DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 92. Kebanyakan Micin


__ADS_3

Dokter Davin memutar knop pintu setelah membuka pintu kamar.


"Kok lama?" tanya Isyana dengan menatap wajah dokter Davin penuh selidik.


"Lain kali kalau hanya ngomong pintunya tidak perlu dikunci!"


Dokter Davin mengangguk lalu menunduk, tidak enak pada mertuanya itu.


"Maaf Tante kalau kami lama di dalam. Kami bicara panjang lebar dan saya terpaksa mengunci kamar karena takut Chila menghindar terus."


"Baiklah untuk hari ini saya maafkan, bagaimana masalah kalian, sudah kelar?"


"Alhamdulillah sudah Tante, terima kasih atas waktu yang Tante berikan untuk kami."


"Sama-sama," jawab Isyana sambil melongo ke dalam kamar. Matanya mencari keberadaan sosok putrinya di sana.


Wanita itu menghembuskan nafas lega saat melihat Fazila duduk di tepi ranjang dengan santai.


"Katakan pada Chila kami menunggu di ruang makan. Nak Davin juga bergabung ya bersama kami!"


"Siap Tante."


"Yasudah Tante duluan," ujar Isyana kemudian berlalu pergi.


Dokter Davin mengangguk lalu melangkah ke dalam kamar kembali.


"Tante Isyana meminta kita sarapan dulu," ucapnya pada Fazila.


"Oke," sahut Chila lalu bangkit dari duduknya.


"Mari!" Dokter Davin berjalan mendahului Fazila keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.


Sampai di sana ternyata semua anggota keluarga sudah berkumpul, duduk mengelilingi meja. Tuan Alberto yang biasa makan di kamar hari itu pun bergabung dengan semua orang.


"Tumben Opa ikut sarapan bersama, biasanya sarapan di kamar," ujar Fazila lalu menarik kursi untuk dokter Davin kemudian menarik kursi lagi untuk dirinya sendiri.


"Pengen bareng aja hari ini apalagi kamu besok pagi sudah tidak ada di sini, kan?"


"Iya Opa, mungkin nanti malam atau besok pagi Chila akan kembali ke pondok," sahut Fazila lalu mengambilkan piring untuk dokter Davin dan mengisinya dengan nasi.


"Mau ikan apa?" tanya Fazila begitu antusias.


Semua mata tertuju padanya yang hari ini terlihat begitu bahagia.


"Nak Davin juga akan kembali ke sana kapan? Kalau hari ini libur mending tinggal di sini sampai Chila berangkat. Opa ingin mengobrol banyak dengan Nak Davin."


"Iya Opa, kebetulan Davin lagi libur, jadi baliknya ke sana bareng Chila aja."


"Oh bagus kalau begitu, biar sekalian mereka nganterin kamu."


"Iya Opa. Yasudah kita makan dulu, ngomong-ngomongnya nanti saja setelah sarapan biar ada tenaga."


"Baik Opa."

__ADS_1


"Dok, ayo makan!" ajak Fazila karena dokter Davin malah fokus menatap Tuan Alberto.


"O'o, aku lupa kau tidak biasa sarapan nasi. Biar aku buatkan sandwich ikan tuna, mau, kan?" Gadis itu berdiri dari duduknya hendak pergi ke dapur. Namun, lengannya langsung dipegang oleh dokter Davin."


"Kenapa? Tak suka? Apa aku buatkan salad saja?" tanya gadis itu dengan menatap mata dokter Davin untuk meminta persetujuan.


"Tidak perlu Chila, aku mau makan nasi saja," ucap dokter Davin.


"Tapi Dokter, kan tidak biasa?"


"Tidak apa-apa Chila. Aku mau makan yang ada saja."


"Tapi–"


"Ekhem." Zidane pura-pura batuk agar putrinya berhenti bicara.


"Papa!"


"Duduklah! Dokter Davin tidak akan sakit perut kan kalau sarapan nasi?"


"Iya Pa," ucap Fazila lalu duduk kembali.


"Tidak masalah Om, saya bisa makan apa saja," ujar dokter Davin dan Zidane merespon dengan anggukan.


"Mau sama ikan ini?" tanya Fazila menawarkan ikan dorang bakar bumbu rujak.


"Boleh," sahut dokter Davin dengan senyuman.


"Oke." Fazila langsung menaruh satu ikan berukuran sedang itu di atas piring dokter Davin.


"Biar aku ambil sendiri saja Chila," ujar dokter Davin yang tidak nyaman dirinya dan Fazila menjadi pusat perhatian orang banyak. Pria itu langsung meraih daun rebus singkong di atas mangkok.


Tristan sampai geleng-geleng melihat tingkah adiknya itu.


"Dasar si ratu drama!" ujar Tristan.


"Apa sih Bang?" protes Fazila. Dia tidak suka dengan perkataan Tristan.


"Abang bingung sama kamu, kadang cuek dan ngambek tanpa sebab, kadang tersenyum dan bucin, dan lihatlah saat ini, kau bahkan bersikap romantis melebihi pasangan suami istri di depanku," ucap Tristan sambil melirik ke arah Chexil dan Nathan yang sontak menghentikan suapan mereka.


"Biarin aja, suka-suka Chila. Kalau iri bilang bos!" ucap Fazila lalu terkekeh membuat semua orang hanya bisa menggeleng sambil tersenyum.


"Kalau aku bukannya nggak mau melayani suami di meja makan, tapi harus buru-buru makan sebelum Nazel merengek minta gendong," terang Chexil sambil melirik ke arah putranya yang ia letakkan di atas stoller di sisi kanan dirinya duduk. Balita itu matanya masih terpejam namun tubuhnya mulai tampak bergerak-gerak. Sepertinya sebentar lagi akan terbangun.


"Sudah Sayang nggak usah ladeni candaan si Tris, nanti kamu nggak bisa makan dengan tenang kalau sampai putra kita terbangun," ujar Nathan. Chexil mengangguk dan meneruskan makan.


"Nggak apa-apa, biar Chila belajar dari sekarang melayani suami makan supaya nanti setelah menikah tidak syok," ujar Tuan Alberto dengan suara lemahnya.


"Mantap Opa. Opa paling pengertian diantara semua warga yang ada di rumah ini. Sehat-sehat selalu ya Opa," ujar Fazila sambil memandang iba pada sang Opa yang seolah tidak memiliki kekuatan walaupun hanya sekedar bicara.


"Aamiin, doakan Opa selalu ya. Semoga nyawa Opa masih panjang sampai kamu dan Bang Tris nanti menikah," ujar Tuan Alberto kemudian.


"Jangan dong Opa–"

__ADS_1


Semua orang yang sudah mulai makan berhenti mengunyah seketika dan menatap Fazila.


"Ada yang salah?" tanya Fazila dan semua hanya diam.


"Apakah kamu mendoakan Opa agar meninggalkan kita semua dengan cepat gitu?" protes Tristan.


"Hadeh, makanya kalau mendengar orang ngomong jangan memotong pembicaraan Bang! Jadi salah paham, kan?"


"Nasehatin diri sendiri ya Chila?" Tristan tertawa renyah.


Fazila membalas dengan cebikan.


"Aku kan mau mengatakan umur opa jangan sampai kita menikah doang, tapi sampai kita punya anak bahkan kalau perlu sampai punya cucu. Biar Opa tahu keturunan siapa yang paling bagus diantara kita."


"Bengek kau Chila," ujar Tristan lalu cekikikan.


"Sudah-sudah! Kalau mau makan tidak usah bicara. Kalau bercanda doang kapan kenyangnya?" protes Zidane.


"Iya Pa," jawab kedua serempak.


Semua orang pun fokus menyantap hidangan di piring masing-masing hingga suasana terlihat hening. Hanya sesekali terdengar bunyi sendok yang beradu dengan piring.


Saat fokus-fokusnya makan Bik Ina datang dengan satu nampan penuh dengan telur mata sapi.


"Oh ya Nyonya ada yang kelupaan," ujar Bik Ina sambil mendekatkan telur ceplok itu ke meja makan.


Semua orang menganga melihat Bik Ina membawa telur goreng itu dalam jumlah banyak.


"Siapa yang memesan telur ceplok sebanyak itu Bik?" tanya Laras bingung.


"Bukan kami yang menggoreng Nyonya, tapi Non Chila sendiri," jelas Bik Ina.


"Chila buat apa itu?" tanya Isyana langsung.


"Nggak buat apa-apa sih Ma, tapi itu hanya pelampiasan dari rasa marahku terhadap dokter Davin," jelas Fazila sambil melirik dokter Davin yang pura-pura cuek.


"Apa!" seru Chexil kaget.


"Astaghfirullahal adzim," ucap Laras dan Isyana hampir bersamaan.


"Hmm, sudah kubilang Ma, putri Mama yang satu ini adalah si ratu drama. Untung saja dia nggak goreng orang. Kalau enggak kita sudah jadi korban," kelakar Tristan.


"Dokter Davin, hubunganmu dengan adikku ini kebanyakan micin, ngeri-ngeri sedap," ujar Tristan lalu tertawa renyah dan dokter hanya menanggapi perkataan kakak iparnya dengan gelengan kepala.


"Tris hentikan tawamu! Sekarang waktunya makan," ujar Isyana.


"Iya Ma," sahut Tristan lalu menunduk.


"Rasain Abang, suruh siapa suka gangguin Chila," gumam Fazila.


"Fazila, kau juga berhenti bicara!" seru Laras.


"Iya Oma."

__ADS_1


Tawa Tristan hampir meledak karena melihat ekspresi Fazila. Namun ia tahan karena mendapatkan tatapan tajam dari sang mama.


Bersambung.


__ADS_2