DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 105. Perpisahan


__ADS_3

"Hah kecewa, kecewa sama siapa?"


"Mak-sud saya ... Saya sedikit pusing Pak ustad," ujar Izzam sambil memijit pelipisnya.


"Kalau tidak bisa mengerjakan ujian hari ini kau boleh istirahat dan menyusul besok saja, bagaimana?"


"Tidak Pak ustadz saya bisa kok mengerjakan hari ini. hanya sedikit membutuhkan kesabaran saja. Saya tidak ingin hujan sendirian besok."


"Baiklah kalau itu mau mu, kerjakanlah, tapi kalau misalnya memang tidak kuat jangan dipaksakan Izzam takut-takut kamu roboh dan saya yang kena tegur oleh Pak kyai nanti."


"Iya pak ustadz."


"Baiklah silahkan dikerjakan!"


Izzam mengangguk dan mencoba fokus pada lembar soal. Fazila sendiri mengerjakan dengan bersemangat.


"Saya ke depan yaz kalau ada spa panggil saya!"


"Baik pak Ustadz."


Cling.


Di tengah semangatnya yang menggebu-gebu terdengar notifikasi masuk ke dalam ponsel Fazila.


"Astagfirullah aku lupa menaruh ponsel kembali tadi, lupa juga ngasih ke Bang Tris untuk disimpan." Dengan tangan gemetar karena takut ketahuan membawa ponsel saat ujian ia membuka ponsel tersebut dengan hati-hati setelah sebelumnya melirik pada pak ustadz.


[ Selamat berjuang, semoga dapat nilai bagus]


Senyuman manis di bibir Fazila tanpa mengembang mendapatkan semangka dari tunangannya.


[ Terima kasih semangatnya, doakan saya mendapatkan nilai terbaik. Eh maaf ponsel ini harus aku matikan takut ketahuan pak ustadz dan dirampas]


Send.


Pesan terkirim dan centang biru dua.


[Oke]


"Hah!" Fazila menghela nafas panjang sebelum mematikan ponsel miliknya. Gadis itu kembali fokus mengerjakan soal ujian. Berharap kali ini bisa menjawab benar seni hingga mengalahkannya Izzam.


Jam untuk ujian pelajaran pertama selesai. Senilai santri berhamburan keluar.


"Kantin yuk!" ajak Andin.

__ADS_1


"Nggak ah aku mau ke Mama dulu barangkali belum pulang. Mau menyerahkan hape karena tadi tanpa sadar kebawa."


"Nggak usah diserahkan kenapa Chila, biar kita bebas teleponan dengan siapapun kayak si Heni itu," saran Andin.


"Ogah takut dirampas nanti mah. Ini ponsel pemberian seseorang jadi berharga banget buatku. Mending dititipkan sama Bang Tris daripada ditaruh di kantor dan nggak ada yang ngurus."


"Hmm, terserah lah," ujar Andin pasrah.


"Takut ada yang otak-atik lagi, soalnya ini ponsel banyak isi chat yang manis-manis melebihi gula dari soulmate, takut pak Kyai, ustadz-ustadzah atau siapapun yang baca jadi diabetes," lanjut Fazila lalu terkekeh.


"Hmm, iya deh yang sudah punya belahan jiwa. Buruan takut-takut keluargamu sudah balik!" seru Anggita sambil menarikan tangan Fazila dan mereka langsung pergi ke kediaman pak Kyai.


"Beruntung kamu mereka belum pulang," ujar Anggita melihat keluarga Fazila berdiri dan hendak pamit melihat Fazila melangkah ke arah mereka.


"Chila kami pulang," ujar Laras mewakili semua keluarga.


"Iya Oma."


"Baik-baik di sini jangan sampai merepotkan pihak pesantren. Kau disekolahkan di sini biar tahu adab jangan sampai membuat mereka jengah mendidik mu."


"Iya Oma." Rasanya Fazila yang jengah sebab perempuan itu selalu panjang lebar saat memberikan nasehat.


"Dan yang pasti jangan kabur-kaburan kayak dulu. Nggak akan ada yang mau ngejar kamu. Pihak pesantren dah bosan dengan kelebayanmu," kelakar Tristan.


"Yaaah, aku disuruh jagain ponsel lagi," keluh Tristan. "Kenapa nggak dimatikan saja langsung simpan dalam kotaknya?"


"Nggak ah, takut rusak kalau nggak dipakai dalam waktu yang lama. Lagian kali aja ada yg kangen dan ingin ngirim chat untuk Chila," celoteh gadis itu sambil melirik dokter Davin. Orang yang diliriknya hanya terlihat menggaruk kepala. Masa iya dirinya harus mengirim chat pada Tristan kalau rindu pada tunangannya itu.


"Nanti aku baca setelah liburan pesantren," ucap Fazila kemudian.


"Kenapa nggak titip sama Bang Nathan atau Kak Chexil saja sebab Bang Tris kalau sudah sibuk jarang pulang ke rumah?" Tristan mencoba mengelak untuk mendapatkan amanah.


"Aku lebih percaya sama Abang, lagian mereka kan sudah punya Nazel jadi bisa lupa. Tenang saja, ponsel ini bias dibawa kemanapun Abang pergi kok."


Tristan menggaruk kepala kasar, bisa-bisanya Chila meminta permintaan seperti itu, pakai acara menyuruh dibawa kemanapun lagi seperti hewan piaraan yang sangat disayang saja.


"Oke, baiklah," ujar Tristan pasrah meskipun apa yang ditugaskan oleh Fazila menurutnya adalah ide gila.


"Terima kasih Bang. Bang Tristan tetap yang terbaik," ujar Fazila lalu memeluk Tristan.


"Cih muji terbaik kalau ada maunya aja," keluh Tristan dan Nathan hanya menggeleng sambil tersenyum.


"Sudah kan ngomongnya? Kita harus pergi sekarang juga soalnya," ujar Isyana.

__ADS_1


"Sudah Ma," ujar Fazila seraya melepas pelukannya. Lalu memeluk anggota keluarga lainnya secara bergantian.


"Jangan lupa selalu kangenin Chila," ucapnya saat sampai pada giliran dokter Davin.


"Pasti," sahut dokter Davin masih dengan senyum yang tak pernah pudar.


"Makasih," ucap Fazila dengan suara lirih. Rasanya tak kuasa jika harus berpisah dengan lelaki yang sangat dicintainya setelah kebersamaannya selama ini. Matanya langsung berkaca-kaca.


"Tenang saja tiap hari Minggu aku akan temui kamu walaupun hanya bicara di dalam dan luar pagar," ucap dokter Davin agar Fazila tidak bersedih dan akhirnya akan berimbas pada pelajarannya. Apalagi minggu ini masih dalam suasana ujian.


"Beneran?" tanyanya tak percaya. Fazila tahu pria itu hanya ingin menenangkan dirinya.


"Iya."


"Janji?"


"Janji. Pokoknya nanti setiap jam 8 pagi aku ke posko pak satpam kalau nggak lagi ricuh dengan pekerjaan."


"Oke," ujar gadis itu antusias. Wajahnya kembali berbinar.


"Oh ya, nggak ada pelukan perpisahan seperti pada mereka?" goda dokter Davin sambil mengerlingkan matanya.


"Kita bukan muhrim jadi belum waktunya, nanti Kalau sudah saatnya Chila kasih pelukan seharian deh," ujar gadis itu lalu tertawa begitupun dengan dokter Davin.


"Bang Dimas sama suster Dinda semoga berjodoh ya, semoga cepat nikah," ucap Fazila saat tiba di samping mereka.


"Aamiin," sahut keduanya walaupun sebenarnya suster Dinda sendiri tidak yakin dengan ucapannya. Sepertinya wanita itu harus menyelami hati Dimas terlebih dahulu sebelum hubungan mereka melangkah jauh. Dia tidak akan mau diajak nikah oleh Dimas jika benar-benar belum mengetahui pribadi Dimas yang sebenarnya agar tidak seperti beli kucing dalam karung.


"Dokter Damian dan dokter Danisa semoga langgeng selalu, sawama dan cepat diberi momongan."


"Aamiin terima kasih Chila, semoga hubunganmu dengan dokter Davin selalu baik-baik saja meskipun kalian harus terpisah untuk sementara."


"Aamiin, terima kasih semuanya sudah mau direpotkan oleh Chila. Opa semoga panjang umur ya Opa. Chila akan selalu berdoa untuk kebaikan Opa dan merindukan Opa." Hal terberat yang selalu Fazila rasakan saat berpisah dengan keluarga adalah berpisah dengan Tuan Alberto. Takut-takut saat pulang ke rumah sudah tidak bisa melihat wajah opanya lagi.


"Insyaallah Nak, Opa akan baik-baik saja. Yasudah kamu di sini belajar yang rajin dan baik-baik ya!"


"Iya Oma."


Setelah memeluk kembali Tuan Alberto semua keluarga Fazila pun benar-benar pergi.


"Aku pasti akan merindukan kalian semua," gumam Fazila dengan tangan yang masih melambai saat mobil mereka sudah tidak terlihat di matanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2