DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 120. Penguntit


__ADS_3

Dua tahun kemudian.


"Oma datang cuma sama Bang Nath?" tanya Fazila dengan bibir cemberut di ambang pintu kamar.


"Ya," jawab Laras singkat.


"Mama sama papa benar-benar enggak ikut?" tanya gadis itu lagi, tidak percaya dengan jawaban omanya.


"Benar Chila, masa Oma bohong sih sama kamu," sahut wanita tua itu meyakinkan.


"Kenapa? Sibuk lagi kayak acara wisuda kemarin? Kenapa nggak bisa sih meluangkan waktu sedikit saja untuk menjemput Chila, toh setelah ini Chila nggak akan mondok lagi. Ini terakhir Chila mengenyam pendidikan di sini," cecar Fazila dengan muka masam.


"Sudahlah tidak usah manja, kau bukan anak kecil lagi, yang penting, kan sudah ada Oma dan Bang Nath yang jemput kamu. Kalau dibiarkan pulang sendiri baru kamu boleh ngambek."


"Ckkk." Fazila berdecak kesal, tak suka dengan jawaban omanya.


"Mama kamu banyak orderan yang nggak bisa begitu saja ditinggal pada para karyawannya. Nanti kalau salah bagaimana? Rugi nanti."


"Alasan," kesal Fazila.


"Papa kamu ada pertemuan dengan klien, kalau menang tender kali ini lumayan, profitnya besar," lanjut Laras tidak mengindahkan ekspresi Fazila yang semakin menunjukkan ketidaksukaannya.


"Biasa, harta lebih berharga dibanding kebahagiaan anak." Gadis itu menghembuskan nafas berat.


"Chila jangan ngomong gitu ah, kau pikir mereka bekerja untuk siapa?" protes Laras.


"Tapi Oma lihat sendiri bagaimana riangnya mereka semua karena dijemput oleh orang tuanya!" tunjuk Fazila pada para santriwati yang pamit pada santriwati lain setelah dirangkul oleh kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca karena haru.


"Iya, Oma paham."


"Nah Chila kayak anak yatim-piatu yang dijemput nenek sama kakaknya, dokter Davin juga ingkar janji katanya mau ikut jemput," keluh gadis itu.


"Stt! Ngomong apa sih Chila? Nggak baik loh ngomong begitu. Seringkali ucapan menjadi doa yang mudah terkabul. Mau Kamu beneran menjadi anak yatim-piatu?" kesal Nathan.


"Bukan begitu maksudku Bang, tapi–"


"Makanya mending kamu bersiap-siap aja, aku dan Oma tadi sudah pamitin kamu sama pak kyai dan bu nyai. Sekarang kita langsung pulang!" perintah Nathan sambil menyodorkan sebuah koper.


"Maaf," ucap Fazila, meskipun ekspresinya masih memberengut kesal, tetapi anak itu tetap melakukan apa yang diperintah oleh Nathan. Fazila masuk ke dalam kamar dan mengemas barang-barangnya.


"Kau belum dijemput oleh orang tuamu Qia?" tanya Fazila sambil memasukkan baju dan buku-buku ke dalam koper yang dibawakan oleh Nathan.


Andin dan Anggita sudah pulang terlebih dahulu, kemarin dijemput oleh orang kedua tuanya. Di kamar kini hanya menyisakan Fazila dan Qiana. Hari ini Fazila dijemput, otomatis Qiana hanya tinggal seorang diri di sana.

__ADS_1


"Aku memang mau tinggal di sini dulu setahunan, mau mengabdi sebelum melanjutkan kuliah," ujar gadis itu dengan ekspresi tenang.


"Oh gitu ya, bagus dong biar kalau kapan-kapan aku ke sini ada yang bisa kutengok," ucap Fazila lalu terkekeh.


"Siap nanti aku sambut kedatanganmu," ucap Qiana balas terkekeh.


"Nak Qiana nganggur tidak hari ini?" tanya Laras yang menguntit di belakang Fazila.


"Iya Oma palingan nanti mulai sibuk pas ada penerimaan santri baru, biasa, bantu-bantu ustad dan ustadzah," jawab Qiana, bibirnya mengulas senyum ramah.


"Ikut Oma yuk ke rumah biar ada yang nemenin Chila dalam perjalanan," ucap wanita itu selanjutnya.


"Beneran Oma mau ajak Qiana pulang bareng kita?" tanya Fazila antusias. Wajahnya yang mendung seperti langit akan turun hujan, kini secerah mentari pagi.


"Iya," jawab Laras dengan bibir yang tersenyum pula.


"Qiana mau sih Oma, tapi takut nanti tidak diizinkan sama nyai plus takut tersesat jika nanti mau balik ke sini. Tak tahu arah jalan pulang," ujar Qiana.


"Nanti Oma pasti antar ke sini lagi."


"Beneran Oma?" tanya gadis itu dengan antusias dan ekspresi wajah penuh semangat.


"Ya, kapan lagi kamu mau main ke rumah Chila kalau bukan dari sekarang. Selama ini kalian berteman tanpa tahu rumah masing-masing, kan ? Kebayang tidak, kalau kalian ingin bertemu suatu saat nanti susah sebab kalian juga tidak menyimpan nomor masing-masing," jelas Laras panjang lebar.


"Benar juga bahkan kita tak saling tukar nomor telepon masing-masing, emang persahabatan yang payah," ucap Fazila lalu menepuk jidatnya sendiri kemudian terkekeh seakan melupakan kegundahan dalam hati akibat orang tuanya yang tidak ikut menjemput. Pun dokter Davin yang sudah berjanji untuk ikut menjemputnya juga tidak datang.


"Tapi kamu punya, kan, nomor telepon Andin dan Anggita?" tanya Fazila yang kemudian langsung kepikiran terhadap kedua temannya yang lain. Pasti akan kesusahan untuk bertemu kedua sahabatnya yang sudah pulang terlebih dahulu.


"Punya di hape ortu, tapi aku juga tahu rumah mereka karena dulu sempat ke sana."


"Wah curang nih Qiana kenapa nggak ngajak-ngajak sih?"


"Hehe sorry, dulu nggak ada rencana sih, tapi pas liburan waktu itu saat kamu dijemput oleh keluargamu duluan, dan saat orang tua Andin menjemput, aku ikut mereka pulang."


"Oh, gitu."


"Yap."


"Yasudah yuk buruan, sebab sepertinya Nyai sama Kyai sudah mau keluar," ujar Laras sambil meraih koper milik Fazila dan menyeretnya keluar diikuti kedua gadis remaja dan Nathan di belakang mereka.


Mereka kini sudah sampai di mobil setelah Laras memberitahukan tentang Qiana yang akan ikut dengan mereka pulang pada Kyai dan Nyai langsung tanpa melalui pengurus. Kedua gadis itu tampak bergurau di dalam mobil. Sesekali terdengar tawa renyah dari keduanya.


"Rumahmu masih jauh?" tanya Qiana setelah berkendara 2 jam lebih belum juga sampai.

__ADS_1


"Ini masih belum separuhnya Qiana, jarak selanjutnya masih lebih jauh dari ini," ujar Fazila.


"Kenapa memang?" tanya Laras menimpali pembicaraan keduanya.


"****** dan punggungku rasanya sakit Oma, biasa belum pernah melakukan perjalanan jauh," sahut Qiana sejujurnya.


"Tiduran saja kalau begitu, biar Oma miringkan kursinya. Kalau bisa sekalian tidur."


"Tidak usah Oma, saya mau bersandar saja. Saya juga tidak bisa terlelap kalau tidur di atas mobil."


"Oh, baiklah."


"Minumlah! Orang banyak duduk harus banyak minum biar nggak kena penyakit ginjal," ujar Fazila sambil menyodorkan satu botol air mineral ke hadapan Qiana.


"Aih, mentang-mentang tunangannya dokter," ucap Qiana lalu cekikikan.


"Bukan kata dia, tapi kata orang-orang," jelas Fazila.


"Oh." Qiana mengambil botol air mineral dari tangan Fazila dan langsung meneguk hingga isinya tinggal separuh.


"Biar aku yang habiskan," ujar Fazila, mengambil botol air di tangan Qiana dan gantian minum. Saat gadis itu mendongak, kebetulan melihat mobil di belakang yang selalu mengikuti mobilnya.


"Tunggu Bang! Perasaan mobil di belakang dari tadi mengikuti kita, benar nggak sih, Bang?"


"Mana ada Chila, dari tadi Abang tak melihatnya, mungkin kebetulan searah," jawab Nathan tanpa melihat ke arah belakang.


"Bang coba tengok dari kaca spion, itu sudah lebih dari satu jam yang lalu loh, masa Abang nggak lihat?"


Nathan menghela nafas berat lalu melirik dari kaca spion.


"Oh itu, biarkan saja," ucap Nathan acuh tak acuh.


"Entar jahatin kita, bagaimana? Cuek aja sih jadi orang!"


"Insyaallah kalau sama Abang, aman Chila."


"Ckk, kebut dikit napa Bang? Mumpung masih pagi dan di daerah ini belum macet amat. Buat buktikan apa benar mereka itu bukan penguntit."


"Oke-oke."


"Sepertinya aku tahu milik siapa mobil itu Chila," ujar Qiana yang mengawasi mobil tersebut dan meneliti dua orang yang duduk di kursi kemudi.


"Siapa?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2