.
Di dalam restoran itu, Hardi Wijaya sedang merayakan kebebasannya bersama rekan rekan bisnisnya dan juga sebagian teman temannya yang tergabung bersama dirinya dalam organisasi kelompok Gerard .
Astrid ternyata pergi dari Paviliun karena ingin mengawasi Hardi Wijaya, Astrid berencana membuat perhitungan dengan Hardi Wijaya.
Astrid marah, karena Hardi Wijaya lolos dari jeratan hukum dan dengan mudahnya Dia dinyatakan tak bersalah.
Astrid jadi tak percaya dengan hukum yang ada, karena melihat kebebasan Hardi Wijaya, Astrid tahu, bahwa Hardi Wijaya di bantu oleh teman teman organisasinya untuk dibebaskan. Mereka terdiri dari Hakim , jaksa Agung dan Polisi, yang dengan mudahnya menghentikan penyelidikan dan menyatakan Hardi Wijaya tak bersalah, apalagi Marwan, sebagai Jaksa yang menuntut Hardi Wijaya tak berdaya, sedang koma dan dirawat di rumah sakit.
Astrid tak terima Hardi Wijaya dibebaskan, Dia berniat akan membuat hukumnya sendiri dengan memberi hukuman yang berat untuk Hardi Wijaya .
Dari tempat persembunyiannya itu, Astrid terus saja mengawasi keberadaan Hardi Wijaya yang sedang berpesta pora bersama teman temannya didalam restoran.
Sementara itu, Di Paviliun milik Alex, Edward baru saja selesai memeriksa isi di dalam tas kopernya, Dia lalu menutup kembali tas koper tersebut.
"Semua masih lengkap di koper ini, Lex." ujar Edward, tersenyum senang menatap wajah Alex yang duduk dihadapannya itu.
"Ya, Pak. Karena Saya gak pernah membukanya, hanya Saya simpan saja di tempat rahasia." ujar Alex , menjelaskan pada Edward.
"Terima kasih Lex." Ucap Edward, berterima kasih lagi pada Alex.
"Ya, Pak. Kalo gitu, Saya pulang dulu." Ujar Alex.
Sejak tadi Alex merasa tak tenang, Dia terus saja kepikiran Astrid, Alex sangat mengkhawatirkan diri Astrid, Dia ingin cepat pulang, agar bisa segera melacak dimana keberadaan Astrid saat ini . Dia takut, terjadi hal hal buruk pada diri Astrid .
"Ya, Lex." Ujar Edward.
Alex lalu berdiri dari duduknya di sofa, Dia pamit pada Edward dan juga Antoni .
Alex lalu bergegas pergi keluar dari dalam Paviliun itu .
Edward lantas berdiri dari duduknya disofa, Dia memegang tas koper, Antoni ikut berdiri juga.
"Saya mau nyimpan tas ini dulu,ya." Ujar Edward pada Antoni.
"Ya, Om." Angguk Antoni.
Edward lantas pergi meninggalkan Antoni sendirian, Antoni lalu kembali duduk disofanya .
__ADS_1
Di luar Paviliun, terdengar suara mobil berjalan pergi menjauh, Alex sudah pergi meninggalkan Paviliun itu .
Tak berapa lama kemudian, Edward datang kembali dan menemui Antoni yang masih duduk di sofa ruang tamu Paviliun.
"Antoni, Saya pergi dulu ya." Ujar Edward, berdiri dihadapan Antoni.
Antoni langsung berdiri dari duduknya di sofa, Dia menatap wajah Edward yang sudah terlihat rapi dan bersiap untuk pergi.
"Tolong jangan bilang Astrid ya." Ujar Edward, mengingatkan Antoni lagi .
"Baik, Om." Jawab Antoni, mengangguk hormat pada Edward.
Edward lantas bergegas pergi meninggalkan Antoni, Antoni mengikutinya, Dia mengantarkan Edward sampai ke pintu Paviliun.
Edward berjalan keluar dari dalam Paviliun, Antoni lantas menutup pintu kembali .
Edward berdiri di pinggir jalan dekat Paviliun, Dia menunggu kedatangan taksi online yang sudah di pesannya tadi .
Tak berapa lama menunggu, lalu datang mobil taksi online, mobil taksi online berhenti tepat di hadapan Edward yang berdiri menunggu diatas trotoar pinggir jalan, depan Paviliun milik Alex.
"Dengan pak Edward?" tanya Supir taksi online.
"Ya." Jawab Edward.
Sesaat kemudian, mobil taksi online berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut .
Sementara itu, Di depan sebuah restoran, Astrid masih saja mengintai dan mengawasi Hardi Wijaya.
Dia melihat, Hardi Wijaya keluar bersama sama dengan rekan bisnis dan teman teman kelompok organisasinya, mereka baru saja selesai berpesta pora merayakan kebebasan Hardi Wijaya.
Sebagian dari mereka terlihat sudah mabuk, karena didalam restoran, selain menikmati banyak makanan, mereka juga minum minuman keras, mereka benar benar mabuk untuk merayakan kebebasan Hardi Wijaya, dan Hardi Wijaya dengan senang hati mentraktir mereka semua yang hadir merayakan kebebasannya itu.
Namun, diantara mereka yang hadir, tak terlihat Gerard dan juga Januar, mereka berdua sebenarnya juga di undang Hardi Wijaya, tapi Gerard maupun Januar tak bisa datang ke pesta Hardi Wijaya itu.
Mereka berpamitan satu sama lainnya, masuk kedalam mobil masing masing, lalu mobil mobil segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dari tempat persembunyiannya di balik pohon besar, Astrid melihat Hardi Wijaya masuk ke dalam mobilnya, tak ada teman teman Hardi Wijaya, karena mereka semua sudah pergi, dan hanya tinggal Hardi Wijaya saja.
Hardi Wijaya terlihat setengah mabuk, Dia masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang mobilnya.
Astrid yang melihat Hardi Wijaya sudah berada di dalam mobilnya, cepat keluar dari tempat persembunyiannya.
__ADS_1
Dia berlari menuju kemobilnya, Supir Pribadi menjalankan mobil, membawa pergi Hardi Wijaya yang duduk di jok belakang mobil .
Tak berapa lama kemudian , muncul mobil Astrid, yang berjalan mengikuti mobil Hardi Wijaya yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan restoran mewah tersebut.
Di sepanjang jalan, Hardi Wijaya yang sudah setengah mabuk itu terlihat tertidur bersandar di sandaran jok belakang mobil.
Hardi Wijaya tak mengetahui, jika saat ini Dia sedang di ikuti oleh Astrid. Di belakang mobilnya, terlihat mobil Astrid terus mengikuti mobil Hardi Wijaya.
Astrid sengaja menjaga jarak antara mobilnya dan mobil Hardi Wijaya, agar Hardi Wijaya ataupun supirnya tak mengetahui, jika Dia sedang mengikuti mereka saat ini.
Mobil terus melaju menyusuri jalanan yang sudah terlihat sepi dan lengang tersebut.
Suasana malam hari terlihat gelap dari biasanya, karena langit saat ini mendung. Terlihat sosok seorang Pria menyelinap naik ke atas atap rumah Hardi Wijaya, sosok Pria itu menyelinap masuk dan naik ke atap rumah melalui belakang rumah, Sosok Pria memanjat tembok dibelakang rumah lalu melompat ke atap rumah.
Suasana rumah Hardi Wijaya itu sepi, tak ada siapapun terlihat diluar rumah, orang yang ada didalam rumah sudah pada tidur semuanya.
Sosok Pria itu berjongkok diam di atas atap rumah, Dia sedang berfikir, bagaimana caranya agar Dia bisa masuk ke dalam rumah itu melalui atap rumah yang di naikinya saat ini .
Tak berapa lama kemudian, datang mobil Hardi Wijaya. Mobil berhenti di depan pintu pagar rumah Hardi Wijaya.
Sementara, di belakang, tak jauh dari rumah Hardi Wijaya, terlihat Astrid menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Dari dalam mobilnya Astrid melihat, Supir Pribadi keluar dari dalam mobil dan membuka pintu pagar rumah. Lalu Sang supir segera masuk kembali kedalam mobil setelah membuka pintu pagar rumah .
Astrid masih mengawasi dari dalam mobilnya, Dia melihat mobil Hardi Wijaya masuk ke halaman rumah, Astrid lalu mengambil pistol dari dashboard mobilnya.
Dia mengecek peluru dalam pistol, setelah lengkap dan pistol terisi penuh oleh peluru, Astrid lantas menyimpan pistol di pinggangnya.
Astrid kemudian membuka pintu dan segera keluar dari dalam mobilnya, Dia berjalan menuju ke rumah Hardi Wijaya.
Astrid berhenti dan bersembunyi di samping tembok pembatas rumah , Dia melihat Hardi Wijaya baru saja keluar dari dalam mobil, dan mobil lalu beranjak pergi , masuk ke dalam garasi mobil.
Astrid masih bersembunyi dan terus mengawasi Hardi Wijaya, Dia melihat pintu rumah terbuka, lalu ada Asisten rumah tangga yang berdiri didepan pintu menyambut kepulangan Hardi Wijaya.
Dengan kondisi yang sempoyongan dan setengah mabuk, Hardi Wijaya masuk ke dalam rumahnya, Asisten rumah tangga lalu menutup pintu rumah kembali.
Astrid lantas cepat keluar dari tempat persembunyiannya, Dia melihat supir pribadi Hardi Wijaya masuk ke sebuah ruangan yang ada disamping rumah tersebut.
Ruangan itu sebuah kamar, dalam ruangan itu Supir Pribadi tinggal dan tidur .
Melihat suasana sepi dan sudah tak ada orang lagi di luar rumah, Astrid cepat berjalan masuk kehalaman rumah, Dia terus saja melangkah menuju ke teras rumah Hardi Wijaya.
Dari atas atap rumah, sosok Pria yang tadi menyelinap masuk kerumah dan naik keatas atap rumah melihat Astrid yang berjalan mengendap endap menuju teras rumah.
__ADS_1
Sosok Pria itu mengenali diri Astrid, Dia kaget karena melihat Astrid ada dirumah Hardi Wijaya saat ini .