
Seminggu setelah bertemu Izzam, dokter Davin baru bisa kembali ke pondok pesantren tempat Fazila belajar karena kesibukannya yang Semaki padat saja. Bahkan kali ini dia tidak hanya bertugas di satu rumah sakit saja.
"Cari siapa?" tanya ustadz Anna saat dokter Davin mengucapkan salam sambil memencet bel di pintu pagar.
"Cari Chila," sahut dokter Davin.
"Maaf, bawa kartu keluarga tidak?"
Dokter Davin terhenyak, bagaimana mungkin ingin bertemu seseorang saja harus menunjukan kartu keluarga, kalau KTP mungkin masuk akal. Barangkali ustadzah di hadapannya mengantisipasi agar tidak ada santri yang diculik.
"Aturan di sini memang seperti itu, kalau bukan mahramnya tidak diperkenankan bertemu. Jadi KK itu untuk membuktikan bahwa tamu yang ingin menemui santri benar-benar dari keluarganya ataukah tidak. Jadi kalau tidak ada, Anda tidak diperkenankan untuk bertemu."
"Oh begitu ya ustadzah, sebenarnya saya bukan keluarga Chila, hanya teman Abangnya, lagipula saya tidak ingin bertemu, cuma ingin memberikan ini. Kebetulan saya bertugas di kota ini jadi teringat dengan adik teman saya." Dokter Davin menunjukan bungkusan di tangannya. Persis seperti minggu kemarin, tapi sekarang bertambah satu bungkus keci berisi seperti kado.
"Kalau begitu boleh saja. Biar saya yang menyampaikan."
Dokter Davin mengangguk lalu mengulurkan bungkusan pada ustadzah Ana.
"Oh ya, siapa namamu?"
Pertanyaan ustadzah Ana membuat dokter Davin termenung sesaat. Baginya dia harus menyamar menjadi orang lain dulu. Ini terlalu cepat untuk memberitahukan keberadaan dirinya terhadap Fazila. Namun, dia bingung memikirkan nama teman Nathan agar Fazila percaya begitu saja.
"Lukas, ya nama saya Lukas," sahut dokter Davin sedikit gugup. Di dalam hati berdoa semoga saja dia tidak salah nama. Ustadzah Ana mengernyit, ia berpikir sepertinya dia pernah melihat dokter Davin, tapi ia benar-benar lupa pernah melihat dimana.
"Baik, akan saya sampaikan."
"Terima kasih ustadzah, kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum!"
"Sama-sama, wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Keduanya melangkah dengan arah yang berlawanan. Dokter Davin melangkah ke arah mobilnya terparkir sedangkan ustadzah Ana langsung menuju kamar Fazila.
"Oh iya, sekarang kan Chila masuk ada di sekolah," ujar ustadzah Ana lalu membalikkan badan, menemui Fazila di sekolah.
"Ada apa ustadzah?" tanya Fazila kala mendapati ustadzah Ana melambaikan tangan ke arah Fazila.
"Ini ada kiriman dari seseorang."
"Siapa Ustadzah?"
"Katanya teman Abangmu, namanya Lukas."
"Oh, Bang Lukas, tumben," ujar Fazila sambil meraih bungkusan yang diulurkan oleh ustadzah.
"Katanya kebetulan dia bertugas di kota ini, jadi sekalian mampir ke tempat ini dan memberikanmu ini semua."
"Oh begitu ya ustadzah, ya sudah terima kasih ya."
"Sama-sama, kalau begitu ustadzah pergi dulu. Kau sudah istirahat, kah?"
__ADS_1
Fazila mengangguk.
"Kalau begitu kamu bisa menaruh bungkusan itu dulu ke kamarmu!" Fazila mengangguk. Ustadzah Ana tersenyum lalu pergi setelah mengucapkan salam.
"Chila! Apaan tuh?" Ketiga sahabat satu kamar Chila langsung berlari ke arahnya karena penasaran dengan bungkusan yang dipegang oleh Fazila.
"Dapat kiriman dari teman akrab Bang Nath. Sepertinya saya harus kembali ke pondok dulu untuk menaruh ini," ucap Fazila lalu melangkah pergi dengan langkah panjang.
"Chila tunggu dong!" Keduanya menyusul dengan sedikit berlari.
"Kalian mau ikut?"
"Iya dong, kan kepo dengan isi dalam bungkusan itu," sahut Andin.
"Kalau begitu ayo cepat, takut bel masuk kelas keburu berbunyi!"
Ketiganya mengangguk dan berlari ke arah kamar mereka, tidak sampai 10 menit mereka sudah sampai ke kamar mereka.
"Ayo buka dong Chila, buruan!"
"Astaghfirullah Andin buru-buru amat sih," keluh Anggita.
"Ini masih mau dibuka, lagian paling isinya makanan Din, mau makan sekarang?" Chila menyodorkan bungkusan yang ternyata berisi camilan pada Andin.
"Allahuakbar, banyak sekali Chila!" Mata Andin melotot melihat banyak camilan dalam plastik yang berukuran besar itu.
"Hijau tuh mata lihat makanan!" seru Qiana.
"Sepertinya ini makanan, coba periksa!" Fazila memberikan plastik yang satu itu pada Anggita sedangkan dirinya penasaran dengan kotak seperti kado.
"Oh ya, aku ultah yang ke 16 sekarang," gumam Chila.
"What?! Kau ultah?" tanya ketiganya serentak karena ternyata mereka tidak ada yang mengingat hari lahir Fazila.
"What-What! Kayak bukan santri aja ngomong gitu. Ngomong masyaallah napa?" protes Chila.
"Tumben nih anak bijak, hahaha." Andin malah menertawakan Fazila.
Fazila tidak menanggapi candaan Andin, dia fokus pada kado di depannya. Dengan cekatan, tangannya merobek kertas. Dia tercengang melihat isi dari kotak tersebut.
"Al-Qur'an? Bang Lukas memberikanku AlQur'an?" Fazila seolah tak percaya.
"Kenapa emang Chila? Justru bagus loh hadiah itu bisa dipakai selamanya. Saya pikir teman Abangmu cerdas loh, dia kasih kamu Kitab suci agar setiap kamu membacanya, setiap huruf yang kau eja akan mengalirkan pahala untuknya juga," ujar Qiana.
"Masyaallah." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Fazila. Dia lalu bangkit berdiri dan menyimpan Al-Qur'an tersebut di rak lemarinya.
"Chila, ada yang lain nih!" seru Anggita sambil mengambil beberapa lembar foto Fazila saat belum berhijab. Kertas itu berada di bagian bawah kotak tadi, tapi dalam plastik yang sama.
"Masyaallah seksi banget!" seru ketiganya serentak membuat Fazila mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Apa sih yang kalian lihat?" Fazila segera kembali dan menarik kertas dari tangan Anggita.
Fazila terlihat syok ternyata itu adalah fotonya saat dia masih berpakaian mini, tidak seperti sekarang yang berhijab.
"Kapan Bang Lukas mengambil fotoku?" Fazila bingung, dia ingat sekali, selama bertemu dengan Lukas dia selalu berpakaian tertutup karena pasti ada Nathan yang akan selalu protes.
"Tuh ada tulisan di belakangnya!" tunjuk Andin. Segera Fazila membalik kertas foto di tangannya.
[Yang rajin sekolah dan mengaji ya anak manis, tundukkan pandangan! Jangan tergoda dengan santri cowok di sana. Aku akan menunggumu. I miss you, Chila-ku.]
"Cie, cieeee! Fazila dapat jodoh!" Ketiga temannya malah bersorak kegirangan.
"Apa-apaan nih Bang Luk, dia pikir ini bukan pesantren apa? Kalau sampai ini sempat dibaca ustadzah Ana tadi bisa mati aku," kesal Fazila.
"Tenang Chila, ustadzah Ana itu amanah, nggak akan mengecek sebelum sampai ke tanganmu. Eh by the way, Lukas tuh cakep nggak?" goda Andin.
"Cakep, kayak cowok-cowok Korea gitu," ujar Fazila dengan raut wajah yang masih kesal.
"Kalau kamu nggak suka bisa kasih sama aku," ujar Andin, sok genit. Kedua temannya hanya geleng-geleng kepala.
"Boleh, ambil saja kalau mau. Aku sama sekali nggak berminat berhubungan dengan dia," ujar Fazila lagi.
"Tuh Al-Qur'anya sekalian untukmu, saya lihat punyamu sudah ada beberapa lembar yang robek, jadi perlu diganti," ucap Fazila sambil menatap iba pada Andin.
"Jangan menatapku seperti itu. Punyaku ada yang robek karena aku terlalu rajin. Sudah lebih sepuluh kali aku khatam," ujar Andin tidak suka dengan tatapan Fazila.
"Beneran ya, Chila?"
"Bener, ambil aja!"
"Sekalian tuh cowok beneran kasih saya ya. Liburan nanti aku mau pulang ke rumahmu ajalah," ujar Andin dan langsung mendapat sentilan di jidat dari Qiana.
"Ingat status kita sebagai santri, jangan centil! Jangan mempermalukan pesantren kita!" nasehat Qiana.
"Baik ustadzah," ujar ketiga temannya lalu tertawa bersama.
"Eh beneran deh aku kepo sama Lukas," ucap Andin lagi masih penasaran.
"Mau aku jodohkan?" tawar Fazila.
"Kalau beneran cakep sih iya."
"Beneran kok, kayak artis Korea," ucap Fazila meyakinkan.
Ketiganya benar-benar dibuat penasaran oleh Fazila.
"Tapi sayang dia non-muslim, hahaha...." Fazila tertawa renyah membuat ketiganya langsung menelan ludah.
"Payah loh Chila, kenapa nggak ngomong sedari tadi? Kalau beda agama mah bukan hanya cakep saja yang kita dapat tapi capek," ucap Andin lemas.
__ADS_1
Bersambung.