DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 87. Ada Apa Sebenarnya?


__ADS_3

"Katanya ngantuk, ayo aku antar kembali ke kamar."


Fazila menggeleng.


"Apa nggak bisa tidur kayak dulu? Perlu aku temani?"


"Antar aku pulang!" desaknya.


"Oke-oke aku antar, sebentar aku kasih tahu nenek dulu. Tunggu di sini jangan kemana- mana!"


Fazila tak menjawab. Dokter Davin menggeleng kemudian berlalu menuju kamar nenek Salma.


Mendengar dokter Davin memanggil namanya, nenek Salma langsung terbangun dan melangkah ke arah pintu kemudian membukanya.


"Ada apa Dav, malam-malam begini kau memanggilku?"


"Chila minta diantar pulang Nek, mungkin tidak betah."


Nenek Salma memandang dokter Davin dengan keraguan.


"Malam-malam begini? Kau lihat sekarang jam sudah pukul berapa?"


"Iya Nek Davin tahu, tapi daripada dia nggak bisa tidur dan ngambek terus mending Davin antar saja. Takut Chila sakit nanti."


Nenek Salma menggaruk-garuk kepalanya.


"Hmm, baiklah. Apa perlu nenek ikut mengantar?"


"Tidak usah, Nenek pasti lelah. Istirahatlah dan biar Davin yang mengantarkan sendiri."


"Hanya berdua saja? Apa keluarga Nak Chila tak keberatan jika tahu akan hal ini?"


"Tenanglah Nek, Davin janji akan menjaganya dengan baik."


"Baik, pergilah dan hati-hati!"


"Terima kasih, tolong sekalian pintunya dikunci dari dalam biar Davin tidak perlu membangunkan bibi."


"Baik, Nak."


"Oh yah, Nek. Davin tidak akan langsung pulang, jadi setelah mengunci pintu Nenek istirahat saja, tidak perlu menunggu Davin."


"Ya."


Dokter Davin berbalik dan melangkah ke tempat dimana masih ada Fazila yang berdiri mematung dengan posisi membelakangi. Nenek Salma menyusul di belakang dokter Davin.


"Kita pergi sekarang," ujar dokter Davin lalu melangkah ke arah pintu mendahului Fazila dan gadis itu hanya mengangguk lalu mengikuti langkah dokter Davin.


"Maaf ya, Nak Chila, rumahnya tidak nyaman," ujar Nenek Salma sebelum keduanya keluar dari pintu rumah.


Fazila menoleh, menatap nenek Salma dengan tatapan bersalah.


"Maaf, Davin belum bisa membuatmu nyaman hari ini. Doakan Davin sukses biar nanti bisa mewujudkan apapun yang kamu inginkan."


Fazila menelan ludah mendengar perkataan nenek Salma. Dia menyangka nenek Salma pasti akan salah paham tentang ini.

__ADS_1


"Nenek!" seru Fazila lalu mendekap tubuh nenek Salma dengan erat membuat wanita tua itu hampir saja oleng karena sedikit terdorong akibat benturan tubuh Fazila.


"Maafkan Chila, Chila tidak bermaksud menyakiti hati Nenek. Masalah bukan terletak pada rumahnya tapi pada Chila sendiri, maaf ya Nek!"


"Sudahlah, katanya mau pulang biar Davin antar," ucap nenek Salma sambil mengelus kepala Fazila.


Gadis itu mengangguk dan menyalami tangan nenek Salma sambil mengucapkan salam.


"Dav!" seru nenek Salma setelah tubuh Fazila sudah berada di luar pintu.


"Iya Nek?"


"Kau harus benar-benar bersabar jika ingin tetap bersamanya. Pemikirannya belum dewasa."


"Iya Nek Davin tahu konsekuensinya," ujar dokter Davin lalu menyalami tangan neneknya. Sebelum pergi dokter Davin menghela nafas panjang.


Fazila sudah duduk di dalam mobil, di jok belakang saat dokter Davin tiba di samping mobil.


"Pindah ke depan!" perintah dokter Davin dan Fazila langsung menggeleng.


"Ada apa sebenarnya denganmu?" Sampai saat ini dokter Davin pun tidak paham kenapa Fazila bertingkah aneh seperti ini. Kalau dikatakan tidak betah menginap di rumahnya, seperti tidak masuk akal mengingat gadis itu sudah terbiasa tidur di pesantren dimana keadaan kamarnya jauh lebih nyaman di rumah dokter Davin dibandingkan di tempat itu.


"Dibilang memang cemburu, dia cemburu dengan siapa? Danisa? Dinda? Memangnya aku ngapain mereka?" Dokter Davin mengacak rambutnya frustrasi sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil dan mengendarai di jalanan.


"Chila, kalau ada masalah ngomong sama aku ya? Biar aku nggak bingung kayak gini! Kau tahu mencari jawabannya lebih sulit dari soal matematika terrumit."


Fazila menghela nafas panjang, menyandarkan bahunya dan memejamkan mata membuat dokter hanya bisa mendesah kasar dan akhirnya berhenti bertanya Karena merasa percuma.


Hening, perjalanan menuju rumah Zidane terasa begitu panjang dan lama karena tak seceria sewaktu perjalanan menuju rumah dokter Davin, dimana Fazila banyak berceloteh dengan senyuman yang tak pernah hilang dari bibirnya. Sesekali gadis itu bercanda ria dengan Danisa, Dinda dan Damian. Namun sekarang pada dokter Davin saja, suaranya begitu mahal.


"Eh Neng Fazila dan Pak dokter. Kok kembali ke sini malam-malam?" tanya pak satpam saat memastikan kedua orang di dalam mobil adalah anak majikan bersama tunangannya.


"Permintaan Chila Pak," sahut dokter Davin sambil tersenyum ramah.


"Oh, silahkan masuk Pak Dokter," ujarnya sambil menarik pintu pagar ke samping.


Dokter Davin mengangguk.


"Terima kasih, Pak."


"Sama-sama."


Dokter Davin langsung memasukkan mobil ke dalam pekarangan.


Fazila yang tadinya sempat terpejam menganga tatkala menyadari mobil dokter Davin masuk ke dalam.


"Kau–?"


"Kenapa? Kalau kamu tidak betah di rumahku berarti aku yang harus menginap di sini!" tegas dokter Davin membuat Fazia langsung membelalakkan mata.


"Ayo turun, kita sudah sampai!" perintah dokter Davin sambil membuka pintu mobil dan turun.


Fazila berdecak lalu turun dari mobil dan setelah menginjak lantai ia menghentak-hentakkan kakinya lalu berjalan ke arah pintu rumah mendahului dokter Davin.


Dokter Davin sendiri mengusap wajahnya kasar melihat tingkah tunangannya.

__ADS_1


"Memang masih manja nih anak, tapi kenapa aku malah gemes yah lihatnya? Davin-Davin aneh benar dirimu," gumamnya lalu menertawakan dirinya sendiri.


"Chila kenapa kau kembali? Jangan bilang kau pergi dari rumah nenek Salma tanpa pamit," ujar Isyana saat ingin membuka pintu rumah, tetapi pintu rumah tersebut sudah ada yang membuka lebih dulu dari luar.


"Mama, kenapa pintunya nggak dikunci?" tanya Fazila, berniat ingin mengalihkan pembicaraan.


"Assalamualaikum Tante!" seru dokter Davin. Isyana langsung menoleh.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi."


"Kamu bareng dia?"


Fazila mengangguk lemah.


"Kenapa kembali, ada yang ketinggalan?"


Gadis itu kini menggeleng.


"Dia tidak betah tidur di kamar du rumah kamu Tante," ujar dokter Davin seraya berjalan mendekat.


"Chila, kau ... merepotkan saja!" keluh Isyana sambil menatap tajam mata putrinya dan Fazila langsung menunduk.


"Dikarenakan masih lama dan saya malas menyetir lagi, bolehlah saya menginap di sini Tante?" tanya dokter Davin sambil menyunggingkan senyuman.


"Tidak boleh!" ketus Fazila.


"Boleh saja Nak, silahkan beristirahat di kamar yang kemarin," ujar Isyana dan dokter Davin langsung mengangguk sambil terus tersenyum.


"Ckk!" Fazila langsung masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru.


"Tunggu Nak Davin!"


"Iya Tante?"


"Ada apa yang sebenarnya? Tentang tidak betah itu hanya alasan, kan?"


"Mungkin saja Tante, tapi saya tidak tahu perubahan sikap Chila karena apa. Dia tidak mau menjelaskan makanya saya ingin menginap di sini untuk mencari tahu penyebabnya. Tante tolong tanyakan ya? Mungkin kalau sama Tante dia mau bicara."


"Hmm, baiklah. Kalau begitu Nak Davin istirahat saja, biar Tante yang bicara dengan putri Tante."


"Baiklah Tante, terima kasih banyak."


"Sama-sama Nak."


Dokter Davin langsung melangkah ke kamar tempatnya dulu ketika menginap di sana dan membaringkan tubuhnya meskipun mata seakan sulit terpejam.


Saat-saat hendak menutup mata ponselnya berbunyi, ada notifikasi masuk di sana.


"Buru-buru dokter Davin memeriksa chat masuk tersebut karena takut ada berita penting.


[Selamat ya dokter, akhirnya kau bertunangan dengan gadis manja itu. Semoga Anda tidak menyesal.]


"Apaan sih suster Tantri?" Buru-buru dokter Davin mematikan ponselnya, malas meladeni manusia yang satu itu.


Di tempat yang jauh suster Tantri tersenyum sendiri. Aku jauh darimu maka gadis ingusan itu juga harus menjauh dari kehidupanmu. Itu baru namanya hidup yang adil, hahaha." Wania itu tertawa renyah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2