
Dokter Davin langsung mengisi baterai ponsel dan meninggalkan ponsel tersebut menuju kamar mandi. Mengingat masih ada waktu sebelum bertugas, akhirnya dia memutuskan untuk membersihkan diri sebentar.
Setelah selesai mandi, dokter Davin langsung mengobati luka-lukanya sendiri sebelum akhirnya memakai pakaian dokter dan siap bertugas.
Terdengar ketukan dari luar, dokter Davin langsung melangkah ke arah pintu untuk membuka pintu yang sempat ia kunci dari dalam tadi.
"Bagaimana Dokter, sudah siap?" tanya seorang suster yang berdiri di depan pintu.
"Apakah prosedur sudah dilakukan? Apakah pasien sudah melakukan puasa?"
"Sudah Dokter, kami sudah mengikuti prosedur yang dianjurkan oleh dokter Fahmi dan sekarang sudah waktunya pasien dilakukan tindak operasi. Pasien juga sudah menunggu di ruang operasi. Apakah dokter Davin sudah membaca laporan yang sudah kami kirimkan tentang data pasien?"
Dokter Fahmi adalah dokter bedah di rumah sakit tersebut sedangkan dokter Davin sendiri bertugas sebagai dokter spesialis penyakit dalam yang biasanya tidak melakukan tindakan bedah atau operasi pada pasien.
Namun, karena dia juga pernah mengambil jurusan spesialis ilmu bedah ketika kuliah, maka dia sering dimintai membantu dokter spesialis bedah saat bekerja, sekaligus sebagai pengganti disaat dokter bedah sendiri tidak bisa bertugas atau berhalangan, dan selama ini baik-baik saja. Pekerjaan dokter Davin bisa dipertanggung jawabkan.
"Sudah? Baik saya segera ke sana!"
Suster tersebut mengangguk dan kemudian pamit pergi.
Dokter Davin kembali ke mejanya, menghidupkan ponsel, lalu memasang masker kemudian berjalan menuju ruang operasi dengan langkah yang tertatih. Luka-luka kecil yang baru saja ia dapatkan terasa perih setelah menyentuh obat apalagi terkena gesekan celana.
Ia masuk ke dalam ruangan operasi dan memasang kaos tangan sebelum melakukan aksi pembedahan pada diri pasien.
"Apakah semua sudah siap?" tanyanya pada rekan-rekan kerjanya yang dijawab anggukan oleh semua orang. Dokter anastesi, perawat anestesi dan perawat bedah terlihat sudah benar-benar siap.
"Mari kita eksekusi!"
Mereka pun langsung mengambil tindakan.
Di tempat lain, Tristan menghentikan mobilnya di tempat dokter Davin terjatuh tadi dan celingukan mencari keberadaan dokter Davin di sana.
"Hoek! Hoek!" perut Fazila mual seperti orang yang ingin muntah namun, tidak keluar apa-apa. Efek dari Tristan yang membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi tadi sehingga membuatnya mabuk perjalanan.
"Chila, kau tak apa-apa?" Rasa khawatir menyergap hati Tristan.
Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada adiknya? Apa yang akan dia katakan pada mama dan papanya karena telah membawa Fazila tanpa berembug terlebih dahulu?
"Bagaimana Bang, ada?" tanya Fazila tak menghiraukan pertanyaan dari Tristan. Ia ikut mengedarkan pandangan pada sekitar meskipun perutnya terasa tidak nyaman. Kedua tangannya saling bertaut untuk meredakan rasa gemetar.
"Tidak ada, tapi lokasinya memang di sini tadi, apakah sudah ada yang menolong?" Tristan terlihat bingung.
"Hei cari siapa, Mas?" tanya seorang wanita yang keluar dari sebuah toko sambil menenteng belanjaan.
"Korban kecelakaan di sini, apakah sudah dibawa ke rumah sakit?"
"Korban kecelakaan? Sepertinya di sini tidak ada kejadian kecelakaan deh Mas," ucap wanita separuh baya tersebut.
"Ibu sudah lama berada di tempat ini?"
"Saya sudah lebih dari satu jam di sini, Mas."
Tristan manggut-manggut saja meskipun heran sebab di lokasi yang tercantum di ponsel Chexil memang inilah daerah tempat dimana dokter Davin mengalami kecelakaan tadi. Mengapa orang ini malah mengatakan tidak ada kecelakaan?
"Ada apa, Mbak?" pemilik toko tempat wanita tadi berbelanja, keluar dari tokonya dan menghampiri mobil Tristan serta bertanya pada pembelinya yang berdiri di samping mobil Tristan.
"Ada apa, Mas?" tanyanya kemudian pada Tristan.
"Tanya Mas, apakah tadi di tempat ini ada kecelakaan?" tanya Tristan.
"Nggak ada sih Mas, eh tapi tadi memang ada sih pengendara motor yang terjatuh karena menghindar dari seorang wanita yang tiba-tiba berdiri di hadapannya padahal motor dalam keadaan berjalan. Sepertinya pengendara sedang tidak fokus karena menyetir sambil menelpon."
"Benar itu pasti dokter Davin Bang," ujar Fazila dengan suara bergetar pada Tristan dan Tristan langsung mengangguk membenarkan.
"Bagaimana keadaan pengendara itu, Pak?" tanya Fazila dengan mimik wajah yang terlihat begitu khawatir.
"Sepertinya pengendara hanya luka kecil Mbak, buktinya tadi dia langsung bangkit sendiri dan menyetir motornya kembali."
"Oh, begitu ya, Pak?" Raut wajah Fazila berubah seketika. Lega rasanya mendengar kabar baik tersebut.
"Iya, Mbak."
"Yang ditabrak, Pak?" tanya Tristan penasaran.
"Pasti baik-baik saja Mas. mengapa saya menyimpulkan seperti itu? Itu karena saat melihat pengendara terjatuh, perempuan yang hampir ditabraknya itu langsung berlari menjauh."
Tristan terbelalak mendengar perkataan pria di sampingnya.
__ADS_1
"Bukannya menolong malah kabur? Kenapa tidak ditabrak sekalian?"
"Bang!" protes Fazila tidak suka dengan perkataan Tristan yang tidak baik meskipun dia tahu abangnya memang sedang kesal saat ini. Menabrak orang bukanlah solusi dari menyalurkan amarah.
"Kalau menurut penglihatan saya ya, perempuan itu sengaja berdiri di depan motor pengendara lalu menyetop motor tersebut agar berhenti. Mungkin kenal dengan pengendara motor. Namun, karena tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya dan pengendara motor malah terjatuh, si perempuan itu langsung berlari, seolah-olah takut dilihat oleh pengendara tadi," jelas pemilik toko yang melihat dengan jelas kejadian tadi. Namun, ia tidak bisa menolong karena melayani pembeli yang sedang ramai ditambah sepertinya dokter Davin baik-baik saja.
"Tuh, kan? Benar-benar mengesalkan tuh cewek," geram Tristan.
"Istighfar bang istighfar!" seru Fazila sambil mengusap dada Tristan dan Tristan sendiri langsung menghela nafas.
"Baik Mas, kalau begitu terima kasih atas penjelasannya," ujar Tristan kemudian.
"Sama-sama, Mas." Pria itu berjalan kembali ke arah tokonya sedangkan perempuan yang menyapa Tristan untuk pertama kali melanjutkan langkahnya, menyebrang jalan.
"Kalau menurut penjelasan mereka berarti dokter Davin baik-baik saja Chila. Bagaimana ini? Apakah kita kembali saja ke rumah atau aku antar saja kamu ke pesantren mumpung dekat?"
Fazila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa.
Jika ia kembali ke rumah orang tua mereka, rasanya perjalanan berjam-jam yang telah ditempuhnya bersama Tristan tadi tidak ada gunanya sama sekali. Apalagi perutnya masih tidak nyaman.
Namun, jika Tristan harus mengantarkan dirinya ke dalam pondok pesantren, Fazila belum siap kembali ke penjara suci itu meskipun tidak bisa dipungkiri di hatinya sudah merindukan teman-teman dan para ustadz-ustadzah. Namun, ia yakin pasti sudah banyak hafalan yang menanti dirinya yang kurang dalam hal hafal-menghafal itu.
"Kenapa diam? Balik atau lanjut?" tanya Tristan karena Fazila tidak menyahut.
"Cari minyak kayu putih atau minyak angin Bang, Chila mau muntah!" pintanya.
"Hmm, baiklah," ujar Tristan lalu turun dari mobil dan berjalan ke arah toko di pinggir jalan. Ia membeli minyak angin, kue basah, permen jahe dan beberapa camilan, tak lupa juga obat anti mabuk untuk sang adik.
"Abang kau pikir aku anak-anak apa?" protes Fazila saat menyadari Tristan membelikannya obat mabuk perjalanan khusus anak-anak.
Tristan langsung menarik obat cair dari tangan Fazila dan memeriksanya. Ia terkekeh sendiri kala melihat apa yang dikatakan oleh Fazila itu benar. Tadi ia menariknya dari etalase toko tanpa membaca secara seksama.
"Lupakan saja, atau mau aku tukar dengan obat untuk orang dewasa?"
"Tidak usah Bang. Nanti ini perut juga enakan sendiri asal jangan Abang membawa mobil dengan mengebut lagi."
"Oke siap," ucap Tristan lalu kembali masuk ke kursi kemudi.
"Kita kemana sekarang?"
"Ngapain lihat doang?"
Fazila garuk-garuk kepala.
"Kangen sama sekolah juga teman-teman, tapi malas belajar," ucapnya sambil cengengesan.
Tristan langsung menyentil dahi Fazila.
"Dasar!"
"Bang aku masih kepikiran dokter Davin, Abang tahu rumahnya atau rumah sakit tempat ia bekerja?"
"Dua-duanya Abang tahu, tapi kalau kamu memang ingin bertemu dengannya lebih baik kita ke rumah sakit tempatnya bekerja saja, sebab kau tahu sendiri, bukan? Dia tadi pagi mengatakan terburu-buru pulang karena ada tugas di rumah sakit."
"Terserah Abang lah mana yang terbaik," ucap Fazila menyerahkan semuanya pada Tristan karena ia yang paling tahu.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" seru Tristan lalu mengendarainya mobilnya kembali di jalanan.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil yang dikendarai oleh Tristan sampai juga di parkiran rumah sakit.
"Ini rumah sakit tempat dokter Davin bekerja?" tanya Fazila sambil menatap ke segala penjuru bangunan rumah sakit. Sebelum pulang ke rumah orang tua, Fazila pernah dua kali diperiksakan ke tempat ini oleh ustadzah Ana, tetapi tidak pernah bertemu dengan dokter Davin sekalipun.
"Iya benar, klinik lain lagi. Calonmu ini kayaknya sibuknya melebihi Bang Tris Chila, jadi kau harus pengertian nanti kalau dia lebih banyak menghabiskan waktu di tempat bekerja daripada bersamamu. Jangan sampai marah kalau dia tidak selalu bisa mendampingi dirimu dalam keadaan apapun."
"Iya Bang, mama juga sudah ngasih tahu Chila tadi."
Tristan mengangguk.
"Ayo turun!" perintahnya lalu membantu Fazila turun dari mobil dan menggandeng tangannya menuju bangunan rumah sakit.
Sampai di dalam, Tristan langsung menuju poliklinik penyakit dalam, tempat biasa dokter Davin bertugas. Namun, ruangan milik dokter Davin masih tertutup, berbeda dengan ruangan lain yang sudah buka dan ada pasien yang sudah ditangani.
Tristan melangkah ke ruangan lain yang masih belum ada pasien sama sekali dan bertanya pada seorang suster yang bertugas membantu dokter di ruangan tersebut.
"Maaf kalau boleh bertanya dokter Davin ada di mana ya?" tanya Tristan.
"Anda pasien beliau? Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, tapi jadwal dokter Davin sedikit diundur sampai beliau selesai melakukan tindakan operasi pada seorang pasien," ujar suster tersebut merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Kalau saja dokter Fahmi tidak terserang stroke di tangan secara mendadak pasti pelayanan di ruang poli tidak akan terganggu. Dia takut pasien akan memberikan rating yang rendah atas rumah sakit tersebut.
Namun, bagaimana lagi? Pasien yang seharusnya ditangani oleh dokter Fahmi sudah harus dioperasi dan sudah melakukan prosedur, ketika tiba-tiba dokternya mendadak terkena musibah.
"Tidak Sus, saya hanya ingin bertemu beliau sebentar, tapi apakah benar dokter Davin sekarang ada di ruang operasi?" Tristan harus memastikan informasi yang didapat dari wanita di hadapannya kini benar adanya bukan hanya wacana yang akhirnya tidak bisa dilaksanakan karena keadaan dokter Davin dan suster tersebut malah tidak tahu.
"Ya betul Mas, tadi saya melihat sendiri beliau masuk ke ruang operasi," ucapnya menyakinkan.
"Oh begitu ya, Sus? Maaf bukannya saya tidak mempercayai Suster, tapi saya hanya khawatir saja sebab tadi mendengar dokter Davin mengalami kecelakaan. Saya pikir terjadi sesuatu dengan beliau, dan sekarang yang melakukan tindakan operasi adalah dokter lain yang menggantikannya."
Suster tersebut menautkan kedua alisnya.
"Kecelakaan?" tanyanya kaget.
"Iya Sus," sahut Fazila ikut bicara.
Suster tersebut tampak berpikir.
"Pantas saja tadi saya lihat jalannya pincang dan ia terlihat sedikit meringis. Kalian bisa tunggu di sini, sebentar lagi pasti akan selesai kok."
"Baik Suster, terima kasih banyak atas informasi dan waktunya."
"Sama-sama," ucap suster tersebut sambil tersenyum ramah lalu kembali masuk ke dalam ruangannya.
Lima menit kemudian suster pengganti suster Tantri berjalan ke ruangannya dan membuka pintu. Setelah menyiapkan ruangan tersebut ia melangkah ke arah Tristan dan Fazila yang duduk santai di kursi ruang tunggu di depan poliklinik spesialis penyakit dalam.
"Anda pasien di ruangan ini? Boleh serahkan berkas-berkas Anda biar saya cek sebelum dokter Davin datang," ucapnya seraya tersenyum manis.
Tristan mendongak dan menatap wajah suster baru itu dengan terkagum-kagum.
"Cantiknya," gumam Tristan tanpa sadar ucapannya terdengar oleh suster tersebut.
"Terima kasih banyak Mas Tristan," ucap suster tersebut masih terus tersenyum. Tidak dapat dipungkiri ia pun kagum melihat wajah Tristan dari dekat dimana selama ini hanya bisa dilihat melalui layar kaca saja.
"Ekhem, ingat tunangan di rumah!" Fazila memperingatkan membuat senyum di bibir suster tersebut langsung memudar dan Tristan gelagapan karena aksi memandang suster tanpa berkedip tadi kepergok adiknya.
"Maaf apa kalian mendengar permintaan saya?" tanya suster tadi mencoba bersikap biasa saja.
"Saya bukan pasien Sus, hanya menunggu seseorang di sini."
"Oh maaf saya pikir–"
"Hai lama menunggu? Ada apa yang sampai menyusul ke sini?" Dokter Davin melambaikan tangan dan melangkahkan cepat ke arah Fazila dan Tristan.
"Halo Dok, saya suster baru yang akan membantu pekerjaan Anda," ujar suster tersebut sambil mengulurkan tangan ke arah dokter Davin. Dokter Davin menerima uluran tangan suster baru tersebut.
"Perkenalkan nama saya Dinda."
Dokter Davin mengangguk.
"Saya Davin, semoga kedepannya kita bisa bekerja sama dengan baik," ucap dokter Davin sambil melepaskan jabatan tangan mereka.
"Baik Dokter, semoga dokter suka dengan cara kerja saya."
"Racun ini racun," gumam Fazila karena kini wanita tersebut menatap wajah dokter Davin dengan kagum.
"Apaan Chila?" tanya dokter Davin sambil terkekeh ke arah gadis itu.
Fazila mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga dokter Davin.
"Dokter Davin, kiranya kau nggak akan tergoda dengan wanita ini?"
"Memangnya kenapa?" tanya dokter Davin sambil melirik ke arah suster yang terlihat senyum-senyum sendiri.
"Dia cantik, Chila minder jika harus saingan dengan dia. Dia jauh lebih cantik dibandingkan suster Tantri," lirihnya masih di telinga dokter Davin.
"Kamu ngomong apa sih? Sudah nggak usah berpikiran macem-macem, aku bukan Abang kamu yang suka PHP-in anak orang," ujar dokter Davin sambil mengelus kepala Fazila yang tertutup hijab.
Tristan terbelalak karena merasa tersindir dengan ucapan dokter Davin.
"Maaf apakah dia adik Dokter Davin ataukah keponakan?" tanya suster Dinda melihat interaksi antara Fazila dan dokter Davin yang terlihat begitu akrab.
"Oh ya, saya lupa memperkenalkan dia. Perkenalkan dia ini Chila, calon istri saya," ucap dokter Davin membuat Fazila tersenyum senang dan suster Dinda terbelalak lalu menelan ludah.
"Kenapa semua sudah ada pasangan sih?" keluhnya dalam hati.
Bersambung.
__ADS_1