DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 44. Sebelum Terlambat


__ADS_3

Fazila menyandarkan bahunya pada dinding di sebelah pintu kamar lalu menghidu aroma khas tanah yang bercampur dengan air hujan sisa semalam. Wangi bunga sedap malam yang berada di depan kamar mereka seolah menjadi aroma terapi bagi pikiran Fazila yang tegang.


Fazila menghela nafas panjang sebelum akhirnya menutup mata meski tak ada niatan untuk tidur sedikitpun. Dia hanya berharap pagi segera menjelang dan ada kabar baik tak terduga yang bisa membuat dirinya bersemangat kembali menyambut hari-hari seperti sebelumnya.


Entah kabar apa itu, yang terpenting bisa membuat Fazila bisa melupakan kesedihan hatinya atau membuat bahagia barang sejenak.


Pagi tiba serasa begitu lama hingga Fazila yang tadinya tidak ingin tidur sampai pagi tak sengaja terlelap di depan kamar masih dengan posisi yang bersandar pada dinding dengan kedua tangan bersedekap dada.


Awan pekat yang menggantung di langit menandakan sebentar lagi akan turun hujan kembali. Semua santri yang baru saja dari masjid langsung berlari ke kamar mereka masing-masing tatkala mendengar suara petir menggelegar. Tak terkecuali dengan ketiga sahabat sekamar Fazila; Anggita, Qiana dan Andin.


Baru saja sampai di teras kamar hujan lebat mengguyur bumi, membasahi kembali tanah yang hampir mengering semalam seolah tidak mengizinkan bumi kehilangan kelembaban.


Kilat menyambar dalam suasana yang semakin gelap dan pekat. Di tengah kilatan itu mereka bertiga melihat sosok Fazila yang tertidur di sisi pintu.


"Din, apa tidak salah itu Chila? Kenapa tidur di sana?" tanya Qiana memastikan penglihatannya tidak salah.


Saat keluar dari kamar pagi-pagi buta mereka tidak melihat keberadaan Fazila di tempat itu karena begitu terburu-buru.


Mereka bangun terlambat dari biasanya hingga tidak ada waktu untuk sekedar menunaikan shalat sunnah tahajud karena terlalu nyaman bergelung dalam selimut di saat cuaca dingin yang mendukung untuk terus berlabuh di lautan kapuk.


Untung saja shalat jamaah subuh belum dimulai saat mereka tiba di masjid. Hujan semalam yang membawa hawa dingin memang membuat siapa saja malas untuk melakukan aktivitas apapun. Tidur adalah kegiatan paling nyaman dalam suasana seperti itu.


"Sepertinya iya," ujar Andin lalu bergeser mendekat mencoba melihat lebih jelas.


"Jadi tadi dia tidak ikut ke masjid, bagaimana bisa kita melupakan dia?" tanya Anggita lalu menyentuh bahu Fazila dan mencoleknya.


"Chila bangun, ngapain kamu tidur di sini?"


Tak ada reaksi dari Fazila, ia teramat nyenyak dalam posisi tidur yang sebenarnya tidak nyaman itu. Mungkin karena semalam memang kurang tidur.


"Chila bangun hei, kau belum shalat subuh, bukan? Kau sudah dalam masa suci, kan?" Kali ini Qiana bicara sambil mengusap pipi Fazila hingga gadis itu yang merasa geli lalu mengerjapkan mata dan menepis kasar tangan Qiana.


Fazila terbelalak saat membuka mata ada tiga pasang mata menatap netranya. Kemudian yang tertangkap di retina mata Qiana tampak mengusap-usap tangannya.


"Maaf kupikir tadi nyamuk," ucap Fazila tak enak melihat Qiana meringis. Ia baru sadar yang ditepisnya tadi adalah tangan Qiana.


"Tak apa, bangunlah dan shalat subuh sana!"


Fazila mengangguk lalu dengan susah payah bangkit dari posisinya.


"Pinjam payung!" rengeknya dan Andin dengan sigap masuk ke dalam kamar mengambil payung dan memberikan benda yang diminta Fazila.


"Terima kasih," ucap Fazila sambil meraih payung dan membukanya, ia lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Di kamar mandi Fazila tidak mandi karena merasakan tubuhnya yang tiba-tiba menggigil. Dia hanya mengambil wudhu dan kembali ke kamar. Gadis itu memilih melaksanakan shalat di kamar dibandingkan ke masjid.


Selain malas dia juga tidak ingin ketahuan kalau tidak ikut shalat berjamaah, bisa-bisa dia mendapatkan hukuman. Untung saja beberapa hari ini Heni tidak pernah memperhatikan gerak-gerik dirinya dirinya sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Saat Fazila masih melaksanakan shalat subuh ketiga teman-temannya sedang bersiap-siap pergi ke sekolah. Meski hujan semakin deras di luar tidak ada alasan untuk tidak masuk karena sekolah mereka tidak begitu jauh dan mereka bisa saja mendapatkan hukuman jika tidak masuk tanpa alasan.

__ADS_1


"Chila kau sudah pr yang kemarin? Nyontek dong!" pintu Andin membuat Qiana berdecak kesal.


"Kau bisa tidak mengerjakan sendiri? Jangan dikit-dikit nyontek, kasihan orang tuamu yang sudah susah payah menyekolahkanmu, tetapi anaknya malah tidak serius untuk sekolah."


"Baik Nyai lain kali nggak lagi," ujar Andin cekikikan.


"Selalu manggil aku Nyai kalau dinasehati," kesal Qiana.


"Karena kau suka ceramah kayak Nyai."


"Ambillah, aku sudah selesai," ucap Fazila sambil membuka mukena lalu berdiri hendak berganti seragam.


Namun, sebelum tangannya menyentuh seragam yang tergantung di hanger, mendadak kepalanya berdenyut sakit.


"Aduh, kenapa kepalaku jadi sakit begini?" gumam Fazila sambil menekan pelipisnya.


"Kenapa, Chila? Kalau sakit nggak usah sekolah dulu biar kami mintakan izin sama ustadz nanti," ujar Anggita.


Fazila menggeleng.


"Nggak perlu, aku baik-baik saja, hanya pusing sedikit. Mungkin karena semalam kurang tidur," ucapnya dengan deru nafas hangat menyentuh pipi Qiana.


"Apa kau benar-benar baik-baik saja, Chila?" tanya Qiana mulai khawatir dengan keadaan Fazila. Dari nafas hangat itu Qiana menerka Fazila saat ini sedang sakit. Tangannya terulur lembut menyentuh kening sahabatnya untuk memeriksa.


"Are you okey?" timpal Anggita dan Fazila mengangguk mantap.


"Kau demam Chila, sebaiknya kau tidak masuk sekolah saja," saran Qiana.


Fazila mengambil obat sakit kepala lalu meneguknya. Kemudian seperti orang sehat ia meraih baju seragam dan memakainya.


Fazila harus masuk sekolah, ia tidak mau tinggal sendirian di dalam kamar. Sendirian membuat otaknya berkelana tidak karuan, berbeda jika berada di sekolah dimana melihat teman-teman bisa sekejap melupakan kesedihannya.


"Bagaimana Andin ketemu bukunya?" tanya Fazila sambil meraih buku-buku pelajaran dan di masukkan ke dalam tas sekolah. Semalam ia belum sempat memasukkan buku-buku itu karena pikirannya yang masih kacau.


"Ini, sebentar ya," ujar Andin dengan tangan yang menulis dengan cepat.


Selesai, akhirnya mereka duduk sembari menunggu waktu sekaligus berharap hujan akan reda sebelum mereka berjalan ke sekolah.


Seorang santriwati berdiri di depan kamar sambil membagikan jatah makan pagi untuk mereka. Mereka semua makan dengan lahap kecuali Fazila yang memang tidak memiliki selera makan beberapa hari ini.


"Kurang kenyang," ujar Andin saat menghabiskan makannya. Entah mengapa porsi biasa seakan tidak cukup saat dimakan waktu hujan. Entah karena tubuh yang memang butuh pembakaran kalori yang lebih banyak atau memang karena Andin yang rakus.


"Ini ambillah, aku sudah kenyang," ujar Fazila sambil memberikan piring berisi makanan di tangannya. Nasinya hanya tersentuh satu sendok saja dan Fazila merasa sudah ingin muntah.


"Kau tidak mau makan?" tanya Andin dan kedua sahabatnya yang lain hanya melirik sekilas. Fazila menggeleng.


"Tidak kau makan saja, aku bisa beli jajanan di kantin nanti untuk menambah isi perut," tolak Andin tak enak jika Fazila harus berkorban untuknya.


"Aku tidak selera makan, ini rasanya hambar di mulut, makanlah! Ada stok roti di lemariku, aku akan makan itu saja nanti di sekolah." Fazila terus mendesak agar Andin menerima makanan di piring.

__ADS_1


Andin menghela nafas panjangnya dan kemudian mau tidak mau harus menerima jatah makan pagi Fazila daripada mubasir.


Ketiga sahabatnya menyelesaikan makan saat Fazila meraih sebuah roti dan memasukkan ke dalam tas kemudian menyambar jaket dan memakainya. Mereka pun berangkat ke sekolah setelah menyetorkan piring-piring kotor ke bagian dapur.


Tak ada yang aneh saat mereka sampai di sekolah. Fazila sudah tidak terlihat murung seperti biasa meskipun masih tidak banyak bicara seperti dulu.


Seorang ustadz memberikan tugas untuk membuat surat izin tidak masuk sekolah dalam bahasa arab kemudian meninggalkan kelas sebentar karena ada kepentingan lain.


"Chila!" panggil Izzam dengan suara setengah berbisik dan Fazila langsung menatap ke arah Izzam.


"Ada apa?" tanya Chila membuat seisi kelas menatap ke arahnya.


"Ada yang penting?" tanya Fazila lagi dan ia langsung berdiri kemudian berjalan ke arah bangku Izzam tak perduli dirinya dan Izzam semakin menjadi sorotan teman-temannya.


"Iya, kemarin aku memang tidak dapat undangan yang kamu inginkan, tapi semalam Pak Kyai mengajakku untuk ikut ke pesta pernikahan wanita yang bernama Danisa itu. Biasa, Pak Kyai disuruh membacakan sambutan untuk keluarga mempelai pria sekaligus membaca khotbah nikah di sana."


Mata Fazila terbelalak mendengar kabar dari Izzam.


"Kau serius?" tanyanya dengan nada suara ketir antara sedih dan senang. Senang karena Izzam akhirnya mendapatkan informasi yang ia inginkan dan sedih jika acara pernikahan itu benar-benar berlangsung.


"Kau tahu dimana alamatnya?"


Izzam mengangguk.


"Di depan masjid Al falah, di sekitar daerah ini juga."


"Apa?!" pekik Fazila dengan suara tertahan. Dia tidak menyangka bahwa tempat pernikahan itu tidak jauh dari pondok pesantren tempatnya bernaung.


"Nyai Fatimah diundang juga, jika kamu ingin ikut pula aku rasa kau harus mendekati beliau," saran Izzam membuat Fazila terdiam sejenak. Mata yang biasanya jernih seperti kelereng kini mulai memerah menahan tangis.


"Biasanya Bu Nyai kalau datang ke acara-acara di luar pesantren didampingi oleh seorang santriwati," ujar Izzam lagi dan Fazila masih saja diam.


"Tapi aku yakin tanpa diminta pasti beliau akan mengajakmu." Entah kenapa Izzam yang biasanya kalem tiba-tiba cerewet dan Fazila yang cerewet justru menjadi pendiam. Sepertinya dunia sudah terbalik.


"Kapan acaranya?" tanya Fazila dengan suara bergetar. Sekuat tenaga Fazila menahan diri untuk tegar di depan Izzam, akhirnya runtuh juga pertahanannya. Siapa pun yang melihat ekspresi Fazila saat ini pasti tahu bahwa gadis ini sedang bersedih.


"Chila, kau baik-baik saja?" tanya Izzam khawatir.


"Aku baik-baik saja," ujar Fazila sambil menekan kepalanya.


"Kapan acaranya?" tanyanya dengan wajah meringis.


"Besok pagi jam 9," sahut Izzam dan jawaban itu membuat kepala Fazila berdenyut lebih kencang.


"Apakah masih ada waktu untuk menghentikan itu?" tanya Fazila dalam hati dengan mata yang terpejam.


"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Izzam tidak percaya jika Fazila baik-baik saja.


"Aku tidak apa-apa terima kasih banyak," ucap Fazila lalu kembali ke bangkunya sendiri dan menaruh kepala di atas meja.

__ADS_1


"Aku harus menemui dokter Davin sore ini juga, aku yakin dia akan mengontrol persiapan tempat acara pernikahan sebelum besok benar-benar digunakan. Semoga ini belum terlambat. Aku yakin dia ingin menikahi gadis itu karena kecewa padaku," batin Fazila.


Bersambung.


__ADS_2