DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 121. Surprise


__ADS_3

Qiana terlihat berpikir sebelum menjawab pertanyaan Fazila.


"Siapa Qia, kamu kenal?"


"Hmm, kalau tidak salah mobil milik pak kyai," ujar Qiana.


"Sepertinya bukan deh. Mobil pak kyai, kan warnanya hitam? Itu warnanya, kan merah?"


"Mobil yang baru, yang ini milik Gus Firdaus baru beli kalau nggak salah dua hari yang lalu."


"Oh pantesan, tapi kira-kira mereka mau kemana ya?"


"Entahlah mungkin mau ngisi ceramah," ujar Qiana sambil mengangkat kedua bahunya.


"Mana mungkin? Kalau cuma ngisi ceramah doang Nyai Fatimah nggak bakal ikut. Tuh lihat sendiri sepertinya Itu Nyai!"


"Entahlah."


"Mungkin mau menghadiri sebuah acara." Laras ikutan nimbrung.


"Mungkin saja Oma, sudahlah terserah mereka mau kemana."


Setelah pembahasan yang tidak penting itu semua yang ada di mobil diam seolah kehilangan topik pembicaraan. Qiana terlihat tidak bersemangat karena berjuang menahan mual. Sepertinya gadis itu mabuk perjalanan, tetapi tidak bisa muntah hingga harus menahan rasa tidak nyaman di perut dan lehernya, bahkan beberapa kali gadis itu terlihat mengoleskan minyak kayu putih pada tengkuk, pelipis, dan perutnya.


Sedangkan Nathan tampak fokus pada jalanan, pertanyaan basa-basi Fazila hanya ditanggapi dengan jawaban singkat membuat gadis itu malas untuk bicara banyak.


"Ngantuk," gumam Fazila lalu menyandarkan bahunya pada kursi mobil dan memejamkan mata. Andai yang menjemput dirinya adalah Tristan, pasti saat ini gadis itu masih berceloteh panjang lebar dan saling melempar candaan. Namun, karena Nathan yang menjemput, keadaannya jadi sunyi senyap macam kuburan. Angin dari luar kaca mobil yang dibiarkan terbuka mengundang rasa kantuk.


Rasanya masih sebentar saat Fazila merasakan bahunya ada yang mengguncang.


"Ada apa Qia?" tanya Fazila sambil mengucek kedua matanya.


Yang ditanya bukannya menjawab malah menyembulkan kepala pada kaca jendela dan melihat-lihat rumah di sekitar. Mencari-cari yang manakah rumah Fazila.


"Ada apa Qia? Masih mau muntah? Perlu yang segar-segar?" tanyanya lagi karena Qiana tak langsung menjawab.


"Bukan, kata Oma sudah sampai," sahut Qiana kemudian.


Fazila langsung membuka mata lebar-lebar sebelum akhirnya mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Oma, mengapa berhenti di sini? Kenapa nggak masuk ke dalam saja?" Fazila bingung karena Nathan menghentikan mobilnya jauh dari pagar rumah, tidak langsung masuk ke dalam garasi seperti biasanya.


"Sudah turun saja di sini, tidak usah banyak pertanyaan!" perintah Laras.


Fazila berdecak kesal sebelum akhirnya turun dan menarik tangan Qiana untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


"Chila, memang di daerah rumah kamu selalu begini, ramai terus?"


"Biasanya tidak Qia, mungkin ada acara di sekitar sini," ucap gadis itu sambil terus melangkah menuju pagar rumah.


"Bang!" Kaget Fazila saat melihat keramaian yang sebenarnya adalah berasal dari rumahnya sendiri.


"Ya, Chila?" respon Nathan.


"Ini benar ada acara di rumah kita?"


"Ya," jawab Nathan seperti sebelum-sebelumnya hanya menjawab dengan singkat.


"Acara apa? Apa Nazel mau sunat?"


"Nggak, Nazel belum disunat."


"Terus acara apa? Apa Bang Tris sama Kak Dilvara mau nikahan?"


"Bukan juga."


"Syukuran?" Fazila masih ragu untuk melanjutkan langkah masuk ke dalam pekarangan rumahnya sebelum tahu ada acara apa di sana. Tiba-tiba hatinya dilanda cemas.


"Sudah masuk aja dulu, nanti kau bakalan tahu," ujar Laras.


"Apa Qia?" tanya Fazila lalu menoleh ke arah Qiana.


"Ah, nggak, itu aku hanya kagum saja ternyata di sini ramai juga ya?"


"Oh, entahlah kok aku jadi takut ya?"


"Takut kenapa? Ayo segera masuk!"


"Opa baik-baik saja, kan, Oma?" Yang ada di pikiran Fazila adalah opanya sudah tiada dan hari ini adalah hari memperingati hari kematiannya. Entah 40 hari atau bahkan 100 hari. Fazila jadi berpikir kemarin pas acara lepas pisah atau wisuda di pesantren karena keluarga sedang berkabung atau mungkin karena tidak kuat untuk memberitahukan pada dirinya sehingga banyak yang tidak datang.


"Opa baik-baik saja kok," jawab Nathan membuat Fazila menatap lekat wajah Nathan untuk mencari kejujuran di sana.


"Apa yang masih ditunggu? Abangmu tidak mungkin kan membohongimu," ujar Qiana yang sudah paham apa yang terjadi di rumah sahabatnya itu.


Fazila mengangguk lemah dan berjalan gontai memasuki pagar rumah. Gadis itu tidak berhenti berprasangka buruk. Dalam hati ada niatan untuk memarahi semua orang jika ternyata pikirannya benar dan semua orang tidak ada yang menjemput dirinya ke pesantren saat Tuan Alberto meninggal dunia. Sudah dipastikan Fazila tidak akan bicara dengan mereka semua sebagai aksi protes.


"Tapi kok ini jalan menuju garasi malah dihias bunga-bunga sih?" tanyanya sendiri karena yakin semua orang yang ada di sampingnya tidak akan pernah menjawab.


Di depan pintu rumah nampak beberapa anggota keluarga berdiri dengan baju formal menyambut kedatangan Fazila.


"Aneh, pokoknya rumah ini mendadak aneh," gerutu Fazila sambil mengecek satu persatu anggota keluarganya. Gadis itu bernafas lega tatkala melihat Tuan Alberto juga ada di samping mereka dengan senyum yang mengembang. Hanya saja pria itu duduk sendiri.

__ADS_1


"Tenyata Abang dan Oma tidak berbohong," ujar Fazila lalu berlari ke arah mereka.


"Nazel! Tante kangen!" teriaknya tanpa mempedulikan orang sekitar yang memperhatikan dirinya sedari tadi.


Fazila langsung menguyel-uyel pipi dan ketiak keponakanya itu dan balita itu langsung cekikikan karena geli.


"Sudah Chila, masuk yuk!" ajak Chexil lalu meraih tangan Fazila.


"Nggak Kak, Chila mau lihat-lihat keadaan di sekitar dulu. Penasaran ada acara apa di sini. Oma dan Bang Nathan kayak main rahasia-rahasiaan sedari tadi, nggak mau ngasih tahu," lapornya lalu menyalami semua orang.


Chexil menatap Nathan yang langsung mengangguk.


"Nah gadis yang ditunggu-tunggu sudah datang," ujar Ara sambil melangkah mendekat dengan ketiga anak-anaknya juga Lexi, sang suami.


"Hei triplet! Kalian ada di sini juga? Apakah ini benar-benar acara penting? Papa menang tender ya hingga syukurannya gede-gedean begini?" Gadis itu semakin bingung sebab Ara dan Lexi yang tinggal di Paris malah menyempatkan untuk datang.


"Ara menggaruk tengkuknya, bingung dengan keadaan dimana Fazila malah bertanya.


"Aku mau lihat ke belakang, kayaknya rame," ujar Fazila dan langsung tercengang tatkala melihat Nyai Fatimah dan Kyai Miftah sudah ada di sana.


"Selamat ya Chila," ujar Nyai Fatimah mengulurkan tangan padahal Fazila memang mau mengulurkan tangan untuk menyalaminya, tetapi kalah cepat.


"Terima kasih Nyai walaupun Chila tidak paham kata selamat itu untuk apa. Apa untuk kelulusan saya?" Sampai saat ini Fazila masih tidak bisa mencerna keadaan. Otaknya belum sampai untuk memikirkan hal yang janggal ini melihat Dilvara dan Kania malah berjalan-jalan di sekitar dengan baju pesta biasa padahal tadi Fazila menganggap mungkin saja ini acara pernikahan Tristan dengannya.


"Lama amat Chila. Kami yang menunggumu hampir ubanan tahu! Ayuk ikut kami!" protes Andin sambil menarik pergelangan tangan Fazila.


"Tunggu! Kalian berdua juga ada di sini?" Fazila semakin bingung.


"Makanya ikut kami biar tidak berlama-lama."


Fazila mengangguk dan Andin membawa sahabatnya ke taman di belakang rumah.


"Surprise!" seru keduanya sambil menunjuk dokter Davin yang duduk menunggu di meja ijab dengan setelah jasnya.


"Kalian–"


Fazila tidak bisa berkata-kata. Bola matanya langsung berkaca-kaca. Gadis itu terpaku di tempat.


"Jadi acara ini–"


"Ya makanya sekarang cepat masuk rumah, dandan yang cantik lalu kembali ke sini. Kasihan calon suamimu sudah lama menunggu!" ujar Anggita.


Tanpa berkata-kata, Qiana langsung menggandeng tangan Fazila masuk ke dalam rumah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2