DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 23. Dokter Davin dan Chila 23


__ADS_3

"Tunggu! Bukankah suara tawa hantu tidak seperti itu?" Fazila diam dan mulai merasa curiga. Dia bangkit berdiri lalu mengintip ke luar melalui kaca jendela yang bergandeng dengan pintu.


Dari balik kaca yang dia singkap gordennya, Fazila dapat melihat dengan jelas Heni berjingkrak sambil tertawa renyah.


"Dasar, aku dikerjain!" geram Fazila.


"Hei buka pintunya kalau tidak kamarmu akan aku buat berantakan!" teriak Fazila dari dalam sambil menggebrak pintu beberapa kali. Dia lupa bahwa sekarang dia berada di dalam kamar orang tanpa izin penghuninya.


Heni tampak tersenyum lalu membuka pintu dan dirinya tidak langsung masuk ke dalam kamar melainkan berdiri di ambang pintu.


"Ngapain kamu di kamarku?" tanya Heni sambil berkacak pinggang dan menatap mata Fazila dengan tatapan yang tajam.


"Jangan bilang kamu mau mencuri! Malu-maluin keluargamu yang kaya aja!"


"Cih, siapa juga mau mencuri? Memang kamu punya barang bagus untuk dicuri? Sorry ya nggak minat sama barang-barangmu. Aku tuh kalau butuh apa tinggal pesan sama mama dan papa, tak payah mengambil milik orang." Fazila ikut berkacak pinggang.


"Terus ngapain di sini kalau tidak ingin mencuri?"


"Mau menghapus foto yang kau ambil tadi biar tidak menjadi bahan aduan pada Nyai dan ustadzah, alhamdulillah semua jejaknya sudah hilang dari muka bumi." Fazila terkekeh.


Heni mengernyit lalu tertawa.


"Kau jangan senang dulu! Kau bisa menghapus foto itu, tapi kali ini akan kubuat dirimu masuk ke dalam masalah yang lebih besar."


Fazila terbelalak.


"Mau apalagi gadis ini?" batin Fazila.


"Ustadzah, ada maling!" teriak Heni membuat Fazila menjadi syok. Ingin kabur tidak bisa karena Heni menghalangi Fazila di pintu dengan kedua tangan yang direntangkan ke samping.


"Ustadzah! Teman-teman! Mari tangkap pencuri yang sering mengambil barang-barang ki–"


Belum sempat Heni melanjutkan kalimatnya, Fazila langsung gerak cepat menarik kerudung paris yang tergantung di hanger dinding lalu menyumpal pada mulut Heni saat gadis itu menganga.


Heni terbelalak melihat aksi kurang ajar Fazila.

__ADS_1


"Rasakan! Kau pikir aku takut padamu, hah?!" Fazila menarik kedua tangan Heni yang hendak melepaskan kerudung di mulutnya ke belakang tubuh lalu mengikat dengan kerudung pasmina yang juga tergantung di samping kerudung paris tadi. Entah punya siapa kerudung itu. Pemiliknya pasti akan sedih karena melihat kerudungnya yang kusut akibat ulah Fazila.


Setelah selesai mengikat tangan Heni, Fazila beralih mengikat kedua betis gadis itu.


Setelah berhasil mengikat, dia langsung menggeser tubuh Heni ke dalam kamar sedangkan dirinya keluar dari kamar tersebut.


"Wah sepertinya ada yang ingin menjadi pocong jadi-jadian nih," cibir Fazila sambil tersenyum senang melihat Heni yang bergerak keluar kamar dengan cara melompat-lompat, membuat Heni langsung terbelalak mendengar kalimat ledekan dari Fazila.


"Dada pocong!" Fazila melambaikan tangan lalu berlari menuju kamar mandi yang dekat dengan kamarnya sendiri.


"Hosh, hosh!" Fazila menstabilkan nafasnya yang terengah-engah sebelum akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.


Beberapa saat kemudian dia kembali ke kamar dan sudah mendapati Andin terbaring di kamarnya.


"Darimana saja kamu?!" tanya Andin dengan suara tegas, setegas polisi saat mengintrogasi penjahat yang berhasil di tangkap.


"Kamar mandi," jawab Fazila enteng.


"Maksudku sebelum mandi Chila!" seru Andin.


"Dari kamar Heni, ngapain?"


"Nggak aku salah ngomong tadi. Aku mengatakan bertemu Heni tadi. Sudah, ah aku mau shalat dhuhur saja." Buru-buru Fazila memasang mukena dan berdiri melakukan takbiratul ihram.


Melihat Fazila melakukan shalat dhuhur, Andin tertawa terbahak-bahak.


Awalnya Fazila terus saja melanjutkan shalatnya. Namun, tawa Andin yang semakin keras sangat mengganggu dirinya hingga dalam keadaan shalat pun dia marah pada Andin.


Merasa ada yang salah dengan shalatnya sekaligus geram karena ditertawakan oleh Andin, Fazila langsung berhenti.


"Ada apa Andin? Suka ya ganggu orang shalat, kayak sifat setan aja," protes Fazila karena tidak bisa khusu' dan pikirannya melantur kemana-mana.


"Sorry Chil, aku hanya bingung saja dengan shalat yang kamu kerjakan. Shalatmu salah."


"Chil, Chil! Emang aku bocil kau sebut aku dengan panggilan itu? Lagian shalatku sudah benar menghadap arah kiblat bukan malah membelakangi!" Fazila merasa tidak ada yang salah dengan gerakan shalatnya, tetapi Andin malah mengatakan salah.

__ADS_1


"Bukan gerakan atau hadapnya, tapi niat shalatmu yang salah."


Fazila melongo mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Andin.


"Dimana salahnya? Perasaan sudah benar," gumam Fazila sambil berpikir tentang yang ia baca tadi.


"Noh lihat di atas meja jam berapa sekarang!" Andin menunjuk jam weker di atas meja di samping ranjang.


Fazila mengalihkan perhatiannya pada jam weker dan langsung tepuk jidat tatkala melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.


"Jadi ini sudah sore?" tanya Fazila seolah tidak bisa percaya dengan itu semua.


"Nggak, jam 5 pagi," sahut Andin lalu tertawa kembali.


"Ais, jangan keras-keras tertawa, ketahuan Nyai berabe nanti." Fazila memperingatkan membuat Andin langsung menutup mulutnya yang tidak berhenti tertawa.


"Kalau begitu sekarang aku shalat ashar," lirih Fazila dan Andin hanya mengangguk lalu keluar dari kamar itu. Dia tidak mau menganggu shalat Fazila karena dirinya bisa tertawa meledak kapan saja.


Fazila terlihat fokus shalat sedangkan Andin duduk di depan kamar menunggu kedua temannya yang belum kembali juga dari masjid.


Kebetulan tadi Andin pamit kembali ke kamar terlebih dahulu dan tidak ikut pengajian kitab kuning dengan alasan sakit perut yang tiba-tiba menderanya. Namun, saat sampai di depan kamar rasa sakit itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Andin yang sudah kadung meminta izin kepada Nyai malas untuk kembali ke masjid dan memutuskan untuk berbaring di kamarnya saja.


Saat dia duduk di depan kamar dia melihat Heni melompat-lompat dari jauh.


"Apaan tuh? Kok jalannya aneh sih?" Andin mengerutkan kening sambil menajamkan penglihatan. Sayangnya dia tetap tidak bisa melihat dengan jelas terhadap benda yang bergerak itu karena jaraknya yang teramat jauh, ditambah lagi keadaan hari yang sudah mulai gelap membuat pemandangan di dalam pondok putri tersebut jadi terlihat kabur.


"Ih kok aku jadi takut ya? Udah keadaan sepi lagi." Andin meringis, bulu kuduknya merinding seketika. Apalagi Heni yang dilihatnya masih dengan memakai mukena yang berwarna putih. Persis seperti gambaran pocong yang berjalan.


"Aku harus masuk ke dalam," gumam Andin.


Segera Andin berlari masuk ke dalam dan langsung menutup pintu depan kencang lalu mengunci dari dalam.


Di luar sana Heni tampak meringis melihat Andin malah terlihat ketakutan.


"Kalau begini siapa yang akan menolongku? Apakah aku harus melompat terus hingga ke masjid?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2