
Pagi menjelang, semua santriwati mendengar pengumumaan bahwa bagi yang sakit dipersilahkan mendatangi aula untuk dilakukan pemeriksaan.
"Temani kami ya Chila," ujar Andin.
"Aku ... aku–" Fazila nampak ragu. Takut-takut dokter yang disebut dengan dokter Dav tadi oleh ustadzah Ana benar-benar dokter Davin.
"Kenapa? Maaf kalau merepotkan kamu lagi, tapi bagaimanapun kami membutuhkanmu untuk ditemani. Kalau saja diantara kami ada yang sehat pasti tidak akan mengganggumu lagi. Pasti kamu capek semalaman nggak tidur." Andin berkata dengan suara pelan. Dibandingkan dengan Qiana dan Anggita dia yang terlihat lemah.
"Nggak apa-apa, aku pasti antar kalian," ucap Fazila sambil tersenyum.
"Thanks," ucap Andin balas tersenyum.
"Sebentar ya aku ambil makan dulu biar kalian perutnya ada isi sebelum disuntik," ucap Fazila lalu melangkah ke luar kamar menuju dapur pesantren.
Sampai di sana jatah makan pagi pun sudah dibagikan karena banyak santriwati yang langsung ke dapur tanpa mau menunggu pembagian di depan kamar mereka masing-masing mengingat banyak teman-teman satu kamar mereka yang sakit dan butuh makan lebih cepat dari biasanya sebab sebentar lagi akan dilakukan pemeriksaan.
"Saya mau minta punya Andin, Anggita, dan juga Qiana!" seru Fazila setelah menerima jatah makan miliknya sendiri.
"Baiklah sebentar!" Seorang santriwati yang biasa membantu di dapur mengambil tiga piring berisi nasi dan lauk pauk lalu meletakkan di atas tentengan piring dan memberikan pada Fazila. Fazila meraih tentengan itu lalu meletakkan piring berisi jatah makanannya sendiri di deretan teratas.
"Syukron ya ukhti," ucap Fazila pada perempuan itu.
"Afwan," jawab gadis itu sambil tersenyum ramah.
"Permisi," ujar Fazila lalu melangkah pergi.
"Ini makan dulu sebelum disuntik," ujar Fazila lalu membagikan piring-piring berisi makanan itu pada teman-temannya.
"Terima kasih ya Chila," ucap Andin sambil menerima piring dengan tangan kanannya dan tangan kirinya menggaruk-garuk betisnya yang terasa gatal dan panas.
"Tahan Din jangan digaruk begitu, nanti luka!" cegah Fazila.
"Nggak kuat Chila, ini gatal banget. Jadi tidak nyaman jika dibiarkan tanpa digaruk."
"Benar kata Andin, rasa gatal ini membuat tangan kita juga gatal untuk menggaruknya," tambah Qiana membenarkan perkataan Andin.
"Kalau begitu cepat makan dan segera ke aula agar mendapatkan penanganan lebih dulu. Siapa tahu setelah disuntik atau diberikan obat, gatal-gatal kalian bisa sedikit berkurang," saran Fazila dijawab anggukan ketiga sahabat sekamarnya itu.
"Makanlah aku juga sudah lapar, aku punya penyakit mag yang bisa kambuh jika terlambat makan," ucap Fazila lalu terlihat berdoa kemudian makan tanpa menunggu teman-temannya yang masih asyik menggaruk saja meskipun sudah diperingatkan.
"Ya ampun kalian belum selesai juga makannya?" Fazila memandang ketiganya dengan heran.
Fazila menggeleng. "Kalian ingin cepat diobati apa tidak?"
"Iya Chila sebentar lagi selesai," jawab Anggita lalu semakin mempercepat kunyahannya.
Setelah mereka selesai makan Chila langsung menuntun Andin sedangkan kedua temannya berjalan di depan mereka.
__ADS_1
Jantung Fazila deg-degan saat langkah mereka sampai di depan pintu aula.
"Bagaimana kalau aku tunggu di luar saja?"
"Memang kenapa sih Chila?"
"Nggak apa-apa sih, tapi pasti di dalam gerah karena sudah banyak santriwati yang mengantri untuk diperiksa. Kalian sih makan kelamaan jadi pasti antrianya lama ini," alasan Fazila padahal hanya was-was saja.
"Kalau aku sama Qiana ditinggal sih nggak apa-apa. Nggak tahu kalau Andin. Dia terlihat lemah sekali, jadi kalau nanti seumpama dia pingsan sepertinya kami berdua tidak bisa menolong. Kau lihat sendiri para ustadz dan ustadzah sedang sibuk dengan santri dan santriwati yang lainnya," ujar Anggita.
"Tapi ustadz tidak akan abai pada santrinya yang terlihat parah ataupun pingsan," bantah Fazila.
"Please! Temani aku ya Chila!" mohon Andin, sebenarnya selain tubuhnya yang sangat lemah dia juga takut dengan jarum suntik.
"Ah baiklah, ayo masuk!" Fazila menggela nafas panjang sebelum menuntun Andin masuk ke dalam ruangan.
"Kita duduk di sini," ujar Fazila kepada ketiga sahabatnya.
"Yang mengambil nomor antrian siapa?" tanya Andin khawatir.
Ya, di pesantren itu jika yang sakit banyak maka pihak pesantren melakukan pemeriksaan dengan nomor antrian sehingga santri yang datang lebih awal akan diperiksa lebih awal pula kecuali jika ada santri atau santriwati yang keadaannya terlihat lebih parah dari yang lainnya maka dia akan mendapatkan pelayanan lebih utama dibandingkan yang lainnya.
"Kamu bisa kan ambil ke depan Qia?" tanya Fazila pada Qiana karena dia sendiri malas untuk bergerak.
Qiana menggeleng. "Kenapa nggak sekalian kamu Chila? Kalau mau bantu jangan tanggung-tanggung, lagian aku masih sedikit pusing. Takut jatuh nanti pas melewati teman-teman."
"Ah baiklah." Kali ini Fazila menghembuskan nafas berat. Sebelum dia beranjak ke depan terlebih dahulu memastikan siapa dokter yang bertugas di depan sana.
"Kenapa Chila? Ada yang kamu pikirkan?" tanya Anggita melihat Fazila ragu-ragu untuk maju ke depan padahal dia sendiri yang mengatakan harus gerak cepat biar ke-tiga temennya bisa cepat ditangani.
"Nggak. Nggak ada apa-apa," ucap Fazila lalu bangkit dari duduknya dan melangkah ke depan. Dia berjalan di tengah-tengah deretan antara para santri dan santriwati.
"Ternyata para teman cowok juga banyak yang sakit," gumam Fazila lalu terdiam di tengah-tengah saat menyadari bilik yang ditutupi dengan kelambu itu ada dua.
"Kenapa Chila?" tanya Izzam yang juga mengantar Rofik sekaligus menjaga teman-temannya yang lain.
Fazila tidak menjawab. Dia hanya terlihat diam sambil merenung.
"Kalau ingin mendaftar ke sana dulu!" Izzam menunjuk ke arah seorang suster yang terlihat duduk di sebuah kursi.
"Oh iya terima kasih," ucap Fazila lalu beranjak ke depan tanpa pikir panjang lagi.
"Sus saya ingin meminta antrian untuk tiga teman saya. Satu diantaranya saya minta dipanggil duluan ya sebab keadaannya lemah."
"Baik siapa saja namanya?" Suster itu mendongak dan langsung terperangah melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Chila?"
__ADS_1
"Suster Tantri?"
Keduanya sama-sama syok. Fazila tidak ingin bertemu dengan dokter Davin dan suster Tantri sendiri, takut Davin bertemu dengan Fazila karena bisa saja gadis itu menjelaskan apa yang terjadi padanya sehingga dokter Davin bisa marah atau bahkan memecat suster Tantri apabila sudah tahu bahwa menghilangnya Fazila dari kehidupan dokter Davin tidak terlepas dari ulah dirinya.
"Apakah suster bersama dokter Davin?" tanya Fazila memastikan. Dalam hati berdoa semoga saja keberadaan suster Tantri karena menemani dokter wanita tadi bukan dokter Davin.
"Kenapa kamu menanyakannya? Dia bahkan sudah melupakanmu dan sudah bertunangan dengan gadis di kota ini," jelas suster Tantri sambil tersenyum licik.
"Dan tunangannya itu tidak suka jika ada yang dekat-dekat dengan dokter Davin kecuali ada pekerjaan," tambah suster Tantri lagi.
"Tidak apa-apa, aku bahagia jika dia sudah menemukan jodohnya dan yang pasti dia tidak akan pernah menganggu diriku lagi. Oh ya, tolong katakan padanya tidak perlu menggunakan cara licik untuk membuatku pergi darinya karena dengan mengatakan dengan perkataan halus saja aku bisa mengerti."
Suster Tantri mengangguk walaupun dalam hati sama sekali tidak ada niatan untuk menyampaikan perkataan Fazila itu pada dokter Davin sebab jika itu terjadi maka dokter Davin akan mengintrogasi dirinya dan protes mengapa tidak memberitahunya bahwa suster tadi telah bertemu dengan Fazila.
"Memang cara licik apa yang sudah dilakukan dokter Davin terhadapmu?"
"Kalau tentang itu suster tidak perlu tahu. Itu masalah pribadi antara kami berdua."
Suster Tantri terkekeh dalam hati mendengar pernyataan Fazila.
"Dasar bocah bodoh. Mau saja dikerjai olehku!" batin suster Tantri.
"Oh masalah pribadi ya! Mungkin dokter Davin melakukan cara licik dulu karena kamu waktu itu tidak tahu diri. Sekarang syukurlah kau sudah sadar. Siapa nama-nama temanmu?"
"Qiana, Anggita, dan Andin. Saya minta Andin ditangani lebih awal!"
"Baik ini nomor antriannya dan kamu boleh pergi!"
"Baik," ucap Fazila hendak berbalik Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti kala mendengar suara pria yang dikenalnya.
Sontak Fazila langsung menoleh ke arah datangnya suara.
"Dokter Davin?" Dia terperangah melihat wajah pria yang pernah mengisi relung hatinya yang paling terdalam bahkan sekarang pun nama pria itu masih bersarang di dalam sana. Namun, Fazila tidak akan pernah mengakuinya karena rasa itu saat ini tertutup kabut benci.
Fazila menutup mulut lalu berbalik dan melangkah pergi.
"Suster Tantri, panggil santri selanjutnya!" perintah dokter Davin, tetapi kemudian pria itu terlihat membeku melihat gadis yang berdiri di depan suster Tante tadi itu seperti sangat familiar di matanya.
"Chila?"
"Santri putra nomor antrian sepuluh dan sebelas silahkan maju ke depan!" perintah suster Tantri agar mengalihkan perhatian dokter Davin.
"Chili!" Bukannya fokus pada pasien yang harus ditangani dokter Davin malah mengejar Fazila.
Fazila yang merasa ada yang mengejar berjalan cepat keluar dan menyelinap di tengah kerumunan santriwati yang menunggu teman-teman mereka di luar.
"Chili!" Dokter Davin meraih pundak gadis yang berdiri di hadapannya dengan posisi membelakangi.
__ADS_1
"Kau kucari kemana-mana, ternyata ada di sini," ucap dokter Davin sambil tersenyum senang.
Bersambung.