DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 68. Bersemangat


__ADS_3

"Bukan saya loh Bang yang ngomong," ucap Fazila kemudian setelah tawanya reda.


"Nggak apa-apa Chila, Abang juga tahu diri kok, memang bukan Abang yang terbaik," sahut Nathan.


"Nggak kok Bang. Bang Tris sama Bang Nath sama-sama terbaik bagi Chila. Kalian berdua udah jagain Chila dan menyayangi Chila sedari kecil setulus hati kalian. Itu adalah hal mulia yang Chila tidak bisa balas dan lupakan seumur hidup. Chila harus berterima kasih buat Abang berdua."


Nathan hanya terlihat mengangguk.


"Canda doang Bang, jangan diambil hati, jangan selalu serius dalam hidup biar nggak cepat tua," ujar Tristan.


"Kalau Abang memang sudah tua Tris, sudah ada anak juga. Nggak pantas juga masih ngaku muda."


"Ya nggaklah Bang, masih papa muda, kan? Tapi terserah Abang deh mau menganggap diri Abang itu udah tua atau masih muda, itu hak Abang, yang jelas dan terpenting Tris sendiri masih merasa muda," ujar Tristan sambil senyum-senyum sendiri.


"Yakin masih muda? Sebentar lagi dokter Davin benar-benar akan jadi adik kamu loh Tris," goda Nathan.


"Nah itu juga, kadang saya bingung kenapa Chila suka sama cowok tua, cowok yang umurnya di atas kita-kita. Mau nggak ngerestuin ... kasian dia sudah uring-uringan mulu."


Fazila mencebik.


"Dokter Davin nggak tua Bang dia hanya dewasa. Ingat, dewasa!" Fazila menekankan pada kata dewasa.


"Jiah dewasa," ujar Tristan lalu cekikikan.


"Biarin aja, bagi Chila cowok yang lebih tua itu pikirannya lebih dewasa. Lebih serius kalau diajak ngomong sesuatu nggak kayak Bang Tris yang kayak main-main kalau bicara. Yang lebih dewasa itu Bang, lebih matang dan lebih menantang," ucap Fazila mantap.


Sontak Fazila mendapatkan tatapan dari ketiga pria kesayangannya.


"Kenapa lihat Chila begitu? Ada yang salah?" tanya Fazila.


"Kalau tua kayak Papa mau? Itu jauh lebih menantang," goda Tristan.


Fazila menggeleng. Zidane lalu mengacak rambut putrinya.


"Kau ada-ada saja Chila, tapi nggak apa-apa sih. Umur kalian tidak terlalu terpaut jauh juga. Yang lebih penting, sepertinya dokter Davin bisa membimbing kamu yang manja ini."


"Ah, papa lihat nih kerudung Chila jadi berantakan gara-gara papa," protes Fazila.

__ADS_1


"Sudah buka aja, sudah tidak ada orang lain di sini," ucap Isyana lalu membantu membuka kerudung Fazila.


"Eh, apa kata-kata Abang untuk Chila tadi berlaku juga untuk Kak Dilvara? Dia kan umurnya juga jauh dari Bang Tristan."


"Masih jauhan kamulah dengan dokter Davin. Mungkin sepuluh tahun ada, kalau aku mah sama Dilvara kan cuma 5 tahunan doang."


"Biarin aja Bang yang penting Chila cinta," putus Fazila tak ingin diganggu gugat. Bodoh amat dengan umur dokter Davin. Terpaut sepuluh tahun kek, kurang kek atau bahkan lebih dari sepuluh tahun Fazila tidak perduli, yang paling penting dokter Davin menyayangi Fazila.


"Iya deh Chila Abang paham kok, cinta itu memang buta Chila. Kalau cinta sudah berkata bahkan terkadang eek saja rasa madu, hahaha." Tristan tertawa renyah.


"Astaghfirullah, pagi-pagi sudah ngelantur saja, yasudah deh saya pamit saja nanti tambah telat ini," ujar Tristan sambil melangkah keluar.


"Ma, Pa, Nathan berangkat ya!"


"Iya Nath hati-hati. Nggak ada yang ketinggalan lagi, Nak?" tanya Isyana.


"Tidak ada Ma."


"Bang sorry ya, yang tadi!" seru Tristan sebelum Nathan hilang dari balik pintu.


"Never mind Tris, yasudah aku pergi lagi," ucap Nathan lalu melangkah pergi.


"Lapar, sepertinya aku mau cari makan di luar dulu," ucap Tristan.


"Nih ada sisa makanan yang belum disentuh," ujar Isyana sambil meraih satu kotak makan yang ditinggalkan oleh dokter Davin.


"Jangan! Itu jatahku, akan Chila makan sendiri. Chila juga sudah lapar, mau makan banyak biar cepat sembuh," ujar Fazila lalu bangkit lagi dari berbaringnya. Fazila memang masih demam, tetapi kini ia sudah bertenaga tidak lemah seperti sebelumnya.


"Tumben," gumam Isyana.


"Katanya ngantuk, kok mau makan?" protes Tristan.


"Gegara Abang ngomongin makanan jadi ikutan lapar," sahut Fazila.


"Bukan karena ngamuk tadi sama suster Tantri?" kelakar Zidane.


"Itu juga salah satu alasannya Pa, marah-marah itu menguras banyak energi kapok Chila," ucap Fazila lalu membuka kotak makannya kemudian menyantap makanan itu sendiri.

__ADS_1


"Yasudah deh kalau begitu aku beli saja di luar. Ada yang yang mau nitip?"


"Tolong belikan Papa juga!" pinta Zidane.


"Oke, Mama juga?"


"Nggak, Mama masih kenyang," jawab Isyana.


"Oke, kalau begitu Tris keluar dulu dan kamu Chila nggak mau nitip juga?"


"Nggak Bang, ini aja masih belum habis."


"Kamu itu memang harus banyak makan. Kalau bisa sampai 4 atau 5 kali dalam sehari. Sebab kalau tidak begitu Abang khawatir keluarga dokter Davin nanti menganggap dokter Davin menikah dengan tengkorak," ujar Tristan lalu berlari keluar kamar dengan tawanya.


"Abang!" teriak Fazila, jengkel dengan sikap Tristan.


"Masa adik sendiri dibilang tengkorak," kesalnya.


"Biarkan saja, Abangmu kalau tidak begitu bisa stres dengan pekerjaannya. Dia selalu sibuk sehingga tidak sempat bercanda ria denganmu," ucap Isyana dan Fazila hanya mengangguk.


"Ma, kapan Chila bisa pulang?" tanyanya.


"Nanti kalau benar-benar sudah pulih. Kenapa terburu-buru?" tanya Isyana.


"Tak sabar ingin kembali ke pondok," sahutnya.


"Nggak sabar mau kembali ke pondok apa tidak sabar ingin tunangan dengan dokter Davin?" goda Zidane.


"Ah, papa selalu menggoda Chila," keluhnya.


"Habisnya kamu terlalu bersemangat sekarang," ucap Zidane.


"Jadi Chila harus lemah terus begitu?" protes Chila.


"Eh tidak-tidak. Yasudah habiskan makannya! Jangan ngomong lagi sebelum selesai!"


"Oke." Fazila pun fokus menyantap makanannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2