DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 54. Ketemu


__ADS_3

Saat Tristan menarik tangan Dilvara, ponsel dalam tas gadis itu berbunyi. Tristan langsung melepaskan pegangan tangannya untuk memberikan waktu agar Fazila menerima panggilan tersebut karena takut ada hal penting, baik tentang keluarga ataupun tentang pekerjaan Dilvara.


"Bentar," ujar Dilvara menghentikan langkah sambil meraih ponsel dalam tasnya. Tristan mengangguk dan menatap jalanan sekitar yang mulai lengang.


Dilvara langsung menerima panggilan telepon. Gadis itu mengernyit sebab orang yang menelponnya tadi malah tidak bersuara.


"Halo, siapa sih?!"


Tetap tidak ada jawaban, Dilvara langsung menaruh kembali ponsel di tangan ke dalam tas.


"Siapa?" tanya Tristan penasaran karena Dilvara tidak melanjutkan teleponannya.


"Entahlah, dari nomor yang tidak dikenal, mungkin salah pencet nomor," jelas Dilvara akan asumsinya sendiri.


"Oh."


Tristan tidak mempermasalahkan hal itu karena sebagai seorang yang berkecimpung dalam dunia entertainment, dia paham, banyak orang yang diam-diam tahu nomor telepon mereka yang entah didapatkan darimana, dan melakukan panggilan telepon secara misterius. Sekedar iseng atau ingin menyapa saja, bahkan ada beberapa netizen yang tidak suka malah melakukan aksi teror. Zaman sekarang netizen memang random.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran. Ponsel Dilvara berbunyi kembali. Namun, kali ini hanya terdengar seperti notifikasi masuk.


"Siapa lagi sih?" Dengan malas Dilvara meraih ponselnya kembali dan langsung memeriksa. Tenyata hanya chat dari seseorang.


"Apaan ini?" Wajah Dilvara berubah pucat seketika melihat gambar yang dikirim seseorang. Matanya langsung menatap wajah Tristan dan gambar dalam ponselnya secara bergantian. Kemudian dia menutup ponsel dan menaruh kembali dalam tas secara kasar.


"Ada apa sih?" tanya Tristan yang tak nyaman melihat gelagat Dilvara.


"Abang benar selama sebulan ini sibuk syuting?" tanyanya dengan ekspresi masam.


"Kamu kenapa sih? Aneh banget," ujar Tristan yang memindai ekspresi wajah Dilvara yang sangat tidak enak dilihat.


"Jawab dulu pertanyaan Adik!" tegas Dilvara dengan kilatan mata penuh amarah.


"Aih ngeri sekali tuh ekspresi, kayak mbak kunti lagi pengen makan janin saja lalu ada yang ganggu," kelakar Tristan.


"Bang!" rengek Dilvara, tatapannya berubah memelas membuat Tristan malah terkekeh. Secepat kilat ekspresi Dilvara berubah, Tristan menebak tunangannya itu sedang datang bulan.


Sepertinya dia harus tahu siklus bulanan Dilvara untuk memastikan amarah gadis itu karena efek apa.


"Memang perlu dijawab?"


"Ckk." Dilvara hanya berdecak kesal mendengar ucapan Tristan. Bukannya menjawab pertanyaan darinya malah balik bertanya, pertanyaan yang tidak penting lagi, membuat Dilvara malas bicara dengan Tristan. Pria itu selalu tidak bisa diajak serius.


"Jangan-jangan dia juga nggak serius ngejalanin hubungan kita," keluh Dilvara dalam hati. Ia berjalan mendahului Tristan. Matanya mencari keberadaan sopir pribadinya. Namun, pak sopir tak terlihat di sana.


"Kemana tuh pak sopir, malah berkeliaran lagi. Tadi sudah kubilang tunggu di sini," desis Fazila.


"Pak sopir sudah ku suruh pulang tadi," jelas Tristan dengan muka santai, seolah merasa tidak bersalah sama sekali memerintah pegawai orang lain.


Dilvara terbelalak.


"Ayo naik!" perintah Tristan pada Dilvara yang berdiri mematung dengan ekspresi cemberut di samping sepeda motornya sedangkan Tristan sendiri sudah duduk manis di atas motor.


Dilvara menggeleng.


"Dilvara! Jadi calon istri itu harus nurut sama calon suami," ujar Tristan lalu terkekeh.

__ADS_1


Dilvara mencebik lalu memberengut kesal.


"Masih calon juga, bukan istri. Belum tentu juga Abang nikahnya sama aku," ketus Dilvara.


"Kenapa nih orang malah jadi ngambek begini?" Tristan menggaruk kepalanya, bingung. Entah kenapa Dilvara tiba-tiba terlihat seperti marah padanya. Padahal awal bertemu tadi tidak, sepertinya ini bukan sekedar efek PMS, tetapi ada alasan lain. Namun, Tristan enggan bertanya, biarlah nanti dia akan tanyakan setelah menemukan rumah dokter Davin.


"Dilvara ayo naik!" perintah Tristan sekali lagi dan kali ini dengan suara tegas serta raut wajah yang begitu serius.


"Hmm." Dilvara yang malas dengan Tristan masih saja menggeleng.


"Astaga nih anak sudah mulai membangkang, ya!" Tristan turun dari motor lalu meraih tubuh Dilvara dan mengangkatnya ke atas moge.


"Abang, turunkan aku!" protes Dilvara sambil memukul bahu Tristan, tetapi Tristan tidak mendengarkan perintah Dilvara. Gadis itu semakin kesal menyadari aksi mereka menjadi tontonan orang banyak.


Beberapa orang tampak mengarahkan kameranya kepada mereka berdua sedangkan Dilvara dalam keadaan memakai rok mini. Dilvara takut kamera mereka menangkap gambar ****** ******** saat tanpa izin tadi Tristan mengangkat tubuh Dilvara, dimana tadi Tristan mengangkat tubuhnya sembarangan tanpa perhitungan.


Setelah menaruh tubuh Dilvara ke atas moge, Tristan kembali naik dan menyetir. Dilvara duduk di atas sepeda tanpa mau pegangan. Tak mau menyentuh sedikitpun tubuh Tristan, dia ilfil setelah melihat foto Tristan dengan wanita lain yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal tadi. Dia benar-benar tak menyangka, selama ini Dilvara menyangka Tristan menggoda para wanita hanya karena iseng semata dan masih setia sehingga ia mencoba memakluminya.


"Pegangan Dil!"


Tak ada tanggapan dari Dilvara.


"Kalau kamu jatuh, Abang tidak tanggung jawab," ujar Tristan setengah mengancam, dia mulai menyadari kalau Dilvara benar-benar ngambek, mungkin karena Tristan lancang menyuruh pak sopir pulang tanpa persetujuan Dilvara atau bahkan karena gadis itu belum berhasil mengambil pesanan makanannya tadi saat Tristan langsung menarik tangannya.


"Hmm." Dilvara masih malas bicara.


"Awas bisu beneran kalau tidak mau ngomong, soal kentang goreng dan yang lainnya tadi nanti kita pesan di tempat lain saja kalau kamu lapar. Ini udah kadung ada di atas sepeda. Jadi sekalian jalan terus."


Masih tak ada reaksi dari Dilvara membuat Tristan menghembuskan nafas berat.


"Serah deh, aku sudah nggak lapar!" seru Dilvara.


"Ais ngambek beneran nih anak," gumam Tristan membuat Dilvara geram dalam hati dan mengerakkan tangan di belakang punggung Tristan dengan gerakan mencakar, tetapi tidak menyentuh.


Tristan melirik ke arah Dilvara lewat kaca spion. Pantulan gerakan tangan Dilvara tertangkap retina mata Tristan.


"Kau mau main film? Dapat peran sebagai kucing?"


Astaga!


Dilvara semakin kesal kemudian memalingkan muka. Tristan masih saja terus terkekeh.


"Bisa diam nggak sih Bang? Aku sakit mata lihat Abang bertingkah begini, cekikikan terus, emang aku bahan lawakan apa?" Dilvara memberengut.


Mendengar nada bicara Dilvara yang sedikit meninggi membuat Tristan langsung diam dengan kepala mengangguk. Namun, tangan kanannya terulur ke belakang dan meraih tangan Dilvara. Ia menarik tangan Dilvara agar berpegangan karena setelah ini ia akan mengebut.


Dilvara tidak menolak meskipun dengan perasaan yang masih dongkol ia terpaksa menuruti keinginan Tristan sebab kalau tidak, pasti Tristan akan mengadu pada Dion.


Sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara hingga akhirnya Tristan terpaksa membuka suara kembali tatkala tidak tahu tujuan mereka kemana, maksudnya alamat rumah dokter Davin.


"Itu di depan belok mana?" tanya Tristan bingung tatkala jalan di depannya bercabang empat. Benar-benar bingung menentukan arah jika tak ada orang sebagai penunjuk jalan.


Dilvara enggan bersuara. Hanya satu tangannya terulur ke depan dan menunjuk arah kiri.


"Oke."

__ADS_1


Tristan paham apa yang dimaksud oleh Dilvara. Dia langsung membelokkan motornya ke arah kiri. Beberapa meter ke depan Dilvara pun menunjukkan arah kanan saat jalanan terpecah dua.


"Masih jauh setelah ini?" tanya Tristan karena tidak terasa sudah satu jam mereka berkelana di jalanan. Dia bertanya dalam hati, benarkah Dilvara tahu alamat rumah dokter Davin?


"Jangan sampai yang Dilvara tahu hanya rumah kontrakan atau kostan, sudah dipastikan dokter Davin sudah tidak akan ke sana lagi," batin Tristan dipenuhi keraguan.


Dilvara mengangguk membuat Tristan terbelalak tak percaya. Sepertinya dia harus menyetir lebih lama lagi, menyesal tadi dia tidak minta antar sopir pribadi keluarganya padahal tubuhnya kurang fit setelah beberapa malam sering bergadang karena tuntutan pekerjaan.


"Pegangan yang kuat! Abang akan mengebut lagi!" perintah Tristan, Dilvara menurut saja karena tidak ingin terjadi masalah.


"Eh, eh itu Bang, berhenti!" teriak Dilvara saat melihat rumah dokter Davin yang dulu sering didatangi Fazila.


Ciit!


Tristan langsung mengerem mendadak membuat Dilvara merasa jantungnya seakan mau copot. Gadis itu mengelus dadanya sendiri.


"Yakin?" tanya Tristan sebelum turun dari motor.


Dilvara mengangguk.


"Katanya tadi masih jauh?"


"Entahlah aku lupa, tapi sepertinya ini memang rumah yang sering Chila datangi waktu itu."


"Chila pernah cerita tentang dokter Davin?" tanya Tristan lebih lanjut, sedikit senang karena Dilvara mau kembali bicara dengannya lagi. Ini merupakan angin segar bagi Tristan untuk kembali mengajaknya bergurau sebab kalau tidak begitu mereka berdua seperti kaku.


"Dia hanya bilang naksir sama dokter Davin dan nenek dokter Davin baik banget padanya," jelas Dilvara membuat Tristan manggut-manggut.


"Yasudah ayo turun!" ajak Tristan lalu keduanya berjalan ke arah pintu pagar rumah tersebut.


Seorang perempuan tua sambil membawa keranjang cucian menghampiri mereka.


"Cari siapa, Nak?" tanya nenek itu sambil menatap Tristan dan Dilvara secara bergantian.


"Dokter Davin ada Nek?" tanya Tristan langsung.


Nenek yang ditanyainya tidak langsung menjawab, tetapi terlihat mengernyitkan dahi, bingung karena sepertinya mengenal wajah Tristan, tetapi lupa dimana. Ingatannya memang mulai berkurang.


"Kalian siapa?" tanya nenek tersenyum penasaran karena tak bisa mengingat tentang Tristan.


"Saya keluarga Chila Nek," sahut Dilvara.


"Dia Tristan abangnya, dan saya Dilvara, temannya," tambah Dilvara.


"Oh, Chila, ya? Kemana tuh anak, kok tidak pernah kemari lagi?" tanya nenek salma, meskipun ingatannya tak seperti dulu lagi, tetapi tentang Fazila dia tidak pernah lupa karena dulu sering bertandang ke rumah tersebut.


Bahkan alasan dokter Davin tidak mau keluar dari rumah tersebut adalah karena banyak kenangan dengan gadis yang pernah menganggu hari-harinya dulu. Dokter Davin membeli rumah tersebut saat tahu Fazila dikirim keluar negeri karena yakin suatu saat Fazila akan ke sana untuk menemuinya walaupun entah kapan.


"Iya Nek sekarang Chila sakit, oleh karena itu saya ingin minta tolong dengan dokter Davin barangkali bisa membantu kami memulihkan kesehatan Chila," jelas Tristan membuat nenek Salma syok mendengar kenyataan tersebut.


"Apa! Chila sakit? Tapi tidak sakit parah, kan?" Nenek Salma terlihat sangat khawatir. Dokter Davin adalah spesialis penyakit dalam.


Jadi, jika mereka mencari dokter Davin, ini artinya penyakit Fazila parah menurut nenek Salma, dan yang lebih membingungkan keluarga Fazila adalah orang kaya yang bisa membayar dokter spesialis yang lebih hebat dari dokter Davin. Dia hanya berharap Fazila bisa bertahan dan segera sembuh.


"Iya Nek, makanya kami mencari dokter Davin, apa beliau ada di rumah?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2