DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 101. Ukuran


__ADS_3

"Aku juga tidak tahu," sahut Dimas seraya menyeka keringat yang semakin bercucuran dari dahinya.


"Emang kita ngapain sampai harus ditangkap polisi?" Suster Dinda menatap lekat wajah Dimas dengan ekspresi curiga. Bergantian dengan pistol yang tidak terlihat siapa pemiliknya.


"Jangan-jangan ... kamu ingin melecehkan ku," lanjutnya penuh selidik.


Dimas menggeleng lemah, pandangannya masih terpaku pada pistol hitam di atas kaca mobil yang sedikit terbuka. Pria itu seperti terhipnotis hingga tidak bisa mengalihkan pandanganya terhadap sesuatu yang lain selain pistol di hadapannya, pun dengan pikirannya.


"Tunggu! Sepertinya ini bukan pistol beneran," gumam suster Dinda lalu beringsut ke dekat kaca jendela di samping tempat duduk Dimas.


"Kau–"


Suster Dinda terkejut melihat keberadaan Tristan di bawah sana, bahkan ada Nathan dan dokter Davin yang turut bersama pria itu.


"Ssst!" bisik Tristan agar suster Dinda tidak berisik bahkan memberitahukan tentang semuanya.


"Ampun Pak saya tidak bersalah, saya tadi tertidur di dalam mobil dan tidak tahu kalau laki-laki ini akan menyentuh saya dengan pikiran mesumnya. Sepertinya pria ini akan menodai saya Pak. Pak polisi boleh tangkap dia dan izinkan saya pergi," ujar suster Dinda dengan wajah meringis setengah ketakutan.


Dimas terbelalak, bagaimana mungkin suster Dinda malah semakin memojokkan dirinya. Memang apa kejahatan yang sudah dirinya lakukan? Menyentuh bibir wanita itu saja belum dan sekarang malah dituduh sembarangan. Perkataan suster Dinda semakin mendramatisir keadaan.


"Apes-apes!" Dimas menyesali takdirnya sendiri.


"Baiklah, Anda tidak akan kami tangkap, tapi harus tetap ikut ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian."


"Baik Pak," ujar suster Dinda lalu membuka pintu mobil dan turun. Sampai di bawah wanita itu terpingkal-pingkal bersama dokter Davin dan Nathan. Sementara Dimas semakin syok saja.


"Gila memang si Tris ini," ujar Nathan lalu bangkit dari duduknya dan meninggalkan semua orang. Dia bisa gila jika harus mendukung kegilaan Tristan lebih jauh.


Melihat sosok Nathan di sekitar, Dimas langsung berinisiatif untuk memanggil pria itu.


"Nath! Nathan tolong aku!" teriak Dimas dari dalam mobil.


Namun, Nathan tidak mengindahkan panggilan Dimas dan terus berlalu dari hadapan pria itu. Tak tahan sudah untuk meledakkan tawa yang sedari tadi ia tahan-tahan.


Melihat Nathan pergi, dokter Davin pun ikut menyusul di belakangnya.


"Dokter Davin, tolong dong!" teriak Dimas lagi. Namun, tetap saja perlakukan tak acuh pria itu tunjukkan layaknya Nathan tadi.

__ADS_1


"Maaf Pak saya bisa jelaskan kalau saya tidak bersalah. Perempuan tadi hanya salah paham," ujar Dimas kemudian.


"Jangan bohong kamu, kamu memang pria jahat, kan? Memang suka melecehkan wanita? Tadi saya melihat sendiri kamu hendak mencium gadis itu. Beruntung saya cepat datang. Kalau tidak, kamu bukan hanya berhasil mencumbu gadis itu tetapi pasti sudah melakukan hal lebih jauh."


"Saya bukan pria seperti itu Pak. Baik kalau Bapak tidak percaya, saya bisa mendatangkan seseorang untuk menjelaskan pada Bapak bahwa saya adalah pria baik-baik," ujar Dimas lalu menekan nomor telepon Tristan.


"Loh kok berbunyi di bawah?" gumam Dimas kebingungan lalu membuka kaca lebih lebar dan menjulurkan wajahnya untuk melihat ke bawah. Di bawah sana terlihat Tristan duduk berjongkok sambil berusaha meraih ponsel dengan tangan kirinya untuk mematikan ponsel tersebut.


"Tristan!" teriak Dimas dengan keras hingga suaranya terdengar ke rumah Danisa.


Di depan pintu rumah Danisa dokter Davin dan Nathan melepaskan tawa mereka.


"Kenapa kalian malah ngakak gitu sih, dan itu siapa yang teriak-teriak?" tanya Damian bingung dengan tingkah keduanya.


"Ada yang lucu?" tanya Laras karena melihat tawa keduanya tak kunjung reda.


"Si Tris Oma, masa pura-pura jadi polisi dan menggerebek Dimas. Mana pakai pistol mainan lagi," jelas Nathan lalu kembali tertawa. Di belakang mereka menyusul suster Dinda.


"Ya ... pistol adikku itu, jangan sampai hilang. Entar dia ngambek," ujar Danisa menyadari pistol-pistolan adik lelakinya sudah tidak ada di tempat.


"Ya nanti kamu minta sama Bang Tris," ujar dokter Davin sambil masuk kembali ke dalam rumah dan duduk di samping Tuan Alberto.


"Tidak, tanggung. Sebentar lagi sudah adzan subuh."


Dokter Davin mengangguk.


"Eh Chila belum selesai mandi?" tanyanya kemudian lalu bangkit kembali.


"Belum, tengok sana! Perhatian banget sama calon istri," ujar Danisa dan dokter Davin hanya tersenyum kemudian melangkah ke arah dapur.


Tristan yang kaget langsung menjatuhkan pistol mainan di tangan kanannya dan mendongak ke atas.


Mata Dimas memandang tajam ke arah dirinya.


"Sial Lo Tris! Ku pikir siapa, tega Lo jatuhin harga diri teman Elo ini di depan suster Dinda. Ku geprak Lo biar jadi kayak ayam geprek!" kesal Dimas sambil melayangkan pukulan ke arah kepala Tristan.


Namun, sebelum pukulan itu mendarat di kepala Tristan, lelaki itu langsung menghindar dan berlari menjauh.

__ADS_1


"Kabur!" seru Tristan dengan berlari ke arah rumah Danisa dengan tertawa-tawa.


"Jangan kabur Lo Tris!" Dimas turun dari mobil dan berlari mengejar Tristan. Sampai pria itu berhasil meraih kemeja Tristan dan menariknya tanpa mau melepas. Dimas langsung memukul-mukul bahu Tristan sedangkan Tristan tak berhenti tertawa.


"Sudah-sudah! Ini rumah orang, lagipula ini kawasan padat penduduk. Kalian berdua bisa mengganggu ketentraman penduduk sekitar," protes Laras.


Barulah Dimas menghentikan aksinya memukul Tristan dan Tristan sendiri menghentikan aksi tawanya yang heboh.


"Sudah?" tanya dokter Davin saat melihat kepala Fazila menyembul dari balik pintu kamar mandi.


Fazila mengangguk dan keluar dari kamar mandi tersebut kemudian melangkah mendekati dokter Davin yang sudah berdiri menunggu di undakan. Nenek Salma sudah terlebih dulu pergi melihat sosok dokter Davin yang datang.


"Nggak ada yang ketinggalan 'kan pakaiannya?" tanya dokter Davin saat Fazila sampai di sisinya. Pria itu memandang ke arah kerudung yang dipakai Fazila. Ternyata sesusai dengan gamis gadis itu padahal dokter Davin asal ambil tadi.


"Nggak, semuanya ada, termasuk pakaian dalam ... eits, ini semua kamu yang ambil?" tanya Fazila menyadari sesuatu.


"Iya," jawab dokter Davin dengan ekspresi santai.


"Apa?"Gadis itu menganga kaget.


"Kenapa? Kok malah terkejut?"


"Kau ... pegang dalamanku?" tanya Fazila risih.


"Apa salahnya? Biar nanti tidak salah ukuran jika aku membelikan untukmu."


"Hah!" Fazila terperanjat.


"Biasa aja Chila. Oh ya, kau masih berhutang penjelasan padaku. Kenapa kau terburu-buru dari masjid tadi?"


"A–ku ... tadi melihat bayangan yang seakan mengawasi ku. Tadinya aku pikir hantu, tapi masa iya sih di masjid ada hantu?"


"Bayangan? Mengintai?"


Fazila mengangguk lemah.


"Jujur aku takut jika nanti kalian meninggalkanku semua," lirih gadis itu membayangkan orang dalam bayangan tersebut mengikuti dirinya hingga ke pesantren.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2