DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 33. Bertemu


__ADS_3

Setiap Minggu dokter Davin selalu menyempatkan untuk mengirimkan makanan untuk Fazila. Ini adalah minggu ketiga sejak pengiriman pertama waktu itu. Biasanya dia langsung menitipkan pada penjaga atau pada ustadzah Ana kalau kebetulan wanita itu ada di sana.


"Kok aku curiga ya ini bukan Bang Lukas," gumam Fazila sambil memeriksa isi dalam kotak yang ternyata isinya adalah kosmetik dan beberapa kerudung segi empat.


"Dari Lukas kek, bukan kek, yang namanya rejeki jangan ditolak," ucap Andin dan Fazila hanya manggut-manggut saja. Setelah mengeluarkan isi dari dalam benda persegi itu. Fazila lalu meletakkan ke dalam lemarinya sendiri.


"Aku hanya nggak percaya aja Bang Luk tahu sama merek kosmetik yang aku pakai," gumamnya sambil merebahkan tubuh di atas ranjangnya.


"Lagipula aku tanya mama sama Bang Nat minggu lalu pas ke sini katanya Bang Lukas nggak mengirimkan apapun. Apa iya Bang Lukas berbohong pada Bang Nath? Atau justru Bang Tris yang melakukan ini dan menyamar? Tapi pasti pak satpam tahu kalau dia saudaraku."


"Mana kutahu," sahut Andin.


Fazila merasa sangat lelah setelah selesai shalat tarawih dilanjutkan dengan tadarus tadi.


"Aku mau tidur aja," lirihnya lalu matanya sedikit demi sedikit terpejam.


"Hei jangan tidur dulu! Itu Anggita sama Qiana sedang bikin bumbu, kita rujakan malam ini."


"Aku nggak ikutan, ngantuk," sahut Fazila dengan suara lemah. Tidak menunggu lama langsung terdengar dengkuran dari Fazila.


"Payah kau Chila," keluh Andin lalu keluar kamar.


***


"Mana Chila?" tanya Anggita sambil mengulek sambal sedangkan Qiana tampak fokus mengupas kulit mangga.


"Dah tidur," sahut Andin singkat.


Anggita dan Qiana hanya menggeleng. Andin membantu Qiana membersihkan buah yang dikupas oleh Qiana.


"Din kamu tahu nggak sama orang yang bernama Lukas itu?" tanya Anggita penasaran.


"Nggak."


"Gimana kalau kita cari tahu gitu, siapa tahu dugaan Chila benar kalau sebenarnya pria itu bukan Lukas?" usul Qiana.

__ADS_1


"Kalau aku sih setuju-setuju aja, hanya saja kita juga tidak tahu kan seperti apa wajah Lukas. Jadi walaupun kita bisa melihat orang itu belum tentu bisa menilai dia yang namanya Lukas atau bukan."


"Iya sih, tapi paling tidak kita bakal tahu seperti apa wajah tuh pria. Benar nggak kata Chila tuh cowok ganteng."


"Oke-oke hari Minggu kita siaga menemani penjaga, semoga saja dia datangnya pas kita tidak masuk kelas."


"Oke siap." Anggita menunjukkan jari jempolnya dan kemudian mereka fokus rujakan.


Hari Minggu yang ditentukan pun tiba, jam istirahat sekolah Anggita dan Qiana standby di pagar pondok putri. Pak Satpam merasa aneh melihat keduanya malah nongkrong di dekatnya dan langsung bertanya.


"Kalian janjian dengan seseorang ya?" tanya pak satpam penuh selidik. Siapa tahu keduanya janjian dengan orang luar yang tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga mereka.


"Tidak Pak, hanya menunggu kiriman dari rumah. Masa iya sudah hampir lebaran kami nggak ada yang dikirim?"


"Oh begitu ya? Memang sudah pasti hari ini dikirim?"


Keduanya menggeleng dengan tatapan sedih membuat pak satpam menatap keduanya dengan iba.


"Kalian tidak masuk kelas?"


"Istirahat Pak, kami sudah menyuruh Andin untuk memanggil kami nanti kalau masuk."


Kedua duduk dengan gelisah, merasa lama sekali menunggu kedatangan dokter Davin.


"Apa kita harus balik sekarang?" tanya Qiana mulai jenuh.


Anggita mengangguk lemah, keduanya mulai bangkit berdiri tatkala sebuah mobil melintas menuju arah mereka.


"Qiana mungkin ini!" seru Anggita.


"Ini biasanya yang ngasih kiriman untuk Chila," ucap pak satpam agar keduanya tidak berharap.


"Benarkah Pak?"


Pak satpam mengangguk Qiana memberi kode agar Anggita segera memberi tahu Fazila. Anggita mengangguk, menunjukkan jari jempolnya lalu berlari ke sekolah sedangkan Qiana ikut mengajak dokter Davin bicara bersama pak satpam.

__ADS_1


"Chila, Chila sini!" Dari jauh Anggita begitu heboh memanggil Chila sambil melambaikan tangan membuat Andin langsung menarik tangan Fazila mendekat ke arah Anggita.


"Apa sih Nggit, kayak dikejar hantu saja," protes Chila.


"Ada yang penting," sahut Anggita dengan nafas tersengal-sengal akibat berlari.


"Penting apa?" Fazila terlihat mengernyit.


"Sudah jangan banyak tanya, kalau tidak ingin mati penasaran ayo ikut!"


"What! Mati penasaran? Umurku masih panjang kali Nggit," protes Fazila.


"Umur mana ada yang tahu Chila, sudah ayo!"


Tanpa memberikan jeda Fazila untuk menjawab, keduanya langsung menarik tangan Fazila membuat gadis itu pasrah.


"Seperti biasa Pak saya ingin menitipkan ini untuk Chila," ucap dokter Davin sambil menyerahkan bungkusan ke tangan pak satpam.


"Apa benar yang namanya Lukas itu dokter yang pernah mengobati kami?"


Pertanyaan Andin tidak terjawab sebab ketika mendengar namanya disebut, Fazila langsung menatap wajah dokter Davin. Tatapan mereka bertemu dan terlihat sama-sama kaget. Fazila langsung teringat dengan chat dokter Davin yang hampir membuat dirinya celaka.


"Chila benarkah dia Lukas?"


Fazila berbalik.


"Chila!" Dokter Davin langsung berteriak memanggil namanya. Fazila tidak mendengarkan, tapi ia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya lalu menangis di sana.


Ketiga temannya ikut berlari dan menyusul Fazila.


"Apa yang kamu inginkan dokter? Kau tahu, aku begitu susah untuk melupakanmu, tapi kenapa kau sengaja hadir lagi dalam hidupku lagi, aku harus apa? Aku harus bagaimana? Mengapa kau seolah ingin mempermainkan diriku?" Fazila menutup wajahnya yang basah dengan kedua tangan.


"Jadi dia bukan Lukas?" tanya Andin dengan suara penuh kehati-hatian.


Fazila hanya menggeleng lemah. Ketiga sahabatnya duduk di samping Fazila dan membiarkan gadis itu menangis.

__ADS_1


"Ingat ya jangan sampai air matanya tertelan," kelakar Anggita.


Bersambung.


__ADS_2