
"Jangan terlalu dipikirkan, mungkin itu hanya bayangan benda atau hanya halusinasimu semata mengingat keadaan gelap bukan hanya karena gelapnya malam, tetapi juga gelap karena hujan."
"Tapi aku yakin bayangan itu seolah mengikuti diriku dari tempat wudhu'."
"Berdoa saja ya, agar kita semua tetap dalam lindungan yang Maha Kuasa. Yakin saja semua akan baik-baik saja," ujar dokter Davin dan Fazila hanya mengangguk lemah.
"Yang penting harus selalu hati-hati dan waspada. Yuk kita kembali ke depan!"
Sekali lagi Fazila mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.
"Baby Nazel belum bangun?" tanya Fazila lalu duduk di samping balita itu.
"Seperti yang kau lihat sendiri belum," sahut Nathan.
"Tumben Bang?"
"Enak kali Chila, karena suasananya yang adem, tuh lihat Mommy-nya juga nyenyak kayak nggak terganggu aja dengan kegaduhan yang dibuat oleh Dimas dan Tristan. Kau bisa tidur juga nanti Abang bangunin."
Fazila mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di samping Chexil. Memejamkan mata barangkali bisa terlelap kembali walau beberapa menit saja.
Di sisi lain, Dimas dan suster Dinda diam-diaman. Sepertinya Dimas kesal pada wanita itu karena juga ikut andil mengerjai dirinya bersama Tristan tadi.
Tristan bernyanyi kecil, bersikap cuek dan tak mau ikut campur urusan pasangan itu meskipun dirinyalah yang menjadi pemicu dinginnya sikap Dimas pada suster Dinda.
"Yaelah baru jadian, baru ngomongin cinta-cintaan. Belum sehari aja udah ngambek-ngambekan," goda dokter Davin tehadap keduanya.
Suster Dinda menatap wajah Dimas hendak meminta maaf. Sayangnya laki-laki itu memalingkan muka seakan jengah memandang wajah wanita itu.
"Dim!" panggil suster Dinda.
Dimas tak menyahut, bahkan menoleh pun tidak.
"Akang Dimas!" panggil suster Dinda lagi, tetap tak ada respon dari pria itu.
"Aa!" Entah mau memanggil apa lagi suster Dinda pada Dimas. Suster Dinda bingung karena Dimas masih saja tidak bereaksi.
__ADS_1
"Sok jual mahal elo Dim." Akhirnya mulut Tristan gatal untuk berkomentar. Namun Dimas pun tidak perduli dengan perkataan Tristan. Andai mereka tahu jantung Dimas seakan mau copot tadi saat Tristan mengerjai dirinya.
"Suster Dinda, apakah kamu sudah punya kekasih?" tanya Danisa disela-sela pembicaraan mereka.
Suster Dinda melirik Dimas yang masih saja acuh tak acuh lalu menggeleng lemah karena sepertinya Dimas tidak perduli dengan dirinya. Wanita itu berpikir mungkin pembicaraan mereka di mobil semalam hanya obrolan tak berarti. Dimas hanya iseng-iseng saja dan bercanda.
"Oh, belum ya? Kebetulan anak administrasi di rumah sakit tempat kita bekerja nanyain kamu. Sepertinya dia suka deh sama kamu," lanjut Danisa.
"Oh yang namanya Willi itu ya?" tanya Danisa penasaran.
"Yup benar, kalau kamu juga suka dia, besok aku kenalin, sekalian bantu dekatin kalian siapa tahu jodoh," ujar Danisa kemudian.
"Boleh," ucap suster Dinda dengan seulas senyuman membuat Dimas langsung menoleh dan menatap suster Dinda tidak suka.
"Ekhem! Ada yang cemburu nih kayaknya," ujar Tristan membuat Nathan hanya menggelengkan kepala. Adiknya yang satu itu memang suka usil terhadap orang lain.
Tanpa banyak bicara Dimas langsung menarik tangan suster Dinda dan membawanya keluar.
"Apa maksudmu?" tanyanya dengan tatapan tidak ramah.
"Tidak ada maksud apa-apa," jawab suster Dinda santai.
"Apakah Dimas benar-benar menyukai suster Dinda?" tanyanya pada diri sendiri.
"Kau ingin selingkuh dariku hah?" Dimas bertanya dengan suara tegas.
"Tidak, lagian kau sudah tidak perduli dengan aku, kan? Itu artinya omonganmu semalam hanya gurauan semata. Ya sesimpel itu aku mengartikannya," ucap suster Dinda masih dengan ekspresi yang sama. Sebenarnya juga kesal karena diabaikan oleh Dimas sedari tadi. Dia merasa seperti wanita murahan yang mengejar cinta pria yang sama sekali tidak menghargainya.
"Dokter Danisa, jangan sampai mendekatkan dia pada lelaki itu karena suster Dinda adalah milikku seorang," ujar Dimas sebelum melepaskan pegangan tangannya pada lengan suster Dinda.
"Posesif amat," ujar dokter Davin yang kini berdiri di pintu lalu terkekeh.
"Bisa serius juga tuh anak," timpal Nathan.
"Dasar anak-anak zaman now," ujar Laras lalu menggelengkan kepala.
__ADS_1
Suster Dinda hanya terlihat menghela nafas panjang lalu kembali ke tempat duduknya semula. Wanita itu memilih duduk tanpa banyak bicara. Dimas pun menyusul dan duduk di samping suster Dinda.
"Oke kalau itu mau Dimas, tak masalah nanti aku bilang kalau suster Dinda sudah ada pasangan," ucap Danisa dan Dimas langsung mengangguk.
"Minum teh dulu!" perintah Danisa sambil menyerahkan secangkir teh ke hadapan Dimas.
"Terima kasih," ucap Dimas sambil menyentuh cangkir yang kini sudah ada di hadapannya.
"Mau ngeteh?" tanya Dimas pada suster Dinda dan perempuan itu hanya menggeleng.
"Maafkan sikapku tadi," ujarnya kemudian lalu meniup-niup teh hangat itu dan suster Dinda merespon dengan anggukan.
Walaupun wanita itu sedari tadi terlihat bersikap tenang nyatanya dalam hati suster Dinda sebenarnya syok. Dimas yang sikapnya humoris semalam kini malah berbanding terbalik. Suster Dinda benar-benar tidak menyangka, ada sedikit keraguan dan ketakutan untuk melanjutkan hubungannya bersama Dimas kala mengingat wajah Dimas yang merah padam.
"Ayo nikmati kuenya Tuan, Nyonya!" ujar Danisa untuk menyingkirkan kecanggungan yang sempat tercipta akibat kekesalan Dimas pada suster Dinda.
Suasana kembali mencair tatkala Tuan Alberto memberikan nasehat untuk para pemuda yang sedang duduk memutar di sampingnya. Sesekali pria itu menceritakan masa mudanya saat bertemu dengan sang istri tercinta.
Tiga puluh menit kemudian terdengar suara adzan berkumandang. Banyak orang-orang sekitar rumah Danisa yang mendatangi masjid untuk shalat subuh berjamaah.
Tuan Alberto pun menghentikan ceritanya dan mengajak semua orang ke masjid.
"Aku shalat di di sini saja yah sekalian mau jaga baby Nazel takut tiba-tiba terbangun," ujar Fazila saat dirinya dibangunkan.
"Oke tak apa Chila, kau di sini saja," ujar Isyana lalu bersiap-siap ke masjid.
"Tak apa kan aku tinggal? Di sini agak nenek Salma sama ibunya Danisa. Jadi kamu tidak perlu takut," ucap dokter Davin sebelum akhirnya pergi menyusul semua orang.
"Ya aku tak apa, pergilah!" ujar Fazila dijawab anggukan oleh dokter Davin.
"Silahkan kalau mau shalat, ayo ibu antar," ucap ibunya Danisa yang disetujui oleh Fazila.
Selesai shalat subuh, mereka semua bersiap-siap untuk pergi ke pesantren. Namun sebelum pergi orang tua Danisa meminta semua orang untuk sarapan terlebih dahulu.
Pukul setengah enam pagi, barulah mereka berpamitan dan pergi ke pesantren.
__ADS_1
"Kami juga ikut, sekalian mau silaturahmi dengan pak Kyai dan bu Nyai," ujar Danisa lalu kembali masuk ke dalam mobilnya bersama sang suami.
Bersambung.