
Beberapa bulan kemudian.
Fajar menyingsing di ufuk timur, perlahan dan pasti cahaya mentari yang cerah menembus melalui jendela kamar yang gordennya tersingkap separuh dalam kamar yang Fazila dan teman-temannya huni.
Cahaya terang yang menyilaukan mata membuat Fazila segera membuka mata.
"Dasar teman-teman, kenapa tidak membangunkan aku?" kesalnya lalu segera bangkit dari posisi berbaring dan bergegas menyambar handuk. Dengan langkah yang sedikit oleng karena terbangun secara mendadak, Fazila keluar dari kamarnya menuju kamar mandi.
Saat melintasi kamar para santriwati yang lain, Fazila melihat mereka semua sudah siap dengan seragamnya.
"Waduh, sudah jam berapa sekarang?" Fazila yang gusar langsung mempercepat langkah.
Sampai di dalam kamar mandi Fazila membersihkan diri dengan terburu-buru. Selesai, gegas dia kembali ke kamar dengan berlari.
"Kalian darimana saja?!" sergah Fazila saat melihat ketiga temannya berjalan santai ke dalam kamar. Fazila benar-benar kesal. Dirinya bisa saja terlambat sekolah hanya gara-gara teman-temannya yang tidak mau membangunkan dirinya. Sungguh mereka benar-benar tega pikir Fazila.
Ketiganya tidak menjawab, wajahnya malah terlihat pucat.
"Ada apa? Kenapa kalian berekspresi seperti itu? Kalian digigit Zombie atau vampir sampai kehabisan darah sehingga berwajah pucat seperti itu?" Fazila bicara dengan suara ngegas.
Ketiganya menggeleng membuat Fazila semakin kesal karena mereka tidak mau bersuara.
"Minggir!" ketus Fazila lalu masuk ke dalam kamar dan menyenggol lengan para sahabatnya. Tanpa mau banyak tanya lagi ia segera mengenakan seragam sekolahnya.
"Chila sekolah libur, ada orang tua Nyai Fatimah meninggal," ujar Qiana lalu melepaskan seragamnya diganti rok panjang dan hem berlengan panjang juga.
Fazila membeku, syok dan seakan tak percaya. Kemarin-kemarin Nyai sepuh itu tampak sehat-sehat saja. Namun, yang namanya manusia tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Apalagi yang sudah lanjut usia, memang harus lebih bersiap-siap karena secara logika semakin dekat dengan kematian.
"Kami sengaja tidak membangunkan dirimu karena kamu sedang menstruasi. Jadi tidak perlu shalat, kan?" ujar Andin selanjutnya.
"Tadi saat kami memakai seragam sudah hendak membangunkanmu, tapi di luar ramai suara orang-orang sehingga kami langsung berlari untuk memeriksa," lanjut Anggita.
"Dan ternyata Nyai sepuh meninggal, sekolah untuk hari ini diliburkan, pesantren sedang berduka."
Fazila mengangguk lemah lalu melepaskan kembali seragam yang belum seutuhnya melekat di tubuh. Ia memakai baju sehari-hari.
__ADS_1
"Kalau begitu kita harus ke sana," ujar Fazila sambil memasang kerudung Paris dengan tergesa-gesa.
Ketiganya mengangguk dan mengikuti langkah Fazila dari belakang. Sampai di kediaman Nyai sepuh sudah banyak para pelayat yang berbela sungkawa.
Para santri baik pria maupun wanita memenuhi serambi rumah dengan membaca kitab suci Alquran. Mengawal kepergian Nyai sepuh dengan lantunan ayat suci yang menyentuh hati.
Diantara deretan para santriwan ada Izzam yang melirik ke arahnya, ia baru saja menyelesaikan bacaan surat Yasin dan kini bangkit hendak membantu para ustadz untuk menyiapkan tempat pemandian jenasah. Beberapa santri lelaki juga terlihat memasang terop di halaman rumah sebagai tempat bernaung bagi orang-orang yang ikut acara tahlilan nantinya.
Fazila membungkuk, mengucapkan kata permisi saat melintasi orang-orang yang duduk memenuhi teras rumah. Dia meminta izin kepada Nyai Fatimah untuk melihat wajah Nyai sepuh sebelum akhirnya ikut mengaji.
Selesai Fazila pamit ke belakang untuk menyiapkan makanan untuk para pelayat yang datang hari itu. Di dapur membantu si Mak.
Semakin siang, pelayat semakin banyak berdatangan, sementara jenazah sudah selesai dikuburkan.
"Chila tuh lihat siapa yang datang!" ujar Andin sambil senyum-senyum sendiri. Fazila mengernyitkan dahi, bingung dengan tingkah sahabatnya yang aneh, tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba tersenyum penuh makna.
"Chila, tolong bawa makanan ini ke para tamu ya!" perintah si Mak petugas dapur.
"Baik Mak," ujar Fazila lalu meraih piring yang sudah diisi makanan. Seperti biasa dia langsung membawa ke para tamu wanita karena tamu pria sudah ada santri laki-laki yang bertugas.
"Baik Pak Kyai," sahut Fazila sambil mengangguk lalu menenteng piring-piring itu mendekat ke arah Kyai.
"Permisi!" Fazila duduk membungkuk dan menata piring berisi makanan satu-satu di depan para pelayat pria. Sebenarnya dia tidak nyaman, tetapi ia harus menuruti perintah Kyai Miftah yang menurutnya aneh. Tak seperti biasa Kyai memberikan tugas seperti ini.
"Maaf Chila saya jadi meminta tolong kamu, Izzam dan yang lainnya sepertinya masih belum selesai memberikan makanan pada tamu yang lain," ujar Kyai seakan menjawab pertanyaan di hati Fazila.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa Pak Kyai, ini bukan tugas yang sulit kok," ujar Fazila mencoba bersikap santai padahal dalam hati tidak karuan karena berada dalam lingkup para lelaki dewasa.
"Chila, apa kabar kamu?" Suara seseorang membuat Fazila yang hendak menaruh piring mengangkat wajah.
Tangan Fazila bergetar tatkala melihat wajah pemilik suara.
"Dokter?!" Seolah terpaku Fazila tidak mau melepaskan pandangannya dari dokter Davin. Entah kenapa dirinya selalu dipertemukan dengan lelaki itu padahal dokter Davin sudah mengancam tidak akan pernah muncul di hadapannya lagi jika tidak menerima lamarannya tempo dulu.
__ADS_1
Piring di tangan Fazila ikut bergetar.
"Hati-hati Chila!" seru dokter Davin tidak ingin piring di tangan Fazila jatuh membentur lantai dan pecah. Kalau itu terjadi pasti akan mempermalukan Kyai Miftah pada tamu-tamunya dan Fazila pun bisa saja mendapat masalah.
"Chila, kau tidak mengidap penyakit alzheimer, kan?" tanya Kyai Miftah dengan raut wajah khawatir.
Buru-buru Fazila meletakkan piring di depan dokter Davin lalu beringsut pergi.
"Tidak apa-apa Kyai, tiba-tiba saya pusing. Izinkan saya kembali ke kamar."
"Ya pergi dan istirahatlah!"
"Oh ya Pak Kyai kedatangan saya ke sini selain untuk berbelasungkawa sekaligus ingin memberikan ini," ujar dokter Davin sambil menyodorkan kertas ke hadapan Kyai Miftah.
Fazila yang penasaran menghentikan langkah lalu melirik ke arah dokter Davin.
"Apa ini, undangan pernikahan?" tanya Kyai Miftah sambil membolak-balik kertas undangan pernikahan.
"Iya, maaf kalau momennya tidak tepat, tetapi kalau tidak diberikan sekarang takutnya tidak sempat ke sini lagi karena setelah ini kami akan sangat sibuk sekali. Saya harap Pak Kyai bisa memakluminya."
"Ya, tidak apa-apa. Saya bahagia akhirnya dokter mau menikah juga," ujar Pak Kyai dengan senyuman tipis. Dia sangat senang akhirnya seorang santrinya yang trauma akan pernikahan sekarang sudah mau menikah.
Deg.
"Dokter Davin ingin menikah?" batin Fazila.
Jantung Fazila berdegup kencang. Gadis itu mendadak gelisah. Dia masih tidak rela jika dokter Davin bersanding dengan wanita lain.
"Ah, andai saja waktu itu aku memiliki keberanian
Andai saja aku menerima dia, hatiku tidak akan sakit seperti ini." Fazila memegang dadanya. Pipinya berurai air mata tanpa dia sadari.
"Ah Chila, kamu masih imut seperti dulu," ucap Dokter Davin kala melihat Fazila diam di tempat seperti patung.
Bersambung.
__ADS_1