
Selepas dari kamar Fazila Tristan melenggang ke kamarnya sendiri. Tanpa tolah-toleh dia langsung menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Badannya terasa gerah pagi ini.
Ia menghidupkan shower dan mandi di bawah guyurannya. Rasa segar menjalar ke seluruh tubuh hingga Tristan seakan tak mau berhenti dari aktivitas membersihkan diri ini.
"Ckk, aku harus bergerak lagi setelah ini. Kemarin-kemarin fokus bekerja dan sekarang harus berbuat baik pada adik sendiri. Sepertinya dia kesal karena aku tak membantunya dulu. Chila! Chila! Apakah kamu tidak bisa mengerti kalau Abang beberapa bulan ini sangat sibuk?"
Di bawah guyuran air yang jatuh lembut dari shower Tristan berpikir keras bagaimana caranya dia mendapatkan informasi tentang dokter Davin. Kalau bertanya pada Fazila dia yakin tidak akan mendapatkan informasi apapun. Sepertinya sangat susah untuk meredakan kemarahan sang adik setelah beberapa waktu lalu sempat ia protes.
Mata Tristan berbinar tatkala merasa menemukan jalan keluar untuk masalahnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan, senyum manis tertoreh di atas pahatan wajah yang begitu mempesona.
"Chexil, dia pasti tahu banyak tentang dokter Davin, tapi–"
Tristan terdiam kala mengingat cerita Fazila waktu itu. Gadis itu meminta tolong untuk mempertemukan dirinya dengan dokter Davin Karena dokter Davin akan menikah dengan wanita lain.
"Tunggu dulu! Apakah pernikahan itu sudah selesai digelar? Ah, kenapa aku melupakan alasan Chila waktu itu. Pantas dia kesal padaku." Segera Tristan menyambar handuk dan keluar sambil mengusap rambutnya yang basah.
Segera ia berpakaian lengkap dan menyisir rambut lalu keluar dari kamar.
"Mau kemana lagi Tris? Jangan pergi sebelum sarapan. Ambil sendiri ya di meja karena yang lainnya sudah makan pagi semua."
"Iya Ma, jangan khawatirkan soal itu, Tris bisa ambil sendiri. Oh ya Chexil dimana, Ma?"
"Panggil Kakak biar sopan! Kau selalu panggil nama pada Nak Chexil. Dia di kamar menidurkan putranya. Abangmu sedang keluar, seperlu apapun kamu pada Nak Chexil jangan pernah masuk kamar!" Isyana memperingatkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti salah paham misalnya.
"Ah baiklah, kalau begitu Tris tunggu Abang saja dan aku akan makan pagi dulu," pungkas Tristan kemudian melanjutkan langkah menuruni satu persatu anak tangga.
"Bagaimana bisa bicara tentang dokter Davin kalau ada Bang Nath," keluh Tristan sambil membalikkan piring lalu bersiap-siap untuk duduk dan menikmati sarapan.
Namun, sebelum memulai makan terlebih dahulu ia merogoh saku dan mengambil ponsel. Ia lalu mengetik pesan pada Chexil sebelum menyendok makanannya.
[ Xil, bagi nomor telepon dokter Davin!]
[ Untuk apa sih Tris?]
[ Nanti juga kamu tahu!]
[ Tunggu sebentar ya, aku lagi ngasih asi sama si dedek, lagi susah nih posisinya.]
[Sip, aku tunggu.]
Tristan meletakkan ponselnya dan mulai menyendok makanan.
"Kalau makan jangan sambil main hape," protes Isyana sambil menenteng gaun rancangannya menuju kamar tempatnya bekerja di rumah.
__ADS_1
"Iya Ma, ini karena ada yang penting saja. Sangat genting," jelas Tristan.
Isyana mengangguk kemudian berlalu dan ruang makan.
Cling.
Sebuah notifikasi masuk membuat Tristan langsung melirik ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja.
Bibirnya tersenyum kala melihat nama si pengirim yang terpampang di sana. Chexil, sudah dapat dipastikan kalau Chexil mengirim nomor telepon dokter Davin.
"Demi adikku agar kembali cerewet," batin Tristan masih terus melanjutkan makan.
Chexil sendiri langsung menghapus pesan Tristan karena tidak mau diketahui oleh Nathan. Bisa-bisa suaminya bertanya panjang lebar. Meskipun Tristan tidak mau bercerita, tetapi Chexil menangkap maksud dari keinginan Tristan adalah untuk kebaikan Fazila.
"Apa ia Chila sakit karena kepikiran dengan dokter Davin? Semoga saja sih iya daripada karena penyakit parah. Semoga Tristan berhasil," ucap Chexil penuh harap. Matanya terasa berat membuat Chexil langsung memejamkan mata.
Di luar Tristan sudah menyudahi sarapannya lalu mengecek chat masuk dari Chexil.
"Baguslah Chexil bisa diajak kerjasama," ucap Tristan dalam hati lalu menghubungi nomor yang dikirimkan oleh kakak iparnya.
[ Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi!]
Terdengar suara operator dari dalam ponsel. Tristan mematikan panggilan telepon lalu menghubungi kembali. Jawaban yang sama yang ia dapatkan membuat Tristan mendesah kasar. Namun Tristan tak mau menyerah, dia mencoba menghubungi kembali.
"Apa dia sedang menangani pasien sehingga mematikan ponselnya?" Tristan mencoba menebak-nebak.
Sekali lagi ia mencoba.
[Nomor yang anda putar salah.] Jawaban yang berbeda dari operator yang sama.
"Ini Chexil benar nggak sih? Nih operator juga PHP, tadi katanya hanya tidak aktif eh ujung-ujungnya malah salah." Tristan mendengus kasar lalu memutuskan untuk langsung menelepon Chexil.
"Siapa sih yang menelepon?" tanya Chexil yang kaget dengan dering ponselnya padahal matanya sudah terpejam sempurna dan baru terlelap. Menyusui putranya membuat Chexil ngantuk berat.
Ia mencoba membuka mata lebar-lebar untuk memindai siapa yang menelepon. Barangkali Nathan untuk mengabarkan atau menanyakan sesuatu padanya.
Namun Chexil hanya menggeleng melihat nama Tristan yang tercantum. Ia segera menjawab panggilan adik iparnya.
"Ada apa lagi Tris? Bukankah yang kamu minta sudah aku kirimkan?" Chexil tampak beberapa kali menguap, benar-benar mengantuk. Semalam ia begadang menemani putranya yang mengoceh dan tidak mau tidur. Chexil tidak tega jika meninggalkan anak itu tidur sementara Nathan belum pulang karena ada job di luar.
"Aku ngantuk nih," lanjutnya dengan mata yang masih berusaha untuk melek terus.
"Pantas saja, kau ngantuk ternyata," ujar Tristan membuat Chexil menautkan kedua alisnya. Bingung kemana arah pembicaraan Tristan.
__ADS_1
"Apa maksudmu sih? To the poin! Mataku tinggal satu Watt!"
"Astaga Chexil, masih pagi juga sudah ngantuk. Nggak baik tidur pagi-pagi. Hei kamu memberikanku nomor yang salah ya?"
"Kau tidak tahu saja sih Tris gimana rasanya jadi emak-emak. Nanti kalau sudah menikah kau akan tahu bagaimana susahnya Dilvara mengurus anakmu. Perasaan nomornya sudah benar." Chexil yang bingung hanya menggaruk kepala lalu mengirim kembali nomor dokter Davin.
[ Ini kan nomor yang aku kirim? Benar ini milik dokter Davin]
[ Tapi saat aku hubungi katanya nomornya salah.]
[ Masa sih? Mungkin dia ganti nomor kali Tris. Sebentar aku yang mencoba untuk menghubungi.]
[Oke.]
Chexil pun menghapus Chat-nya dengan Tristan lalu mencoba menelpon dokter Davin.
"Kok enggak aktif sih, benar nih kata Tristan atau memang masih dimatikan karena sedang bertugas. Ayo dong dokter Davin angkat teleponnya," gumam Chexil begitu khawatir karena tak ada jawaban.
"Untuk apa menelpon dokter Davin saat suamimu tidak ada di rumah?" Nathan berdiri di ambang pintu sambil menatap wajah Chexil yang begitu serius.
Chexil yang ditatapnya reflek terbelalak. Rasa kantuk hilang seketika berganti rasa takut yang mendera. Chexil terlihat ketir melihat raut wajah Nathan yang begitu kentara tidak suka dengan apa yang dilakukannya tadi. Chexil langsung menutup panggilan telepon.
"Ini ... a–ku ... ingin konsultasi tentang Chila," jelas Chexil gugup.
"Apa tidak ada dokter lain selain dia?"
"Bu–kan begitu Sayang, tapi–"
"Ah, sudahlah jangan hubungi dia lagi! Atau kau mau membuka luka lama, luka masa lalu?"
"Bukan begitu maksudku, maaf," ucap Chexil sambil menunduk. Tak ingin kembali melihat api kecemburuan berkobar di mata Nathan, seperti dulu lagi. Dia takut rumah tangganya yang adem ayem selama ini kembali terguncang badai yang mungkin saja membuat keduanya tidak bisa berdiri tegak akibat guncangannya untuk kedua kalinya.
"Sini ponselmu!" pinta Nathan dan Chexil langsung mengulurkan ke hadapan Nathan.
Nathan meraih ponsel Chexil lalu menghapus kontak dokter Davin di sana.
"Sudah aku hapus dan kumohon jangan mencari informasi apapun tentang dia. Anggap dia sudah tidak ada di kehidupan kita lagi!"
"Baik," lirih Chexil lalu menghembuskan nafas berat.
Padahal Chexil hanya ingin membantu Tristan untuk membuat adiknya ceria lagi. Namun, mengapa terasa begitu berat mengingat dokter Davin pernah ada di masa lalunya, meskipun Chexil sendiri tak pernah memiliki perasaan khusus terhadap pria itu. Di hati Chexil hanya ada Nathan dari dulu sampai sekarang. Eh apa itu artinya Fazila pun demikian?
Bersambung.
__ADS_1