
Mobil Taksi berhenti di pinggir jalan depan rumah Alex, tak berapa lama kemudian, keluar Astrid beserta Edward dan juga Antoni dari dalam mobil taksi tersebut .
Mobil lantas pergi kembali, Astrid dan Edward serta Antoni melangkah masuk ke halaman rumah Alex yang sangat luas itu.
Alex yang berdiri di halaman rumah menunggu langsung menghampiri mereka, Alex sudah menunggu sejak tadi, karena Astrid mengabarkannya, bahwa mereka sedang menuju kerumah Alex tadi.
Alex melihat Edward, Dia langsung saja menghampiri Edward lalu memeluknya erat.
"Pak Edward ! Syukurlah Anda masih hidup." Ucap Alex, dengan penuh rasa bahagia karena Edward masih hidup dan sekarang ada di hadapannya .
"Gak ada waktu buat melepas rindu, Lex, cepat bawa Kami ke Paviliun Kamu." Ucap Astrid, menegaskan pada Alex.
Alex yang masih rindu dan ingin bicara banyak lagi dengan Edward akhirnya menuruti perkataan Astrid.
"Baiklah. Aku ambil mobilku dulu." Ujar Alex , sambil melepaskan pelukan Dia di tubuh Edward .
"Kamu masih sama seperti dulu Lex." Ucap Edward, tersenyum ramah menatap wajah Alex yang berdiri di hadapannya .
"Terima Kasih, Pak." Ucap Alex, tersenyum senang pada Edward .
Lalu Alex bergegas menuju ke garasi dan mengambil mobilnya. Astrid beserta Antoni dan Edward berdiri menunggu di halaman rumah.
Tak berapa lama, mobil Alex meluncur keluar dari dalam garasi mobil dan berhenti di halaman rumah.
Astrid dan Edward serta Antoni cepat masuk ke dalam mobil, lalu, setelah mereka sudah berada di dalam mobil, Alex cepat menjalankan mobilnya. Mobil pun lantas melaju pergi meninggalkan rumah Alex .
---
Patrick sedang bicara dengan Marwan, di sebuah taman kota, Marwan adalah seorang Jaksa Penuntut yang menjadi sahabat baiknya Patrick selama ini.
Bersama Marwan, Patrick berani mengungkap semua kejahatan yang dilakukan para pejabat negara dan juga para petinggi di kepolisian juga di kejaksaan .
Marwan dan Patrick tak takut dengan segala macam marabahaya yang mengancam nyawa mereka, mereka tak perduli , mereka sudah siap mengorbankan jiwa raganya untuk menegakkan keadilan dan menangkap para penjahat yang sudah merugikan negara dan menghancurkan masa depan anak bangsa dengan perjudian dan perdagangan narkoba .
"Kepala Kejaksaan memaksaku menghentikan kasus tersebut, Trick. Dia mengancam, jika kasus ini tetap berjalan, Dia akan menon aktifkan Aku dan menggantikan Aku sebagai Jaksa penuntut dengan orang kepercayaannya ." Ujar Marwan , memberi laporan pada Patrick .
"Mereka berusaha menghalangi kita untuk mengungkap kejahatan organisasi kelompok mereka ." Ujar Patrick.
"Ya, begitulah. Ancaman dan teror selalu Aku dapatkan, bahkan Akmal, Asistenku juga baru baru ini mendapatkan ancaman. Jika Dia tak mundur dari kasus itu, Dia akan dibunuh." Ungkap Marwan .
"Terus, bagaimana sikap Akmal?" Tanya Patrick, menatap tajam wajah Marwan yang berdiri disampingnya.
"Akmal cuek aja, Dia gak mikirin soal itu, Dia tetap maju dan tetap mendampingiku sebagai Asistenku nanti di persidangan." ujar Marwan.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian berhati hati Marwan, karena Aku yakin, organisasi para pejabat itu pasti gak akan tinggal diam, mereka pasti berusaha untuk menyingkirkan kita." Ujar Patrick.
"Aku juga mendapatkan teguran dari Kepala kepolisian, Dia memintaku, Agar Aku menghentikan penyelidikan kasus penangkapan pejabat anggota dewan legislatif, tapi Aku menolaknya. " Ujar Patrick.
"Pimpinanku marah besar, Aku katakan padanya, Aku punya bukti kuat untuk menjebloskan anggota dewan itu, sehingga gak ada alasan untuk menghentikan penyelidikan lebih lanjut setelah semuanya berjalan. Pimpinanku gak berkutik dan gak bisa membantahku." Ungkap Patrick, menegaskan.
"Ya, apapun yang terjadi, kita harus bisa mengungkap kejahatan organisasi mereka ." Ujar Marwan.
"Yang utama, kita harus bisa menemukan, siapa pimpinan mereka, siapa ketua dari organisasi mereka yang sangat di segani dan dihormati itu?!" Ujar Patrick.
"Jika kita menemukan siapa pimpinannya dan bisa menangkapnya, maka, organisasi itu menjadi lemah dan bahkan hancur. Jadi, kita harus menangkap kepalanya dulu, baru ekornya." Ujar Patrick.
"Ya." Angguk Marwan.
"Oh ya, ada baiknya, bukti bukti yang kita miliki itu Kamu sembunyikan di tempat yang aman. Aku yakin, mereka akan berusaha melenyapkan bukti bukti itu." Ujar Marwan.
"Tempat penyimpanan barang bukti dikantor kepolisian gak aman, kita gak bisa mempercayai para petugas polisi yang ada, bisa saja mereka termasuk menjadi anggota organisasi kejahatan pak Januar dan Gerard." Tegas Marwan, mengingatkan Patrick.
"Ada benarnya yang Kamu bilang, Wan. Baiklah. Aku akan menyimpan bukti bukti itu ditempat yang rahasia, dan orang orang gak akan bisa menemukannya." Ujar Patrick.
"Ya." Angguk Marwan.
"Ya, sudah, Aku balik ke kantor lagi, Wan. Nanti kita saling kabar kabaran lagi." Ujar Patrick.
Lantas, keduanya bergegas pergi meninggalkan taman itu, mereka berpisah, Marwan dengan mobilnya pergi kearah kiri jalanan, sementara Patrick dengan mobilnya pergi ke arah kanan jalanan .
---
Mobil berhenti di halaman sebuah Paviliun yang indah dan asri, Paviliun milik Alex sendiri.
Lalu, Alex keluar dari dalam mobilnya, di ikuti Astrid dan Edward serta Antoni .
Mereka semua berdiri dihalaman Paviliun dan mengamati bangunan Paviliun tersebut .
"Asri sekali tempatnya." Ucap Astrid.
Alex hanya tersenyum kecil saja tak menjawab perkataan Astrid yang tampak kagum dengan Paviliunnya itu .
"Ayo kita masuk ke dalam." Ajak Alex.
"Ayo." Jawab Edward.
Lalu, mereka semua berjalan masuk ke dalam paviliun yang cukup besar dan luas itu .
__ADS_1
"Duduklah." Ucap Alex, menyuruh mereka semua duduk di sofa yang ada di ruang tamu Paviliunnya itu .
Astrid dan Edward serta Antoni lantas duduk di sofa, Edward bersama Astrid duduk di sofa panjang, sementara Antoni duduk di sofa yang ada di samping Edward dan Astrid.
Antoni lantas duduk di sebuah sofa yang ada di hadapan Astrid dan Edward .
"Oh ya. Aku belum mengenalmu." Ujar Alex, menoleh pada Antoni.
"Oh. Aku Antoni, teman masa kecilnya Astrid." Ujar Antoni, memperkenalkan dirinya pada Alex.
"Ya, Aku tau, Kamu teman kecilnya Astrid, tapi, baru sekarang kita ketemu dan saling berkenalan." Ujar Alex.
"Iya." Angguk Antoni, tersenyum ramah pada Alex.
"Baiklah, kata Astrid tadi, Kalian diserang, Kenapa penjahat itu bisa menemukan rumahmu Antoni?" tanya Alex, menoleh pada Antoni.
"Sebelumnya ketiga penjahat itu sudah mengintai di toko tempat kerjaku, Aku tau, mereka mengawasiku, karena gerak gerik mereka mencurigakan, berdiri mundar mandir, celingak celinguk gak jelas di depan mini market." Ujar Antoni menjelaskan pada Alex.
"Saat Aku pulang, Aku tau, mereka tetap mengikutiku terus, lalu, Aku sengaja mencari jalan lain ke rumahku, mereka terus ngikuti, sampai akhirnya Aku bersembunyi dan mereka kehilangan Aku." lanjut Antoni, menjelaskan.
"Aku langsung saja pulang, Aku pikir, Aku sudah aman, karena mereka gak menemukan Aku lagi, dan Aku kira, mereka belum tau rumahku." Jelas Antoni.
"Aku pulang buru buru untuk membawa pergi Om Edward, dan ternyata Astrid ada dirumahku, ya kebetulan, sekalian aja Aku ajak pergi." Ungkap Antoni .
"Ternyata ketiga penjahat itu sudah tau rumahku, mereka datang kerumahku, mendobrak paksa pintu sampai rusak, lalu masuk ke dalam rumah." Jelas Antoni.
"Singkatnya, kami berkelahi, lalu, Om Edward menembak mati ketiga penjahat itu." Ungkap Antoni , menjelaskan pada Alex .
"Oh, begitu. Cepat juga Gerard bergerak untuk mencarimu Antoni, dan anak buahnya hebat, bisa cepat menemukan rumah dan tempat Kamu bekerja." Ujar Alex.
"Ya."Angguk Antoni.
"Aku yakin, Gerard akan terus mengincarmu Astrid, dan juga, Dia pasti akan terus mencari Antoni." Ujar Alex.
"Aku akan menyingkirkan mayat ketiga penjahat dirumah Antoni, karena kalo dibiarkan bisa berbau dan membuat geger seluruh warga." Ujar Alex.
"Selain itu, mayat itu harus dilenyapkan, agar Gerard tak tau kalo anak buahnya mati di bunuh di dalam rumah Antoni." Ujar Alex, memberi penjelasan .
"Ya. Kamu benar, Lex." Ujar Astrid.
"Kalian beristirahatlah di sini, dan jangan khawatir, tempat ini aman, Gerard dan anak buahnya gak akan bisa menemukan tempat ini." Ujar Alex.
"Ya, Terima kasih Lex." Ujar Edward.
__ADS_1
"Ya, Pak."Angguk Alex tersenyum senang menatap wajah Edward yang juga tersenyum ramah padanya .