DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 94. Malu


__ADS_3

Selesai membereskan barang-barang yang akan ia bawa, Fazila langsung membersihkan diri dan tidur siang sembari menunggu waktu dhuhur.


"Bik nanti Chila bangunin ya kalau sudah masuk waktu dhuhur," pesanannya pada Bik Ina.


"Oke Non, siap. Oh ya tidak mau makan siang dulu sebelum tidur?"


"Nggak Bik, nggak baik makan langsung tidur dan Chila kali ini benar-benar lelah dan mengantuk. Nanti bangunin aja sekitar jam 2-an ya Bik biar dhuhur sekalian nunggu waktu ashar!" ralatnya. Gadis itu terlihat beberapa kali menguap.


"Siap Non. Ada yang lain?"


"Emm ... oh ya, tolong dokter Davin nanti dikasih makan siang yah! Katakan mohon maaf Chila ngga bisa nemenin makan."


"Oke, siap Non.


"Yasudah kalau begitu Bibi boleh pergi dan tolong tutup pintunya!"


"Baik Non, kalau begitu Bibi permisi. Kalau ada apa-apa bisa panggil Bibi atau langsung hubungi telepon saja!"


Fazila mengangguk lalu segera merebahkan tubuhnya yang hampir terhuyung gara-gara tidak tidur semalaman. Saat menyentuh kasur gadis itu langsung terlelap karena memang dari tadi sudah mengantuk berat. Kantuk yang semalam masih bisa dia tahan tidak bisa dia tahan lagi kali ini.


Bik Ina menggelengkan kepala melihat Fazila langsung tepar dan mengorok, wanita tua itu lalu melangkah keluar kamar dan menutup pintunya.


Di kamar lain dokter Davin pun tidak jauh berbeda. Pria itu sudah tidur nyenyak sedari tadi, bahkan pria itu sudah jauh melanglang buana di alam mimpi.


"Jam menunjukkan pukul 12 siang lewat 15 menit. Tristan, Chexil, Nathan dan Laras sudah duduk di meja makan.


"Mana Chila?" tanya Chexil saat wanita itu mengambil nasi dan meletakkan di piring sang suami.


"Entahlah, ngobrol sama dokter Davin kali," ucap Tristan cuek-cuek saja bahkan pria itu terlihat sudah menyendok makannya.


"Bik panggil mereka berdua, sekarang waktunya makan siang!" perintah Nathan. Bik Ina berjalan cepat ke arah meja makan.


"Maaf Den, Non Chila tadi berpesan minta dibangunkan jam 2 siang dan sebelum itu dia meminta untuk tidak menganggu tidurnya. Dari keadaannya yang langsung tepar tadi bibi bisa tebak semalam dia tidak tidur Den," jelas Bik Ina menerka-nerka.


"Yasudah kalau begitu, bangunkan dokter Davin saja! Tidak enak kalau tidak mengajaknya makan siang, nanti disangka mengabaikan keberadaannya di sini," timpal Tristan.


"Sudah Den, tadi beliau baru bangun tidur dan katanya akan menunggu Non Chila saja untuk makan siangnya."


"Oh begitu ya Bik, yasudah deh kalau begitu Bibi bisa pergi," lanjut Tristan.


"Iya Den, permisi."


"Iya, Bik."


"Oma juga permisi ya, mau bawakan makanan ini untuk opa," ujar Laras sambil membawa nampan berisi makanan di tangan.


"Iya Oma. Oma jangan lupa makan juga ya! Nanti hanya menjaga makan opa dan Oma sendiri malah kelupaan."


"Nggak Tris, setelah selesai menyuapi opa pasti Oma langsung makan."


Tristan, Chexil dan Nathan mengangguk bersamaan.


"Kompak sekali sih kalian," kelakar Laras kemudian berlalu pergi.


Mereka hanya makan siang bertiga di ruang makan.


"Tumben di Nazel nggak rewel," ujar Tristan sambil terus mengunyah makanannya.


Chexil menghentikan menyendok makanan dan merespon perkataan Tristan.


"Mungkin badannya sudah enakan sehabis diurut pada tukang pijet bayi tadi."


"Atau mungkin lelah tadi menangis terus saat dipijat. Sudah biasa tuh anak habis nangis-nangis kencang lalu tertidur pulas," lanjut Nathan.


"Oh." Tristan hanya melontarkan satu kata lalu fokus menyantap makanannya kembali. Menikmati sendok demi sendok hidangan makan siang.


"Kamu nggak ada job, Tris?" tanya Nathan lagi disela-sela makan siang mereka.


"Nggak, emang sengaja kosongin jadwal beberapa hari ini. Ingin Istirahat total barang seminggu dua minggu, atau kalau bisa sih satu bulan asal tidak ada godaan tawaran yang menggiurkan."


"Kau ada-ada saja," ujar Chexil sambil mengunyah makanannya.


Setelahnya, suasana di ruang makan hening, tidak ada satupun yang bicara. Hanya denting suara piring yang terdengar karena ketiganya lebih fokus makan.


Jam 2 siang Fazila bangun sebelum dibangunkan oleh Bik Ina atau yang lainnya. Dentang jam di ruang tengah lantai bawah seperti alarm yang membuatnya langsung terbangun.


"Pas, sudah jam 2 siang," gumamnya lalu menyambar handuk dan membawanya ke kamar mandi. Selesai mandi ia melaksanakan shalat dhuhur dan mengaji sebentar agar tidak bosan menunggu waktu ashar tiba.


Setelah waktu yang ditunggu tiba, segera ia melaksanakan shalat ashar kemudian memoles wajahnya dengan make up tipis-tipis. Ia mengambil kerudung bergo lalu mengenakannya dengan kilat. Biasanya gadis itu tidak akan memakai kerudung dan membiarkan rambutnya yang lurus terurai begitu saja jika berada di rumah. Berhubung karena ada dokter Davin di sana, ia harus memakainya.


Gadis itu kemudian turun ke lantai bawah dengan wajah yang sudah fresh dan kepala yang sudah terbalut hijab.


"Non dokter Davin belum makan siang," lapor Bik Ina saat gadis itu menarik kursi makan dan hendak duduk.

__ADS_1


"Bibik!" protesnya.


"Bibi sudah melakukan perintah Non Chia tadi, tetapi kata beliau mau makan siang bersama Non Chila."


"Hmm, baiklah. Kalau begitu biar Chila yang temui dia." Gadis itu tidak jadi duduk dan pergi dari ruang makan menuju kamar tamu yang dihuni oleh dokter Davin.


"Waktunya makan siang!" seru Fazila saat melihat pria itu berdiri di pintu.


"Eh dah lewat ya," ucap Fazila lalu cekikikan sendiri kala menyadari ini sudah hampir sore.


"Jangan suka makan telat nanti penyakit asam lambung kambuh," nasehat dokter Davin.


"Tenang tidak akan kok, kan cuma ge–"


"Gejala? Akan menjadi penyakit yang parah jika kamu tidak menjaga pola makan," ujar dokter Davin lagi.


"Hufft! Ia deh aku salah. Kamu sendiri mengapa malah ikut-ikutan?" protes Fazila sambil melangkah menuju ruang makan mendahului langkah dokter Davin.


"Sengaja nunggu kamu, biar ada temannya."


Fazila hanya mengangguk dan terus melangkah. Sampai di depan meja seperti biasa gadis itu menarik kursi untuk dokter Davin kemudian duduk di tempatnya semula.


"Mau aku ambilkan?" Fazila menawarkan diri.


"Boleh," ujar dokter Davin sambil senyum-senyum sendiri.


"Ada yang lucu?" tanya Fazila sambil mengambilkan nasi dan lauk pauk tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Nggak ada. Senang aja bisa berduaan sama kamu," ujar dokter Davin dan Fazila hanya mencebik lalu tertawa.


"Eh sudah makan yuk!" ujar dokter Davin seraya mengambil sendok.


Fazila mengangguk.


"Pimpin doa!" pintanya dan dokter Davin langsung melakukannya. Mereka makan tanpa ada yang bicara.


"Oh ya Dok, aku mau kembali ke pesantren malam ini, besok katanya ada ulangan. Kamu juga mau balik bareng?" tanya Fazila saat mereka berdua menyudahi makan mereka.


"Iya. Sekalian mau menemui Kyai Miftah di sana," ujar dokter Davin.


"Mau ngapain?" selidik Fazila.


"Nggak mau ngapain hanya ingin bertemu beliau dan mengobrol sebentar sekaligus bawa oleh-oleh untuk beliau. Tahu nggak Chila, dulu aku pernah diajak Danisa ke sana sebelum lulus kuliah. Cari barokah katanya teman-teman, dan alhamdulillah aku lulus dan langsung ada yang ngajak magang."


"Oh begitu ya, kapan?"


"Oh." Fazila hanya manggut-manggut saja.


"Aku pulang dulu ya, mau siap-siap sekaligus pamit pada nenek Salma."


"Tunggu Mama dan papa kenapa?Lagian sebelum berangkat aku juga mau mampir ke rumahmu dulu untuk pamit pada nenek Salma."


"Ah baiklah kalau begitu, kita bareng aja kalau begitu."


Fazila mengangguk. Setelahnya mengajak dokter Davin jalan-jalan di sekitar rumah.


"Ke taman belakang yuk di sana suasananya adem, temani aku belajar di sana biar ujian besok dapat 100."


"Oke, siap."


"Bentar ya aku ambil buku dulu di kamar," ucap Fazila seraya berlari menaiki tangga.


"Aku tunggu di luar!" seru dokter Davin.


"Oke."


"Hati-hati Chila nanti terjatuh!" teriak dokter Davin melihat Fazila berlari begitu kencang.


"Auw." Fazila meringis kakinya tergelincir di anak tangga.


"Tuh kan aku bilang apa, lagian kamu ngejar apa sih?" protes dokter Davin.


"Nggak tahu kenapa aku tiba-tiba berlari tanpa sadar," ujarnya sambil duduk di anak tangga dengan ekspresi meringis.


"Aneh kamu," ujar dokter Davin sambil menyentil dahi gadis itu.


"Dokter ah, udah kaki sakit ditambahi di dahi lagi bukannya bantuin," kesal Fazila dengan ekspresi memberengut.


"Sini aku pijitin!" ucap dokter Davin sambil membantu meluruskan kaki Fazila dan gadis itu hanya menurut dengan ekspresi cemas. Takut-takut tidak bisa berjalan normal lagi karena rasanya terlalu sakit.


"Sorry ya," ucap dokter Davin sebelum menyingkap rok panjang bagian bawah Fazila hingga betisnya yang mulus langsung terekspos.


"Jangan tinggi-tinggi nyingkapnya! Nanti otakmu mesum," ujar Fazila dan dokter Davin terlihat

__ADS_1


menggeleng-gelengkan kepala.


"Yang mesum itu otak aku atau otak kamu?"


Dokter Davin langsung memijit kaki Fazila.


"Ada apa Non?" tanya Bik Ina yang langsung mendekat melihat anak majikan menahan ringis.


"Bik, boleh minta minyak untuk dibalurkan ke kaki Chila. Dia baru saja tergelincir dan sepertinya salah urat ini."


"Boleh Den, kalau begitu saya ambilkan dulu."


"Iya Bik."


Bik Ina pergi dengan tergopoh-gopoh dan tidak menunggu lama dia kembali ke sisi mereka dengan minyak urut di tangan.


"Terima kasih Bik," ucap dokter Davin setelah menerima sebotol minyak urut di tangan. Dengan cekatan dia membalurkan dan memijitnya secara perlahan.


"Sakit?" tanya dokter Davin saat melihat Fazila semakin meringis.


"Iya, auw!" Gadis itu mengaduh karena dokter Davin langsung menarik kakinya.


"Coba berjalan!" titahnya dengan wajah yang begitu serius.


"Ba–baiklah," sahut Fazila lalu mencoba berdiri dan berjalan beberapa langkah.


"Sudah tidak nyaman?" tanya dokter Davin untuk memastikan Fazila sudah tidak merasakan sakit.


"Iya lumayan hanya saja sedikit nyeri," sahut Fazila masih menahan sakit.


"Duduk lagi!" perintah dokter Davin dan Fazila langsung duduk dengan posisi masih berada di anak tangga.


"Kalau masih sakit biar saya panggilkan dokter Non," ujar Bik Ina memberikan pendapat.


"Tidak usah Bik ngapain susah-susah panggil dokter orang di sini ada dokter juga," ujar Fazila dengan mata terpejam menikmati pijatan dokter Davin di kaki dan betisnya.


"Beda spesialis Non," ujar Bik Ina dan Fazila tidak menjawab.


"Bagaimana sudah enakan sekarang?" tanya dokter Davin setelah menghentikan pijatannya.


"Pijatan dokter Davin enak banget," ucap Fazila sambil cengengesan.


"Coba berjalan lagi!" perintah dokter Davin mengabaikan gurauan Fazila.


"Iya coba lagi Non, kalau masih sakit lebih baik ke dokter ortopedi saja," ujar Bik Ina.


Fazila langsung berdiri dan berjalan beberapa langkah.


"Tidak usah Bik, sudah sembuh ini," tolak Fazila dan ia kembali melangkah ke atas, menuju kamarnya sedangkan Bik Ina langsung pergi setelah memastikan anak majikannya baik-baik saja.


Dokter Davin mengikuti gadis itu di belakangnya untuk mengawasi takut-takut kaki Fazila sakit lagi.


"Dokter Davin kenapa nggak merangkap jadi tukang pijat aja?" goda Fazila dan dokter Davin yang berjalan di belakangnya terlihat menahan tawa.


"Pijatan dokter Davin enak dan menyembuhkan," ujar gadis itu lagi.


"Nanti deh aku buka sendiri tempat pijat, tapi khusus untuk gadis-gadis dan janda yang masih muda," ujar dokter Davin membuat Fazila langsung menoleh dan membelalakkan mata sedangkan dokter Davin pura-pura berwajah serius padahal susah payah menahan tawanya agar tidak meledak melihat ekspresi Fazila saat ini.


"Kenapa? Bukankah bagus aku menerima idemu?"


"Kan aku cuma bercanda," ujar Fazila dengan wajah piasnya.


"Aku juga bercanda Chila, kenapa wajahmu pucat begitu?" Kali ini dokter Davin tidak lagi bisa menahan tawanya.


"Ish aku diketawain, emang aku ngelawak apa," protesnya lalu memalingkan muka.


"Aku mau jadi tukang pijat pribadimu aja nanti," ujar dokter Davin lalu mendekatkan mulutnya di telinga Fazila.


"Pijat plus-plus. Nanti seluruh tubuhmu akan ku buat sehat dan enakan," bisiknya.


"Dasar mesum, jangan meracuni otakku yang masih polos ini!" seru Fazila dengan suara yang tidak bisa terkontrol diujung kata-katanya.


"Chila jangan keras-keras nanti yang mendengar jadi salah paham," protes dokter Davin.


"Kalau kedengaran Mama kamu bagaimana?" lanjut dokter Davin dengan ekspresi khawatir.


"Biarin aja, nanti kalau salah paham aku ngomong gini sekalian, Mama aku pengen kawin!" serunya membuat dokter Davin langsung menepuk jidatnya sendiri karena menyadari ada yang datang di belakang dirinya dari bayangan yang timbul.


"Ekhem! Sekolah dulu yang benar baru mikirin tentang pernikahan! Kau pikir nikah itu hanya tentang enak-enakan saja apa? Banyak beban yang harus dipikul."


Dokter Davin dan Fazila menoleh bersamaan.


"Tante!" seru dokter Davin dengan ekspresi canggung.

__ADS_1


"Mama!" seru Fazila dengan ekspresi wajah campur aduk, malu, takut, dan khawatir. Jantung berdebar kencang dan Wajahnya kembali pucat seperti maling yang tertangkap basah padahal dia dan dokter Davin tidak melakukan apapun.


Bersambung.


__ADS_2