
"Ya, sepertinya begitu. Kita benar-benar harus menjaga Chila. Jangan sampai kita lengah dan meninggalkan Chila seorang diri," ujar dokter Davin. Terdengar helaan nafas panjang dari Tristan.
"Kita harus waspada," lanjut dokter Davin membuat Tristan menganggukkan kepala.
"Kalau begitu saya akan berdiskusi dengan mama dan papa untuk membawa pulang saja. Di rumah lebih aman untuk keselamatan adikku," ujar Tristan.
"Ya, seharusnya memang begitu. Itu adalah jalan terbaik. Nanti saya akan meminta teman saya untuk mengontrol keadaan Chila tiap harinya."
"Terima kasih Dok."
"Tidak usah berterima kasih Bang. Ini sudah tugasku," ucap dokter Davin.
Mereka berjalan beriringan menuju ke kamar rawat Fazila sambil terus mengobrol apa saja.
"Oh ya kira-kira Dokter tahu tidak siapa yang melakukan hal nekat ingin memberikan racun pada Chila?"
Dokter Davin tampak berpikir, mengira-ngira siapa yang berpotensi melakukan hal tidak wajar itu.
"Kalau aku sih curiganya sama suster Tantri. Keduanya memang memiliki hubungan yang tidak baik, tapi kita tidak bisa menuduh begitu saja kalau tanpa bukti. Atau mungkin ada orang lain yang Bang Tris curigai?"
"Entahlah aku tidak ada menaruh curiga pada siapapun," sahut Tristan karena memang tidak pernah melihat ada yang ingin berbuat jahat pada diri dan keluarganya selama ini.
"Nanti aku akan selidiki siapa pelaku yang sebenarnya," timpal dokter Davin dan Tristan hanya mengangguk.
Sampai di depan kamar Fazila terlihat Isyana mengemas barang-barang Fazila.
"Mau dibawa kemana Ma?"
"Mau bawa pulang dia saja karena keadaannya sudah mulai membaik. Di rumah dia bisa mendapatkan perhatian dari banyak orang dibandingkan di rumah sakit. Mama dan papa akan sibuk beberapa hari ini takutnya nggak bisa jagain adik kamu di sini. Kalau di rumah kan ada Oma juga Nak Chexil yang bisa bantu kami mengontrol dia tiap hari."
"Saya setujui dengan keputusan Mama. Tristan juga bisa menjaga Chila sekaligus istirahat dengan tenang di rumah. Kalau di sini tidak nyaman."
Semua orang mengangguk membenarkan perkataan Tristan. Zidane datang dan mengatakan sudah mengurus kepulangan Fazila.
"Mari kita pulang sekarang!" ajak Zidane dan mereka pun membawa Fazila ke mobil untuk dibawa pulang.
"Kau ikut?" tanya Tristan dan dokter Davin mengangguk. Ia pergi dengan motor menyusul di belakang mobil yang dikendarai oleh Nathan.
"Akhirnya aku pulang ke rumah juga," ucap Fazila lalu menghembuskan nafas lega sebelum akhirnya duduk bersandar pada bahu sofa di ruang tamu. Infus sudah dicabut karena ia sudah tidak terlalu panas sehingga membuatnya leluasa berjalan ke dalam rumah.
"Nak Davin sebaiknya menginap saja," ucap Isyana yang kasihan melihat dokter Davin harus bolak-balik.
Dokter Davin mengangguk, tentu saja dia tidak akan melewatkan penawaran baik dari Isyana. Dia ingin puas-puaskan diri bersama Fazila sebelum gadis itu kembali ke pesantren. Sebab jika Fazila sudah kembali ke pondok dia tidak akan bisa leluasa melihat gadis itu lagi. Apalagi besok pagi dia juga harus kembali ke daerah dimana dirinya bertugas.
"Tris, antar dia ke kamar tamu!" perintah Zidane dan langsung dijawab anggukan oleh Tristan.
"Mari saya antar ke kamar," ucapnya dan kali ini dokter Davin yang mengangguk.
__ADS_1
"Eh, aku mengabaikan dia dari tadi," ucap dokter Davin kala melihat baby Nazel menatap ke arahnya dengan bola mata yang berbinar-binar sambil mengoceh tidak jelas.
Dokter Davin melangkah ke arah Chexil yang menggendong putranya. Nathan hanya melirik ke arah keduanya.
"Siapa namanya?" tanya dokter Davin seraya mendekat.
"Nazelio," jawab Chexil singkat. Ia balik melirik ke arah Nathan dan Nathan sendiri langsung melihat ke arah lain agar Chexil tidak tahu bahwa dirinya mengawasi dirinya.
"Nama yang bagus," puji dokter Davin sambil menyentuh dagu baby Nazel.
"Nathan yang memberikan nama itu. Nama yang merupakan gabungan dari nama kami. Nathan-Chexil," ujar Chexil.
"Wah seru juga. Nanti kita buat nama Dacil ya Chila," ujar dokter Davin sambil menoleh ke arah Fazila.
Fazila menutup mulut menahan tawa.
"Emang acara di telivisi gitu, Dacil? Da'i cilik." Kali ini Fazila tertawa renyah.
"Ya nggak apa-apa, syukur-syukur masih kecil sudah pinter ceramah," ujar dokter Davin mengabaikan orang-orang di sekitarnya yang tampak menggeleng sambil senyum-senyum.
"Amin," ucap Isyana dan Zidane serentak.
"Masih jauh Dok, kita pikirkan nanti saja," ucap Chila lalu menghela nafas panjang.
"Gendong sama, Om?" Dokter Davin kembali fokus pada bayi dalam gendongan Chexil.
"Boleh saja," ucap keduanya hampir bersamaan.
Dokter Davin mengambil baby Nazel dari gendongan Chexil dan tanpa kaku sedikitpun menggendong balita itu. Padahal Nathan sendiri sebagai ayahnya masih terlihat kaku saat menggendong putranya meskipun hampir tiap hari melakukannya.
"Wah sudah pintar rupanya, Chila sepertinya kau tidak akan kesulitan nanti kalau punya anak," ujar Chexil membuat pipi Fazila bersemu merah lalu memalingkan muka.
"Cie ... malu-malu kau Chila," goda Tristan.
"Jangan godain Chila terus napa sih? Entar Chila jadi kepengen kawin, gimana dong?" Chila langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh sedikitpun, membuat semua orang langsung tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Ganteng kayak ayahnya," ucap dokter Davin pada baby Nazel.
"Jadi nggak aku antar ke kamar dulu?" tanya Tristan.
"Oke ayo," sahut dokter Davin. Mereka berdua berjalan menuju kamar tamu sambil membawa baby Nazel.
Chexil langsung mengejar Fazila sebab gadis itu belum sehat benar. Takut-takut kepala Fazila tiba-tiba pusing setelah menaiki tangga menuju kamarnya.
"Silahkan istirahat, kalau ada apa-apa bisa bicara denganku," ucap Tristan.
"Oke."
__ADS_1
"Eh baby Nazel mau aku bawain ke Chexil kalau kamu ingin istirahat?"
"Tidak usah Bang. Aku ingin bermain-main dengan dia dulu. Aku suka balita, imut dan menggemaskan," ujar dokter Davin dan Tristan hanya mengangguk.
"Nanti kalau mau balikin baby Nazel sama Bang Nath saja atau sama aku juga boleh, nggak harus sama Chexil," saran Tristan yang tidak mau Nathan jadi salah paham. Dia tahu bagaimana sifat Nathan yang tidak suka ada pria yang notabenenya dari orang luar mendekati istrinya.
"Iya Bang saya paham," ujar dokter Davin yang tahu pasti Nathan akan cemburu padanya karena pernah mengejar cinta Chexil.
"Baiklah kalau begitu saya pamit, kamar saya ada di atas berdampingan dengan kamar Chila," ucap Tristan sambil menepuk bahu dokter Davin sebelum akhirnya keluar dari kamar tersebut.
"Baik." Dokter Davin meletakkan baby Nazel di ranjang dan dirinya berbaring di samping balita itu sambil mengajaknya bicara. Dia senang melihat balita ini merespon ajakan bicara dengan memonyongkan bibir dengan ocehan yang tidak jelas.
Lama mengajak bayi itu bicara membuat baby Nazel kelelahan dan akhirnya tertidur pulas.
"Ya ampun, nih bayi lucu banget sih. Orang ngomong ditinggal tidur," ucap dokter Davin gemas. Menguyel-uyel pipi balita itu, tetapi tidak ada respon. Baby Nazel sudah benar-benar tertidur dengan pulas.
Dengan hati-hati dokter Davin mengangkat tubuh baby Nazel dan membawa ke ruang tamu, memberikannya pada Nathan yang masih duduk bersandar di sofa.
"Wah sudah tidur dia," ucap Nathan seraya menerima baby Nazel dari pegangan dokter Davin.
"Iya."
Dokter Davin mengangguk lalu pamit kembali ke kamar.
Nathan pun kembali ke kamarnya untuk menaruh putranya pada box bayi.
Beberapa saat kemudian Isyana memanggil semua orang untuk makan malam, termasuk dokter Davin.
"Nak Davin tidak bekerja hari ini?" tanya Isyana basa-basi setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka.
"Tidak Tante, tapi besok jam 9 pagi ada jadwal praktek," sahut dokter Davin.
"Kembali ke sana?" tanya Fazila dengan wajah sendu sebab akan berpisah dengan dokter Davin lagi.
"Iya, tapi lusa aku kembali ke sini. Kalau kamu siap aku akan melakukan acara lamaran, biar status kita jelas," ucap dokter Davin dan Fazila hanya mengangguk.
"Lah aku ketinggalan berita," ucap Laras dan Fazila hanya senyum-senyum saja.
"Saya juga Mohon restu dari Oma untuk bisa bertunangan dengan Chila," ucap dokter Davin dan Laras hanya mengangguk.
"Bagaimana menurut Om, Tante dan Oma?" tanya dokter Davin meminta pendapat kedua calon mertuanya serta nenek dari Fazila. Kebetulan Tuan Alberto tidak makan bersama. Beliau makan terlebih dahulu dan sekarang sudah tertidur pulas.
"Maaf, nenek saya belum sempat kemari, niatnya besok baru akan menemui kalian, tapi saya tidak bisa menemani beliau sebab harus keluar kota pagi-pagi karena tuntutan pekerjaan."
"Tidak apa-apa, dan terserah Nak Davin kapan saja, kami sebagai pihak keluarga perempuan setuju dan insyaallah siap," sahut Isyana.
"Alhamdulillah kalau begitu Tante," ucap dokter Davin lalu menghembuskan nafas lega.
__ADS_1
Bersambung.