DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 97. Pernyataan Cinta Dimas


__ADS_3

"Dasar Bang Dimas!" seru Fazila di tengah-tengah aksi tawanya. Dokter Davin hanya terlihat geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis.


"Oh ceritanya elo naksir sama suster Dinda gitu dari tadi," ujar Tristan.


"Nggak dari tadi kok Tris, tapi sudah dari dulu."


"Oh, sejak pertama kali bertemu di acara pertunangan Chila semalam gitu?"


"Jangan diperjelas Tris!" protes Dimas.


"Emang kenapa?" tanya Tristan seperti orang bingung.


"Bukannya kamu tadi yang memperjelas sendiri dengan mengatakan sudah dari dulu," lanjut Tristan.


"Malu," jawab Dimas dengan ekspresi wajah malu-malu kucing dan suster Dinda yang melirik Dimas terlihat menahan tawa.


"Astaga!" kesal Tristan sambil menoyor kepala Dimas.


"Tris, ih!" Dimas menyingkirkan tangan Tristan di kepalanya.


"Punya malu emang Lo," kesal Tristan.


"Punya lah walaupun tinggal sedikit, setipis tisu satu helai dan sekulit ari. Mungkin rasa malu gue tinggal 10 persen aja."


Fazila yang duduk di depan semakin tertawa terbahak-bahak.


"Tapi kalau kemalu*anku masih utuh Tris nggak perlu diragukan lagi," ujar Dimas lagi sambil cengar-cengir.


"Bang berhenti kagak ngomong Bang! Dari tadi ngawur amat. Aku jadi kebelet pipis tahu nggak," keluh Fazila.


"Dokter Davin kasih suntikan tahan kencing tuh sama Chila," ujar Dimas lagi dengan santai padahal gara-gara mendengarkan omongannya yang ngalor-ngidul tidak jelas wajah suster Dinda semakin merah dan menunduk. Dimas yang mengoceh tidak jelas, eh dia yang malu sendiri. Sayangnya hal itu tidak membuat wanita itu ilfil dengan Dimas, malah terlihat gemas.


"Nggak ada, kalau suntik mati aku punya, mau kamu?" Canda dokter Davin sambil menoleh ke belakang, pada wajah Dimas.


"Serem amat Dok, gue nggak mau disuntik mati, masih belum pernah merawanin anak orang."


Plak.


Kali ini Tristan memukul bahu Dimas, kesal karena sahabatnya itu semakin kesana semakin ke sini.


"Aih, kok main kekerasan sih Tris, hati-hati Lo entar biasa main tangan, pas nikah nanti suka ngelakuin KDRT."


"Dokter Davin ... adik ipar ... terbaik, punya obat tidur nggak? Lama-lama aku stress dengar dia ngoceh terus," ujar Tristan.


"Lebay Lo Tris, terang lah adik ipar terbaik orang Elo nggak ada adik lagi selain si Chila ini. Lagipula dimana salahnya ucapan gue. Gue 'kan cuma ngomong nggak mau mati sebelum menikah, masa salah sih!" protes Dimas.


"Stop!" teriak Fazila membuat semua orang sontak berhenti bicara.


"Stop," lirih Fazila kemudian.


"Apanya yang stop?" tanya dokter Davin sebab sudah tidak ada yang bicara lagi.


"Kamu yang berhenti nyetirnya," sahut Fazila. Dokter Davin langsung menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.


"Kalau ngomong yang jelas Chila," protes Dimas.


Fazila tidak mendengarkan perkataan Dimas. Gadis itu keluar dari mobil dan berlari ke arah SPBU.


"Mau apa dia?" tanya semua orang di dalam mobil dengan kompak, bahkan kekompakan mereka mengalahkan grup paduan suara.


"Eh," ucap suster Dinda sambil menutup mulutnya.


"Apa dia mau beli camilan atau air mineral?" Dokter Davin menyangka Fazila akan masuk ke dalam kantin yang ada di stasiun pengisian bahan bakar itu. Namun, asumsinya terpatahkan saat melihat Fazila masuk ke dalam ruangan di samping kantin tersebut.


"Ya Allah dia benar-benar kebelet pipis," gumam Dokter Davin dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Ini gara-gara Dimas," ujar Tristan.


"Lah kok aku yang disalahkan?" protes Dimas.


"Hei ada apa? Mogok?" tanya Damian yang juga menghentikan mobilnya tepat di samping mobil dokter Davin. Zidane pun ikut berhenti di belakang mobil dokter Davin karena khawatir ada apa-apa.


"Nggak, Chila ke toilet itu!" seru dokter Davin agar suaranya terdengar.


"Owalah tak kirain kenapa," ujar Danisa.


"Hei mobilnya penuh nggak? Boleh aku numpang di sana!" seru Tristan.


"Nggak, ayo kalau mau naik disini!" Suara Damian tak kalah keras.


"Oke!"


"Dokter Davin aku numpang di sana aja ya, hari ini malas ngomong banyak," ujar Tristan lalu turun tatkala melihat anggukan dari dokter Davin.


"Dih tumben," lirih Dimas.


"Iya geli Gue dengar omongan Elo, kayaknya lupa minum obat."


"Dih."


"Duluan ya!" seru Damian saat Tristan sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Ya," sahut dokter Davin.


"Om Zidane juga duluan aja!" teriak dokter Davin dan Zidane pun menyalakan mesin mobilnya kembali tatkala melihat Fazila sudah berjalan mendekat ke arah mobil mereka.


"Beneran pipis?" tanya dokter Davin saat Fazila naik ke atas mobil kembali. Pria itu pun mulai menjalankan mobilnya.


"Iya," jawab Fazila lalu duduk dengan nyaman.


"Nggak usah aku bawa kok, kamu mau minum?" Fazila mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam tasnya.


"Nggak, nanti saja."


Fazila mengangguk dan menaruh botolnya kembali. Gadis itu fokus menatap jalanan. Begitu pun dengan dokter Davin. Namun, sesekali pria itu melirik ke kursi belakang lewat kaca spion.


Di kursi belakang, terlihat sedikit demi sedikit Dimas menggeser tubuhnya hingga posisi pria itu kini tepat berada di samping suster Dinda. Wajahnya terlihat pucat, ia salah tingkah.


Tidak jauh berbeda dengan Dimas, suster Dinda pun merasakan hal yang sama. Wanita itu berusaha menetralkan jantungnya yang bertalu-talu sedari tadi. Wajah pria yang mencuri perhatiannya sejak semalam sekarang tidak berani ia tatap. Wanita itu masih terus menunduk.


"Hai!" sapa Dimas dengan suara pelan.


"Hai juga!" Suara suster Dinda tak kalah pelan. Sampai saat ini suster Dinda masih menunduk dengan tangan yang ia remas. Jujur dia benar-benar gugup saat ini.


"Boleh kenalan?" tanya Dimas sambil mengulurkan tangan.


"Boleh," sahut suster Dinda balas mengulurkan tangannya masih dengan wajah yang menunduk.


"Dimas," ujar Dimas mulai memperkenalkan diri.


Dokter Davin menatap Fazila dan memberikan kode agar melihat apa yang terjadi di belakang.


"Kayak anak ABG aja mereka, kita aja kenalannya nggak kayak gitu," bisik Fazila di telinga dokter Davin.


"Iya benar, dulu pas waktu kenalan kamu modusin aku," ujar dokter Davin lalu terkekeh dan Fazila hanya mengangguk mengiyakan.


"I love you," ujar Fazila.


"I love you too," balas dokter Davin lalu mengusap lembut kepala gadis itu.


"Dinda Saraswati," ujar suster Dinda.

__ADS_1


"Waw Saras 008, penyelamat dong."


"Penyelamat apa?" tanya suster Dinda. Dia tidak paham apa yang dibicarakan oleh Dimas. Nonton film itu saja tidak pernah.


"Penyelamat hatiku yang sedang hampa," jawab Dimas.


Eak-eak!


Boleh nggak Author nampol kepala Dimas?


Sepasang kekasih yang duduk di depan hanya terkekeh melihat interaksi keduanya. Kaku dan menggemaskan.


Wajah suster Dinda semakin memerah kemudian memucat. Seperti kepiting yang direbus dalam suhu panas.


"Suster Dinda sudah punya pacar?" tanya Dimas lagi.


"Ti–dak," jawab suster Dinda yang semakin tegang.


"Mau tidak jadi pacar Akang Dimas?"


Fazila terbelalak dan tangannya langsung menutup mulutnya yang refleks menganga karena saking kagetnya. Bagaimana mungkin Dimas langsung menembak suster Dinda begitu cepat?


"Aku ... aku ...."


"Tidak usah pikir panjang biarlah yang panjang hanya tali dan kenangan mereka berdua," ujar Dimas sambil menunjuk kedua orang di depannya, dan kali ini dokter Davin tidak bisa menahan tawanya lagi. Pria itu tertawa renyah.


"Ada yang salah ya Dokter Davin?" tanya Dimas berusaha bersikap santai padahal dalam hati jedag-jedug tak karuan. Kalau sampai dirinya ditolak oleh suster Dinda, ia tidak tahu akan menaruh mukanya dimana.Sepertinya dia harus pindah ke planet Mars karena ia tidak akan berani bertemu Fazila dan dokter Davin lagi.


"Kalau pikir pendek nanti bisa bunuh diri," ujar dokter Davin.


"Nah benar juga sih, tapi Neng Dinda, yang ku maksud tadi adalah jangan ragu untuk menerima cinta Akang Dimas. Akang Dimas ini baik, setia, dan tanggung jawab loh."


"Promosikan diri sendiri terus!" seru Fazila lalu terkekeh.


"Jangan ikut campur urusan orang dewasa Chila!" protes Dimas.


"Oke-oke, Bang."


"Bagaimana, Neng Dinda? Terima nggak cinta Akang?" tanya Dimas lagi.


"Aku ... aku ...." Suster Dinda masih malu-malu.


"Cinta ditolak dukun bertindak, Akang tidak menerima penolakan!" seru Dimas membuat suster Dinda terbelalak tidak percaya.


"Dih ngancam," ujar Fazila lalu tertawa terpingkal-pingkal.


"Chila udah ah, aku nggak konsen nyetir ini!" protes dokter Davin sambil mengusap bahu Fazila yang berguncang karena tawa yang meledak.


"Habisnya Bang Dimas gitu sih, geli tahu Dok. Chila rasanya mau muntah."


"Kasih plastiknya Dok agar muntahannya nggak tercecer kemana-mana," ujar Dimas.


"Suster Dinda bagaimana?" Kali ini Dimas kembali ke mode serius.


"Aku mau," sahut suster Dinda.


"Mau apa?" tanya Dimas lagi memastikan.


"Mau jadi pacar kamu," sahut suster Dinda masih dengan ekspresi malu-malu membuat wajah Dimas langsung berbinar-binar.


"Benarkah?" tanya Dimas seakan tak percaya. Jangan sampai suster Dinda hanya ngeprank dirinya.


"Iya Akang Dimas," ujar Suster Dinda lalu terkekeh, geli dengan panggilannya sendiri untuk Dimas karena tidak biasa.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2