DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 96. Mencari Perhatian


__ADS_3

Senja menjelma, rona merah di langit menyambut malam yang akan bertugas menggantikan siang. Lampu-lampu kota mulai menyala dengan terang. Sehabis Maghrib, semua orang sudah bersiap-siap untuk mengantarkan Fazila kembali ke pesantren.


"Nanti mampir dulu ke rumah nenek Salma ya Ma," ucap Fazila setelah selesai berdandan.


"Mau pamit dulu sama beliau?" tanya Chexil yang juga sudah siap dengan pakaian gamisnya. Pun dengan balita dalam gendongan yang sudah dipakaikan baju koko dan peci rajut putih.


"Iya Kak, sekalian dokter Davin biar ganti baju dulu atau mengambil barang apapun yang ingin ia bawa."


Chexil mengangguk dan Isyana berkata, "Iya, boleh saja."


"Kau ikut mobilku saja ya," ujar dokter Davin dan Fazila hanya mengangguk.


"Kau sama bang Nathan juga ya Xil," ucap dokter Davin kemudian pada Chexil karena tidak enak jika hanya satu mobil berdua dalam perjalanan panjang.


"Oke boleh," sahut Chexil menyanggupi.


"Bagaimana kalau kita berangkat duluan dan kita tunggu saja di rumah nenek Salma? Biar tidak kelamaan kita ke sananya," usul Chexil.


Dokter Davin memberi kode pada Fazila seolah ingin menanyakan bagaimana nyamannya.


"Kalau boleh sama Mama itu bagus Kak. Biar dokter Davin bisa bersiap-siap sambil nunggu yang lain," ujar Fazila.


"Boleh saja, kau dan Nathan temani mereka ya Xil!" titah Isyana pada sang menantu.


"Oke Ma." Nathan yang menjawab.


"Yasudah kalian boleh pergi duluan dan tunggu kami di rumah nenek Salma. Kita mungkin masih lama karena Opa katanya mau ikut juga dan saat ini masih mulai bersiap-siap."


"Baiklah kalau begitu kita pergi sekarang!" ajak Nathan lalu melangkah keluar rumah.


"Bang kau yang menyetir saja ya!" pinta Fazila pada Nathan sebab melihat wajah dokter Davin yang seolah kelelahan.


"Boleh, mana kuncinya?" tanya Nathan seraya mendekat ke arah dokter Davin. Pria itu merogoh saku celana kemudian memberikan kontrak mobil ke tangan Nathan.


"Kau duduk di depan saja Xil, temani Bang Nathan," usul Dokter Davin karena sedikit canggung pada Nathan apabila duduk bersama Chexil.


"Tapi Nazel ....?" Chexil merasa ragu karena melihat putranya berada di pangkuan Fazila yang kini sudah duduk anteng di kursi belakang.


"Biar aku bantu pegang nanti," ujar dokter Davin langsung masuk ke kursi belakang.


"Hmm, bilang aja mau berduaan saja," sarkas Chexil lalu duduk di samping Nathan.


"Ini bukan berduaan Kak tapi bertiga, emang kakak pikir Nazel itu setan apa yang suka berada di tengah laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim."


"Chila! Ngeselin banget sih kamu, masa anakku dibilang makhluk tak kasat mata," protes Chexil lalu cemberut.


"Hehe sorry Kak abisnya Kak Chexil nggak nganggap Nazelio ada diantara kita sih tadi." Fazila terkekeh.


"Sudah siap belum, kalau sudah aku jalankan nih mobil?"


"Sudah Bang," sahut dokter Davin mewakili semua orang yang ada di dalam mobil.


"Hei kau lucu sekali," ujar dokter Davin sambil mencubit pipi balita dalam pangkuan Fazila.


"Huaaa." Sontak balita itu langsung menangis mendapatkan perlakuan seperti itu. Dokter Davin langsung kaget karena sebenarnya cubitannya halus dan dia berpikir anak kecil itu tidak akan merespon dengan tangisan.


"Chila!" protes Nathan sambil melirik putranya lewat kaca spion.


"Bukan aku Bang yang buat dia nangis," ujar Fazila.


"Lah kalau memang kamu nggak ngapain dia, kenapa bisa nangis tuh dedeknya?"


"Ya, mana Chila tahu, Nazel aja yang cengeng. Nggak kayak Mommy sama daddy-nya," ujar Fazila santai lalu berusaha mendiamkan balita yang masih saja menangis itu.


Chexil terlihat menggeleng-gelengkan kepala karena wanita itu tahu apa yang sebenarnya membuat putranya menangis dan Fazila malah memilih berbohong karena tak ingin dokter Davin disalahkan oleh Nathan ataupun dirinya. Namun, wanita itu tidak ingin mengatakan apa-apa karena sebenarnya apa yang dikatakan Fazila itu ada benarnya bahwa Nazel cengeng dan akan menangis begitu saja ketika disentuh oleh orang asing.


"Sini sama Mommy aja," ujar Chexil sambil membentangkan tangannya ke bagian belakang mobil karena melihat Fazila dan dokter Davin tidak berhasil juga membujuk putra agar diam."


"Hmm, Baiklah. Karena kamu tidak ingin sama Tante aku kembalikan deh sama Mommy-mu lagi," ujar Fazila sambil memberikan Nazel pada Chexil dan dirinya kemudian menyandarkan bahunya lalu memandang ke samping mobil dimana pohon-pohon dan tiang-tiang listrik di pinggir jalan seolah bergerak menjauhi mobil.


Dokter Davin sendiri yang duduk disampingnya terlihat serius berbalas pesan dengan orang lain.


"Chila!" panggilnya setelah mobil sudah melewati beberapa ratus meter jalan raya.


Sontak Fazila langsung menoleh.


"Ada apa hem?" tanyanya dengan menatap lekat mata dokter Davin.


"Nih!" Dokter Davin langsung memberikan hp-nya ke tangan Fazila.

__ADS_1


Fazila mengerutkan kening, bingung apa yang ingin disampaikan dokter Davin. Bukannya menjawab pertanyaan, pria itu malah bersikap aneh dengan memberikan ponsel miliknya.


"Maksudnya?"


"Ada yang kita lupakan. Bacalah chat di sana!" perintah dokter Davin dengan mata yang intens menatap benda pipih yang kini telah beralih ke tangan Fazila.


Segera gadis itu memeriksanya.


"Oh iya aku ada janji yang belum ditepati," ucapnya lalu menepikan keningnya sendiri. Bisa dianggap ingkar janji itu anak kalau sebelum kembali ke pesantren belum mewujudkan sebab dia tidak tahu lagi kapan akan pulang dan kembali bertemu keduanya.


"Kalian ada apa sih? Kok kayak menyembunyikan sesuatu sih?" tanya Chexil sambil mengawasi pergerakan keduanya lewat kaca spion mobil.


"Nggak ada Kak hanya teman saja, saya berjanji sebelumnya akan menghubungi dia sebelum kembali ke pondok dan sekarang malah kelupaan memberitahunya."


"Oh." Chexil hanya manggut-manggut saja.


"Eh tapi nomornya? Aku nggak tahu harus menghubungi nomor telepon berapa. Kak Chexil punya nomor Bang Dimas nggak?" tanyanya kemudian.


"Lah napa jadi tanya nomor Dimas," ujar Chexil tak habis pikir.


"Hmm, karena hanya Bang Dimas yang punya nomor dia kar tetanggaan. Dulu Chila juga punya nomornya, tapi pas diambil para preman tuh hape Uda nggak ada nyimpen kontak siapapun," ujar Fazila yang tak mungkin mengatakan tentang permintaan suster Dinda pada siapapun.


"Kakak aku nggak ada nomor Dimas," sahut Chexil.


"Yaudah deh kalau begitu minta nomor Bang Tris aja. Ada kan nomornya?"


"Ada kalau nomor dia, nih ponsel Kakak, cari aja sendiri!" seru Chexil dengan susah payah menyodorkan ponsel miliknya akibat baby Nazel yang kini dengan mudahnya telah terlelap dalam gendongan mommy-nya.


"Kepanjangan kalau masih nelpon dia, nih hape Abang saja sudah lengkap sudah dengan nomor Dimas," ucap Nathan sambil menoleh dan menyodorkan ponsel miliknya ke belakang.


Setelah ponselnya sudah berpindah ke tangan Fazila dia beralih mengambil ponsel Chexil dan meletakkannya.


"Lebih baik kau taruh aja Nazel di sofa biar bisa tidur lebih nyaman dan kau pun lebih enak duduknya!" saran Nathan.


Chexil mengangguk lalu melakukan apa yang diperintahkan oleh sang suami. Sementara di belakang Fazila nampak menghubungi Dimas.


"Jangan lupa ya Bang sekarang juga ke rumah, kami udah berangkat dan Abang bisa ikut Bang Tris yang masih menunggu kesiapan Opa," jelas Fazila.


"Lah!" Chexil hanya bisa menggaruk tengkuknya mendengar permintaan Fazila pada pria itu. Wanita itu hanya bertanya-tanya dalam hati kenapa Fazila malah sangat menginginkan Dimas ikut mengantar dirinya. Apa pentingnya pria itu?


"Buruan, awas kalau sampai ketinggalan nanti nyesel seumur hidup!" ancam Fazila.


Nathan yang duduk di depan hanya bisa menggeleng mendengar kalimat yang dilontarkan adiknya pada Dimas. Entah ada rencana apa keduanya, pria itu tidak mau ikut campur.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah nenek Salma. Fazila segera turun dan berlari ke dalam rumah.


"Nenek!" seru Fazila dengan berurai air mata masuk ke dalam pelukan nenek Salma. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba berubah melow.


"Sudah mau kembali? Kenapa malah bersedih?" tanya nenek Salma sambil mengusap punggung gadis itu.


"Chila pasti bakal kangen sama nenek lagi. Kita baru aja bertemu sudah akan berpisah lagi."


"Jangan khawatir, nenek akan sering-sering nengok kamu di sana. Nenek sekarang juga sudah memutuskan untuk ikut dan tinggal sama Davin," ucap nenek Salma, matanya melirik ke arah koper yang sudah siap di samping kursi.


"Beneran Nek? " tanya dokter Davin begitu antusias. Pasalnya beberapa kali didesak, neneknya itu tidak mau ikut dan sekarang tanpa ia ajak pun nenek Salma sudah memutuskan sendiri.


"Iya Dav, nenek juga sudah menyiapkan segala keperluan kamu yang akan dibawa ke sana biar kamu nggak perlu repot-repot lagi. Eh Nak Chexil dan suami silahkan duduk dulu!"


"Makasih Nek." Keduanya pun duduk. Baby Nazel untuk sementara mereka tinggal di mobil agar tidak merepotkan karena posisi balita itu masih saja tertidur pulas.


"Wah terima kasih Nek," ucap dokter Davin yang tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi.


"Kalau begitu Davin ganti bajumu dulu," ujar pria itu kemudian berlalu pergi menuju kamarnya sendiri sedangkan nenek Salma langsung menemui pembantunya untuk memerintah membuat minuman untuk tamunya.


*****


Satu jam kemudian Tristan dan semua keluarga lainnya tiba di rumah nenek Salma, tak terkecuali Dimas yang merupakan teman akrab Tristan berangkat dengan satu mobil dengan mereka.


Setelah berbincang-bincang sebentar dan menikmati hidangan yang disediakan mereka langsung bersiap-siap untuk berangkat ke pondok pesantren.


"Bang mending kamu yang nyetir mobil kami deh, kaku rasanya aku bareng-bareng para orang tua nggak bisa bercanda di sepanjang perjalanan."


"Kau ini," protes Nathan walaupun akhirnya mengiyakan.


"Biar papa yang nyetir aja, terserah kamu mau ikut mobil siapa," ujar Zidane.


"Nebeng adik ipar boleh nggak?" tanya Tristan sambil mengedipkan mata pada Fazila. Menggoda sang adik.


"Ogah ganggu kami aja nanti," ujar Tristan.

__ADS_1


"Waduh nyesel aku nggak bawa mobil sendiri," keluhnya.


"Boleh Bang, kamu dan Dimas serta suster Dinda ikut kami terus bang Nathan sama Chexil dan nenek Salma bisa ikut Damian. Bagaimana?"


"Siap Dav," sahut Damian antusias.


"Oke Kalau begitu kita berangkat sekarang. Jangan lupa berdoa masing-masing supaya tidak ada halangan dan selamat sampai tujuan."


"Amiin," ucap semua orang lalu masing-masing masuk ke dalam mobil yang sudah ditentukan.


Suana mobil yang dikendarai dokter Davin terlihat sengang karena tak ada satupun yang membuka suara. Mereka yang berada dalam mobil itu tampak menikmati suasana jalanan yang sudah tidak macet seperti siang hari. Dokter Davin dan Fazila hanya saling lirik sambil tersenyum. Wajah ceria terlihat di wajah mereka mesti sebentar lagi akan berpisah.


"Baik-baik di pesantren nanti. Jangan lupa selalu jaga kesehatan dan berpikir positif," ujar dokter Davin selalu mewanti-wanti agar gadisnya itu tidak melupakan hal penting tersebut. Pria itu tidak ingin mendengar kabar Fazila sakit seperti kemarin-kemarin lagi.


"Iya Dok," sahut Fazila.


"Bisa nggak sih jangan panggil dokter lagi, aneh banget aku dengernya," keluh dokter Davin lalu tertawa renyah.


"Terus mangga apa dong kalau buka Dok gitu? Manggil sayang boleh?" goda Fazila sambil mengedipkan matanya.


"Nakal ya kamu," ucap dokter Davin sambil mengusap gemas kepala Fazila hingga hijab perempuan itu jadi berantakan.


"Ah Dokter, susah-susah dandan cantik malah di acak-acak begini," protes Fazila kemudian cemberut.


"Tenang saja kau masih cantik kok meskipun penampilannya begitu," ujar dokter Davin.


"Ekhem." Tristan pura-pura terbatuk hingga sepasang manusia yang duduk di kursi depan langsung diam.


Hening, suasana di dalam mimpi kembali hening hingga suara mesin mobil terdengar jelas di telinga.


Dimas melempar kepalan kertas ke arah suster Dinda, tetapi gadis itu masih fokus menatap jalanan dengan lamunan panjang seperti panjangnya jalan yang ia telusuri sekarang hingga tak menyadari ada sesuatu yang jatuh di atas pangkuannya.


"Sssst!" bisik Dimas. Namun bukannya suster Dinda yang mendengar, tetapi Fazila yang duduk di depannya.


"Kau kenapa sih Bang? Kayak daun yang diterpa angin saja berbunyi kayak hembusan gitu," ujar Fazila yang terganggu dengan suara Dimas yang tidak jelas.


"Suit!" Kini Dimas beralih bersiul. Suster Dinda menoleh dan Dimas terlihat memainkan mata. Pipi suster Dinda langsung bersemu merah karena digoda oleh Dimas hingga ia langsung menunduk.


"Suit!" Dimas bersiul lagi membuat Tristan kesal karena Dimas membuat telinganya terasa berdengung. Bagaimana tidak Dimas bersiul tepat di samping telinga Tristan.


"Jadi burung aja sekalian sana biar bebas bersiul di udara!" kesal Tristan tidak habis pikir dengan tingkah Dimas yang tiba-tiba aneh.


Dokter Davin terkekeh lalu berbisik di telinga Fazila.


"Bang ngomong aja napa langsung. Main siul-siul doang mau ngomong sama manusia. Emang ada yang ngerti bahasa siulanmu itu? Kupikir burung beo lebih pinter ngomong deh ketimbang kamu."


"Abang grogi Chila tepos ini tahu," ucapnya sedikit gugup.


"Tepos, nervous kali," protes Fazila.


"Ya gitu deh yang penting ada o sama s nya," sahutnya asal-asalan membuat Fazila menggeleng kesal.


"Terserah Abang deh mau ngomong apa!"


Tak ada yang bicara lagi hingga,


"Ekhem-ekhem!" Dimas pura-pura terbatuk untuk menarik perhatian suster Dinda yang masih saja menunduk.


"Ekhem!" Suster Dinda malah ikut terbatuk.


"Astaga mereka berdua kenapa malah berbalas batuk sih?" heran dokter Davin.


"Kamu kenapa sih dari tadi, aneh banget?" tanya Tristan langsung.


"Tris bisa ikut aku setelah mengantar Chila, ya?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Tristan, Dimas malah mengajukan pertanyaan.


"Kemana? Ke dokter?" tanya Tristan karena menganggap Dimas tidak enak badan. Buktinya tuh anak batuk-batuk tadi.


"Bukan."


"Terus kemana?" tanya pria itu bingung.


"Ke dukun."


"Hah, ngapain?" Tristan terlihat kaget.


"Buat melet si suster Dinda biar tertarik sama muka gue, masa dari tadi gue dicuekin terus?" protesnya.


Sontak Tristan dan Fazila menganga karena saking herannya. Lalu keduanya kompak tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2