
"Eh tunggu! Darimana dia tahu tentang pertunangan kami?" Dokter Davin tampak mengerutkan kening. Berpikir keras tentang siapa yang memberitahu pada suster Tantri tentang pertunangannya dengan Fazila.
"Apakah Damian, Danisa ataukah suster Dinda?" Dokter Davin menimang-nimang ponsel di tangan, hendak menelpon salah satu dari ketiganya, tetapi urung tatkala menyadari ini masih larut malam untuk menghubungi mereka. Mereka bertiga sedang beristirahat dan besok pagi harus kembali ke daerah mereka tinggal untuk bertugas. Dokter Davin tidak mungkin menganggu mereka hanya karena pertanyaan yang tidak penting itu.
Pria itu tidak menghela nafas panjang, keluar sebentar dari kamar untuk mengecek keadaan. Berhubung sepi dan tidak melihat siapapun yang masih bangun, akhirnya ia kembali ke kamarnya, mengatur alam agar tidak terbangun kesiangan karena terlambat tidur dan menyetel musik agar bisa terlelap secepatnya.
"Mungkin benar Chila hanya tidak betah kalau tidur di rumahku. Buktinya sekarang ia sudah bisa tidur," ucapnya lalu memejamkan mata.
Musik yang ia setel mengalir dengan lembut menyentuh gendang telinga dokter Davin. Tak butuh waktu lama pria itu langsung terlelap.
Di kamar lain Fazila juga sudah merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata. Namuntidak jauh berbeda saat berada di rumah dokter Davin dan nenek Salma, iapun belum bisa tertidur. Namun, karena mamanya duduk di samping ranjang dan terus mengintrogasi, gadis itu pura-pura tertidur dan mengorok.
"Aku kau tidak tidur Chila, jangan membohongi Mama!" tegas Isyana. Namun, putrinya itu tidak beraksi terhadap celotehan sang mama sejak tadi.
"Hah baiklah terserah apa maumu, Mama takkan ikut campur jika kau tidak mempercayai Mama." Isyana bangkit dari duduknya dan berlalu keluar kamar. Lelah sudah mengajak putrinya bicara.
Setelah melihat punggung Isyana menjauh dari kamar dan menutup pintu, Fazila langsung membuka mata.
"Maafkan Chila Ma, tapi Mama tidak perlu tahu tentang apa yang terjadi karena Mama pasti akan merasa kecewa dengan pilihan Chila kemarin." Gadis itu bangkit dari berbaringnya dan duduk di tepi ranjang sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Sesekali terdengar helaan nafas panjang dan air mata yang jatuh tak tertahan.
Jam di ruang tengah berdentang 3 kali. Sangat jelas menyentuh pendengaran. Fazila merasa tidak mungkin lagi tidur di jam seperti itu karena sebentar lagi waktu subuh akan tiba.
"Hah! Mau shalat tahajjud pun tidak mungkin mengingat aku belum sempat terlelap," keluhnya. Akhirnya ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan shalat witir tiga rakaat.
"Ya Allah ampuni hamba, seharusnya cinta hamba hanya tertuju pada-Mu. Dzat yang tidak akan pernah memberikan rasa sakit dalam mencintai, tempat bergantungnya hati dan harapan ini. Satu-satunya cinta yang kekal abadi. Bukan dia yang sering memberikan rasa kecewa."
Malam menjelang pagi itu dia memutuskan membaca Alquran sambil menunggu waktu shalat subuh tiba.
Di lantai bawah, di kamar tamu, dokter Davin sudah terlelap dalam tidurnya. Pria itu sudah pergi ke alam mimpi dan melupakan apa yang terjadi di alam nyata.
Suara merdu murratal Qur'an seolah membawa dirinya ke alam lain. Alam yang begitu damai dan sejuk dipandang mata. Pria itu duduk sendiri sambil menikmati pemandangan air terjun di hadapannya. Hatinya benar-benar tenang di sana.
Bunyi alarm menganggu tidurnya, disambung suara adzan yang ia atur dalam aplikasi ponselnya juga berbunyi bersamaan.
"Sudah subuh!" Dokter Davin terduduk dengan terkejut. Ia menghela nafas sebelum akhirnya mengangkat kaki untuk melangkah ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu sebelum shalat.
Sesuatu yang mengusik telinga membuat dia mengurungkan diri untuk ke kamar mandi dan lebih memilih mencari arah sumber suara itu.
"Siapa yang mengaji? Kenapa suaranya seperti yang ada di alam mimpi?"
Dokter Davin berdiri di pintu dan memprediksi arah datangnya suara. Gerak kaki seakan tidak bisa dikendalikan, berjalan menuju sumber suara dengan langkah perlahan.
"Ada apa Den Davin?" tanya Bik Ina saat kaki pria itu menapaki tangga demi tangga.
"Suara itu Bik, siapa yang membaca Alquran dengan suara yang sangat merdu?"
__ADS_1
Tidak dapat dipungkiri bacaan orang itu menggetarkannya kalbu. Maghraj-maghrajnya begitu jelas terdengar dan suaranya seperti seorang yang menangis pilu, tetapi tak sedikitpun menganggu bacaannya. Sungguh benar-benar membuat dokter Davin seolah terhipnotis.
"Oh itu? Suara Non Chila Den," ucapnya lalu tertawa. Lucu melihat ekspresi dokter Davin yang benar-benar seperti orang yang terpesona.
"Chila?" tanyanya dengan sedikit terkejut.
"Iya Den, kalau tidak percaya bisa cek sendiri ke atas!"
Dokter Davin mengangguk lemah dan terus menapaki tangga. Langkahnya terhenti saat tiba di pintu kamar Fazila.
Ia menempelkan telinga di daun pintu. Dalam hati membenarkan perkataan Bik Ina bahwa suara merdu itu adalah suara kekasih hatinya.
"Masyaallah."
Sungguh dokter Davin merasa beruntung mendapatkan gadis seperti Fazila, meskipun masih polos dan manja, tetapi ia yakin suara gadis itu, suatu saat akan mampu menghilangkan rasa penat sehabis bekerja saat mereka berdua sudah menjalani kehidupan berumah tangga.
"Shadaqallahul Adzim."
Kalimat penutup saat membaca Alquran itu menyadarkan akan lamunan dokter Davin tentang masa depan.
"Astaghfirullah." Pria itu mengusap wajahnya kemudian terburu-buru menuruni tangga lagi karena takut ada yang memergoki aksi dirinya.
Orang-orang di rumah itu bisa salah paham padanya termasuk diri Fazila sendiri jika tahu dokter Davin ada di depan kamar gadis itu. Semua orang pasti menyangka dirinya mengintip Fazila dan berpikiran macam-macam tentang dirinya.
Selesai shalat ia keluar kamar dan berjalan-jalan keluar melihat pintu rumah sudah terbuka. Para pembantu sudah cekatan melakukan tugas mereka masing-masing.
"Mau kemana Den, sudah mau balik?" tanya Bik Ina saat dokter Davin beranjak keluar pintu rumah.
"Tidak Bik, mau jogging sebentar. Nanti kalau Chila ataupun yang lainnya bertanya tolong sampaikan ya!"
"Siap Den."
"Makasih Bik."
"Masama."
Dokter Davin langsung keluar dari rumah tersebut dan berlari santai di pinggir jalan raya.
Di sisi lain Fazila baru saja keluar dari kamar setelah sempat berbaring sebentar selesai shalat subuh.
Saat ia turun dari tangga, dia tidak sengaja melihat kamar dokter Davin terbuka. Fazila tetap melanjutkan langkah menuju dapur seolah cuek dengan keadaan. Namun, baru beberapa langkah melewati kamar dokter Davin, gadis itu mundur beberapa langkah karena tidak melihat pergerakan di dalam sana.
"Apa dia sudah pergi?" gumamnya. Penasaran gadis itu beranjak ke arah pintu. Ternyata Fazila memang tidak menemukan dokter Davin di sana.
Fazila masuk ke dalam kamar dan memeriksanya di dalam. Tak ada ia menempelkan telinganya di pintu kamar mandi barangkali mendengar suara gerakan pria itu.
__ADS_1
"Tak ada, apa dia benar-benar pergi?" Wajahnya memucat tatkala mengingat di rumah dokter Davin masih ada Dinda.
"Apa mereka–" Pikirannya yang terlalu jauh membuat dirinya menggeleng, menepis praduga sendiri yang terlalu berlebihan.
"Di rumah itu ada nenek Salma tak mungkin keduanya akan bertingkah di luar kendali," gumamnya.
"Kau mencari dokter Davin?" Tiba-tiba suara seseorang di pintu mengangetkan Fazila. Gadis itu segera menoleh.
"Mama?"
"Mungkin dia sudah pulang karena tidak tahan dicuekin sama kamu."
Fazila membeku mendengar perkataan mamanya.
"Kau terlalu kekanak-kanakan untuk sosok Nak Davin yang begitu dewasa. Di sekitar pria itu ada banyak wanita cantik yang tidak hanya dewasa, tetapi juga mandiri. Jadi, Mama menyarakan agar pria itu mencari pendamping yang seumuran saja dengannya," ujar Isyana lalu pergi meninggalkan Fazila yang semakin mematung.
Beberapa saat kemudian gadis itu tersadar.
"Mama," lirihnya.
Fazila pun melanjutkan langkahnya menuju dapur, tempat semula yang ia tuju. Niatnya ia ingin meminta Bik Ina atau pembantu lainnnya untuk membuatku dirinya nasi kuning. Namun, ia kini sudah tidak hilang nafsu makan mendengar ocehan mamanya.
"Non, mau dibuatkan apa?" tanya Bik Ina menyambut Fazila di depan pintu dapur.
Gadis itu tak menjawab, wajahnya terlihat masam.
"Minggir Bibik!" perintah pada seorang pembantu yang berdiri di depan kompor.
Pembantu tersebut menoleh pada Bik Ina dan Bik Ina memberi kode agar temannya itu menyingkir dari hadapan Fazila.
"Ba–baik Non," ucap pembantu tersebut sedikit gugup karena Fazila bersikap tidak seperti biasanya.
Fazila tak menjawab, ia justru beranjak ke arah kulkas lalu mengeluarkan beberapa telur ayam di dalamnya.
"Nona mau membuat apa dengan telur sebanyak itu?"
Fazila tidak menjawab membuat kedua pembantunya hanya bisa mengawasi anak majikannya dari belakang.
Gadis itu menghidupkan kompor dan membuat telur mata sapi dengan jumlah yang banyak.
"Non Chila ada apa sih? Kok tingkahnya aneh seperti itu?"
"Aku juga tidak tahu," sahut Bik Ina. Wanita tua itu meringis kala melihat telur ceplok sudah bertumpukan di atas nampan.
Bersambung.
__ADS_1