
"Assalamualaikum!" seru Gus Firdaus sambil mengetuk pintu.
"W'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Andin dengan ekspresi girang sedangkan Fazila tampak bingung. Dia memikirkan harus bersembunyi dimana agar keberadaannya tidak diketahui untuk saat ini.
"Jawab Chila, orang mengucapkan salam kok nggak dijawab," protes Andin.
"Sudah dalam hati," bisik Fazila.
"Tapi kan–"
Segera Fazila menutup mulut Andin dengan telapak tangan kanannya lalu berbisik, "Aku akan bersembunyi dan katakan pada Gus Firdaus saya tidak ada di sini!"
Andin terbelalak lalu mengangguk juga. Fazila tersenyum lalu segera mencari tempat persembunyian.
Dirasa Fazila sudah aman, Andin langsung membuka pintu.
"Ada apa Gus, tumben datang ke sini tanpa Nyai Fatimah?" tanya Andin berbasa-basi.
"Dimana Chila?" tanya Gus Firdaus langsung.
"Kau datang kemari hanya ingin menanyakan orang yang tidak ada? Kenapa tidak menanyakan diriku saja?"
Gus Firdaus mengernyit kemudian menggeleng.
"Kalau sudah jelas ada di depan, mata ngapain masih ditanyakan?"
__ADS_1
"Oh iya ya, saya lupa," ujar Andin dengan begitu bodohnya membuat Fazila yang melihat dari persembunyiannya ingin melempar sepatu pada mulut Andin.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, dimana Chila?"
"Oh Chila, ya? Dia ada–"
Sontak Fazila terbelalak. Dia merasa ketar-ketir melihat Andin hendak menyebutkan keberadaan dirinya.
"Dasar Andin bukannya fokus dengan dengan yang diucapkan oleh Gus Firdaus, malah fokus menatap wajah pria itu." Di tempat persembunyiannya, Fazila nampak geram.
"Iya Chila, ada di sini, kan?"
"Eh tidak, siapa bilang? Chila dari saat menghilang di sekolah belum kembali juga."
"Tidak ada," bohong Andin.
"Tidak ada? Padahal kamu sampai lama begitu untuk membuka pintu. Yakin tidak ada orang lain di dalam?" Gus Firdaus menatap wajah Andin dengan curiga lalu tanpa pamit melenggang masuk ke dalam kamar.
"Eh, eh, eh! Gus Firdaus dilarang masuk kamar wanita! Apalagi di sini hanya ada aku dan Gus Firdaus saja." Andin menghalangi jalan Gus Firdaus sehingga membuat pria tersebut menjadi lebih curiga bahwa Andin menyimpan sesuatu di kamar itu.
"Menyingkir aku ingin memeriksa keadaan kamarmu!"
"Ya, terserah kalau itu mau Gus Firdaus, tapi kalau tiba-tiba nanti ada yang menggerebek kita berdua jangan salahkan aku yang sudah memperingatkan. Namun, Gus Firdaus jangan khawatir karena jika hal itu terjadi saya siap menjadi istri Gus Firdaus," ucap Andin lalu cengengesan sedangkan Gus Firdaus terbelalak.
"Ya sudah aku pergi saja dan jika nanti Chila kembali, katakan keluarganya datang dan ingin bertemu dengannya." Setelah mengatakan kalimat di panjang tersebut Gus Firdaus lalu pergi meninggalkan kamar Andin dan teman-temannya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, setelah memastikan Gus Firdaus telah pergi dari depan kamar tersebut, Andin lalu menutup pintu dan memberi kode agar Fazila keluar dari persembunyiannya.
"Sekarang apa rencanamu? Kalau menurutku lebih baik kau ceritakan saja apa yang terjadi sebenarnya!"
Fazila diam, dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Kenapa masih bengong? Putuskan sekarang juga kau ingin menemui kedua orang tuamu atau terus bersembunyi seperti tikus-tikus pengecut."
Fazila terbelalak mendengar kata terakhir pada kalimat yang diucapkan oleh Andin.
"Perumpamaannya jelek sekali," keluh Fazila.
"Chila, aku sarankan puasa kau Keluar dan menemui kedua orang tuamu agar mereka tidak khawatir dengan keberadaanmu yang telah diberitakan hilang dari pesantren."
"Baiklah," ucap Fazila karena tidak ingin mama dan papanya khawatir.
Dia pun langsung pergi.
Sampai di teras rumah kyai dan nyai, Fazila tampak gugup untuk masuk karena melihat di dalam sana bukan hanya ada kedua orang tuanya melainkan ada dua orang dewasa lainnnya selain Nyai Fatimah dan Kyai Miftah dan Izzam.
"Nah itu calon menantumu Pak Bintang dan Ibu Mentari."
Sontak saja bukan hanya Fazila yang terbelalak, tetapi Izzam yang ada di dekat mereka yang tadinya terlihat tenang kini menjadi gusar.
Bersambung.
__ADS_1