DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 129.


__ADS_3

”Ayo ngaku! Beneran, kan?" desak Anggita.


"Ah, nggak, siapa bilang," bantah Andin.


"Terus kenapa tahu kalau Chila sama dokter Davin lagi unboxing," ujar Anggita tak percaya dengan Andin.


"Itu tadi ... kebetulan di suruh Oma Laras untuk membangunkan Chila karena takut ketinggalan shalat subuh, sebab katanya, dokter Davin tidak mungkin membangunkan Chila karena semalam bergadang sama yang lain," jelas Andin.


"Alaah, kita nggak percaya ya, kan? Itu pasti hanya alasan Andin semata. Penasaran 'kan dengan apa yang mereka lakukan, itu makanya sampai nekat ngintip," ujar Dimas membuat Andin langsung terbelalak.


"Bang Dimas ngaco aja, mana mungkin aku melakukan hal itu? Kalau tidak percaya silahkan tanya sama Oma Laras langsung. Iya, kan, Oma?"


"Perasaan aku nyuruh Qiana deh tadi bukan kamu," sahut Laras membuat gadis itu semakin memerah wajahnya karena menahan malu.


"Qia!" lirihnya seolah meminta tolong sang sahabat.


"Iya, aku mewakilkan pada Andin karena tidak enak jika harus membangunkan Chila saat dia tidur sama suami."


Andin menghembuskan nafas lega karena Qiana menyelamatkan nama baiknya, kalau tidak, pasti semua orang akan menuduhnya sebagai tukang ngintip.


"Dan saat sampai di depan pintu, aku malah mendengar Chila mengajak dokter Davin untuk unboxing, jadi aku langsung mengurungkan diri untuk membangunkan Chila karena takut mengganggu aktivitas mereka berdua," terang Andin kemudian.


Mendengar penjelasan Andin, Fazila dan dokter Davin langsung tertawa lepas. Semua mata yang tadinya memandang ke arah Andin, kini beralih kepada kedua pasangan suami istri baru tersebut.


"Itu kami hanya unboxing kado Andin! Kamu pikir kami sedang unboxing apaan," ujar Fazila lalu melanjutkan tawanya.


"Kalau nggak percaya, kamu bisa cek sendiri aja ke kamar kami," tambah dokter Davin mendukung penjelasan sang istri dan Fazila terlihat mengangguk-angguk.


"Sepertinya Andin harus kembali ke pesantren aja kali ya untuk cuci otak atau kalau tidak, jauh-jauh deh dari Bang Dimas biar nggak ketularan mesum kayak suster Dinda," sindir Fazila membuat suster Dinda memalingkan muka sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Terima kasih ya, atas kado kalian semua. Semuanya bagus-bagus. Yang nggak bagus hanya milik Bang Dimas nggak ada manfaatnya sama sekali," ledek Fazila. Namun yang diledek masih terlihat begitu santai.


"Kali ini mungkin tidak, tapi suatu saat nanti pasti dibutuhkan," ujarnya sambil bersedekap dada.


Fazila hanya mencebik.

__ADS_1


"Lanjutkan obralan kalian! Kami para orang tua pamit duluan," ujar Laras seraya bangkit dari duduk diikuti anak dan menantunya. Dia tidak ingin mereka merasakan kecanggungan jika bercanda di depan para orang tua.


"Iya, Oma."


"Ayo Nek! Nenek Salma beristirahat saja di kamar. Nenek pasti capek, kan beberapa hari ikut membantu persiapan kami selain juga sibuk menyiapkan hantaran untuk putri kami," ujar Isyana sambil menggandeng tangan wanita tua itu yang hanya memberikan persetujuan lewat anggukan saja.


Selepas para orang tua pergi, mereka semua kembali bergurau.


"Kado Andin dan Anggita juga nggak asyik, gara-gara kalian aku dipermalukan oleh Nazel," ucap Fazila lalu berdiri dan berjalan ke arah Chexil.


"Kamu ngeselin banget sih," ucapnya sambil mencubit gemes pipi Nazel.


"Padahal Tante hanya berebut kado laknat dari mereka, jadi fitnah deh," lanjut Fazila sambil menuding ke arah Andin dan Qiana.


"Sorry ya Chila, aku nggak bawa kado sendiri habisnya tidak ada yang ngomong sih sama aku kalau kemarin hari pernikahan kalian," ucap Qiana merasa tidak enak pada Fazila karena hanya datang dengan tangan hampa.


"Tak apa, Qia. Kamu sudah hadir saja aku sangat senang," ucap Fazila sambil tersenyum ke arah Qiana.


"Persahabatan kita lebih berharga ketimbang hanya sebuah kado," lanjut Fazila dan Qiana hanya mengangguk lirih.


"Iya, padahal aku pengen beli kado seperti yang lain. Ya udah deh, kadonya nyusul aja. Nanti aku kasih kalau kamu ke pesantren. Jangan lupa ya kalau ikut suamimu bertugas atau ke rumah yang di sana jenguk aku di kamar kita."


"Insyaallah," sahut Fazila dengan mata yang tiba-tiba mengembun. Dia membayangkan hari-hari ke depannya tanpa para sahabat yang akan terasa sepi. Fazila pasti akan sangat merindukan momen-momen bersama para sahabatnya di penjara suci tersebut.


"Aku pengen suatu saat kita ngumpul lagi di sana barang sehari aja," ucap Fazila penuh harap. Padahal mereka belum sempat terpisah tapi rasanya sudah sangat sesak membayangkan perpisahan.


"Kalau kami sih bisa-bisa aja, pasti diizinkan oleh orang tua kalau pamit ingin menginap di pesantren. Masalahnya kamu sendiri bisa tidak?" tanya Anggita sambil melirik ke arah dokter Davin dengan perasaan tidak nyaman.


Fazila pun menatap wajah dokter Davin dengan tatapan memelas lalu mengedip-ngedipkan matanya.


"Nggak usah sampai begitu, aku pasti izinin kok," ujar dokter Davin membuat wajah Fazila langsung ceria, pun dengan ketiga sahabatnya.


"Eh, tapi kalian di sini masih lama, kan?" Fazila berharap teman-teman tinggal beberapa hari lagi di rumahnya.


"Besok kami kembali, kami kan nebeng sama dokter Danisa," jelas Anggita dan yang disebut namanya hanya mangut mangut saja.

__ADS_1


"Kenapa tidak tinggal beberapa hari di sini dulu Dokter?"


"Tidak bisa Chila, lusa kami sudah harus masuk kerja. Jadi, kami hanya punya waktu dua hari di sini. Beda sama suami kamu yang sudah ambil cuti beberapa hari ke depan. Oh ya, panggil Mbak aja ya, biar terasa lebih akrab, jangan panggil dokter! Kayak canggung aja gitu."


"Iya," sahut Fazila disertai anggukan.


"Kalian juga." Kini Danisa beralih berkata pada ketiga teman Fazila.


"Siap, Mbak," jawab ketiganya serentak.


"Sama aku, panggil Mbak juga, jangan suster! Aku berasa jadi pengasuh kalian tahu," tambah suster Dinda lalu cekikikan.


"Oke Mbak Dinda," jawab Fazila dan teman-temannya.


"Bagaimana sudah siap?" tanya Danisa pada Andin Qiana dan juga Anggita.


"Siap dong Mbak," sahut ketiganya serempak.


"Siap? Emang kalian pada mau kemana?" Fazila menjadi penasaran.


"Mereka mau keliling-keliling kota ini katanya, yasudah aku antar saja sambil jalan-jalan," sahut Damian.


"Boleh ikut?" rengek Fazila.


"Nggak boleh kata Oma, pengantin baru katanya tidak boleh kemana-mana dulu," ucap Tristan membuat Fazila langsung mencebik kesal.


"Abang sendiri?"


"Ikut sama Bang Nathan dan juga Chexil. Kak Dilvara juga ikut," sahut pria itu membuat Fazila bertambah kesal.


Namun, dokter Davin membisikkan sesuatu di telinga Fazila sehingga wajah sang istri kembali ceria.


"Oke," sahut Fazila lalu tersenyum manis.


"Idih curiga gue mereka mau apa," ujar Dimas lalu terkekeh.

__ADS_1


"Godain Kita terus! Nanti Chila buka rahasia Bang Dimas di depan Mbak Dinda," ancam Fazila lalu tersenyum licik.


__ADS_2