DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR

DOKTER DAVIN DAN SANTRI BARBAR
Bab 66. Berubah Pikiran


__ADS_3

"Apa?!" tanya Nathan kaget dan tidak percaya.


"Suster Tantri, katakan sekali lagi!" perintah dokter Davin. Barangkali Nathan belum mendengar dengan jelas, pikirnya.


"Saya yang mengirim chat pada Chila waktu itu."


"Jangan pernah membohongi kami, kau mengaku begini karena diancam dia, kan? Katakan yang sebenarnya maka saya bisa melindungi Anda dari penindasan dia," ujar Nathan agar jangan sampai suster Tantri mengarang cerita hanya karena takut dengan ancaman dokter Davin. Ini sangat tidak diinginkan.


"Ya, saya memang diancam, tapi apa yang dikatakan oleh dokter Davin memang benar, saya yang membohongi Chila," sahut suster Tantri.


Dokter Davin terlihat menghela nafas lega. Dia berharap sikap Nathan akan berubah padanya setelah ini. Dia mungkin bisa bersatu dengan Fazila tanpa dukungan Nathan sekalipun karena yang terpenting dari semua itu adalah restu Zidane sebagai ayahanda Fazila. Namun, dokter Davin tidak ingin menjalin hubungan yang kaku dengan keluarga Fazila.


Fazila yang mendengar pengakuan suster Tantri geram dan langsung turun dari ranjang.


"Chila!" seru Zidane mencegah putrinya turun, anak ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jadi, tidak boleh kemana-mana dulu.


"Pa, sebentar saja!" mohon Fazila dengan tatapan memelas membuat Zidane langsung luluh, mengangguk dan membantu putrinya turun.


Fazila berjalan ke sisi suster Tantri dan langsung menjambak rambut serta mendorong tubuh wanita itu dengan kasar tanpa Zidane duga.


"Arrrgh! Kau–" Suster Tantri meringis lalu menatap tajam mata Fazila seolah mengobarkan aura permusuhan.


"Chila!" teriak ketiga pria yang ada dalam kamar tersebut sambil berlari ke arah Fazila. Zidane langsung memeluk putrinya agar tidak bertindak berlebihan. Ini adalah tempat umum dimana banyak orang-orang yang melintas di depan kamar rawat Fazila yang terbuka dan Zidane tidak ingin menambah masalah.


"Ada apa ini?" Isyana yang tadinya keluar dan baru masuk kembali, kaget sekaligus bingung dengan apa yang telah terjadi, bahkan wajah putrinya terlihat memerah. Ia pun mendekat ke arah Fazila lalu menatap tajam wajah dokter Davin karena merasa pria itu yang membuat ulah. Dokter Davin sendiri hanya bisa menunduk, tak kuasa untuk melawan meskipun dengan ekspresi wajah. Isyana adalah ibu kandung Fazila yang harus dia hormati juga.


"Apa maksud suster dengan semua ini? Suster tahu? Hidupku hampir hancur karena ulah suster!" teriak Fazila dengan nada suara menggebu-gebu sambil menuding wajah wanita itu. Perbuatan suster Tantri bukan hanya menyebabkan Fazila hampir mati di tangan preman, tetapi kesuciannya hampir terenggut paksa. Benar-benar tindakan yang tidak bisa ditoleransi oleh hati gadis itu.


Suster Tantri tersenyum sinis, dia begitu kesal dengan perlakuan Fazila tadi.


"Bukan karena aku, tapi karena kau sendiri yang gampangan. Suruh siapa percaya dengan chat yang aku kirimkan? Andai bukan aku atau pun dokter Davin yang mengirimkan chat itu, kau akan tetap datang, kan? Makanya jadi wanita jangan murahan!" sentak suster Tantri, karena merasa terhina dengan perlakuan Fazila, wanita itu bahkan melupakan bahwa di tempat itu ada dokter Davin dan keluarga Fazila.


"Suster!" sentak dokter Davin murka, tidak terima gadisnya dikatakan wanita murahan apalagi di depan orang tuanya sendiri.


"Aku hanya ingin bertemu dengan dokter Davin sebelum pergi ke luar kota, tidak ingin berbuat yang macam-macam!" tegas Fazila dan seperti biasa Suster Tantri tersenyum meremehkan.


"Hmm, bagaimana aku tidak boleh berkata seperti itu? Bahkan kau hampir setiap hari menempel pada dokter Davin seperti wanita gatal, bahkan saat di sekolahkan ke pesantren sekalipun kamu malah mencari dokter Davin ke tempat pernikahan teman kami. Wanita hebat, aku salut dengan keberanianmu," sarkas suster Tantri.


Kilatan amarah jelas tergambar di mata Fazila. Hatinya mendidih seketika. Kebenciannya terhadap suster Tantri semakin berlipat ganda.


"Suster Tantri, sudahlah kau minta maaf lalu pergi!" perintah dokter Davin tak ingin terjadi perdebatan lebih lanjut di sana, khawatir dengan keadaan Fazila yang akan drop.

__ADS_1


"Dia yang harus minta maaf, aku tidak pernah menyentuh tubuhnya, dan dokter lihat sendiri bagaimana dia memperlakukanku kasar seperti tadi?"


"Itu karena kamu pantas dikasari," ketus Fazila.


"Begini caramu memperlakukan orang yang lebih tua? Dimana ilmu yang kamu pelajari di pesantren?"


"Hmm," decak Zidane agar suster Tantri sadar ada dirinya dan orang lain di ruangan itu, bukan hanya Fazila seorang diri sehingga wanita itu seenaknya merendahkan putrinya.


"Jangan bawa-bawa sekolah atau pesantren karena terkadang orang lupa caranya bersikap dengan orang lain yang tidak tahu sopan santun. Fazila tidak bisa menghargai orang lain yang lebih tua ... oke ... sebagai orang tuanya saya minta maaf. Mungkin dia masih remaja labil yang tidak begitu paham atau masih belum menyerap pelajaran yang ia terima.


Namun, bagaimana dengan Anda yang sudah lebih dewasa bahkan lulusan universitas? Apakah perilaku Anda sudah sesuai dengan profesi Anda? Profesi yang seharusnya berjuang dengan para dokter untuk menyembuhkan pasien, bukan malah mencelakai orang lain. Dimana rasa keperimanusiaan Anda? Jangan sampai perilaku Anda membuat orang lain yang berprofesi sama dengan Anda ikut menanggung malu dengan sikap Anda," kesal Zidane.


"Maaf Tuan, tapi saat itu saya hanya membantu dokter Davin agar tidak terganggu hari-harinya dengan keberadaan putri Anda. Kalau tidak diberikan pelajaran putri Anda tidak akan paham jika dokter Davin sebenarnya tidak menyukai kehadirannya dan selalu kerepotan dengan putri Anda ini."


"Cukup suster Tantri! Pergilah!" Dokter Davin tidak ingin mendengar ocehan suster Tantri yang membuat kepalanya pusing.


"Saya akan pergi Dok, tapi ingat janji dokter tadi! Dokter akan tetep membiarkan saya bekerja dengan dokter kalau saya mau jujur," ujar suster Tantri mengingatkan.


"Jangan Dokter, wanita jahat seperti dia tidak pantas membantumu, aku hanya takut bukannya sembuh saat menangani pasien, dia malah membuat pasien celaka," ujar Chila.


"Kau tidak perlu ikut campur urusan kami! Kau tidak ada sangkut pautnya dengan ini!" ketus suster Tantri.


Apa kau kira aku tidak tahu kenapa kau berbuat jahat padaku? Kau salah, tentu saja aku tahu, kau ingin menyingkirkan diriku karena kau menyukai dokter Davin dan kau cemburu padaku, hah? Itu karena dokter Davin lebih memberikan perhatian padaku dibandingkan dirimu," oceh Fazila membuat dokter Davin terperanjat.


"Apa Chila benar, Suster?" tanya dokter Davin memastikan.


Suster Tantri tidak menjawab.


"Jawab Suster! Apakah perasaan seperti itu yang membuatmu tega melakukan kejahatan!"


"Saya tidak melakukan kejahatan Dok, saya hanya berniat mengerjai dia, bukan mencelakainya," jelas suster Tantri agar dokter Davin tidak salah paham. Dia tidak ingin dicap sebagai orang jahat oleh orang yang ia taksir.


"Jadi saya mohon tetep terima saya bekerja dengan Dokter!" mohon suster Tantri. Selain tidak ingin kehilangan pekerjaan, dia juga tidak ingin kehilangan kesempatan melihat wajah dokter Davin setiap hari.


"Apakah suster Tantri benar-benar menyukaiku?" ulang dokter Davin karena pertanyaan itu belum menemukan jawabannya.


"Iya," sahut suster Tantri sambil mengangguk lemah lalu tertunduk malu. Seharusnya ia tidak jujur saat ini, tetapi dia berpikir kapan lagi akan memberitahu perihal perasaannya pada dokter Davin kalau bukan sekarang.


Paling tidak dokter Davin bisa paham bahwa apa yang dilakukan pada Fazila karena memang karena ia benar-benar sayang sehingga tidak ingin melihat orang lain menganggu hari-hari dokter Davin. Bukankah pria itu dulu sering mengeluh dengan kedatangan Fazila ke rumahnya?


"Maaf suster, setelah apa yang aku dengar tadi sepertinya aku berubah pikiran," ucap dokter Davin membuat suster Tantri terbelalak tak percaya.

__ADS_1


"Dokter? Apa maksud Dokter?"


"Aku akan mencari asisten lain dan kau bisa bekerja dengan orang lain!" tegas dokter Davin.


Suster Tantri menggelengkan kepala. Sungguh ini tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Pergilah kalau kamu masih ingin hidup bebas. Jangan sampai Nita tadi aku panggil kembali!"


Ekspresi wajah suster Tantri jelas terlihat kecewa. Setelah dia harus mengakui kesalahan di depan orang banyak demi bisa bertahan dengan pekerjaannya, dokter Davin malah ingkar janji.


Fazila tersenyum senang dengan keputusan dokter Davin. Baginya keputusan yang dokter Davin sudah tepat sekali.


Suster Tantri melirik Fazila, dalam hatinya sangat marah, tetapi ia sadar tidak dapat berbuat apapun saat ini karena ada keluarga Fazila di sana.


"Dokter Davin, tolonglah pertimbangkan lagi! Kita sudah beberapa tahun bekerja bersama dan selama ini tidak ada masalah, bukan?" mohon suster Tantri.


"Maaf, keputusanku sudah bulat, jadi tidak bisa berubah lagi," pungkas dokter Davin tidak ingin diganggu gugat karena keputusannya sudah mantap.


"Tenyata dokter tidak ingat dengan perjuangan kita hanya gara-gara cinta buta pada anak ingusan seperti dia. Baiklah kalau begitu. Saya harap dokter Davin tidak menyesal dengan keputusanmu hari ini sebab jika dokter berubah pikiran setelah saya pergi dari sini saya tidak akan pernah menggubris permintaan dokter Davin lagi."


Dokter Davin enggan bicara lagi, dia hanya terlihat mengangguk dengan ekspresi muka yang datar.


"Tolong pikirkan lagi sebelum terlambat," ucap suster Tantri dan kali ini dokter Davin menggeleng lalu beranjak menuju sofa dan duduk di sana.


Sementara suster Tantri masih berdiri dengan penuh harap, menunggu keputusan yang mungkin saja masih bisa berubah.


"Pergilah Suster, dokter Davin tidak ingin bicara denganmu lagi!" seru Fazila.


Suster Tantri menghembuskan nafas berat lalu mendekat ke arah Fazila dan mengulurkan tangan.


"Mau apa dia?" batin Fazila sambil melirik tangan suster Tantri.


"Saya minta maaf," ujar suster Tantri sambil terus mengulurkan tangan membuat Fazila menautkan kedua alisnya. Bingung dengan sikap suster Tantri yang cepat berubah.


Meskipun dalam hati bertanya-tanya apakah itu tulus ataukah hanya trik untuk membuat dokter Davin berubah pikiran, Fazila tetap saja menerima uluran tangan suster Tantri setelah melihat anggukan dari Isyana dan Zidane.


"Kau belum menang, ini belum berakhir," bisik suster Tantri di telinga Fazila.


Fazila tersenyum kecut, rupanya suster itu hanya pura-pura minta maaf. Sepertinya dia memang harus waspada.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2