
Gerard sudah berada di dalam kamarnya, Dia sedang menelpon. wajahnya tampak masih kesal dan marah pada Astrid.
"Saya gak mau tau, pokoknya kalian harus bisa menyingkirkan Dia secepatnya, jika Dia melawan, bunuh Dia dan buang mayatnya ke dalam jurang!" Ujar Gerard, memberi perintah pada anak buahnya di telepon.
"Saya akan kirimkan photo Dia dan alamatnya, Saya mau, kalian mulai bergerak secepatnya, bila perlu besok!!" Tegas Gerard, diteleponnya.
Saat Gerard bicara ditelepon, masuk Zahara kedalam kamar dan berjalan mendekati Gerard.
Melihat ada Zahara didalam kamar, Gerard cepat menutup teleponnya. Karena tak mau percakapannya di telepon di dengar Zahara .
"Ngapain Kamu ke rumah anak setan itu ?" Ujar Zahara , menatap tajam wajah Gerard yang berdiri dihadapannya.
"Aku memberi peringatan dan mengancamnya, Jika Dia berani berani mengusik Keluarga Kita, Aku akan membunuhnya !!" Ujar Gerard, menatap serius wajah Zahara.
"Apa reaksi anak setan itu ?" Tanya Zahara lagi.
"Dia diam saja, cuma tersenyum sinis, membuat Aku mau menamparnya !! " ujar Gerard.
"Kamu menamparnya?!" Tanya Zahara kaget.
"Hampir, belum sempat Aku menamparnya, datang seorang Pemuda yang mengaku bernama Antoni, Dia kenal dengan anak si Edward itu!" Ucap Gerard.
"Antoni? Siapa Dia?" ujar Zahara heran.
"Aku juga gak kenal, Dia ngaku tinggal di perkampungan belakang komplek perumahaan ini. Dia sepertinya berteman dengan si Astrid itu!" Ungkap Gerard.
"Hmm...punya teman juga si anak setan." Ujar Zahara tersenyum sinis.
"Kamu jangan ikut campur, serahkan soal anak Edward itu sama Aku, biar Aku yang mengurusnya!" Ujar Gerard, menjelaskan pada Zahara yang masih berdiri di hadapannya itu.
Zahara tak menjawab, Dia berbalik badan lalu pergi begitu saja meninggalkan Gerard, Zahara keluar dari dalam kamar tersebut.
Gerard menggunakan ponselnya kembali, Dia mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya ke nomor telepon milik anak buahnya yang tadi baru saja Dia telepon sebelum Zahara datang dan masuk ke dalam kamar mereka itu .
---
Keesokan paginya, terlihat Astrid sedang menelpon Alex, Dia duduk diteras samping rumahnya.
"Sepertinya rahasiaku sudah terbongkar, Lex, Zahara dan Gerard sudah tau, kalo Aku Astrid, bukan Camelia. Gerard datang melabrakku semalam." Ujar Astrid bicara di teleponnya.
"Kalo gitu, Kamu harus hati hati sama Zahara dan Gerard, Aku yakin mereka pasti sedang membuat rencana buat menyingkirkanmu." Ujar Alex, mengingatkan Astrid dari seberang telepon.
"Ya Lex, Aku akan lebih berhati hati lagi dengan Gerard dan juga Zahara." Ujar Astrid, ditelepon.
"Dan sepertinya, gak ada harapan lagi buatku untuk bisa masuk ke dalam keluarga Gerard dan mendekati Zahara. Sebab, mereka sudah tau siapa Aku." ujar Astrid, ditelepon.
"Gimana dengan Samuel, apa Dia juga tau, kalo Kamu bukan Camelia, tapi Astrid, anak dari musuh Papahnya?!" Ujar Alex, bertanya pada Astrid dari seberang telepon.
__ADS_1
"Samuel belum tau, Lex, karena Zahara dan Gerard gak bilang padanya, mereka kan bermusuhan, jadi Aku sedikit tenang, dengan bermusuhannya mereka, Samuel mudah mudahan gak tau siapa Aku sebenarnya." Jelas Astrid, di teleponnya.
"Hmm...Kalo penyamaranmu sudah terbongkar, dan zahara serta Gerard sudah tau siapa Kamu, saranku, sekalian aja Kamu terang terangan menunjukkan dirimu, kalo Kamu memang benar Astrid." ujar Alex, dari seberang telepon.
"Maksudmu?" Tanya Astrid heran dan tak ngerti dengan perkataan Alex .
"Kamu kan bilang, akan ada pertemuan besar antara dewan direksi dan pemegang saham perusahaan yang akan membahas soal pelantikan pimpinan perusahaan yang baru, sekalian saja, Kamu tunjukkan siapa Kamu sebenarnya di depan semua orang nantinya." Jelas Alex, dari seberang telepon.
"Oh, kalo itu, memang Aku sudah memikirkannya, dan Aku memang berniat mau mengungkap siapa Aku sebenarnya saat pelantikan pimpinan perusahaan yang baru nanti." ujar Astrid, di telepon.
"Oke, deh. Aku tutup teleponnya sekarang ya. kalo ada apa apa, cepat kabari Aku." ujar Alex dari seberang telepon.
"Oke Lex." Jawab Astrid, diteleponnya.
Lalu telepon ditutup, dan Astrid menyimpan ponselnya ke dalam kantong celananya. Dia lantas mengambil juice yang ada diatas meja, dan meminumnya.
---
Saat malam hari, Antoni baru saja selesai menutup rukonya, Dan Dia mau pulang kerumahnya, karena hari sudah larut malam, hampir jam dua belas malam.
Setelah menutup dan menggembok pintu rukonya, Antoni lantas pergi meninggalkan tokonya. Dia berjalan santai menyusuri trotoar jalanan.
Lagi asyik asyiknya Dia jalan santai diatas trotoar, Dia melihat ada mobil yang berhenti tidak jauh dari rumah Astrid.
Anthoni berjalan pelan dan pura pura tak melihat mobil yang datang. Lalu, dari dalam mobil tersebut, keluar empat orang berpakaian serba hitam dan memegang pisau ditangannya masing masing.
Antoni mempercepat jalannya, Dia berfikir , pasti ke empat orang berpakaian serba hitam mau berniat jahat pada Astrid, karena semuanya membawa pisau ditangannya masing masing.
Tanpa pikir panjang lagi, Antoni ingin mendatangi rumah Astrid dan melindungi Astrid yang dalam bahaya tersebut.
Ke empat orang itu masuk ke teras rumah dan langsung saja menendang pintu rumah dengan sekuat tenaga.
Seketika itu juga, pintu rumah terbuka lebar, karena ke empat orang menendang dan mendobrak pintu dengan paksa.
Di dalam rumah, Astrid yang sedang santai menonton tv di ruang tengah kaget mendengar suara pintu rumahnya di tendang.
Astrid langsung berdiri dari duduknya di sofa, lalu, karena kaget, Dia segera berjalan ke ruang depan rumahnya untuk melihat siapa yang mendobrak pintu rumahnya.
Ke empat orang berpakaian serba hitam sudah berada dalam ruangan, mereka bertemu dengan Astrid yang hendak berjalan menuju ke ruang depan rumahnya itu.
Astrid kaget, melihat ada empat orang berpakaian serba hitam berdiri dihadapannya sambil menggenggam pisau.
"Siapa Kalian ? Mau apa datang malam malam kerumahku?!" Bentak Astrid marah.
"Kami datang untuk membunuhmu." Ujar salah seorang yang berpakaian hitam, dan Dia pemimpinnya.
"Gerard yang menyuruh kalian?!!" Bentak Astrid lagi dengan emosi marah menatap tajam ke empat orang tersebut.
__ADS_1
Ke empat orang tersebut memakai penutup kepala dan masker diwajahnya, sehingga Astrid tak bisa melihat wajah wajah mereka. Hanya mata dan mulutnya saja yang terlihat.
Ke empat orang itu tak ada yang mau menjawab perkataan Astrid. Orang yang menjadi pemimpin memberi isyarat pada ke tiga temannya, agar segera menyerang Astrid.
Astrid pun lantas bersiap siap, begitu ke empatnya menyerang, Astrid langsung menghindar dan memberi perlawanan.
Perkelahian tak seimbangpun akhirnya terjadi didalam rumah, Astrid berusaha sekuat tenaga melawan ke empat orang tersebut.
Berkali kali Astrid harus jatuh bangun terkena tendangan dan pukulan dari ke empat orang tersebut, beruntung Astrid bisa menghìndar , saat ke empat orang itu menghujamkan pisau ke tubuh Astrid.
Perkelahian itu tak seimbang, selain Astrid di keroyok, Dia juga hanya tangan kosong, sementara ke empat orang tersebut memegang pisau ditangannya masing masing.
Tapi, biar lawannya memegang senjata tajam, Astrid tak gentar, Dia tak akan mundur sejengkalpun dari hadapan ke empat orang itu, Dia akan tetap berjuang mati matian menghadapi ke empat orang tersebut.
Lalu, Ke empat orang itu menyerang Astrid lagi, Dua orang memukul Astrid, dan Astrid bisa menghindari pukulan ke dua orang tersebut. Namun, salah seorang dari ke empat orang berpakaian hitam berhasil menghantamkan pukulannya ke wajah Astrid, hingga Astrid terjajar kebelakang dan hampir terjatuh.
Astrid cepat menguasai dirinya, lalu, Dia kembali memberi perlawanan.
Keempat orang berpakaian serba hitam itu bukan lawan yang mudah bagi Astrid, terlihat Astrid kesulitan menghadapi ke empat orang itu.
Berkali kali Dia harus terkena pukulan dan tendangan dari ke empat orang tersebut. bahkan , lengan tangannya tergores pisau.
Saat ada kesempatan, Astrid langsung berlari keluar rumah, ke empat orang itu mengejarnya.
Saat berada di luar rumah, salah seorang dari keempat orang tersebut menerjang Astrid, hingga Astrid jatuh tersungkur di lantai halaman rumahnya.
Lalu, secara bersamaan , keempat orang itu maju mendekati Astrid dan menyerang Astrid.
Saat mereka hendak memukul Astrid yang ada di lantai halaman rumahnya, datang Antoni.
Antoni langsung menyerang ke empat orang itu, di tangan Antoni ada sebatang kayu, yang diambilnya di pinggir jalan tadi, saat Dia mendatangi rumah Astrid.
Ke empat orang tersebut marah pada Antoni yang tiba tiba datang dan menyerang mereka.
Lalu, dengan cepat, keempatnya menyerang Antoni, Astrid cepat berdiri, Dia melihat Antoni melawan ke empat orang tersebut.
Astrid senang dan lega dengan datangnya Antoni yang langsung saja membantu dirinya.
Astrid melihat gerakan Antoni cukup lincah, Dia punya ilmu bela diri yang bagus juga. Antoni bisa menangkis semua pukulan dan tendangan yang di lontarkan ke empat orang tersebut.
Astrid lantas cepat datang membantu Antoni, Dia menyerang dua orang dari ke empat orang berpakaian hitam itu.
Lalu, perkelahian dua lawan empat terjadi, dengan kayu ditangannya Antoni memukul dan menyerang ke dua orang yang menjadi lawannya, sementara Astrid melawan dua orang lainnya .
Perkelahian itu terlihat kini sudah seimbang, dengan kehadiran Antoni yang ternyata punya ilmu bela diri yang bagus, mereka berdua bisa menghadapi keempat orang tersebut.
Berkali kali, Antoni berhasil memukul salah seorang lawannya, hingga pisau ditangan orang itu terlepas dan jatuh ke lantai.
__ADS_1
Perkelahian sengit masih terus terjadi di rumah Astrid , tak ada warga sekitar komplek perumahaan yang melihat perkelahian mereka saat ini.