
Setelah Jack dimakamkan, setiap hari Zahara berada dalam rumahnya, Dia duduk di sofa menghadap ke pintu masuk rumahnya. Di tangan kanannya ada sebuah pistol.
Setiap hari, Zahara menunggu kedatangan Gerard, sejak pertengkaran hebat mereka soal Melani, Gerard memang tidak pulang pulang kerumahnya.
Gerard juga tak tahu jika Jack meninggal dunia, karena Zahara tidak mau memberi tahunya.
Zahara sudah bersiap balas dendam, begitu Gerard pulang kerumah, Dia akan langsung menembak dan membunuh Gerard, Zahara sudah tak bisa memaafkan perbuatan Gerard.
Setelah kematian putra tersayangnya, Zahara berfikir, sudah cukup Dia tunduk pada Gerard, sudah cukup Dia menutupi semua kejahatan Gerard. Dan sekarang, bagi dirinya, sudah tak ada lagi hubungan diantara mereka berdua.
Zahara juga sudah membuat surat cerai ke pengadilan agama, Dia menceraikan Gerard, karena sudah tak mau lagi hidup bersama orang picik dan licik seperti Gerard, yang selama ini hanya memanfaatkan kelemahannya saja.
Samuel yang selalu memperhatikan Zahara duduk di sofa menghadap ke pintu masuk rumahnya tersenyum sinis melihat Zahara.
"Lama lama, bisa gila wanita iblis itu. " Bathin Samuel, tersenyum sinis.
Samuel lantas mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, Dia kemudian membuka layar ponsel, lalu Dia mengetik sebuah pesan.
Setelah selesai mengetik, Dia langsung mengirimkan pesan tersebut ke sebuah nomor telepon yang ada di kontak teleponnya.
Setelah itu, Samuel memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya.
"Papah pasti ada di Villa dan sengaja gak pulang ke rumah sejak ribut kemaren. " Gumamnya.
"Aku coba temui Papah. Aku mau tau, bagaimana reaksinya jika tau, Jack, ahli warisnya sudah meninggal dunia, dan kematiannya karena Papah. " Gumamnya, tersenyum sinis.
Samuel lantas berjalan dengan santainya, Dia melangkah ke ruang depan, Samuel berjalan cuek melewati Zahara yang duduk diam di sofa, Samuel tak mau melihat Zahara, begitu juga dengan Zahara, Dia tetap memandang lurus ke depan, ke arah pintu masuk, berharap Gerard segera datang ke rumah.
Samuel melangkah keluar dari dalam rumahnya, Dia tampak senang melihat Zahara menjadi tertekan dan jiwanya terguncang karena kematian Jack .
Samuel lalu masuk ke dalam mobilnya yang ada di halaman rumah, lalu, segera Dia menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan rumahnya, membiarkan Zahara sendirian menunggu kepulangan Gerard.
Di rumah sakit, Astrid dan Alex baru saja keluar dari dalam ruang ICU, mereka habis menemui dan melihat Antoni di dalam ruang ICU, Antoni belum bisa di ajak bicara, karena kondisinya masih sangat lemah.
Astrid menoleh pada Alex yang berdiri disampingnya, mereka berada di depan ruang kamar ICU.
"Aku pulang dulu, Lex, Biar Papahku gak mencari cariku dan bertanya tanya kemana Aku pergi dari kemaren. " Ujar Astrid pada Alex.
"Ya, Aku akan tetap di sini jaga Antoni. " Ujar Alex.
"Ya, Lex. Nanti Aku ke sini lagi. " Ucap Astrid.
__ADS_1
"Ya. " Angguk Alex.
Astrid lantas pamit pergi pada Alex, Alex melihat Astrid yang berjalan pergi meningggalkannya sendirian, Alex lantas melangkah dan duduk di bangku tunggu yang ada di samping ruang kamar ICU tersebut. Dia menunggu dan menjaga Antoni.
---
Sementara itu, Di kamar hotel, tempatnya menginap selama kabur dari rumah, Melani duduk di kursi meja riasnya, Dia baru saja selesai berdandan. Ponselnya berbunyi, Melani melihat ponselnya yang tergeletak di pinggir meja riasnya itu.
Di layar ponselnya, Melani melihat ada satu kotak pesan yang masuk, Melani kernyitkan keningnya, Dia berfikir, pesan dari siapa yang masuk ke ponselnya.
Melani dengan malas malasan lalu mengambil ponselnya, lantas Dia membuka layar ponselnya dan membuka kotak pesan.
Saat Melani membaca pesan yang terkirim di ponselnya itu, Melani sock dan kaget.
"Kamu dimana? Kenapa kabur dan gak pulang? Ayolah, Mamamu sebentar lagi gila, Jack meninggal dunia. Jack sudah mati, kalo gak percaya, pulanglah. Dan tanya Mamamu itu. "
Begitu pesan yang terkirim dan di baca Melani, Pesan dari Samuel. Betapa syocknya Melani membaca dan mengetahui Jack meninggal dunia.
"Tidaaaakkkkk!!! " Teriak Melani histeris.
Suara teriakan keras Melani menggema dalam kamar hotelnya, Dia menangis sejadi jadinya, Melani menangis sedih atas kematian Jack.
Melani tak bisa menerima kenyataan atas kematian Jack, karena selama ini, Hanya Jack satu satunya orang yang dekat dengannya dan mau mengerti perasaannya.
Samuel sengaja mengirimkan pesan pada Melani dan memberitahu kematian Jack, agar Melani dan Zahara semakin bersitegang. Agar keluarga Papahnya semakin hancur dan terpecah belah, dan saling bunuh, itu yang di harapkan Samuel.
"Nggak...!! Gak Mungkin... Kamu pasti bohong Sam...!! Kamu pasti bohooongg!! " Teriak Melani, di sela isak tangis sedihnya.
Melani cepat menghapus air matanya yang sudah membasahi kedua pipinya, Dia lalu membuka layar ponsel dan menelpon Samuel.
"Hallo? Apa maksudmu mengirim pesan itu padaku?!! Kamu bohong kan Sam?! " Ujar Melani, bicara di teleponnya.
"Gak percaya? Datang aja kerumah, tanya Mamamu itu, benar tidaknya, lalu tanya dimana kuburan abang tersayangmu itu! " Ujar Samuel, dari seberang telepon.
Lalu terdengar suara telepon terputus, Samuel sudah mematikan panggilan telepon, Melani semakin kesal jadinya.
Melani lantas berdiri dari kursi yang di dudukinya, Dia meraih tas kecil yang tergeletak di pinggir meja rias, lalu, Melani segera berjalan cepat keluar dari dalam kamar hotel.
Melani pergi dan ingin memastikan kebenaran dari perkataan Samuel, Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Jack bisa meninggal dunia.
Mau tak mau, karena ingin tahu tentang kebenaran atas kematian Jack, Melani pun berniat akan pulang kerumahnya dan menemui Mamanya, sekedar untuk bertanya dan memastikan kebenaran atas apa yang sudah di sampaikan Samuel kepada dirinya.
__ADS_1
Di dalam mobilnya, Samuel tampak tertawa senang, wajahnya tampak puas sekali.
"Makin seru aja nih, satu keluarga bakal perang, Papah dan wanita iblis itu pasti saling bunuh bunuhan! " Ujarnya, dengan wajah yang sangat puas dan senang sekali.
Samuel lantas kembali menjalankan mobilnya yang parkir di pinggir jalan karena tadi Dia harus menerima panggilan telepon dari Melani.
Di jalan raya, Astrid terlihat menyetir mobilnya, Dia pulang sendirian, sementara Alex masih dirumah sakit menjaga Antoni yang masih dalam kondisi lemah dan tak berdaya dalam ruang kamar ICU.
Saat mobil Astrid melaju dan hendak berbelok ke kanan jalan, muncul sebuah mobil sedan dari arah yang berlawanan , karena mobil sedan itu datang secara tiba tiba, Astrid kaget dan tak sempat menghindar, sehingga mobilnya menyerempet mobil sedan tersebut, dan membuat satu kaca spion depan mobil sedan patah dan hancur.
Cepat Astrid menghentikan mobilnya, Lalu, Dia segera keluar dari dalam mobilnya, Astrid tak mau kabur begitu saja, Dia tahu, Dia salah, karena sudah menyerempet mobil sedan dan mengakibatkan kaca spion patah dan hancur.
Astrid bertanggung jawab atas apa yang sudah Dia lakukan, Astrid berjalan menghampiri mobil sedan yang berhenti tepat di samping mobilnya.
Tak berapa lama kemudian, dari dalam mobil keluar seorang Pria separuh baya bertubuh kekar, Dia supir mobil sedan tersebut.
Melihat Pria itu keluar dari dalam mobil, Astrid langsung saja menghampirinya.
"Maaf Pak. Saya gak sengaja, maafkan Saya. " Ucap Astrid, meminta maaf pada Pria tersebut.
"Saya akan bertanggung jawab, Saya akan mengganti rugi semua kerusakan yang Saya perbuat. " Lanjut Astrid, menatap wajah sang Pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Saya gak bisa memutuskannya mbak, Boss saya yang akan memutuskannya, apakah masalah ini hanya cukup dengan ganti rugi, atau harus lanjut ke proses hukum. " Ujar Sang Pria tersebut.
"Ya, gak apa apa, saya akan bertanggung jawab dengan semua resikonya, saya minta maaf." Ujar Astrid, terus meminta maaf.
Pintu belakang mobil terbuka lebar, lalu, keluar sebuah kaki yang memakai sepatu bagus dan mahal dari dalam mobil.
"Sudah, gak apa apa, hanya kaca spion saja kan yang rusak. " Ucap Pria tua dari dalam mobil. Kepala Pria tua nongol didepan pintu mobil melihat ke arah Astrid.
Astrid menoleh ke arah suara Pria tua itu, Dia melihat Pria tua yang duduk di jok belakang mobil.
Kedua mata Astrid terbelalak kaget saat melihat pria tua di dalam mobil itu, Astrid sangat mengenali wajahnya, Astrid syock melihat Pria tua itu.
"Ka... Kamu... Pa..."
Belum sempat Astrid menyelesaikan kata katanya, tiba tiba saja Dia jatuh pingsan, karena Pria bertubuh kekar dan menjadi supir itu menusukkan sebuah jarum suntik ke leher Astrid, hingga membuat Astrid seketika jatuh pingsan.
Lalu, dengan cepat Pria bertubuh kekar itu mengangkat tubuh Astrid yang pingsan dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Pria bertubuh kekar itu meletakkan tubuh Astrid di jok belakang bersama Pria tua, lalu, Pria bertubuh kekar masuk kedalam mobil dan segera menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Mobil sedan pergi meninggalkan tempat tersebut, sementara mobil Astrid masih ada di pinggir jalan tersebut.