DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 53. Meminta Bantuan Dilvara


__ADS_3

"Ah payah, Chexil tak berhasil juga ngomong sama Chila," kesal Tristan. Mau tidak mau ia harus mencari tahu sendiri sebab ia yakin Fazila tidak akan pernah mau bicara padanya selama kekesalannya belum berakhir.


Ia bangkit dari meja makan lalu keluar rumah untuk mencari informasi, barangkali ada teman-teman atau sekedar kenalannya yang tahu keberadaan dokter Davin.


"Mau kemana lagi Nak? Baru juga pulang sudah ingin pergi lagi," protes Laras.


"Ada yang penting Oma. Kalau nanti tidak bisa pulang cepat Tris pasti kabari ya," ujar Tristan sambil melangkah dengan terburu-buru ke arah moge yang terparkir. Dia lebih memilih kuda besi dibandingkan mobil untuk menghindari kemacetan lalu lintas.


"Bagaimana aku bertanya pada orang-orang kalau tidak ada foto dokter Davin satu pun yang aku kantongi?" Tristan terdiam sejenak di atas motor gedenya. Bingung bagaimana mencari seseorang jika tidak ada identitas selain nama. Berapa banyak nama Davin yang ada di dunia ini? Posisi sebagai dokter juga tidak bisa membuatnya mudah menemukan orang yang dicarinya terkecuali dokter Davin terkenal di kalangan masyarakat seperti halnya diri Tristan sendiri.


Tristan turun dari motor dan kembali masuk rumah. Niat awal ingin menemui Chexil dan bertanya barangkali Chexil masih menyimpan foto pria itu. Namun, niatnya ia urungkan tatkala merasa tidak mungkin Chexil menyimpan foto pria lain. Bisa-bisa ada perang dunia jika ketahuan suaminya yang posesif.


Kadang Tristan bingung dengan sikap Nathan yang baginya terlalu berlebihan dalam menyayangi Chexil, tapi ya, sudahlah karena setiap orang punya cara berbeda untuk memberikan perhatian pada pasangannya.


Namun, yang jelas Tristan tidak akan seperti Nathan karena profesi dia dan Dilvara memang sama-sama berada di dunia entertainment, jadi harus saling mengerti dan sedikit banyak harus meredam rasa cemburu ketika melihat salah satu dari mereka saling berperan dengan gadis atau pria lain.


"Di kamar Fazila saja," ujar Tristan memutuskan lalu naik ke lantai atas.


Sampai di lantai atas Tristan melihat kamar Fazila yang masih terbuka dan Fazila sendiri tidur meringkuk di atas ranjang. Dari tubuhnya yang tidak bergerak banyak Tristan menebak Fazila sudah terlelap dalam tidurnya.


Dengan pelan dan hati-hati ia menelusup masuk ke dalam kamar. Tristan mendekati Fazila dan memastikan adiknya sudah benar-benar tertidur.


"Dia memang benar-benar sudah tertidur pulas, sepertinya aman," gumam Tristan sambil mencari keberadaan ponsel Fazila dengan gerak-gerik seperti seorang maling. Matanya awas dan tangannya bergerak-gerak dengan cepat. Dia harus mendapatkan barang yang dicarinya sebelum Fazila membuka mata atau yang lain lihat. Bisa menimbulkan tanda tanya nantinya dan Tristan malas memberitahu.


Namun, sayangnya pencarian Tristan tidak membuahkan hasil. Tak ada ponsel dalam kamar Fazila. Ia langsung menepuk jidat sendiri saat menyadari Fazila selama ini memang tidak memegang ponsel. Kalaupun ada, tidak mungkin ada foto dokter Davin karena ponselnya yang dulu sudah diambil rampok tanpa sempat menyalin foto di galeri ponsel gadis itu.


"Kenapa begitu sulit untuk mendapatkan foto pria itu? andai aku bisa melukis pasti sudah kubuat sketsanya. Padahal dulu aku bisa, sekarang susah karena sudah lama nggak pernah menggambar. Bang Nathan bisa, tapi bisa kiamat dunia ini kalau bertanya sama dia. Bukannya menyelesaikan masalah bisa menambah masalah baru," gerutu Tristan.

__ADS_1


Bicara tentang Nathan, Tristan jadi teringat dengan cerita yang pernah Nathan keluhkan. Ia pernah bercerita Fazila menghilang di rumah sakit saat memeriksa Chexil dan ternyata Fazila ada di ruangan dokter Davin.


"Rumah sakit," ujar Tristan dengan senyuman antusias. Ia yakin pihak rumah sakit pasti tahu ke rumah sakit mana dokter Davin pindah.


Baru hendak melangkahkan kaki keluar kamar, mata Tristan menangkap sesuatu di dalam laci yang terbuka separuh. Buku berwarna merah muda cerah itu mencuri pandangan Tristan.


Ia balik badan, menatap Fazila yang mulai mendengkur halus. Perlahan tangan Tristan menyentuh buku tersebut.


"Buku harian," gumamnya menilik dari buku tersebut yang terlihat indah. Tristan terdiam sejenak menatap buku diary Fazila di tangan. Pikirannya terpecah dua. Di satu sisi, dia sangat ingin membaca buku tersebut karena yakin pasti ada petunjuk di situ yang membuat Fazila sakit seperti ini, walaupun dia sendiri sudah menebak gara-gara dokter Davin. Hanya tebakan, dan Tristan yakin di dalam buku tersebut adalah kenyataan bukan sekedar terkaan semata.


Namun, di sisi lain Tristan merasa tidak enak jika sampai membaca buku harian yang merupakan ranah pribadi Fazila. Ia merasa sebagai kakak yang lancang dan tidak pantas dipercaya kalau sampai melakukannya. Tristan pun tidak mau kalau sampai Fazila marah jika melihat dia melakukan hal itu. Buru-buru Tristan menaruh buku tersebut ke tempatnya kembali.


Sebelum buku tersebut sampai ke rak tempatnya tadi ditemukan, ada satu lembar kertas yang terjatuh dari dalamnya.


"Apa itu?" Tristan membungkuk dan meraih kertas tersebut di atas lantai. Matanya terbelalak melihat tenyata benda itu adalah foto orang yang dicarinya.


Tempat pertama yang ia datangi adalah rumah sakit tempat dokter Davin dulu bekerja. Saat menanyakan pada pihak rumah, ternyata dia tidak mendapatkan informasi apapun. Tristan menggerutu sendiri, harusnya rumah sakit itu tahu kemana karyawannya dimutasi.


"Mereka malas mencari data," keluh Tristan lalu keluar dari rumah sakit tersebut sambil bertanya-tanya pada siapapun yang ia jumpai. Bukannya jawaban yang ia dapat, tetapi mereka malah meminta berfoto bersama pria itu sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Tristan, dan jawabannya adalah mereka melihat, tapi tak tahu lagi kalau dokter Davin bertugas dan tinggal dimana. Benar-benar jawaban yang mengecewakan Tristan.


Hari sudah sore dan Tristan tak mendapat alamat dokter Davin. Tanpa ia duga tiba-tiba ia melihat Dilvara sedang mengantri di depan sebuah restoran cepat saji.


Buru-buru Tristan mendekati Dilvara.


"Hei, beli apa?" tanya Tristan sambil menepuk bahu Dilvara.


Dilvara langsung berbalik dan kaget melihat Tristan ada di hadapannya.

__ADS_1


"Abang, ngagetin saja! Oh ini ... aku sedang beli chicken wings sama kentang goreng. Abang mau beli juga? Biar aku yang traktir."


Tristan menggeleng.


"Terus mau apa ke sini? Cara adik? Ada perlu apa?"


"Nggak, aku nggak tahu kalau kamu ada di sini, mau cari orang ini," jelasnya sambil menunjukkan foto dokter Davin. Dilvara terperanjat meskipun hatinya sedikit kecewa karena Tristan seolah tidak ada


kangen-kangennya sama sekali pada gadis itu setelah lama tak bertemu akibat kesibukannya.


"Oh."


"Kau kaget? Apa kau tahu dia siapa?"


Dilvara mengangguk lemah.


"Cowoknya Chila, aku dulu sering diajak Chila ke sana, walaupun aku tidak pernah mampir sih. Hanya mengantarkan saja," jelas Dilvara tak mau menutup-nutupi lagi. Toh Fazila sudah tidak pernah ke sana lagi.


"Berarti kamu tahu rumahnya, boleh kau antar aku ke sana?" Tristan terlihat menggebu-gebu. Senang sekali bisa mengetahui alamat rumah dokter Davin tanpa harus bersusah payah mencarinya lagi.


"Boleh," sahut Dilvara membuat Tristan langsung menarik tangan Dilvara keluar dari tempat itu padahal Dilvara belum mendapatkan pesanannya. Gadis itu berjalan dengan wajah yang cemberut karena Tristan tak seperhatian dulu lagi.


"Datang-datang bukannya nanya kabar malah mengajakku ke tempat yang tidak penting."


Dilvara merasa Tristan berbeda.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2