
"Kenapa jadi bergerak seperti ini? Ini pasti ada yang salah," ucap Tristan dengan tubuh dan tangan yang bergetar hebat dan gigi yang bergemelutuk kuat. Debaran di dada semakin jelas terlihat. Keringat membasahi badan.
"Siapa itu?!" teriaknya dan tidak ada jawaban.
Mata Tristan awas, dan mengedarkan pada seluruh ruangan. Ia melirik ke luar, ternyata orang-orang yang ikut berlari bersamanya tadi sudah tidak terlihat batang hidungnya.
"Sepi sekali di sini," gumam Tristan lalu tangannya mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh mayat di atas brankar yang bergerak tadi. Namun, matanya melihat ke arah lain seolah Tristan siap tidak siap melihat benda di atas brankar tersebut.
Karena tidak melihat tanda-tanda kehidupan di ruangan tersebut selain bunyi cicak akhirnya Tristan memutuskan untuk keluar dari sana dan mencoba mengabaikan gerakan salah satu brangkar tadi.
"Anggap saja tidak melihat apa-apa," gumam Tristan lalu membalikkan badan menuju pintu.
Brak.
Pintu ditutup dari luar dengan kencang hingga membuat Tristan sontak kaget.
"Han–hantu!" teriaknya lalu membuka pintu dan berlari keluar ruangan dengan terbirit-birit dan deru nafas yang ngos-ngosan.
Setelah Tristan keluar dari ruangan tersebut, suster Tantri keluar dari persembunyiannya.
Ia bernafas lega karena Tristan tidak jadi membuka selimut tadi sebab kalau, tidak dirinya pasti akan ketahuan.
"Dasar penakut!" ledeknya sambil terkekeh melihat Tristan yang berlari seperti dikejar setan.
"Sok-sokan mengejar aku, makan tuh rasa ketakutanmu!" Suster Tantri cekikikan sendiri lalu turun dari brankar tempatnya berbaring tadi. Ia meringis tatkala menyadari bahwa dirinya tidak berbaring sendirian tadi, tetapi ada manusia yang sudah kaku di sampingnya.
"Waduh aku tidur dengan mayat," ocehannya. Bulu kuduknya langsung berdiri, dan hawa dingin menyapu kulit. Tadi dia langsung bertindak gegabah saat melihat Tristan memasuki ruangan. Sampai-sampai tidak tahu bahwa brankar yang dinaikinya tadi berpenghuni.
"Aku harus segera pergi," gumam suster Tantri lalu melangkah keluar pintu. Namun, seperti terkena lem kakinya seakan melekat pada lantai dan tidak bisa bergerak.
"Apa ini? Kenapa kakiku susah digerakkan dan seperti berjalan di dalam lumpur?"
Brankar tadi bergerak kembali membuat suster Tantri tercengang. Tadi saat ada Tristan di dalam ruangan tersebut suster Tantrilah yang menggerakkan brankar tersebut dengan gerakan tubuhnya sehingga Tristan ketakutan, tapi sekarang, siapa yang menggerakkan brankar tersebut? Mendadak wajah suster Tantri berubah pucat. Rasa takut datang menyergap, mendominasi dalam otaknya.
Angin kencang menerpa membuat hawa dingin semakin menusuk tulang.
"Tolong!" teriak suster Tantri tak tahan lagi menahan guncangan rasa takut.
"Kenapa kamu bermandikan keringat seperti itu Tris?" tanya Vania menatap kedatangan Tristan yang aneh.
"Hehe, tidak apa-apa Tante. Tadi Tristan menggebu-gebu mengejar penjahat tadi. Sayangnya dia berhasil lolos."
"Oh, terus itu apa yang kamu pegang?"
"Tidak tahu juga, tapi ini cairan yang hendak penjahat suntikan pada Fazila tadi. Saya penasaran obat apa ini."
Vania hanya mengangguk dan Tristan langsung menyimpan barang tersebut.
Di luar rumah sakit.
Setelah keluar dari rumah sakit, dokter Davin tidak langsung pulang ke rumah. Terlebih dahulu ia melihat-lihat toko kue agar pada saatnya lamaran nanti ia tidak kerepotan.
"Pesan kue apa Mas?" tanya seorang penjaga toko kue.
"Lihat-lihat aja Mbak, nanti kalau butuh saya ingin memesan di sini," sahut dokter Davin sambil mengedarkan pandangannya pada bermacam-macam kue di etalase.
"Oh boleh-boleh, kalau ingin contoh lain saya ambilkan gambarnya. Kira-kira buat acara apa ya Mas kalau boleh tahu?"
"Tunangan," jawab dokter Davin singkat.
"Oke, sebentar saya ambilkan gambar-gambar kreasi kue dari toko kami."
Dokter Davin mengangguk dan wanita itu mengambil sesuatu yang ditawarkan pada dokter Davin.
"Kalau ada yang cocok boleh pesan dan request sesuai permintaan," ujar pelayan tersebut dengan ramah.
"Oke saya pilih yang bentuknya kayak gini, jangan lupa di atasnya dikasih nama Davin dan Chila, oke?"
"Oke Mas, siap," ujar wanita tersebut masih dengan senyum ramah.
"Tapi nanti ya sebab nggak tahu kapan acaranya."
"Loh kok?" Pelayan di toko kue tersebut bingung.
"Calon tunangan saya masih terbaring di rumah sakit Mbak, jadi harus menunggu sampai ia pulih," jelas dokter Davin.
"Oh begitu ya Mas? Kalau begitu saya kasih nomor telepon toko ini dan nanti kalau sudah saatnya Mas bisa memberitahu kami," ujar pelayan tersebut.
"Baik Mbak, terima kasih."
"Sama-sama. Oh ya Mas, kue yang lainnnya? Apa cuma satu saja?"
"Nanti saya pesan lewat telepon saja."
__ADS_1
"Oh, oke-oke. Ditunggu kabar baiknya ya Mas?"
Dokter Davin mengangguk.
"Doakan biar calon saya lekas sembuh!"
"Amin. Yang terbaik saja deh untuk Mas-nya."
"Makasih, saya pamit dulu. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam warahmatullahi ta'ala wabarakatuh."
Selepas dari toko kue, dokter Davin langsung menuju toko bunga.
"Pesan buket Mbak, kasih ini ya di dalamnya," ujar dokter Davin sambil memberikan kotak cincin di tangan. Kotak cincin yang selalu ia bawa kemanapun setelah dirinya ditolak oleh Fazila. Cincin yang menemani hari-harinya yang hampa, tetapi kali ini akan menemani dirinya menjemput kebahagiaan.
"Baik Mas, silahkan request ingin dibentuk seperti apa!"
Dokter Davin mengangguk lalu terlihat memilih-milih.
"Seperti ini saja."
"Baik di tunggu ya, Mas!"
"Siap." Dokter Davin duduk di atas sebuah kursi rotan sambil memainkan ponselnya agar tidak bosan. Setelah selesai barulah dia pulang dan menemui nenek Salma.
"Kau serius ingin bertunangan dengan Nak Chila?" tanya nenek Salma untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
"Iya Nek. Nenek setuju, kan?"
"Nenek sih terserah kamu, cuma khawatir saja apakah keluarganya bisa menyetujui kalian? Davin mereka itu orang kaya, kita tidak selevel dengannya. Apalagi kau pernah ada masalah dengan kakaknya, apakah mereka bisa menerima kamu, Nak?"
"Alhamdulillah mereka setuju semua Nek. Hanya saja nunggu Chila sembuh dulu."
"Oh ya, Nenek juga dengar dia sakit. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sudah mendingan Nek, doakan saja lekas membaik."
"Pasti Nak. Terus kapan kalian tunangannya?"
"Tunggu Chila sembuh benar Nek."
"Bagus, niat bagi harus segera segerakan Nak sebelum keluarnya berubah pikiran."
Dokter Davin pamit ke dalam kamar dan membersihkan diri. Setelahnya ia berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar sambil tersenyum sendiri membayangkan wajah Fazila yang tersenyum padanya.
"Andai kau sudah lulus sekolah pasti aku akan segera menikahimu. Rasanya lama sekali menunggumu lulus," keluh dokter Davin lalu menghembuskan nafas berat.
"Sabar Davin, ini resiko karena kamu sukanya sama remaja," gumam dokter Davin lalu terkekeh sendiri seolah merasa hidupnya lucu. Lucu mengingat perasaannya yang awalnya untuk Chexil malah berubah untuk adik iparnya.
"Takdir, kenapa kau begitu indah?" gumamnya.
"Davin makan dulu!" seruan nenek Salma membuyarkan lamunan dokter Davin.
"Iya Nek," sahutnya lalu melangkah ke arah pintu.
"Duh yang lagi senang, mukanya sampai berbinar seperti itu," goda nenek Salma dan dokter Davin hanya tersenyum.
"Sudah makan, jangan ngelamun terus, kayak orang baru jatuh cinta aja senyum-senyum terus."
"Ah Nenek, kayak nggak pernah muda aja," protes dokter Davin masih terus tersenyum.
Nenek Salma hanya menggeleng melihat tingkah dokter Davin.
"Sudah ah makan, ini sudah agak telat untuk yang namanya makan siang."
Dokter Davin kaget menyadari bahkan dirinya lupa sarapan. Untung dia tidak punya riwayat penyakit magh. Ia seolah ikut kenyang melihat Fazila begitu makan dengan lahap tadi pagi.
"Baik Nek," ucapnya lalu fokus menikmati makan siang. Setelah makan siang mereka mengobrol mengenai acara lamaran dokter Davin untuk Fazila. Selesai itu dokter Davin kembali ke kamar dan beristirahat mumpung ada waktu untuk beristirahat. Jika sudah bekerja dia akan sangat sibuk bahkan terkadang tidak ada waktu untuk beristirahat barang sejenak.
Dokter Davin terbangun kala jam dinding berbunyi 5 kali yang menandakan sudah jam 5 sore. Gegas ia bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Mama belum kembali?" tanya Fazila pada Tristan. Hanya dia satu-satunya yang menjaga Fazila sampai sore hari.
"Mama tadi menelpon katanya masih belanja kain sama Papa. Kalau kamu butuh sesuatu katakan pada Abang saja!"
Fazila mengangguk lalu merebahkan tubuhnya kembali setelah sekian lama duduk bersandar.
"Kok lama ya malam datang?"
Tristan mengerutkan kening mendengar pernyataan adiknya.
"Memang mau apa sama malam? Mau melihat bulan dan bintang?" tanya Tristan bingung.
__ADS_1
"Nggak."
"Terus?"
"Nggak ada."
"Aneh, kalau mau tidur, tidur aja, nggak usah nunggu malam hari. Kamu kan lagi tidak sehat, tidur seharian pun tidak masalah yang penting sudah makan dan shalat."
Sekali lagi Fazila hanya mengangguk.
Tristan terlihat menggaruk kepala, Fazila yang sekarang tidak banyak bicara. Seperti gadis kalem yang hemat kata. Mungkin karena sakit pikirnya.
Adzan Maghrib berkumandang Fazila langsung meminta diantar ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Dengan telaten Tristan menuntun Fazila ke dalam kamar mandi dan membantunya mengambil wudhu.
"Shalat kayak tadi siang saja, nggak usah berdiri. Nanti infusnya lepas," saran Tristan lalu membantu adiknya berbaring kembali.
Setelah Fazila menunaikan shalat giliran Tristan yang melakukannya. Sebenarnya Tristan ingin pergi ke mushalla rumah sakit, tetapi mengingat kejadian tadi siang dia takut meninggalkan Fazila seorang diri di kamar.
"Ke mushalla saja Bang lebih nyaman," saran Fazila dan Tristan menggeleng.
"Nggak apa-apa Chila di sini saja, Abang udah biasa shalat di manapun saat syuting," tolaknya.
"Oh."
Kini Tristan pun menyelesaikan shalatnya. Ia kembali duduk di samping sang adik.
"Lapar, rengek Fazila sambil mengusap perutnya. Bersamaan dengan itu perutnya berbunyi membuat Tristan langsung terkekeh.
"Chila! Chila! Kemarin-kemarin ogah makan, eh sekali sudah nafsu makan kembali langsung laparan," ujar Tristan. Pasalnya sedari siang Fazila sudah nyemil biskuit dan beberapa kue yang dibawa Vania hingga tandas.
"Namanya dalam masa pemulihan Bang, jadi maklum saja kalau Chila sedikit rakus," ujar Fazila lalu terkekeh.
"Bentar aku pesan online saja males keluar," ujar Tristan padahal hanya alasan saja karena tidak berani meninggalkan Fazila seorang diri di kamar, namu n Tristan tidak mungkin mengatakan kejadian tadi siang kepada sang adik karena bisa saja mengganggu psikologis anak itu sehingga keadaannya tidak sembuh-sembuh.
"Terserah Abang deh yang penting Chila kenyang.
Tristan mengangguk dan memesan makanan untuk mereka berdua.
"Bisa makan sendiri kan seperti tadi siang?" tanya Tristan setelah membuka bungkusan plastik.
"Iya."
Tristan mengulurkan kotak berisi makanan ke hadapan Fazila dan mereka langsung makan bersama.
"Selepas makan Fazila menatap jam dinding yang tergantung di kamar rawatnya. Jam hampir menunjukkan pukul 7 malam dan dirinya masih berdua saja dengan Tristan.
"Bang kemana orang-orang, apa nggak ada yang sayang sama Chila selain Abang?"
"Ngomong apa sih Chila, kan Bang Tris sudah bilang tadi ke kamu bahwa mama sama papa lagi sibuk dan mungkin sekarang kalau misalnya mereka sudah pulang masih membersihkan diri, shalat, makan, masa iya langsung ke sini? Mungkin mereka masih capek juga."
"Apa dokter Davin juga capek sehingga nggak datang-datang?" batin Fazila. Bibirnya tampak cemberut. Dokter Davin ingkar janji padahal tadi siang sudah jelas-jelas mengatakan akan kembali nanti malam.
"Bang Nathan tadi juga nelpon, Nazel rewel, jadi nggak tega ninggalin Chexil sendirian," lanjut Tristan.
"Iya," sahut Fazila tak bersemangat. Gadis itu terlihat gelisah. Badannya sebentar-sebentar miring kanan, miring kiri, duduk, berbaring, duduk lagi. Tristan sampai bingung melihat tingkah sang adik.
"Apa badanmu pegel?" tanya Tristan dan Fazila langsung menggeleng.
"Terus kenapa begitu?"
"Nggak ada."
"Aneh, Abang kan sudah bilang tadi kalau mau apa-apa sampaikan saja sama Abang. Nanti Abang usahain."
"Chila minta sesuatu, boleh?"
"Apaan? Boleh saja."
"Minta dokter Davin boleh?"
"Astaga Chila, kamu mau minta dokter Davin dibuat sop daging begitu?" Tristan cekikikan.
"Abang! Ngeri amat sih. Chila cuma mau dokter Davin ada di sini nemenin Chila," rengek Fazila.
"Dasar anak kecil, bilang aja kangen dokter Davin, gitu aja belibet," protes Tristan.
"Ya begitulah kira-kira," ucap Fazila sambil menggaruk kepala.
"Bentar aku hubungi dia, aku juga ada perlu sama dia," ujar Tristan lalu menekan kontak dokter Davin.
Bersambung.
__ADS_1