
"Enak saja kau nyuruh aku bohong sama Nyai, ogah takut kena laknat," ucap Andin lalu terkekeh sendiri sedangkan Fazila sudah nampak terlelap.
"Dosa tahu," protes Andin lagi, tetapi tidak ada tanggapan dari Fazila.
"Chila kau dengar aku bisa tidak?"
"Halo!" Andin melambaikan tangan di depan wajah Fazila.
"Astaghfirullah sudah tidur dia," ucap Andin lalu cemberut.
"Jadi dari tadi aku ngobrol sendiri?" Gadis itu menepuk jidatnya sendiri lalu ikut berbaring di samping Fazila.
Tengah malam Andin terbangun oleh ketukan pintu kamar. Dia melenguh sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi. Ada apa sih bangunin aku malam-malam begini?" protes Andin tidak senang tidurnya ada yang mengganggu.
"Sahur! Sahur!" seru temannya itu di luar pintu.
"Astaghfirullah, aku lupa kalau sekarang malam Ramadhan." Andin menggaruk kepala, matanya masih tampak mengantuk.
"Ya udah deh kamu balik duluan! Entar aku nyusul, mau bangunin Chila dulu."
"Oke, tapi jangan ikut tidur ya. Awas kalau sampai tidur nanti nggak kebagian jatah makan sahur," ucap santriwati itu memperingatkan hanya untuk menakut-nakuti Andin agar tidak molor.
"Oke siap," ucap Andin lalu melangkah ke arah Fazila.
"Yasudah kalau begitu saya pamit dulu. Ditunggu di dapur ya Din!"
"Iya."
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alailumsalam warahmatullaahi wabarakatuh, Chila bangun dong!" Andin mengguncang lengan Fazila, tetapi gadis itu malah bertambah nyenyak.
"Chila! Chila bangun! Waktunya sahur ini!" Tak ada jawaban dari Fazila.
"Chila bangun dong ini sudah hampir jam setengah tiga nih!" Andin tak mau menyerah, kalo ini menggelitik kaki Fazila. Namun, yang ada di terjungkal karena Fazila langsung reflek menendang."
"Inalillahi, belum sahur makanan malah lebih dulu sahur tendangan." Andin meringis sambil mengusap-usap pahanya yang sakit akibat terbentur lantai.
"Chila kau mengeluarkan iler tuh!" seru Andin mulai kesal.
"Ini orang tidur apa mati sih? Astaghfirullah." Kemudian terlintas ide gila di otaknya.
"Aha!" Andin berjalan pelan ke arah lalu mendekatkan mulutnya ke mulut Fazila.
"Ada maling! Ada maling!" serunya.
"Ada maling!" teriak Fazila lalu terduduk.
"Hahaha, kapok," ucap Andin lalu tertawa renyah.
"Aku tidur lagi deh," ucap Fazila hendak berbaring kembali, namun dicegah oleh Andin.
"Eh, eh! Mau kemana lagi! Ayo sahur!" serunya sambil meraih tangan Fazila dan menariknya.
"Kan aku sudah bilang, aku ngga mau sahur," keluh Fazila.
"Tapi Nyai pasti marah, tadi beliau datang langsung ke sini dan bangunin kamu secara langsung. Namun, bukannya bangun kamu malah keluar iler, kan Nyai jadi ilfeel dan langsung pergi."
"Serius kamu Din?" tanya Fazila dengan mata yang langsung terbuka lebar.
"Hooh, ayo bersihkan wajah lalu ke dapur, biar Nyai tidak jadi semakin ilfeel sama kamu!"
"Oke deh." Dengan terpaksa Fazila bangkit dari duduknya lalu melangkah mengekor Andin ke kamar mandi. Setelah itu menemui teman-teman yang lain yang baru saja membagikan makanan pada santriwan melalui Izzam.
__ADS_1
"Lah mereka habis beraktivitas, kita mah enak bisa langsung makan," bisik Andin di telinga Fazila.
"Sudah jangan banyak ngomong, langsung sahur aja," protes Fazila.
Tidak seperti yang dibayangkan Fazila, bahwa setelah sahur dia bisa kembali tidur, nyatanya mereka tidak diperkenankan sampai usai shalat subuh.
"Malas kalau begini," keluh Fazila.
"Sudah tidak usah mengeluh, sehabis subuh kita sudah bebas mau ngapain aja," ujar Tina.
"Beneran?"
"Iya, lagipula kita kan hanya tinggal beberapa orang saja."
"Oke kalau begitu," ucap Fazila jadi bersemangat.
Pagi-pagi setelah habis shalat subuh Fazila langsung kembali ke kamar dan tidur. Jam sepuluh pagi ia baru bangun dan teman-temannya mulai berkutat di dapur. Tanpa banyak bicara Fazila langsung bergabung. Ia terlihat senang bisa ikut memasak sehingga sedikit banyak tahu caranya mengolah masakan.
Sore hari mereka langsung membagikan takjil di pinggir-pinggir jalan raya.
Sebuah mobil yang melintas langsung memarkirkan mobilnya di tepi jalan saat menyadari melihat keberadaan Fazila.
"Chila!" seru dokter Davin lalu turun dari mobil. Ia segera mendekat pada kerumunan para santriwati.
"Gawat dokter Davin!" Chila panik, memberikan dus berisi makanan lalu hendak kabur. Namun, saat menyadari salah satu temannya memakai niqab dia langsung mendekat dan berbisik.
"Pinjem," ucap Fazila, tanpa mendengar persetujuan dari pemiliknya, Chila langsung meraihnya dan memasang pada wajahnya sendiri.
Pemilik niqab kesal dan ingin protes pada Chila, tetapi tidak jadi saat melihat dokter Davin mendekat.
"Apa kalian melihat Chila? Atau dia diantara ada yang namanya Fazila?"
Mereka saling pandang dan Fazila yang wajahnya tertutup kini dengan santainya menggeleng.
__ADS_1
"Oh tidak ada ya? Yasudah kalau begitu mungkin saya yang salah lihat tadi. Terima kasih," ucap dokter Davin lalu melangkah menuju mobilnya kembali.
Bersambung.