Destroy

Destroy
Pengakuan Edward


__ADS_3

Mobil Alex memasuki halaman Paviliun, mobil berhenti di pinggir halaman Paviliun, Alex mematikan mesin mobilnya.


Astrid bersama Edward keluar dari dalam mobil, mereka berdua berjalan menuju teras Paviliun.


Tak lama kemudian, Alex juga keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke teras Paviliun .


Astrid dan Edward masuk kedalam Paviliun, di susul Alex, mereka lalu duduk di sofa ruang tamu Paviliun .


"Sekarang, Papah bisa cerita , mengapa Papah nekat datang nemui Zahara dirumahnya." Ujar Astrid, menatap serius wajah Papahnya.


"Ya, Papah sengaja datang nemui Zahara, untuk menanyakan soal keberadaan adikmu." Ucap Edward, memberi pengakuannya pada Astrid.


"Adikku?" tanya Astrid, menatap heran wajah Edward.


"Apa maksud Papah, photo bayi yang digendong Zahara itu, Dia adikku?" ujar Astrid, bertanya pada Edward.


"Ya, Dia adikmu, darah daging Papah, Dia lahir dari hasil hubungan gelap Papah dan Zahara." Ucap Edward.


"Jadi, Zahara selingkuh sama Papah, dan suaminya Gerard gak tau, kalo Zahara hamil, dan melahirkan anaknya Papah ? Gitu?" Ucap Astrid, menatap serius wajah Edward.


Alex hanya duduk diam saja di sofanya, Dia mendengarkan percakapan antara Astrid dan Edward, Alex tak mau mencampuri urusan keduanya .


"Ya." Ucap Edward.


"Selama ini, Papah selalu ingat anak Papah itu, Papah takut, Zahara membuang anak Papah, atau memasukkannya kedalam rumah sakit jiwa." Ungkap Edward.


"Karena itu, setelah Papah bebas, Papah berniat mencari anak Papah, dan bertanya langsung pada Zahara, Papah ingin memastikan, dimana anak Papah berada." Lanjut Edward, menjelaskan pada Astrid.


"Lantas, Zahara bilang, dimana anak Papah sama Dia ?" tanya Astrid, menatap serius wajah Edward.


"Ya, Zahara akhirnya mengaku, bahwa anak itu selama ini tinggal bersamanya, dan Dia sudah besar sekarang." Ucap Edward.


"Tinggal bersama Zahara?!" Ucap Astrid kaget.


"Ya, Nak. Zahara merawatnya, Gerard gak tau, kalo anak itu bukan anaknya, tapi anak Papah." ujar Edward pada Astrid.


"Apa yang Papah maksud anak Papah bersama Zahara itu Melani?!" Ucap Astrid bertanya.


Astrid langsung bisa menebak, bahwa anak Papahnya bersama Zahara adalah Melani, sebab, di photo yang Dia lihat, bayi dalam gendongan Zahara seorang perempuan, dan Astrid tahu, Zahara hanya punya satu anak perempuan, yaitu Melani .


"Ya, Nak. Dia Melani. Papah yang memberinya nama Melani, dan Zahara tetap memakai nama dari Papah ." Ungkap Edward .


Astrid terdiam, untuk sesaat, Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu hal, Edward menatap wajah Astrid, Dia merasa bersalah melihat Astrid terdiam setelah mendengar penjelasannya .


"Maafin Papah, Papah gak bermaksud merahasiakan tentang adikmu itu padamu." Ujar Edward .


"Gak apa apa Pah. Aku paham, Papah gak bisa menjelaskannya padaku, karena Papah kan di penjara, dan Aku waktu itu masih kecil, Papah gak punya kesempatan memberitau soal Aku punya adik tiri." Ungkap Astrid.


"Ya, Kamu benar. Niatnya, setelah Papah mengetahui keberadaan Melani, Papah akan berterus terang padamu, dan menceritakan semuanya padamu." Ucap Edward, menatap lekat wajah Astrid yang duduk dihadapannya bersama Alex.


"Dan ternyata Aku sudah mengetahui tentang bayi itu dari photo yang Aku temukan di tas koper Papah." Ujar Astrid.


"Ya, Nak." Angguk Edward .

__ADS_1


"Apa Kamu gak marah, atau benci Nak?" tanya Edward .


"Nggak. Buat apa Aku marah atau benci Papah ? Aku malah senang, karena ternyata Aku punya adik, walaupun Dia lahir dari rahim musuhku!" Ungkap Astrid, menatap serius wajah Papahnya .


"Tapi Pah, apa benar, Gerard sama sekali gak tau soal Melani?" tanya Astrid.


"Menurut pengakuan Zahara , saat mengaku dihadapan Melani, bahwa Dia selama ini membohongi Gerard, dan Gerard taunya kalo Melani anaknya, darah dagingnya sendiri." Ungkap Edward.


"Bagaimana jika Gerard akhirnya nanti tau soal Melani? Bagaimana kalo Gerard tau, ternyata Melani anaknya Papah?" Ujar Astrid bertanya pada Papahnya.


"Jika Gerard sampai tau nantinya, aku pastikan, nyawa Melani terancam, Gerard pasti akan berusaha menyingkirkan dan mengusir Melani dari rumahnya!" Tegas Astrid.


"Mengingat Gerard sangat membenci Papah selama ini, Dia juga pasti membenci Melani, apalagi jika sampai Dia tersinggung karena sudah dibohongi Zahara bertahun tahun soal Melani." Ujar Astrid menjelaskan pada Edward .


"Ya, Kamu benar, Itu juga yang Papah khawatirkan, karena itu, Papah berniat, mau menemui Melani lagi dan menjelaskan semuanya." ucap Edward.


"Papah ingin Melani tinggal bersama kita, sebelum Gerard mengetahui tentang anak siapa sebenarnya Melani." Ungkap Edward, menjelaskan dengan serius pada Astrid .


"Hmm...Kalo begitu, untuk mencegah hal buruk, kita harus secepatnya menemui Melani, dan menjelaskan semuanya, serta meyakinkan Melani, agar mau ikut bersama kita." Ujar Astrid .


"Ya, Nak. Tapi bagaimana caranya? Papah liat, saat Melani tau tentang Papah, Dia marah pada Zahara lalu pergi masuk kedalam rumah meninggalkan Zahara dan Papah." Ungkap Edward .


"Papah khawatir, Melani jadi sedih, lalu putus asa dan kecewa, kemudian nekat melakukan hal buruk." Ungkap Edward .


"Papah gak usah khawatir, Aku akan mengawasinya, Aku yang akan menemui Melani." Ujar Astrid .


"Bagaimana caranya?" tanya Edward.


"Aku akan menyelinap kerumah Zahara dan menemui Melani secara diam diam, tanpa sepengetahuan Zahara dan Gerard." Ujar Astrid.


"Kamu harus hati hati jika masuk ke rumah Gerard, jangan sampai, ada yang melihatmu." Ujar Alex , mengingatkan Astrid .


"Ya, Aku akan mengawasi situasi rumahnya lebih dulu , Aku akan melihat dari kamera cctv yang kita pasang di dalam rumah Gerard." ujar Astrid .


"Jika situasinya aman, baru Aku akan menyelinap masuk kedalam rumahnya." Lanjut Astrid menjelaskan .


"Ya, yang penting kamu hati hati Nak." Ujar Edward, mengingatkan Astrid.


"Ya, Pah." Angguk Astrid .


"Lex, nanti, selama Aku menyelinap masuk dan menemui Melani didalam rumah Gerard, kamu bisa kan mengawasi Aku dari kamera cctv ? " Ujar Astrid.


"Jika ada yang mencurigakan, atau, ada siapa saja dirumah itu, cepat kasih tau Aku, biar Aku bisa menghindar." lanjut Astrid.


"Ya, Aku akan mengawasi Kamu dari kamera cctv." ujar Alex pada Astrid .


"Baiklah, Aku akan mencari waktu yang tepat untuk menemui Melani. Dan Aku harus secepatnya melakukannya, sebelum Gerard tau siapa sebenarnya Melani." Ujar Astrid.


"Ya, Nak." Ujar Edward .


"Terima kasih Nak, Kamu mau mengerti, dan bisa menerima kehadiran Melani sebagai anak Papah juga ." Ucap Edward, menatap serius wajah Astrid .


"Ya, Pah. Sekarang, kita harus cepat membawa pergi Melani, sebelum nyawanya terancam." Ucap Astrid.

__ADS_1


"Ya." Angguk Edward.


"Ya, sudah, Sekarang Papah istirahat di kamar, biar Aku yang membahas semuanya dengan Alex." Ujar Astrid.


"Ya, Nak." Jawab Edward.


Edward lantas beranjak dari tempat duduknya, Dia lantas melangkah pergi meninggalkan Alex dan Astrid.


"Antoni belum pulang juga , Lex ?" tanya Astrid.


"Iya, mungkin masih ditempat kerjaannya." jawab Alex.


"Mudah mudahan aja, Antoni baik baik aja, dan anak buah Gerard gak mencarinya, Aku khawatir sama Antoni." Ujar Astrid .


"Dia keras kepala, menolak Aku suruh pulang, dan tetap memilih untuk tetap bekerja." ujar Astrid .


"Ya, Kita tunggu aja Antoni pulang, mudah mudahan, Dia baik baik saja." Ujar Alex, menatap lekat wajah Astrid .


"Ya, Lex. " Angguk Astrid .


Astrid lantas diam, Dia masih memikirkan tentang Antoni, Dia cemas, karena Antoni belum juga pulang dari kerjaannya.


"Aku pulang dulu, Trid." Ujar Alex.


"Oh , ya Lex. Terima kasih ya." Ujar Astrid.


"Ya." Angguk Alex.


"Aku pinjam mobilmu ya, besok Aku antar ke sini lagi." Ucap Alex.


"Ya, pake aja, Lex. Gak apa apa." Ujar Astrid .


"Ya." Angguk Alex .


Alex lantas beranjak dari tempat duduknya, Astrid juga ikut berdiri, Alex lalu berjalan keluar dari dalam Paviliun dengan di ikuti Astrid .


Astrid mengantarkan Alex sampai ke mobilnya, Alex menatapnya.


"Salam sama Papahmu, tolong pamitkan Aku pulang." Ujar Alex.


"Ya, nanti Aku bilang Papah." Jawab Astrid .


Alex lantas membuka pintu dan segera masuk kedalam mobilnya, Astrid berdiri di samping mobil, Dia melihat Alex menjalankan mobilnya.


Mobil berjalan pergi meninggalkan Paviliun, lalu, Astrid berbalik badan , dan melangkah menuju teras Paviliun.


Tiba tiba saja ponselnya berdering , Astrid menghentikan langkahnya, Dia berdiri didepan pintu masuk Paviliun.


Astrid cepat mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, Dia melihat nama Antoni tertera di layar ponselnya, Astrid cepat menerima panggilan telepon itu .


"Ya, ada apa Antoni?" Ujar Astrid, bertanya di telepon .


"Tolong Aku Trid , Tolong Aku, Aku terluka dan di kejar kejar." Ujar Antoni, dari seberang telepon.

__ADS_1


Terdengar suara Antoni panik dan cemas, Astrid kaget mendengar Antoni meminta tolong melalui teleponnya, jantung Astrid berdegup cepat dan berdebar debar, timbul rasa cemas dalam diri Astrid .


__ADS_2