
"Nih dia cari kamu, ujar Chexil sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Fazila.
"Cari aku?" tanya Fazila seakan tak percaya, hampir saja dia su'udzon pada keduanya.
"Iyalah, ngapain nelpon aku kalau bukan nyariin kamu?"
"Kukira–"
"Apaan? Jangan berburuk sangka!"
Fazila mengulurkan tangan untuk meraih ponsel Chexil dengan tersenyum lebar. Akhirnya dokter Davin ingin bicara dengannya juga.
"Halo Dok!"
"Halo Chila, sudah bangun?" tanya dokter Davin basa-basi.
Fazila tertawa renyah mendengar pertanyaan konyol keluar dari mulut dokter Davin.
"Iyalah kalau masih tidur masa aku bisa ngejawab telepon kamu?"
"Oh iya-iya," ujar dokter Davin lalu terkekeh.
"Hmm." Fazila tidak tahu harus menimpali dengan kata apa.
"Sudah makan dan minum obat?" Ini yang dikhawatirkan dokter Davin takut Fazila masih tidur dan melewatkan sarapan pagi mengingat tadi gadis itu susah untuk dibangunkan.
"Sudah barusan."
"Bagus, sorry ya aku tadi nggak bisa nunggu kamu bangun sebab terburu-buru. Sekali lagi aku minta maaf telah ingkar janji."
"Iya, nggak apa-apa."
"Kamu nggak ngambek, kan?"
"Nggak Dokter, Chila nggak apa-apa kok. Bukankah dokter sudah nitip pesan sama mama?"
"Takutnya Tante Isyana lupa, aku tahu bagaimana sikap kamu, sering kepikiran sama sesuatu bahkan yang nggak penting sekalipun."
Fazila mencebik, Chexil yang melihat ekspresi adik iparnya terlihat cekikikan.
"Nggak, Mama sudah menyampaikan pesan dokter pada Chila tadi, kok."
"Bagaimana kesehatanmu?"
"Alhamdulillah sudah baikan."
"Oke, kalau begitu saya tutup telepon dulu ya? Sebab aku belum sampai ini. Nanti kalau sudah sampai di rumah sakit dan ada waktu untuk telponan sebelum melakukan tindakan operasi aku akan menelponmu lagi. Sekarang aku terpaksa menelpon karena khawatir dengan keadaanmu, perasaanku tidak enak sedari tadi."
__ADS_1
"Ya Allah! Jadi kamu berkendara di atas motor sambil telponan, bahaya dokter. Sudah langsung tutup saja!"
"Oke."
Brak.
"Argh!" Dokter Davin berteriak. Seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya membuat ia terpaksa membanting setir untuk menghindari kecelakaan.
Deg.
Jantung Fazila berdetak kencang mendengar suara teriakan dari seberang telepon.
"Halo Dok! Halo Dokter Davin!"
Tidak ada jawaban dari dokter Davin hingga membuat Fazila cemas. Tubuhnya terasa lemas seketika.
"Bagaimana ini Kak, sepertinya terjadi sesuatu dengan dokter Davin," ucap Fazila dengan bibir bergetar karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Ada apa sih Chila?"
"Sepertinya di sana terjadi kecelakaan," ucapnya dengan wajah yang terlihat sedih.
Segera Chexil merampas ponsel dari tangan Fazila.
"Halo Davin! Halo! Halo!"
"Ada apa Xil?" tanya Tristan dengan suara yang terdengar malas untuk menerima telepon dari siapapun. Dia fokus menikmati pemandangan yang terpampang di hadapannya. Pemandangan taman di sekitar rumah yang jarang ia kunjungi karena kepadatan aktivitas selama ini.
"Tris sepertinya dokter Davin kecelakaan," ujar Chexil membuat Tristan langsung tersentak kaget.
"Kau bercanda ya Xil, tahu dari mana kamu tentang hal itu?"
"Tadi dia sedang teleponan sama Chila lalu ada bunyi benda bertabrakan diiringi suara teriakan seorang pria yang Chila yakini itu adalah suara dokter Davin."
"Kamu tahu posisi dokter Davin itu ada dimana?"
Chexil menggeleng.
"Xil?"
"Aku tidak tahu Tris, dia tidak mengatakan ada di mana dan sekarang teleponnya sudah tidak ada yang menjawab. Tolong ke sini cepat ini adikku sedang terlihat panik!"
"Baik, aku segera masuk dan kamu tolong acak keberadaan dia dari ponselmu!"
"Ba–baik," sahut Chexil sambil mengotak-atik ponsel di tangan sedangkan Fazila sendiri menatap lurus ke depan dengan tatapan hampa dengan tubuh yang masih terlihat gemetar.
"Sabar Chila, percayalah Davin tidak akan kenapa-kenapa," ujar Chexil agar Fazila tenang sedang tangannya tidak diam, masih terus mengotak-atik ponsel.
__ADS_1
Dari luar terlihat Tristan memasuki pintu dengan berlari.
"Bagaimana Xil sudah dapat alamatnya?"
"Dapat Tris, posisi dokter Davin ada di sini," sahut Chexil sambil menyodorkan ponsel ke hadapan Tristan.
"Oh di sana, aku segera ke sana," ujar Tristan, mengembalikan ponsel Chexil lalu berlari ke kamar untuk mengambil kunci mobil.
"Ikut Bang!" seru Fazila saat melihat Tristan turun dari atas tangga sambil berlari.
"Tidak usah Chila kamu tunggu kabar dariku di rumah saja," tolak Tristan karena Fazila belum sembuh dengan sempurna.
"Tapi Bang, aku khawatir, aku takut hal buruk terjadi padanya. Aku mohon izinkan aku ikut!"
"Bawa saja Tris biar nanti saya yang ngasih tahu Mama," ujar Chexil tidak ingin Fazila semakin kepikiran kalau dilarang untuk ikut.
"Baiklah, ayo cepat!" seru Tristan sambil melangkah dengan cepat. Fazila pun mengangguk dan mengejar Tristan dengan cara berlari.
Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, segera Tristan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena panik dan khawatir. Dia seolah lupa kalau Chila belum sehat benar sehingga tidak memungkinkan untuk diajak mengebut.
Sementara jauh di sana, dokter Davin bangkit dari posisinya yang ditindih oleh motornya sendiri. Ia melihat ke arah wanita yang hampir ditabraknya tadi yang bukannya menolong malah lari dari tempat kejadian.
"Sial!" kesal dokter Davin sambil memukul stang motor lalu membangunkan body motornya kembali. Setelah motor di standar satu barulah pria itu mencari keberadaan ponselnya yang terlempar entah kemana.
Di pinggir jalan, di celah rerumputan terlihat benda mengeluarkan cahaya kemudian redup dan mati.
"Itu dia!" seru dokter Davin lalu membungkuk untuk meraih benda pipih miliknya yang sudah menemani dirinya selama beberapa tahun ini.
Ia segera memencet tombolnya dan ternyata baterainya habis. Dokter Davin mendesah kasar lalu memasukkan benda tersebut ke dalam kantong celana sebelum akhirnya menaiki dan mengendarai motornya kembali di jalanan.
Dengan badan motor yang tidak mulus seperti semula akhirnya dokter Davin memutuskan mengendarai motornya dengan pelan. Ia melirik arloji di tangan dan ternyata waktunya tinggal satu jam.
"Sepertinya masih nutut waktunya," gumam dokter Davin lalu menghela nafas panjang. Kali ini matanya fokus pada jalanan agar tidak terjadi kecelakaan untuk yang kedua kalinya, karena setelah ini belum tentu dirinya bernasib baik.
Tidak butuh waktu lama dokter Davin sampai juga ke rumah sakit. Ia langsung melangkah menuju ruangannya untuk berganti pakaian sekaligus mengisi daya baterai ponselnya.
"Dokter kenapa?" tanya seorang suster yang melihat celana dokter Davin robek-robek seperti yang dipakai para preman.
"Tidak apa-apa Sus," ujar dokter Davin terus saja melangkah.
Suster Itu menggelengkan sebab melihat kulit dokter di dalam celana yang robek itu memerah seperti darah.
"Dokter terluka dan kenapa jalannya pincang seperti itu? Apa perlu saya obati?"
"Tidak perlu Sus, saya bisa sendiri," tolak dokter Davin lalu masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.
Bersambung.
__ADS_1