DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 111. Ada Yang Mengikuti


__ADS_3

"Oh ya, maaf ya untuk Minggu ini aku masih tidak bisa menjenguk kamu ke pesantren, masih terlalu sibuk dengan pasien. Mungkin lain kali. Berharap sih Minggu depan bisa bagi waktu."


"Oke nggak apa-apa, yang penting jangan sibuk sama suster Dinda saja."


"Ya nggaklah, kalau sibuk kerja sama dia iya. Kalau sibuk ngerjain dia entar Dimas malah murka."


Keduanya terdengar tertawa setelah bahasan yang menegangkan tadi.


"Eh udah dulu ya, lain kali kita sambung lagi, bel masuk kelas udah berbunyi."


"Oke, met belajar ya, dan tetap tenang. Insyaallah, Allah SWT akan selalu melindungi kamu."


"Aamiin dan terima kasih doanya, bye-bye dan assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi," sahut dokter Davin dan Fazila sendiri sudah berlari mengejar teman-temannya yang sudah melangkah lebih duluan menuju kelas mereka.


"Ya, nggak jadi jajan deh," ujar Anggita menyadari Fazila belum sempat membeli camilan di kantin sekolah tadi karena malah sibuk menelpon.


"Nggak apa-apa, dia sudah kenyang dengar suara doi di telepon," goda Andin.


"Aku sudah kenyang makan sarapan jatah dari pesantren tadi. Sudah yuk nggak usah bahas yang lain, fokus sama ujian aja dulu," ujar Fazila dan mendapatkan jawaban anggukan dari semua teman-temannya.


Mereka berempat pun masih ke dalam kelas dan tertib dalam mengikuti ujian.


Tidak seperti sebelum-sebelumnya, Fazila saat ini sudah lebih bersemangat dalam belajar dan selalu meraih nilai yang bagus dalam ujiannya, bahkan dia selalu bersaing dengan Izzam dan Qiana.


Hari demi hari Fazila dan teman-teman lalui dengan baik. Jika dulu ada Heni yang selalu mengganggu hari-hari, ketenangannya, tetapi sekarang tidak ada lagi. Gadis itu beberapa hari ini menjelma menjadi gadis yang pendiam. Sepertinya masih malu pada santriwati yang lain atas tindakan pencurian waktu itu.


"Besok ujian praktek penjaskes," kata pak ustadz kita akan mengadakan lari keliling di sekitar pesantren. Jadi besok kita akan melihat keadaan di luar pesantren. Nggak sabar lihat aktivitas masyarakat sekitar," ujar Andin sambil senyum-senyum sendiri sambil menatap tembok tak berkedip hingga cicak yang hanya ada seekor di sana langsung lari mendapatkan tatapan dan senyum dari Andin.


Adalah hal yang wajar apabila santri senang jika bisa menikmati pemandangan di luar pesantren. Mereka seperti burung yang akan dilepas dari sangkar dan akan bebas menghirup udara segar dengan keindahan alam yang membuat mata terpesona.


Apalagi di sekitar pesantren banyak sawah-sawah yang membentang mengelilingi rumah-rumah penduduk. Hijau dan sejuk dipandang mata karena pepohonan, rumput, dan tanaman padi serta palawija tumbuh dengan subur di musim penghujan seperti sekarang.


"Kau ingin keluar dari pesantren?" tanya dokter Davin yang kebetulan sedang teleponan dengan Fazila malam itu.


"Wah-wah-wah! Teleponan terus nih orang. Untung si Heni sudah insyaf, kalau nggak kau bisa dituduh melakukan kecurangan. Memanfaatkan jabatan untuk kepentingan diri sendiri," celoteh Andin lalu cekikan.


"Aku bayar juga nih, nggak gratis pakai hapenya. Lagian jabatan apaan, anggota legislatif?" ujar Fazila tak suka dengan perkataan Andin.


Ya, di pondok pesantren itu memang disediakan 2 ponsel oleh Nyai Fatimah dan Kyai Miftah untuk para santri. Satu di pondok putri dan satu di pondok putra. Tujuannya adalah untuk mempermudah jika ada santri yang ingin menghubungi keluarganya. Namun, syaratnya harus bayar sebagai ganti untuk beli pulsa dan semua santri juga dihimbau untuk tidak mengunakan ponsel tersebut apabila tidak dalam keadaan mendesak sebab bisa disalahgunakan oleh santri sendiri.


Fazila sendiri hanya menggunakan dua kali setelah diberi amanah oleh ustadzah Ana dan sekarang Andin malah mengatakan Fazila menelpon terus. Padahal, sekarang pun yang menelpon duluan bukan dirinya, melainkan dokter Davin.


"Aish sensitif banget sih Chila, aku kan canda doang," jelas Andin.


"Mungkin kamu bisa mengatakan begitu, tapi tadi ada beberapa anak-anak yang lewat depan kamar. Nanti disangka beneran lagi."


"Nggak bakal Chila, meskipun begitu sekalipun, aku yakin mereka nggak akan protes karena kamu selalu mempermudah mereka ketika butuh untuk menelpon, nggak kayak Heni yang terlalu ketat dan pelit padahal mereka bayar. Kalau sama kamu, sudah nggak banyak ditanya malah dikasih gratis lagi," ucap Qiana.


"Yup bener sekali, sebagai penguna gratisan mereka nggak bakal banyak omong apalagi sampai ngadu sama ustadzah ataupun Nyai. Kalau sampai ada yang mengadu, berarti mereka cari penyakit sendiri," tambah Anggita.


"Kenapa Sayang ada yang gangguin kamu?" tanya dokter Davin yang seperti mendengar pertikaian kecil diantara para sahabat tunangannya.

__ADS_1


"Cie-cie ... sayang!" goda ketiga teman Fazila langsung lalu tertawa bersama.


"Biasa ini Andin ngeselin Dok," sahut Fazila dengan wajah bersemu merah sebab tak biasa mendapatkan panggilan seperti itu dari dokter Davin.


"Dari dulu dog, dog dog, emang kamu pikir dokter Davin untuk guk-guk," goda Andin lagi membuat Fazila langsung mendorong tubuh Andin ke belakang. Kesal dan geram terhadap sahabatnya yang satu itu.


"Boleh nggak aku cubit ginjalmu? Menyebalkan sekali," ucap Fazila.


"Tapi teman kamu benar Sayang nggak ada keinginan gitu manggil aku sayang kayak aku?" goda dokter Davin membuat Fazila langsung terdiam.


"Kok diam?"


"Dia malu!" seru Andin seraya mendekatkan mulutnya ke ponsel.


"Geli aja, gimana kalau sampai didengar Nyai aku manggil begituan?" Fazila menggaruk rambutnya kasar, salah tingkah.


"Udah panggil Abang saja kayak Bang Tris," saran dokter Davin karena merasa selama ini panggilan Chila terhadap dirinya begitu kaku, kalau tidak 'dok' ya panggil 'kamu' sama dengan dirinya yang manggil Chila demikian, seperti keserimpet di lidah.


"Nggak ah, nanti saat manggil kamu malah bang Tris ataupun bang Nathan yang menoleh. Panggil Mas, aja ya biar lebih enak?" Fazila memberikan penawaran.


"Ciee-ciee! Berharga dong sampai dipanggang emas segala?"


"Astaga, kalian ngeselin sekali sih?" Fazila sampai menggaruk kepala lebih kasar sedangkan ketiga temannya tertawa pecah.


"Udah dulu ya Mas, capek nih aku digodain mereka terus. Nanti kapan-kapan aku telepon saat mereka tidak ada. Assalamu'alaikum!" Fazila langsung menutup panggilan telepon.


"Tidur-tidur sudah larut malam! Nanti nggak bangun pas waktu shalat tahajjud!" seru Fazila langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menarik selimut.


"Menyebalkan," ucap Fazila sebelum akhirnya menutup mata dan terbang ke alam mimpi. Akhirnya semua teman-temannya menyusul naik ke atas ranjang.


Esok pagi keempatnya sudah siap dengan pakaian olahraga dan berkumpul di depan pintu gerbang sekolah.


"Kali ini, kalian akan ustadz nilai siapa yang paling cepat. Biar lebih cepat kita ambil lima-lima ya dan pastinya untuk kategori putra dan putri ustadz pisahkan."


Semua santri mendengarkan dengan seksama instruksi dari ustadz pengajar olahraga di sekolah mereka.


"Untuk rute, seperti biasa, berputar di jalan ini hingga kembali ke sini lagi. Sudah paham semua?"


"Paham Ustadz."


"Oke untuk putaran pertama, silahkan bersiap-siap, Anggita, Andin, Bunga, Fazila dan Heni maju ke depan! Nanti yang menang selain dapat nilai tinggi akan diadu dengan pemenang berikutnya. Yang bertahan di titik akhir akan mendapatkan misteri box dari ustadz, paham?"


"Paham Pak Ustadz!" jawab mereka serempak.


Fazila mengangkat tangan.


"Ya, ingin bertanya apa?"


"Berapa putaran, Ustadz?"


"Astaghfirullah Chila! Ngapain bertanya seperti itu, kalau ustadz minta 2 putaran bagaimana? Otw lemes otot-ototku ini. Mana perutku sudah kekenyangan lagi, susah gerak cepat," keluh Andin.


"Huuu! Dasar Andin si tukang makan!" seru semua santri menyoraki Andin. Namun, yang disoraki malah anteng sambil bersedekap dada.

__ADS_1


"Satu, bagaimana kalian berlima sudah siap?"


"Sudah Pak Ustadz!"


"Awas jangan sampai ada yang ambil ruas jalan tikus, kalau sampai begitu Ustadz doakan jadi tikus beneran!"


"Astaghfirullah Ustadz."


"Bersedia!"


Kelima santri langsung mengambil posisi.


"Siap!"


"Pruit!"


Andin dan Anggita langsung berlari cepat.


"Kali ini aku harus menang, sesekali aku ingin memimpin nilai!" teriak Andin sambil terus berlari.


"Tidak akan kubiarkan kau menang!" teriak Anggita dan berlari kencang menyusul Andin. Di belakang mereka terlihat Bunga dan Heni yang berlari sedang tanpa bicara sepatah katapun.


Fazila sendiri berlari santai karena tidak begitu mengincar nilai tinggi di pelajaran ini. Gadis itu tahu diri tak akan bisa mengalahkan kedua temannya yang secepat kilat sudah berada jauh di depan. Apalagi perutnya sedang ngilu sekarang, mungkin adalah tanda-tanda karena sebentar lagi dirinya akan datang bulan.


"Lelah." Fazila berhenti berlari dan memilih berjalan santai sambil menikmati pemandangan sekitar. Benar-benar menyegarkan badan. lingkungan sekitar yang minim polusi membuat tubuh terasa lebih sehat.


Saat hendak melewati tikungan Fazila merasa was-was karena merasa ada bayangan manusia di belakang dirinya. Dengan jantung yang bertalu-talu dia menoleh ke belakang.


Tak ada siapa-siapa.


"Aneh, perasaan tadi aku melihat ada orang di belakang," gumam Fazila sambil mempercepat langkah karena keadaan di sekitar terlihat sepi. Tikungan tersebut jauh dari rumah-rumah penduduk sekitar.


"Mana teman-teman sudah jauh di depan lagi," keluh gadis itu semakin risau.


"Apakah pak ustadz masih menunggu putaran pertama baru melepas santri di putaran kedua?" Fazila melihat jauh ke belakang, tak ada tanda-tanda ada santri yang berlari ke arahnya.


"Tak ada."


Dia mulai berlari kembali dan merasakan juga ada orang yang berlari di belakangnya. Namun, saat menoleh kembali tidak menemukan siapapun.


"Kenapa aku merasa tempat ini horor sih!" Bulu kuduk Fazila meremang seketika apalagi saat melewati lahan pekuburan yang terlihat begitu mencekam.


Darah di dalam tubuh Fazila berdesir, rasa takut seakan membuat urat-uratnya melemah seketika.


"Aku ... takut," lirihnya.


Seseorang langsung menarik tangannya dan membawa Fazila ke pinggir jalan.


"Aaaah!" Reflek Fazila berteriak kencang dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Tolong!" teriaknya lagi dengan mata terpejam. Masih syok melihat kenyataan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2