DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 63. Pembuktian


__ADS_3

"Untuk apa?" tanya dokter Davin tidak paham dengan permintaan Nathan. Apa hubungannya antara ponsel miliknya dengan pembicaraan yang mereka bahas sebelumnya.


"Kau keberatan? Apa ada sesuatu dalam ponselmu? Atau kau takut?" Nathan tersenyum sinis.


"Ada privasi di dalamnya, tapi tak apalah, kau ambil saja." Dokter Davin langsung mengulurkan ponsel ke tangan Nathan. Ia tidak keberatan sama sekali.


"Apakah ini ponselmu yang dulu?" tanya Nathan, ragu mengingat dokter Davin memberikan ponselnya dengan mudah padahal dokter Davin baru saja mengatakan kalau ada privasi di dalamnya.


"Itu ponsel lama, sudah hampir lima tahun aku memilikinya," jelas pria itu dan Nathan langsung mengangguk-angguk. Namun, dia tidak mau percaya begitu saja, Nathan menyerahkan ponsel tersebut ke tangan Fazila.


"Apa benar ini ponselnya dulu?"


Fazila tampak mengamati lalu mengangguk lemah meski tidak paham apa mau Nathan yang sebenarnya.


"Iya."


"Yakin?"


"Yakin Bang."


"Oke aku periksa, kau tak keberatan, kan?"


"Silahkan." Dokter Davin pasrah saja.


Nathan langsung membuka ponsel dokter Davin dan memeriksa. Pertama kali dia memeriksa chat dokter Davin baik chat masuk ataupun chat keluar, barangkali ada yang mencurigakan dan dia ada niatan buruk pada adiknya.


Dokter Davin menghela nafas panjang saat melihat Nathan begitu serius memeriksanya. Dalam hati hanya bisa menebak-nebak apa yang pria itu inginkan dari ponsel miliknya.


"Duduk dulu Nak Davin, tidak perlu tegang jika kamu merasa tidak melakukan kesalahan apapun," saran Zidane sambil menepuk punggung dokter Davin.


"Baik Om." Dokter Davin beranjak ke sofa lalu duduk. Tangannya meraih air mineral sisa air minum Fazila saat makan tengah malam tadi lalu meneguknya. Pria itu tetap khawatir meskipun tidak merasa bersalah sekalipun. Pria itu terlihat duduk dengan gelisah, menunggu eksekusi terhadap ponselnya oleh Nathan.


Nathan melirik dokter Davin sebentar, kemudian fokus pada ponsel di tangannya kembali. Zidane dan Isyana langsung duduk bersebrangan di pinggir tempat tidur Fazila dan diam. Tidak dipungkiri keduanya terlihat tegang.


"Kau–"


Nathan menghentikan kalimatnya, matanya terbelalak menatap layar ponsel.


Dokter Davin langsung berdiri dan melangkah ke arah Nathan kembali. Penasaran dengan apa yang dilihat oleh pria itu sehingga tubuhnya tampak membeku.

__ADS_1


"Ada apa, Nath?" tanya Isyana.


"Apa yang Abang lihat?" Chila yang penasaran seolah ingin merampas ponsel dokter Davin dari tangan Nathan. Takut-takut ada gambar mesra dokter Davin dengan wanita lain.


"Tolong jangan otak-atik foto itu! Kalau yang lainnya terserah kamu," ujar dokter Davin tidak ingin Nathan menghapus jejak kenangannya.


Fazila langsung menarik ponsel tersebut dengan gerakan cepat.


"Dokter?" Matanya terbelalak tatkala melihat ada banyak foto dirinya di sana. Foto-foto saat dirinya masih sering berkunjung ke rumah dokter Davin. Foto-foto dirinya dengan postur tubuh yang masih pendek dengan rambut tergerai indah.


"Kapan dokter mengambil foto ini? Ini semua nggak ada yang benar," protes Fazila menyadari foto-foto yang dokter Davin selalu dalam keadaan saat dirinya cemberut.


"Dulu aku iseng-iseng ambil gambar itu, karena dulu ... kau sangat menyebalkan. Eh tapi ... mau dihapus kayaknya sayang. Akhirnya jadi obat tatkala aku kangen sama kamu," jelas dokter Davin dengan senyuman yang merekah.


Pipi Fazila bersemu merah dan Zidane hanya bisa menggelengkan kepala tanpa bersuara. Ia sangat yakin kalau putrinya benar-benar menyukai dokter itu.


"Pokoknya ini harus dihapus!" tegas Fazila. Tangannya hampir saja menyentuh tombol hapus kalau saja ponsel tersebut tidak langsung direbut oleh dokter Davin.


"Jangan Chila, please! Ini kenangan kita," mohon dokter Davin pada Fazila.


"Tapi ... fotoku jelek!"


"Itu fotoku belum berhijab, please hapus! Aku takut dosa jika masih ada yang memandang tubuhku yang masih belum menutup aurat itu," jelas Fazila masih dengan menutupi mukanya dengan bantal.


"Kenapa? Haram? Nanti juga akan berubah halal kalau kau sudah jadi istriku."


Fazila lalu mengangkat wajah dan terbelalak menatap dokter Davin.


"Dokter!" teriaknya kesal membuat Zidane tertawa renyah.


"Mama keluar sebentar, ada klien yang menelpon," ujar Isyana, bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang rawat.


"Percaya sekali dirimu! Tidak semudah itu!" tegas Nathan.


"Perjanjiannya, kalau kamu tidak bisa membuktikan kalau aku pernah berbuat jahat pada Chila maka kamu akan merestui hubungan kami, bahkan kalau diantara Om Zidane ataupun Tante Isyana juga keluarga yang lain ada yang masih belum setuju kamu yang bertugas meyakinkan dan membujuk mereka."


"Oke, kau pikir aku tidak bisa mendapatkan bukti itu dokter? Dan kamu bisa ngeles dari semuanya karena chat itu sudah kau hapus? Kau salah jika meremehkan kemampuan diriku dokter Davin yang terhormat, kau pasti akan ketahuan."


Nathan menarik ponsel dokter Davin dari tangan Fazila dan mengotak-atik kembali ponsel dokter Davin.

__ADS_1


"Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, tapi tolong jangan pernah hapus satupun gambar dari galeriku, kalau itu terjadi kau akan tahu akibatnya!" ancam dokter Davin agar Nathan tidak sembarangan terhadap ponsel miliknya.


Nathan tidak menjawab karena masih fokus dengan pekerjaannya.


Beberapa saat kemudian pria itu terlihat mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Apa sih yang dia temukan?" batin dokter Davin benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran Nathan.


"Akhirnya ketemu juga!" seru Nathan kegirangan.


"Kau menemukan apa sih Nath?" tanya Zidane seolah mewakilkan pertanyaan di hati dokter Davin.


"Ini apa? Kau masih mau mengelak? Kau memberikan alamat ini untuk didatangi oleh Chila dan membuat adikku hampir dip*rkosa. Sekarang kamu belum puas karena adikku belum hancur? Kau mau menipu dia lagi?!" Nathan berkata dengan suara meninggi karena kesal saat mengingat akan hal itu.


"Bang!" protes Fazila tak suka dengan perkataan Nathan.


"Kamu diam Chila! Seharusnya kau lebih paham ini, kan? Dia tidak tulus mencintaimu, pasti ada maksud di dalamnya! Apa kau lupa dengan peristiwa itu? Kalau saja kamu sampai dipe*kosa waktu itu, apakah dia akan tetap mendekatimu dan mengatakan cinta, rindu dan janji-janji manis lainnya?"


Fazila hanya menggelengkan kepala.


"Tidak Chila, dia akan pergi dengan hati yang puas dan bahagia karena telah berhasil menghancurkan keluarga kita. Jangan hanya karena cinta kau buta dengan segalanya. Kau bucin dengan dia. Aku tidak mau kau menyesal," pungkas Nathan.


"Kamu gila Nat," ujar dokter Davin sambil memeriksa chat yang sudah dipulihkan oleh Nathan.


"Ini Chat-nya?" Dokter Davin terbelalak, tidak percaya jika chat itu memang ada di ponselnya.


"Aku tidak pernah mengetik chat ini. Tanggal ini, bulan ini, tahun ini–"


Dokter Davin merenung, mengingat-ingat bersama siapa dirinya waktu itu.


"Apakah ini chat dari–?"


Dokter Davin menggelengkan kepala, rasanya tidak ingin mempercayai semua ini.


"Ah! Ini tidak mungkin," ucapnya.


"Apa yang tidak mungkin? Tidak usah mengelak! Sekarang buktinya sudah ada di tangan kalau kamu memang benar-benar berusaha ingin menjebak adikku!" geram Nathan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2