DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 47. Waktu Terakhir


__ADS_3

"Chila, bagaimana keadaan kamu?" tanya Nyai Fatimah saat setelah mempersilahkan Fazila duduk di hadapannya.


"B–baik Nyai," sahut Fazila gugup, dia yakin pasti setelah ini dia akan mendapatkan hukuman. Dalam hati Fazila menahan kekesalan pada Heni. Mau apa gadis itu sebenarnya? Mengapa selalu ikut campur urusannya?


"Sudah mendingan berarti, kalau belum ada perkembangan setelah diberikan obat rencananya kami akan membawa kamu ke dokter."


Sikap lembut Nyai Fatimah tidak membuat Fazila tenang, gadis itu paham bahwa Nyai Fatimah hanya berbasa-basi dulu sebelum beralih pada pokok pembicaraan.


"Alhamdulillah Nyai sudah lebih sehat," sahut Fazila jujur.


"Alhamdulillah kalau begitu. Oh, ya, tadi sore kenapa tidak ikut kajian?"


Fazila menelan ludah mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sudah ia sangka pembicaraan sebelumnya hanya basa-basi saja meskipun sebenarnya Nyai Fatimah memang perduli padanya.


"Ka-karena waktu itu saya belum sehat benar Nyai." Suara Fazila terdengar lirih.


"Tapi ada yang melapor kamu malah keluyuran di luar area pesantren."


Sontak Fazila langsung menoleh ke belakang, menatap Heni dengan aura permusuhan. Namun, yang ditatapnya malah memainkan mata sambil tersenyum manis membuat Fazila semakin dongkol saja.


"Kenapa?" tanya Nyai Fatimah lagi karena tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Pikiran saya sumpek Nyai, sekali-kali saya ingin melihat-lihat keadaan dan menghirup udara di luar pesantren. Bosan berada di lingkungan pesantren terus. Sepertinya saya memang butuh jalan-jalan sebentar agar bisa sehat kembali. Bukankah badan yang sehat juga karena pikiran yang sehat?" Fazila menjawab dengan menundukkan kepala. Tak berani menatap wajah Nyai Fatimah, apalagi setelah ia pikir-pikir jawabannya mungkin sedikit lancang.


"Kau benar, para santri sudah lama ya tidak menjelajah di luar lingkungan kita. Lain kali saya akan membicarakan pada ustadz dan ustadzah agar mengatur waktunya."


Mata Fazila berbinar mendengar jawaban Nyai Fatimah yang tak disangkanya. Dia pikir Nyai Fatimah akan marah padanya. Nyatanya malah memberikan wadah untuk menampung keluhannya. Berbeda dengan Heni yang tampak tidak senang mendengar hal itu. Sebenarnya senang bisa berjalan-jalan di luar tetapi tidak senang karena Fazila tidak jadi dihukum.


"Oh ya Chila, kamu tadi bilang sumpek, kan?"


Fazila mengangguk dan berkata, "Iya Nyai."


"Kalau begitu besok ikut Nyai."


"Maaf, kemana Nyai?"


"Belanja, terus setelahnya mendatangi sebuah acara penting."


"Baik Nyai."


"Oh ya besok sekitar jam setengah 7 pagi kita pergi belanja, jadi kamu sudah harus siap. Untuk pelajaran kamu mampu menyusul, kan?"


"Siap Nyai," jawab Fazila dengan begitu sumringah.


"Yasudah kamu kembali ke tempatmu dan kita mengaji sekarang!"

__ADS_1


Fazila mengangguk lalu kembali ke sisi teman-temannya yang sedang melantunkan ayat-ayat dari kitab suci.


"Enak nih Chila, aku lebih dulu sekolah di pesantren ini tak pernah sekalipun mendapatkan tawaran untuk ikut Nyai," bisik Andin merasa iri.


"Giliran, mungkin suatu hari nanti kamu yang akan diajak," ucap Fazila.


"Fokus mengaji ya jangan bicara!" seru Nyai Fatimah lalu membuat mereka yang bisik-bisik tadi langsung berhenti dan kembali membawa Al-Qur'an.


Satu persatu Nyai Fatimah mengabsen santriwatinya untuk memeriksa bacaan mereka, apakah sudah sesuai dengan ilmu tajwid ataukah belum.


***


Esok hari Fazia sudah siap dengan gamis berwarna gold dengan khimar senada. Senyum merekah di bibirnya saat Andin mengatakan dirinya cocok menjadi Nyai.


"Ada-ada saja kamu, aku cocoknya bukan jadi Nyai tapi jadi Nya-muk," kelakar Fazila lalu terkekeh. Tak nampak lagi gurat kesedihan di wajah cantiknya yang beberapa hari ini terlihat sendu dan tak bergairah.


Teman-temannya ikut merasa bahagia melihat perkembangan Fazila yang seolah melupakan hal yang membuat dia bersedih meskipun pemicunya masih menjadi misteri bagi mereka.


"Chila dipanggil Nyai," ujar seorang santriwati sambil berdiri di depan pintu.


"Baik terima kasih," sahut Fazila dengan tersenyum manis dan gadis itu mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan kamar mereka.


"Jangan-jangan Nyai ingin memungut dirimu jadi mantu," goda Anggita.


"Pingit bukan mungut, kau kira Fazila sampah apa," protes Qiana.


"Janganlah, Gus Firdaus itu jatahku," ucap Andin dengan wajah yang memelas membuat Fazila langsung meraup wajah sahabatnya itu.


"Tenang saja aku tak mungkin menikung Andin, meskipun aku yakin Gus Firdaus sama sekali tidak naksir sama kamu," canda Fazila membuat Andin membelalakkan mata dan hendak berteriak. Namun, sebelum Andin mengeluarkan suaranya terlebih dahulu Fazila berlari keluar.


"Chila!" teriak Andin membuat kedua sahabatnya yang lain menutup telinga karena suara Andin memekakkan gendang telinga.


"Kau bisa membuat santri yang lain jadi gusar tahu!" protes Qiana karena memang melihat ada beberapa santri yang berlari ke kamar mereka.


"Bagaimana sudah siap, Chila?" tanya Nyai saat melihat Fazila berdiri di depan kamarnya.


Fazila mengangguk.


"Kalau begitu kita berangkat," ujar Nyai Fatimah lalu mengandeng tangan Fazila keluar dari area pesantren. Di luar mobil yang akan mereka tumpangi sudah siap.


"Masuklah!" perintah Nyai Fatimah saat Fazila hanya berdiri di luar mobil. Sekali lagi gadis itu mengangguk dan menurut.


"Aku mengajakmu karena Kyai tidak ada di rumah, jadi tidak enak jika hanya pergi berdua dengan pak sopir," jelas Nyai Fatimah.


"Iya Nyai, tapi maaf kalau boleh tahu Pak Kyai pergi kemana?"

__ADS_1


"Menghadiri pesta pernikahan salah satu santrinya, alumni di sini."


Jawaban Nyai Fatimah mengingatkan Fazila pada informasi Izzam tentang pernikahan dokter Davin yang akan dilangsungkan hari ini.


"Oh."


Fazila hanya manggut-manggut, tak ingin tahu lebih dalam setelah apa yang diucapkan suster Tantri padanya. Biarlah nama pria itu terkubur dalam hatinya seiring waktu yang bergulir. Meratapi keadaan hanya akan membuat hatinya luka dengan penyesalan.


Mobil pun melaju pesat dan berhenti di depan ke sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.


"Kau carilah barang yang kau inginkan biar saya yang bayar!" perintah Nyai Fatimah lalu meninggalkan Fazila untuk memilih-milih barang-barang kebutuhannya sendiri.


Fazila terdiam, dalam hati berpikir mungkin ini yang membuat iri teman-temannya karena ternyata dengan ikut Nyai mereka bisa mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan, dalam artian belanja gratis.


Untuk mereka yang memang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah mungkin ini adalah tawaran menarik dan menyenangkan, tetapi bagi Fazila sendiri justru canggung saat orang lain yang akan membayar belanjaannya mengingat orang tuanya mempunyai uang yang lebih dibandingkan dengan Nyai Fatimah sendiri.


Oleh karena itu Fazila hanya melihat-lihat saja tanpa ada keinginan apapun untuk membeli sesuatu. Dia juga merasa tidak membutuhkan apapun saat ini.


Hampir 2 jam Nyai Fatimah berbelanja dan Fazila yang sudah terlihat lelah menyusuri mall akhirnya memutuskan untuk menepi, duduk di atas kursi milik seorang penjual kopi di salah satu gerai dalam mall tersebut. Rasa haus membuatnya langsung memesan ice coffea meskipun ia baru sembuh dari demam.


"Chila, kenapa tak ada apapun yang kamu pilih?" tanya Nyai Fatimah sambil menenteng belanjaannya. Tak lupa dia memberikan sebuah barang pada pemilik toko untuk dibungkus sebagai kado.


"Tidak ada yang menarik dan hari ini saya tidak membutuhkan apapun. Bisa berjalan-jalan saja saya sudah puas," jawab Fazila membuat Nyai Fatimah hanya menggeleng kemudian tersenyum. Dia menebak pasti sebelum tinggal di pesantren kedua orang tua Fazila sering mengajak putrinya pergi berlibur.


Jadi, saat berada lama di dalam pesantren gadis itu merasa tertekan dan terkurung karena tidak bisa menghirup udara luar dengan bebas seperti dulu lagi.


"Kau ambillah kado jangan sampai mempermalukanku nanti, setelah ini kita akan pergi ke sebuah acara dan kau jangan sampai datang dengan tangan kosong!" perintah Nyai tanpa bisa dibantah.


Fazila menghela nafas panjang lalu akhirnya meminta pendapat pada pemilik toko yang sedang membungkus kado Nyai Fatimah, kiranya benda apa yang bisa ia bawa hari ini.


Fazila melirik arloji di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh saat mereka kembali ke mobil. Ia tersenyum miris, saat ini dokter Davin pasti sudah mengucapkan kalimat qabul dalam acara ijab qabul pernikahannya. Itu artinya semua sudah berakhir. Tak boleh ada harapan lagi yang tersisa dalam hati.


"Belok sini Pak!" perintah Nyai Fatimah saat mereka melihat sebuah gang.


Deg.


"Ini–" Jantung Fazila berdetak lebih kencang dengan ritme yang beraturan. Ini adalah tempat yang kemarin ia datangi. Dekorasi tempat acara yang membuatnya terpukau sekaligus membuat hatinya pilu secara bersamaan.


Ternyata semua itu bukan mimpi.


Masih terekam jelas di ingatan bagaimana suster Tantri bicara panjang lebar padanya kemarin. Dia tidak menyangka Nyai Fatimah akan datang ke acara ini padahal waktunya sudah terlambat. Fazila pikir Nyai Fatimah akan mengajaknya ke tempat lain.


"Sah!" Terdengar kata sah dari mulut banyak orang membuat kaki Fazila melemas seketika. Ketegaran yang ia bangun sejak semalam runtuh dalam sekejap saja.


"Chila! Kenapa kau termenung? Ayo turun!" perintah Nyai Fatimah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2